Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Jika Para Penguasa Berdagang Dengan Rakyatnya
    Puisi

    Jika Para Penguasa Berdagang Dengan Rakyatnya

    M. Shoim Anwar9 Maret 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Jika Para Penguasa Berdagang Dengan Rakyatnya
    Jika Para Penguasa Berdagang Dengan Rakyatnya

    Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
    pastilah mengatasnamakan regulasi negara
    sudah dibicarakan antar departemen katanya
    dipikirkan matang dari masukan para cendekia
    seakan telah sempurna layaknya sabda para pandita
    harus diturut sebagai bukti kesetiaan pada bangsa
    dalihnya untuk kemakmuran bersama

    Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
    untung yang diraih bisa berlipat-lipat jua
    monopoli negara tak mengenal persaingan harga
    pintu-pintu tak bisa dimasuki oleh lain peniaga
    seperti peternakan buaya dijaga anjing di gerbangnya
    harus bayar upeti dan bagi untung jika ingin bermitra
    tarif diatur seragam oleh para aktornya
    agar terkesan terkendali dan tidak suka-suka

    Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
    saat wabah pun jadi peluang juga
    alat kesehatan beserta obat-obatan dan sejenisnya
    saat semua rakyat membutuhkan untuk menyambung nyawa
    dibentuklah badan usaha secara kilat untuk mengeruk laba
    keuntungan dibagi antar kolega dalam penguasa
    menaikkan harga berlipat-lipat atas nama regulasi negara
    berjuta rakyat yang menderita dimangsa mentah-mentah
    berpesta laba di atas lautan derita rakyat di bawah
    masih juga kurang apa yang kalian tadah
    bantuan untuk rakyat miskin pun telah disunat secara merata
    entah untuk pundi-pundi partai atau apa
    kemanusiaan dan keadilan tinggal cerita

    Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
    pasal yang dipakai pastilah sama
    bumi dan air serta segala isinya
    pun yang menjadi hajat hidup segenap warga
    dikuasai negara demi kemakmuran bersama
    biar rakyat bisa sejahtera karena kekayaan alam berlimpah
    biar harga-harga terjangkau karena negara dan tengkulak pasti beda
    daganglah dengan harga mahal untuk mereka di luar sana
    biar keuntungan untuk rakyat makin naik merata
    jangan kenakan tarif berlipat-lipat untuk warga
    itu aji mumpung selagi berkuasa
    menenggak segala kekayaan untuk diri dan kroninya
    seperti bolduser mengeruk habis hidup semesta
    tinggal lubang dan ampas yang tersisa

    Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
    prinsip dan motif ekonomi apa masih berlaku jua
    modal dan usaha sekecil-kecilnya
    tapi dapat untung sebesar-besarnya
    apa untungnya untuk warga secara merata
    karena keadilan seharusnya tidak mengenal kasta
    apa bedanya tengkulak dengan pemegang amanah
    apa bedanya pabrik dengan negara

    Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
    semua atas nama amanah negara
    tak ada persaingan karena pasar otomatis tercipta
    tak perlu iklan menebar hadiah
    mestinya keuntungan bisa dihitung rata-rata
    tak sampai berutang ke manca menutupi kerugian badan usaha
    atau negara ikut berutang karena tak bisa mengelola
    gaji para aktornya berlipat-lipat angka
    tapi tak sanggup memberi keuntungan buat rakyat pemberi amanah
    mereka diangkat berdasarkan apa
    ke mana kekayaan diputar-putar hingga hilang rimbanya
    rakyat juga yang nanti menanggung beban semua

    Surabaya, 2021-2025


    Jika Para Penyair Di Negerimu

    Jika para penyair di negerimu terdiam
    penguasanya tenteram karena dianggap tak ada persoalan
    segala keputusan digelindingkan
    dianggap aman tak ada hambatan
    menikmati persekongkolan atas nama kebijakan
    hari-hari dilalui dengan jargon keadilan
    katanya kemakmuran meningkat signifikan
    padahal bayi yang baru lahir harus menanggung utang
    jumlahnya menggunung tak terperikan

    Jika para penyair di negerimu terdiam
    setumpuk dana negara dibuat bancaan
    bertahun ditilap tanpa pertanggungjawaban
    tak ada rimbanya karena dibagi sesama lingkaran
    pajak-pajak dibajak
    investasi masuk kantong sendiri
    kekayaan alam dikuras tanpa peduli
    rakyat yang menghuni dibiarkan jadi kuli
    dibayar murah meski keringatnya seperti kali
    aparat diminta menjaga pintu gerbang industri
    biar rakyat tak bisa mendekat untuk mengkritisi
    secara berjenjang upeti dibagi-bagi
    karena untuk menduduki jabatan juga harus bayar ke petinggi
    biar modal kembali dan tak rugi
    banyak juga yang jadi pelindung bandar narkoba dan judi
    atau mengebiri gaji anak buah sendiri

    Jika para penyair di negerimu terdiam
    penguasa meluncurkan undang-undang tanpa hambatan
    hasil kasak-kusuk dari kursi-kursi dagelan
    disokong dana berlimpah dari para cukong dan gerombolan
    rakyat dijerat hingga anak tekak
    suaranya tak terdengar dibolduser kekuasaan
    jika masih ada yang lantang bicara
    para preman bayaran segera diselundupkan

    Jika para penyair negerimu terdiam
    atau bersyair tentang angin dan lautan
    simaklah itu metafora atau ungkapan
    penguasa yang kehilangan bahasa rasa
    tak akan berubah haluan
    karena nalurinya adalah bertahan
    metafora ungkapan atau sindiran
    dianggap angin lembut yang meninabobokkan

    Jika penyair di negerimu terdiam
    lantas apa yang akan kau lakukan

    Surabaya, 2023-2025


    Watak Kuasa

    Jangan bermimpi soal kemakmuran dan keadilan
    jika penguasa negerimu ingin terus memperpanjang masa jabatan
    sejarah di berbagai belahan telah cukup sebagai peringatan
    makin lama kuasa jadi lupa pada amanah yang diberikan
    pada akhirnya rakyat terpaksa turun ke jalan untuk menjungkalkan
    kekuasaan bukanlah aktor tunggal yang mudah dipisahkan
    rodanya digerakkan oleh jeruji yang saling mencengkeram
    aktor utamanya bisa tak berdaya kayak boneka mainan
    melongo serupa kodok di comberan melihat hukum diselewengkan
    dikendalikan para pemilik modal yang mendekte kepentingan
    kekuasaan cenderung korup adalah rumusan tak terbantahkan
    hingga malaikat bisa jadi iblis jika masuk pada kekuasaan

    Kekuasaan mengeruk kekayaan hingga lupa hakikat kerakyatan
    oposisi yang terus teriak lama-lama tak tahan godaan
    jika bisa ikut bancaan mengapa harus berseberangan
    lalu bergabunglah atas nama koalisi kebangsaan
    kekuasaan makin percaya diri karena banyak perkomplotan
    kesewenang-wenangan makin terang-terangan
    pajak dan harga-harga dinaikkan seperti mainan
    aturan-aturan diciptakan untuk membungkam oposan
    keyakinan dan pijakan keimanan dilemahkan
    kekuasaan berlagak begal karena merasa tak mungkin dijatuhkan

    Masih adakah yang percaya pada janji
    setelah sekian lama teringkari malah minta tambah lagi
    bukanlah ingatan masih setia menghitung hari
    dulu menghardik penguasa lama yang katanya tirani
    meminta simpati pada rakyat agar memilihnya sebagai pengganti
    tapi apalah yang terjadi
    sejarah diulang kembali
    membabi buta melebihi yang dulu pernah terjadi

    Jangan bermimpi soal kemakmuran dan keadilan
    jika penguasa negerimu ingin terus memperpanjang masa jabatan
    karena watak kuasa inginnya tak ada pembatasan.

    Surabaya, 2022-2025


    Jika Para Fir’aun Berkuasa

    Jika para fir’aun berkuasa
    jangan harap kemakmuran tercipta
    bumi dan kekayaan dikuras membabi buta
    dikapling rata dengan kelompoknya
    sampai rakyat tak kebagian apa-apa
    dijual murah pada tengkulak manca negara
    agar uang segar cepat mengalir ke kantongnya
    sambil terus berutang agar tetap jadi penguasa
    tak peduli para pewaris nanti kebagian apa

    Jika para fir’aun berkuasa
    keringat para anak bangsa dibayar murah
    diobral sebagai umpan untuk para pemangsa
    diiklankan ke mana-mana agar para pemodal tiba
    dicipta beribu aturan yang membuat tidak berdaya
    hasil persekongkolan atas nama institusi negara
    para pekerja dari manca masuk dengan leluasa
    dibayar lebih mahal dari martabat anak bangsa
    katanya sebagai syarat untuk kerja sama
    tanpa menyadari martabat telah terpedaya
    karena hanya kebagian ampas yang tersisa

    Jika para fir’aun berkuasa
    jangan harap keadilan tercipta
    hukum dipermainkan di depan mata
    seperti pesulap yang bangga dengan muslihatnya
    hukum hanya dikenakan di luar kelompoknya
    mereka yang kritis ditangkapi semauanya
    disiapkan pasal karet yang berubah-ubah
    seperti syahwat saat birahi tiba
    mereka yang menyuarakan moral dan etika dicap radikal adanya
    dengan membayar orang-orang agar menyerang mereka
    sambil mencari alasan agar dapat memenjarakan juga

    Jika para fir’aun berkuasa
    orang-orang briian dan jujur dianggap tak berguna
    karena jabatan-jabatan penting telah dikapling untuk kelompoknya
    tak peduli bekas narapidana yang telah menggarong uang negara
    atau para begundal yang telah lama bersekutu dengannya
    semua tetap mendapat jatah
    asal bersedia menjilat pantat penguasa

    Jika para fir’aun berkuasa
    mereka berlaku seakan tuhan semesta
    semua dipaksa untuk menyembah angkara
    tapi dalam benak khalayak tak henti berdoa
    datanglah wahai musa dengan tongkatnya
    agar fir’aun ditenggelamkan di laut merah

    Surabaya, 2021-2025


    M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan pendidikan ke IKIP Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hingga menyelesaikan program doktor. Kini menjadi dosen dan tinggal di Surabaya. Shoim banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Karya-karyanya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, seperti Cerita Pendek dari Surabaya (editor Suripan Sadi Hutomo), Negeri Bayang-bayang (editor D. Zawawi Imron, dkk.), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), Dari Fansuri ke Handayani (editor Taufiq Ismail, dkk.), Horison Sastra Indonesia (editor Taufiq Isamail, dkk), Black Forest (kurator Budi Darma), New York After Midnight (editor Satyagraha Hoerip), Beyond the Horizon (editor David T. Hill), Le Vieux Ficus et Autres Nouvelles (editor Laura Lampach), dll.

    Kumpulan cerpen Shoim yang telah terbit adalah Oknum (Gaya Masa,1992), Musyawarah Para Bajingan (Gaya Masa,1993), Limau Walikota (ed., Surabaya Post, 1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (Dewan Kesenian Surabaya, 1995), Bermula dari Tambi (ed., Dewan Kesenian Jatim, 1999), Soeharto dalam Cerpen Indonesia (ed., Bentang, 2001), Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah (Tiga Serangkai, 2004), Perempuan Terakhir (Grasindo, 2004), Asap Rokok di Jilbab Santi (Jaring Pena, 2010), Kutunggu di Jarwal (SatuKata, 2014), Sepatu Jinjit Aryanti (Pustaka Ilalang, 2018), Tikus Parlemen (Tankali, 2019). Novelnya yang pernah dipublikasikan Meniti Kereta Waktu (SIC, 1999, juga terbit dalam terjemahan bahasa Jawa Ngoyak Impen) dan cerita bersambung di media massa adalah Sang Pelancong (1991), Angin Kemarau (1992), Tandes (1999), serta Elies (2006).

    Buku lain yang ditulisnya adalah Sejarah Sastra Indonesia (2012), Sastra Rebonding (2013), dan Theatrum- Malam Terakhir (ed., 2013), Sastra yang Menuntut Perubahan (2015), Sastra dan Korupsi (2019), Penyair Memburu Bayangan Tuhan (2019), dan Sastra Merespons Dinamika Zaman (2020).

    fir’aun Penguasa
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticlePatah Sebelum Bibir
    Next Article Kau Tetap Perempuan, Jelita

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.