Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Surabaya Bernyanyi dalam Hati
    Puisi

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    Titik Dwi Ramthi Hakim7 September 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    Rek, ayo rek …
    Kita susuri nadamu yang tak pernah lirih
    Dari Praban hingga Tunjungan
    Irama klakson dan langkah kaki
    Jadi paduan suara jalanan

    Di simpang Ahmad Yani
    Terdengar saksofon sunyi dari balik warung kopi
    Lagu lama Silampukau mengendap
    Seperti bau tembakau dan kenangan patah

    Kau dengar Surabaya?
    Pahlawan tidak sealu membaawa senjata
    Kadang hanya gitar tua dan suara parau
    Yang memetik luka di antara lampu merah

    Kota ini
    Bernyanyi dalam hati siapa pun
    Yang pernah jatuh cinta di trotoar panasnya
    Dan menulis lagu dalam diam
    Di antara denting gelas dan debu Kali Mas

    Tulungagung, Juni 2025


    Pagi Menuju Wijaya Kusuma

    Dua puluh empat tahun lalu
    Dari Koblen Kidul aku berangkat
    Setapak demi setapak menembus
    Lorong-lorong kecil di Kranggan hingga depan Pasar Blauran
    Menunggu angkot dari arah Tembok
    Yang mengepul letih

    Jalan Praban menyimpan basah semalam
    Genteng Kali menyambut langkah pagi
    Aku lewati Cak Durasim yang menunduk
    Dengan rambut pohon trembesi
    Teaternya masih gelap
    Tapi di dalamnya suara dan tubuh ini pernah berpentas

    Kali Mas memantulkan langit
    Dan cerita kota yang belum selesai
    Sementara Balai Kota menatap
    Seperti bapak tua yang tahu segalanya
    Tapi memilih diam

    Lalu di gerbang gedung tua itu
    Beratap merah dan tembok lusuh
    Aku masuk
    Satu dari ribuan wajah belajar jadi cahaya
    Dalam gedung penuh bayang masa lalu

    Tulungagung, Juni 2025


    Di Bawah Atap Ganda Smasabaya

    Untuk para guru dan rumah ilmu yang membentukku

    Di bawah atap ganda yang teduh dan tegap
    Kusaksikan pagi-pagi berderet langkah harap
    Genteng Praban hingga Kali Mas menyapa
    Jalan ke sekolah, jalan menuju cahaya

    Dindng tua aula, saksi suara sumbang kami
    Yang perlahan disulap jadi harmoni
    Para guru begitu sabar
    Mengajarkan kami mendengar, sebelum bicara

    Dari pentas kecil di ruang seni
    Kucari arti puisi di lembaran yang diajarkan
    Nada dan warna, drama dan rima
    Mimik dan gestur tak jadikan karakter asli luntur
    Membentuk jiwaku menjadi pengajar makna

    Para guru mengukir bukan hanya ilmu
    Tapi juga cinta pada proses dan waktu
    Serta menanamkan keyakinan bahwa tiap anak punya nyala
    Mengajarkan kami bahwa seni bukan pelarian
    Melainkan lentera:
    Penyala akal, penuntun nurani
    Menjadikan aku murid, dulu
    Seorang guru hari ini

    Tulungagung, Juni 2025


    Lorong Yang Mengajariku Menjadi Guru

    Untuk SMASABAYA dan para guru yang menghidupkan seni dalam diriku

    Di bawah atap ganda menjulang tinggi
    Kudengar suara langkah kanak-kanak
    Lorong panjang berpilar tua itu
    Saksi pertama, bagaimana ilmu bukan sekadar kata

    Jendela besar membuka pagi
    Menyelinap angin dari ventilasi usang di atas lengkung pintu
    Sementara kami, remaja bersuara sumbang
    Diajari guru seni—mendengar sebelum bernyanyi

    Aula SMASABAYA dengan panggung kecilnya
    Jadi panggung pertamaku mengenal dunia
    Bukan lewat angka dan definisi semata
    Tapi lewat puisi, nada, dan drama penuh rasa

    Di kelas lawas itu tembok bata menahan panas
    Tapi guru selalu menyalakan api di dalam dada
    Menulis makna hidup di papan tulis
    Dengan kapur putih dan hati penuh cinta

    SMASABAYA rumah awal kata dan rasa
    Tempat arsitek dan manusia sama-sama mengajar
    Tempat masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang
    Karena di sana aku belajar
    Mengajar adalah bentuk tertinggi dari mencinta

    Tulungagung, Juni 2025


    Dari Lorong Sekolah Menuju Lorong Sejarah

    Di bawah atap ganda teduh dan sepuh
    Berdiri sekolahku warisan Hindia
    Dengan jendela-jendela besar dan lorong panjang
    Yang dulu kutelusuri dengan berseragam kelabu menggendong mimpi terang

    Tembok bata tebal menahan panas siang
    Ventilasi di atas pintu mengalirkan kenangan
    Di kelas berplafon tinggi itu
    Guru mengajarkan kami menyanyikan kesunyian

    Di Aula SMASABAYA yang bersahaja
    Kami menari, berpuisi, dan mengagungkan cita-cita
    Tanpa tahu bahwa tak jauh dari suara kami yang lepas
    Berdiri tembok penjara Koblen Kidul, tempat raga tak lagi bebas
    Suara dikekang keras

    Penjara militer itu diam dalam sejarah
    Di sanalah ketakutan pernah menjadi aturan
    Tapi kami anak-anak seni dan kata
    Diajarkan bahwa kebebasan bisa lahir dari pikiran

    Tak seperti tembok penjara yang menahan tubuh
    Tembok sekolah justru membebaskan akal dan jiwa
    Membangun dalam diriku ruang-ruang baru
    Untuk tetap mengajar, mencipta, dan merawat cahaya

    SMASABAYA Engkau medan sunyi yang penuh gema perjuangan
    Sejarah dan seni berbisik di sepanjang lorong yang sama
    Mengajarkanku bahwa mendidik adalah cara paling halus melawan lupa

    Tulungagung, Juli 2025


    Ikan Besi Yang Tidur Di Tengah Kota

    Ikan besi itu bukan lagi kapal membawa peluru bawah laut
    Ia menjelma doa baja penjaga nusantara
    Yang disusun kembali di darat
    Di jalan pemuda di antara deru kota dan tawa
    Wisatawan datang penasaran
    Tubuh KRI Pasopati 410 merebah tenang dalam kedamaian

    Dulu ia menyelam tanpa bintang
    Hanya sonar, kompas, dan detak jam
    Ruangannya sempit
    Tapi keyakinan prajurit menyentuh langit
    Demi laut yang biru di peta
    Dan merah di hati mereka

    Kini, wisatawan berdatangan masuk satu-satu
    Melewati ruang sonar seperti lorong rahasia
    Seorang ibu membisik
    “Dulu di sini ada yang tidak tidur
    Agar kau sekolah dengan tenang.”

    Angin Kali Mas menggores baja
    Menyampaikan sura-tsurat masa silam
    Tak ada lagi peluru torpedo
    Hanya suara pemandu museum
    Dan jepretan kamera membingkai senyum

    Tapi ikan besi itu tetap bicara:
    “Aku pernah menyelam,
    Agar kamu bisa naik perahu damai, di atasnya.”

    Tulungagung, Juli 2025


    Kapal Yang Berbaring Di Darat

    Di tengah kota yang lupa gelombang
    Ada kapal yang beristirahat
    KRI Pasopati berlabuh pada dermaga aspal
    Bukan laut, bukan palung, tapi taman
    Dengan suara-anak-anak dan musik senja

    Di tepian Kali Mas yang beriak tenang
    Kau membisu
    Kau pernah menyelam dalam sejarah
    Seperti kota ini menyelam dalam sunyi
    Dari Jembatan Merah yang memerah darah
    Hingga Tugu Pahlawan yang menantang langit
    Dengan kepala tegas dan dada terbuka

    Dalam dadamu dulu gemetar doa
    Dalam torpedo menyimpan dendam rahasia
    Dalam lorong yang sempit
    Terdengar suara diesel jadi nyanyian perjuangan

    Aku melangkah naik tubuh itu
    Dan menyentuh dinding yang mulai berkarat
    Terasa denyut masa lalu
    Meski lampu disko kanan kiri menyinari
    Dari kendaraan yang melaju tiada henti

    Monumen Kapal Selam tetap menyimpan kisah di kedalaman
    Tempat sejarah tak sekadar dibaca
    Tapi dirasa oleh gelap dan sepi
    Dalam sunyi yang melelahkan hati

    Tulungagung, Juli 2025


    Jembatan Yang Masih Mengingat

    Ada yang tak pernah kering dari bebatuan tua itu
    Bukan air hujan yang menggenang
    Tapi kenangan yang terus menetes dan mengalir
    Melalui celah sejarah yang belum selesai

    Jembatan Merah, warnanya bukan sekadar cat
    Tapi darah yang memuncrat saat Surabaya terbakar
    Oleh dendam, peluru, dan keberanian
    Tetap melawan meski sadar bukanlah tandingan

    Di sinilah Mallaby tumbang, bukan karena tegaknya senjata
    Melainkan kehendak rakyat
    Menolak dikubur di bawah sepatu penjajah

    Kini ribuan kendaraan melintasinya
    Menjadi bukti bahwa luka bisa jadi jalan
    Kota ini tak bisa memutar waktu
    Sebaliknya, terus melaju membawa masa lalu di bahu

    Warga melintas tanpa sempat menoleh
    ‘tuk sekadar membaca sejarah yang tertoreh
    Bagi penyair, jembatan itu berbicara lewat retaknya
    Tentang keberanian purba
    Dan kepedihan yang lebih jujur dari berita utama
    Langit Surabaya hitam dulu, kini berubah cerah
    Tapi bayangan perjuangan tetap bergelantungan
    Di bawah lengkung besi tua itu
    Menunggu untuk dituliskan ulang
    Dalam bait-bait yang tak kalah berani


    Biasa menggunakan Atma Azzura sebagai nama pena. Senang dunia sastra sejak SD. Pernah bergabung di Kelas Menulis Rumah Dunia 18 yang diasuh Kang Gol A Gong. Ibu tiga orang anak ini sekarang masih aktif berbagi ilmu dan menularkan hobi menulis puisi kepada mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

    surabaya
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleYang Tak Pernah Cukup
    Next Article Bayangan di Balik Tabebuya yang Tak Pernah Berbunga

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025

    Cahaya yang Ditelanjangi

    12 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.