Rek, ayo rek …
Kita susuri nadamu yang tak pernah lirih
Dari Praban hingga Tunjungan
Irama klakson dan langkah kaki
Jadi paduan suara jalanan
Di simpang Ahmad Yani
Terdengar saksofon sunyi dari balik warung kopi
Lagu lama Silampukau mengendap
Seperti bau tembakau dan kenangan patah
Kau dengar Surabaya?
Pahlawan tidak sealu membaawa senjata
Kadang hanya gitar tua dan suara parau
Yang memetik luka di antara lampu merah
Kota ini
Bernyanyi dalam hati siapa pun
Yang pernah jatuh cinta di trotoar panasnya
Dan menulis lagu dalam diam
Di antara denting gelas dan debu Kali Mas
Tulungagung, Juni 2025
Pagi Menuju Wijaya Kusuma
Dua puluh empat tahun lalu
Dari Koblen Kidul aku berangkat
Setapak demi setapak menembus
Lorong-lorong kecil di Kranggan hingga depan Pasar Blauran
Menunggu angkot dari arah Tembok
Yang mengepul letih
Jalan Praban menyimpan basah semalam
Genteng Kali menyambut langkah pagi
Aku lewati Cak Durasim yang menunduk
Dengan rambut pohon trembesi
Teaternya masih gelap
Tapi di dalamnya suara dan tubuh ini pernah berpentas
Kali Mas memantulkan langit
Dan cerita kota yang belum selesai
Sementara Balai Kota menatap
Seperti bapak tua yang tahu segalanya
Tapi memilih diam
Lalu di gerbang gedung tua itu
Beratap merah dan tembok lusuh
Aku masuk
Satu dari ribuan wajah belajar jadi cahaya
Dalam gedung penuh bayang masa lalu
Tulungagung, Juni 2025
Di Bawah Atap Ganda Smasabaya
Untuk para guru dan rumah ilmu yang membentukku
Di bawah atap ganda yang teduh dan tegap
Kusaksikan pagi-pagi berderet langkah harap
Genteng Praban hingga Kali Mas menyapa
Jalan ke sekolah, jalan menuju cahaya
Dindng tua aula, saksi suara sumbang kami
Yang perlahan disulap jadi harmoni
Para guru begitu sabar
Mengajarkan kami mendengar, sebelum bicara
Dari pentas kecil di ruang seni
Kucari arti puisi di lembaran yang diajarkan
Nada dan warna, drama dan rima
Mimik dan gestur tak jadikan karakter asli luntur
Membentuk jiwaku menjadi pengajar makna
Para guru mengukir bukan hanya ilmu
Tapi juga cinta pada proses dan waktu
Serta menanamkan keyakinan bahwa tiap anak punya nyala
Mengajarkan kami bahwa seni bukan pelarian
Melainkan lentera:
Penyala akal, penuntun nurani
Menjadikan aku murid, dulu
Seorang guru hari ini
Tulungagung, Juni 2025
Lorong Yang Mengajariku Menjadi Guru
Untuk SMASABAYA dan para guru yang menghidupkan seni dalam diriku
Di bawah atap ganda menjulang tinggi
Kudengar suara langkah kanak-kanak
Lorong panjang berpilar tua itu
Saksi pertama, bagaimana ilmu bukan sekadar kata
Jendela besar membuka pagi
Menyelinap angin dari ventilasi usang di atas lengkung pintu
Sementara kami, remaja bersuara sumbang
Diajari guru seni—mendengar sebelum bernyanyi
Aula SMASABAYA dengan panggung kecilnya
Jadi panggung pertamaku mengenal dunia
Bukan lewat angka dan definisi semata
Tapi lewat puisi, nada, dan drama penuh rasa
Di kelas lawas itu tembok bata menahan panas
Tapi guru selalu menyalakan api di dalam dada
Menulis makna hidup di papan tulis
Dengan kapur putih dan hati penuh cinta
SMASABAYA rumah awal kata dan rasa
Tempat arsitek dan manusia sama-sama mengajar
Tempat masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang
Karena di sana aku belajar
Mengajar adalah bentuk tertinggi dari mencinta
Tulungagung, Juni 2025
Dari Lorong Sekolah Menuju Lorong Sejarah
Di bawah atap ganda teduh dan sepuh
Berdiri sekolahku warisan Hindia
Dengan jendela-jendela besar dan lorong panjang
Yang dulu kutelusuri dengan berseragam kelabu menggendong mimpi terang
Tembok bata tebal menahan panas siang
Ventilasi di atas pintu mengalirkan kenangan
Di kelas berplafon tinggi itu
Guru mengajarkan kami menyanyikan kesunyian
Di Aula SMASABAYA yang bersahaja
Kami menari, berpuisi, dan mengagungkan cita-cita
Tanpa tahu bahwa tak jauh dari suara kami yang lepas
Berdiri tembok penjara Koblen Kidul, tempat raga tak lagi bebas
Suara dikekang keras
Penjara militer itu diam dalam sejarah
Di sanalah ketakutan pernah menjadi aturan
Tapi kami anak-anak seni dan kata
Diajarkan bahwa kebebasan bisa lahir dari pikiran
Tak seperti tembok penjara yang menahan tubuh
Tembok sekolah justru membebaskan akal dan jiwa
Membangun dalam diriku ruang-ruang baru
Untuk tetap mengajar, mencipta, dan merawat cahaya
SMASABAYA Engkau medan sunyi yang penuh gema perjuangan
Sejarah dan seni berbisik di sepanjang lorong yang sama
Mengajarkanku bahwa mendidik adalah cara paling halus melawan lupa
Tulungagung, Juli 2025
Ikan Besi Yang Tidur Di Tengah Kota
Ikan besi itu bukan lagi kapal membawa peluru bawah laut
Ia menjelma doa baja penjaga nusantara
Yang disusun kembali di darat
Di jalan pemuda di antara deru kota dan tawa
Wisatawan datang penasaran
Tubuh KRI Pasopati 410 merebah tenang dalam kedamaian
Dulu ia menyelam tanpa bintang
Hanya sonar, kompas, dan detak jam
Ruangannya sempit
Tapi keyakinan prajurit menyentuh langit
Demi laut yang biru di peta
Dan merah di hati mereka
Kini, wisatawan berdatangan masuk satu-satu
Melewati ruang sonar seperti lorong rahasia
Seorang ibu membisik
“Dulu di sini ada yang tidak tidur
Agar kau sekolah dengan tenang.”
Angin Kali Mas menggores baja
Menyampaikan sura-tsurat masa silam
Tak ada lagi peluru torpedo
Hanya suara pemandu museum
Dan jepretan kamera membingkai senyum
Tapi ikan besi itu tetap bicara:
“Aku pernah menyelam,
Agar kamu bisa naik perahu damai, di atasnya.”
Tulungagung, Juli 2025
Kapal Yang Berbaring Di Darat
Di tengah kota yang lupa gelombang
Ada kapal yang beristirahat
KRI Pasopati berlabuh pada dermaga aspal
Bukan laut, bukan palung, tapi taman
Dengan suara-anak-anak dan musik senja
Di tepian Kali Mas yang beriak tenang
Kau membisu
Kau pernah menyelam dalam sejarah
Seperti kota ini menyelam dalam sunyi
Dari Jembatan Merah yang memerah darah
Hingga Tugu Pahlawan yang menantang langit
Dengan kepala tegas dan dada terbuka
Dalam dadamu dulu gemetar doa
Dalam torpedo menyimpan dendam rahasia
Dalam lorong yang sempit
Terdengar suara diesel jadi nyanyian perjuangan
Aku melangkah naik tubuh itu
Dan menyentuh dinding yang mulai berkarat
Terasa denyut masa lalu
Meski lampu disko kanan kiri menyinari
Dari kendaraan yang melaju tiada henti
Monumen Kapal Selam tetap menyimpan kisah di kedalaman
Tempat sejarah tak sekadar dibaca
Tapi dirasa oleh gelap dan sepi
Dalam sunyi yang melelahkan hati
Tulungagung, Juli 2025
Jembatan Yang Masih Mengingat
Ada yang tak pernah kering dari bebatuan tua itu
Bukan air hujan yang menggenang
Tapi kenangan yang terus menetes dan mengalir
Melalui celah sejarah yang belum selesai
Jembatan Merah, warnanya bukan sekadar cat
Tapi darah yang memuncrat saat Surabaya terbakar
Oleh dendam, peluru, dan keberanian
Tetap melawan meski sadar bukanlah tandingan
Di sinilah Mallaby tumbang, bukan karena tegaknya senjata
Melainkan kehendak rakyat
Menolak dikubur di bawah sepatu penjajah
Kini ribuan kendaraan melintasinya
Menjadi bukti bahwa luka bisa jadi jalan
Kota ini tak bisa memutar waktu
Sebaliknya, terus melaju membawa masa lalu di bahu
Warga melintas tanpa sempat menoleh
‘tuk sekadar membaca sejarah yang tertoreh
Bagi penyair, jembatan itu berbicara lewat retaknya
Tentang keberanian purba
Dan kepedihan yang lebih jujur dari berita utama
Langit Surabaya hitam dulu, kini berubah cerah
Tapi bayangan perjuangan tetap bergelantungan
Di bawah lengkung besi tua itu
Menunggu untuk dituliskan ulang
Dalam bait-bait yang tak kalah berani
Biasa menggunakan Atma Azzura sebagai nama pena. Senang dunia sastra sejak SD. Pernah bergabung di Kelas Menulis Rumah Dunia 18 yang diasuh Kang Gol A Gong. Ibu tiga orang anak ini sekarang masih aktif berbagi ilmu dan menularkan hobi menulis puisi kepada mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung


