Dia duduk di kursi anyaman bambu yang sudah agak reyot, menghadap jendela yang tak pernah lagi dibukanya selebar dulu. Di luar, hujan gerimis seperti bisisan yang tak jelas asalnya—mungkin dari langit, mungkin dari dalam dadanya yang kian kerap berdesir tanpa suara.

Usianya setengah abad lebih, tapi siapa yang masih peduli menghitung?

Rambutnya mulai dicabuti putih oleh waktu satu per satu, tanpa minta izin. Tangannya yang dulu lincah meracik bumbu dapur, kini sibuk memegang cangkir teh yang selalu dingin sebelum habis. Rumah ini terasa semakin luas, semakin sunyi, sejak anak-anaknya pergi ke kota yang tak pernah ia kunjungi. Suaminya? Dia ada di kamar depan, menonton televisi dengan volume yang justru membuat jarak di antara mereka semakin terasa.

Perempuan ini tak menangis.

Bukan karena kuat, tapi karena air matanya sudah kehabisan alasan. Kesepian baginya bukanlah ledakan emosi, melainkan ruang hampa yang diam-diam membesar seperti bayangan sore.

Ia terbiasa dengan kebiasaan sunyi: menyapu lantai yang tak ada yang mengotori, memasak untuk porsi satu setengah, membiarkan telepon berdering tanpa diangkat karena biasanya cuma penawaran asuransi.

Kadang-kadang ia membuka album foto, menyentuh wajah-wajah yang dulu tinggal di bawah atap yang sama. Ia tersenyum tipis, bukan karena bahagia, melainkan karena itu satu-satunya cara untuk mengatakan: Aku masih di sini, meski tak ada yang melihat.

Malam turun perlahan, dan ia tak menyalakan lampu terang-terang.

Biarlah temaram—karena terang hanya akan menunjukkan betapa banyak kursi kosong di ruang makan, betapa banyak bantal yang tak berpasangan, betapa banyak cerita yang tak lagi punya pendengar.

Perempuan setengah baya itu akhirnya tertidur di kursi anyaman, dengan secangkir teh dingin di pangkuan, dan sepi yang merayap halus membungkus bahunya seperti selimut yang tak pernah cukup hangat.

Share.