Aku berjalan di atas lantai licin
lampu neon menusuk mata …
semua sibuk, semua berpura-pura hidup
di kota yang katanya pahlawan!
Tunjungan Plaza berdiri jumawa
besi dan kaca menelan langit
orang-orang datang dengan dompet tebal,
atau dompet pura-pura tebal,
berburu diskon, selfie, dan rasa aman palsu.
Di sini. aku bukan aku
hanya bayang di balik etalase,
mengintip dunia yang tak sudi memelukku.
Senyum SPG, suara promo,
semuanya gemuruh yang asing
buat yang hatinya belum mati.
Surabaya, oh kota penuh bara
kau kuburkan revolusi dalam AC
kau sulap peluh menjadi parfum mahal
dan darah jadi latte hangat di tangan manja!
Tapi aku tetap di sini. tak tunduk pada sinar palsu
tak luluh pada kaca-kaca tinggi
aku, si pejalan gelap yang masih percaya
bahwa kota ini pernah menggenggam senjata,
dan bukan kantong belanja.
2025
Surabaya, Diam-diam Kita Tumbuh
Surabaya,
kau tidak lagi menjerit di tengah perang
hanya menyimpan gelegak
di dalam gedung tinggi
dan lampu jalan yang tak pernah tidur.
Pagi datang seperti biasa
dengan koran digital dan suara motor listrik
tapi aku masih mendengar
gemetar genteng tua di Kampung Peneleh
yang menunggu dirobohkan oleh waktu dan wacana.
Anak-anak tidak lagi main petak umpet
mereka menyembunyikan diri
dalam layar
kau tahu, bahkan hujan pun kini
harus dijadwalkan dalam notifikasi.
Tapi aku percaya, Surabaya tetap belajar mencintai
dengan caranya yang diam-diam melalui bau lontong balap
yang masih bertahan di sudut terminal,
melalui sejuk angin Kalimas
yang tak pernah bosan menyisir jembatan tua.
Kita tumbuh, tanpa perlu menolak masa lalu
atau mengejar bayang kota besar lain
cukup dengan menyapa pagi,
menyiram bunga, dan memeluk pelabuhan
yang selalu menunggu pulang.
2025
ORATOR DI BAWAH LANGIT SURABAYA
Di tengah jalan Tunjungan
aku melihat bayangan lelaki
berdiri di atas aspal retak
dengan mata menatap langit kusam
dan mulut bersuara seperti toa patah.
“Surabaya bukan sekadar patung Sura dan Baya!”
teriaknya. “Ini kota luka yang pandai tersenyum!”
“Ini kota baja yang dilapisi warna iklan!”
Dari tambak di Kenjeran sampai perempatan Jalan Merr
aku melihat kampung-kampung tercekik
oleh tembok-tembok ruko dan proyek ambisius
yang disebut pembangunan!
Dan pemimpinnya, datang dalam balutan safari rapi
menjanjikan taman, namun lupa saluran air!
Menjanjikan trotoar, namun mengabaikan kaki-kaki renta
yang ingin sekadar duduk tanpa diusir!
Oh, Surabaya. kau pernah melahirkan api Arek Suroboyo!
Tapi kini nyalanya dilembutkan dalam protokol!
Dibungkam dalam pidato berpantun!
Didinginkan oleh pendingin ruangan balai kota!
Pemimpinmu kini bukan penjaga mimpi rakyat,
melainkan juru bicara investor!
Ia pandai berpantun dalam sambutan,
tapi gagap ketika rakyat minta keadilan air bersih!
Ia membangun gedung-gedung tinggi,
tapi membiarkan langitmu menjadi gelap
oleh debu-debu industri!
Namun aku tahu,
masih ada darah merah dalam lorong-lorong gang,
masih ada suara dari tukang becak tua
dan ibu-ibu penjual sayur di Kapas Krampung
yang berkata:
“Surabaya bukan milik papan reklame!
Surabaya adalah milik kami yang bekerja dari pagi
sampai petang,
dengan upah yang tak cukup beli obat anak kami!”
Aku ingin pemimpin yang tak hanya hadir saat kamera datang!
Aku ingin pemimpin yang rela berdiri di tengah banjir,
tanpa jas hujan khusus pejabat!
Yang mau duduk di warung kopi rakyat,
tanpa harus didahului protokoler!
Wahai pemimpin Surabaya…
jika engkau dengar,
jangan bersembunyi di balik angka statistik!
Turunlah ke jalan,
tataplah mata rakyatmu,
dengarlah suara yang tak tertulis dalam laporan!
Karena kota ini,
lebih butuh telinga dari pada mulut.
Lebih butuh hati,
daripada baliho!
2025
Di Tengah Gending dan Getir
Di pojok Balai Pemuda,
seorang anak menyulam lagu
dari kaleng cat bekas dan senar sepatu.
Katanya: ini gamelan baru,
buat mereka yang tak sempat mewah, tapi sempat hidup.
Di belakang Gedung Cak Durasim,
penari topeng sedang mencuci mukanya.
Katanya: topeng itu berat,
apalagi kalau harus jujur.
Sementara itu,
patung Suro dan Boyo diam-diam saling melirik,
merasa gagal jadi simbol,
karena kota ini lebih paham sinetron
daripada cerita rakyat.
Di Surabaya, lukisan-lukisan tua disimpan rapi di bawah ranjang,
karena tembok lebih suka dipeluk iklan pulsa.
Tapi seni tetap bertahan, kadang dalam bentuk pentas jalanan,
kadang dalam becak,
kadang di kepala ibu-ibu yang sedang menanak
dongeng untuk cucunya.
Aku berjalan sambil mendengar
seseorang menyanyikan kroncong di halte Darmo,
lalu diam-diam menangis, entah karena lagu,
atau karena bus tak kunjung datang.
2025
Surabaya di Buku Tulis Rakyat
Di kota yang pernah menggelegar merdeka,
surut peluh rakyat mengalir di trotoar tua,
anak-anak berjalan kaki dari Tambak Sari
hingga Wonokromo, dengan tas sobek di punggung kiri.
Di ujung gang sempit itu,
ibu bernama Bu Lilik, menjahit malam
membayar uang seragam dengan sabar,
sambil memintal harap di atas tungku arang.
Surabaya bukan hanya jembatan layang
atau gedung sekolah bercat terang,
ia adalah wajah murid-murid yang
belajar dari papan tulis retak,
di bawah atap bocor waktu hujan datang mendadak.
Pak Tohir, guru honorer dari Keputih,
mengayuh sepeda tua tiap pukul lima,
mengajar sejarah dengan suara lantang
meski gajinya hanya cukup
untuk beras, tempe, dan lampu minyak.
Di Surabaya, pendidikan
bukan cerita kurikulum belaka
tapi perjuangan diam-diam
orang kecil mencintai huruf dan angka,
seperti menanam pohon meski tanahnya keras dan cuacanya seret.
Anak-anak di Jalan Peneleh
membaca puisi Chairil dengan mata menyala,
meski buku hanya satu dan harus bergantian dibaca.
Dan mereka tahu: belajar adalah melawan
nasib yang ingin mereka diam dan pasrah.
Surabaya, kau bukan sekadar kota pahlawan,
tapi juga kota orang-orang yang ingin bangkit
dengan pena di tangan kanan
dan tekad di genggaman kiri
yang percaya, bahwa ilmu bisa
membuka pintu yang dikunci oleh nasib hari ini.
2025
Lontong Balap: Kota yang Tak Pernah Diam
Di jalan panas, di bawah langit yang sibuk,
Surabaya bernapas dalam peluh dan semangat.
Di antara klakson dan langkah yang terburu,
Ada sepiring kisah yang tak pernah tamat.
Lontong balap bukan sekadar makan siang,
Tapi simbol hidup yang terus bergerak.
Tauge yang rapuh namun tak pernah hilang,
Tahu yang lembut, tapi tangguh di setiap jejak.
Kuah petisnya pekat, seperti cerita lama,
Tentang perjuangan, cinta, dan luka yang mendidih.
Lentho renyah, tawa kecil di tengah drama,
Sambal yang menggigit amarah yang jujur, bersih.
Di setiap suapan, ada kota yang bicara:
“Aku keras, tapi aku setia.”
2025
Balada Lontong Balap: Hikayat Surabaya
Di tanah timur, kala mentari tegak,
Berhembus angin laut, beraroma garam dan bara,
Di sanalah Surabaya bersuara gagah,
Dengan langkah cepat seperti kisah lontong balap yang mesra.
Wahai lontong, bukan sekadar santapan fana,
Tapi lambang dari nadi kota yang tak pernah diam,
Tahu dan tauge saling bersenggama,
Dalam kuah petis yang hitam namun dalam.
Lihatlah para penjual, lari melawan waktu,
Seperti para pemuda yang kejar harapan,
Hidup di kota yang gaduh namun penuh restu,
Di jalanan panas, mereka tabah berperan.
Lentho yang renyah, ibarat tawa pekerja,
Di tengah beban, mereka masih sempat bersenda,
Dan sambal pedas, layaknya amarah raja,
Yang meledak, namun tak pernah membawa celaka.
O Surabaya, engkau adalah piring puisi,
Di mana cita rasa dan perjuangan bersatu dalam harmoni,
Maka biarlah aku nikmati engkau sekali lagi,
Seperti mencicipi hidup…pahit, manis, dan penuh arti.
2025
Surabaya, Di Tiap Sudut Cerita
Di bawah langit yang panas membara,
Surabaya berdetak penuh suara,
Bukan hanya kota penuh sejarah,
Tapi jiwa yang hidup, hangat dan ramah.
Dari becak tua yang sabar melaju,
Hingga suara pasar yang riuh bersatu,
Budaya bukan sekadar panggung dan tari,
Tapi obrolan warung yang tak pernah basi.
Ngopi di warkop, senyum mengular,
Cerita ngalor ngidul tak pernah bubar,
Bahasa lugas, kadang nyelekit,
Tapi jujur langsung ke inti, tak rumit.
Rujak cingur, rawon pekat,
Rasa dan bumbu bersatu erat,
Makanan pun jadi kisah sendiri,
Tentang cinta tanah ini, tak bisa lari.
Di kampung masih ada ludruk berdiri,
Lelucon tajam, kritik berdasi,
Tradisi dijaga, meski zaman geser,
Karena di sini, budaya tak luntur.
Arek Suroboyo keras kepala,
Tapi hatinya mudah tersentuh juga,
Kalau kamu jatuh, dia bantu berdiri,
Meski caranya nyeleneh, tapi tulus sekali.
Surabaya bukan cuma tempat singgah,
Dia rumah dari tawa dan resah,
Tempat di mana tiap langkah bermakna,
Karena di tiap sudut … ada cerita.
2025
Surabaya dalam Senandung Budaya
Di balik riuhnya kota yang tak tidur,
Surabaya menyimpan pesona luhur.
Bukan hanya gedung menjulang tinggi,
Namun budaya yang bersemi, menyejukkan hati.
Logat blak-blakan, khas arek Suroboyo,
Jujur apa adanya, tanpa rekayasa.
Bukan berarti kasar, namun lugas bertutur,
Menyampaikan makna, tulus mengukir alur.
Di dapur-dapur, aroma Lontong Balap merebak,
Gurih pedasnya memanggil, hati terpikat.
Bersama Rujak Cingur yang unik rasanya,
Kisah kuliner terangkai, warisan budaya.
Panggung Ludruk menyala, sederhana namun berjiwa,
Petuah bijak tersembunyi di balik tawa.
Cerita rakyat hidup, dibawakan dengan sukma,
Mengajarkan kearifan, menenangkan jiwa.
Langkah Tari Remo yang gagah, namun gemulai,
Menceritakan perjuangan, tak pernah usai.
Setiap ayunan tangan, gerak kaki yang pasti,
Adalah cerminan semangat, tak kenal henti.
Laut biru saksi bisu, sedekah laut dipanjatkan,
Wujud syukur pada Sang Kuasa, penuh harapan.
Keharmonisan alam dan manusia terjalin,
Budaya tulus, tak lekang dimakan angin.
Surabaya, bukan hanya kota pahlawan perkasa,
Namun juga pelabuhan budaya yang tak ada duanya.
Dalam setiap senyum, setiap nada, setiap rasa,
Terlukis indah budaya, abadi selamanya.
2025
Surabaya: Detak Jantung di Garis Khatulistiwa
Bukan cuma tugu yang menjulang megah,
Bukan sekadar kisah heroik yang merekah.
Surabaya ini, lebih dari yang terucap,
Sebuah simfoni hidup, tak pernah redup.
Di antara deru motor dan laju trem,
Ada keheningan pagi, saat kota terpejam.
Mentari pagi membias, di kaca-kaca gedung,
Mengukir janji, harapan yang terhubung.
Semangat “wani” mengalir di nadi jalan,
Bukan sekadar nekat, tapi tekad tanpa halangan.
Membangun asa dari puing, bangkit dari abu,
Menjadikan hari esok, lebih dari yang lalu.
Hawa laut bercampur aroma rempah-rempah,
Dari warung kecil hingga kafe yang gagah.
Nongkrong di Warkop, canda tawa renyah,
Merangkai persaudaraan, tak kenal lelah.
Tarian lampu kota di malam hari,
Memantulkan mimpi, tak henti berlari.
Di setiap sudut, ada kisah baru,
Surabaya menari, dengan irama sendu.
Sungai Kalimas, saksi bisu masa lalu,
Mengalir tenang, membawa waktu.
Dari pelabuhan tua, hingga taman yang asri,
Setiap jengkal tanah, punya cerita tersendiri.
Bukan hanya pahlawan yang dikenang,
Tapi jiwa pantang menyerah yang tak lekang.
Surabaya, sebuah entitas yang tak bisa disamai,
Istana hati, yang selalu dirindukan kembali.
Ini kota yang bernafas, tumbuh, dan bersemi,
Dengan segala keunikannya, abadi.
Surabaya, bukan sekadar titik di peta,
Tapi detak jantung, di garis Khatulistiwa.
2025
Seorang pecinta dunia sastra yang telah menggeluti dunia literasi sejak remaja. Ia memiliki ketertarikan khusus pada menulis puisi dan mendongeng. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini aktif menulis artikel online yang membahas kehidupan sosial, pendidikan, parenting, dan remaja. Saat ini, berperan sebagai pendidik, pendongeng, serta fasilitator pelatihan Read Aloud, berkomitmen untuk menginspirasi dan membangun kecintaan membaca melalui suara.


