Bandara Juanda selalu berbau sama. Campuran pendingin udara, parfum dari toko duty-free, dan sesuatu yang tidak bisa dinamai — bau pulang, mungkin. Sarah menarik koper kecil beroda dua miliknya melalui pintu kedatangan internasional, matanya memindai papan petunjuk bukan karena ia tidak tahu jalan, melainkan karena ia butuh alasan untuk tidak langsung berpikir.
Enam tahun. Enam tahun ia pergi ke Belanda dengan satu koper dan dua tekad: menyelesaikan gelar masternya, dan melupakan Reza.
Ia tidak yakin mana yang lebih sulit.
***
Cafe itu bernama Senja Kala — nama yang terlalu puitis untuk ukuran kedai kopi di pinggir jalan besar Sidoarjo, tapi begitulah adanya. Sarah memilih meja pojok dekat jendela. Ia memesan americano, lalu duduk tanpa membuka ponselnya. Di luar, jalanan siang itu bergerak seperti biasa: motor-motor yang saling selip, tukang cilok yang mendorong gerobak, seorang ibu yang menggandeng anak kecil berseragam merah putih.
Sarah menatap semua itu dari balik kaca. Seperti menonton film milik orang lain.
Kopi datang. Ia menyesapnya perlahan, dan kenangan — yang selama ini ia simpan rapat-rapat di sudut terdalam otaknya — mulai mengalir masuk tanpa permisi.
***
Reza datang ke hidupnya di semester tiga kuliah, dengan cara yang tidak dramatis sama sekali: ia meminjam pulpen Sarah di ruang tunggu klinik kampus, lalu mengembalikannya seminggu kemudian dengan nomor telepon tertulis di badan pulpen itu. Norak. Tapi Sarah tertawa, dan dari tawa itulah segalanya dimulai.
Empat tahun mereka bersama. Empat tahun Sarah belajar bahwa cinta bisa terasa seperti rumah — hangat, familiar, dan begitu mudah dilupakan betapa pentingnya ia sampai suatu hari kau kehilangannya.
Sampai ia melihat foto itu di Instagram seorang teman bersama. Reza dan Hana. Sahabatnya. Hana. Sahabatnya sendiri. Berpelukan di depan pohon natal di mal yang sama tempat ia dan Reza pernah kencan pertama. Caption-nya: my person.
Sarah tidak menangis malam itu. Ia hanya duduk di lantai kamar, memeluk lutut, dan memutuskan bahwa ia akan pergi sejauh mungkin.
Americano sudah setengah dingin. Sarah mengaduknya pelan, tanpa tujuan.
Bukan hanya Reza yang ia tinggalkan, sejujurnya. Ia juga meninggalkan ibunya — Bu Lies, perempuan kecil berambut keabuan yang selalu bangun subuh untuk memasak nasi goreng dan tidak pernah bisa berhenti mengomentari pilihan Sarah. Perempuan yang menangis setiap kali Sarah pergi jauh untuk kuliah ke Surabaya, apalagi ke Belanda.
Perempuan yang tidak sempat ia pamiti dengan benar.
***
Mereka pernah bersepeda bertiga — Sarah, Dinda, dan Bagas — di pagi buta sebelum upacara 17 Agustus. Jalan masih sepi, kabut tipis masih menggantung di atas sawah. Entah karena ngantuk atau karena terlalu semangat berlomba, Sarah oleng di tikungan dan jatuh. Lutut kanannya robek, darah mengalir pelan tapi dramatis.
Bagas panik. Dinda justru tertawa dulu sebelum berjongkok dan membantunya berdiri. “Kamu tuh ya, Sarah, kalah sama aspal.”
Bekas lukanya masih ada sampai sekarang. Bentuknya mirip bulan sabit kecil.
Ada juga kenangan yang tidak seindah itu. Kelas dua SMP, ujian akhir semester. Bu Lies tidak bisa membelikan sepatu baru yang Sarah minta — yang waktu itu harganya dua ratus ribu, tapi terasa seperti sejuta untuk seorang janda dengan gaji guru honorer. Sarah marah dengan cara yang hanya bisa dilakukan remaja: ia belajar seadanya, membiarkan nilainya jatuh, seolah nilai jelek itu adalah senjata.
Bu Lies menatap rapor itu tanpa berkata apa-apa. Tapi Sarah tahu ibunya menangis malam itu — karena suara isakannya terdengar tipis melewati dinding kamar yang memang tidak pernah kedap suara.
Penyesalan itu baru datang bertahun-tahun kemudian. Seperti penyesalan yang baik pada umumnya — selalu terlambat.
***
Seorang pelayan muda menghampiri mejanya. “Kak, mau tambah minum?”
Sarah mengangkat wajah. Di luar jendela, langit sudah berubah rona — oranye kemerahan menyapu barat, awan-awan tipis berwarna ungu muda. Senja. Ia sudah duduk di sini lebih dari tiga jam.
“Sudah, makasih ya,” katanya pelan.
Ia membayar, mengambil kopernya, dan berdiri.
Rumah ibunya hanya dua belas menit dari sini, kalau tidak macet. Sarah tahu itu seperti ia tahu detak jantungnya sendiri. Tapi dua belas menit itu terasa seperti jarak yang tidak bisa diukur dengan waktu.
Ia tidak tahu bagaimana cara pulang ke tempat yang ia tinggalkan tanpa pamit.
Tapi ia naik taksi online itu juga.
***
Pagar rumah itu sama. Cat hijaunya masih, meski sudah mengelupas di satu sudut. Pohon belimbing di halaman sudah lebih tinggi dari yang Sarah ingat. Lampu teras menyala — Bu Lies selalu menyalakan lampu teras sejak matahari terbenam, kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak Sarah kecil.
Sarah berdiri di depan pagar itu cukup lama. Cukup lama untuk seorang tukang bakso yang lewat menatapnya dengan heran.
Lalu pintu depan terbuka.
Bu Lies keluar dengan daster batik dan sandal jepit, mungkin hendak mengambil koran atau sekadar menghirup udara malam. Dan ketika matanya bertemu dengan bayangan anak perempuannya yang berdiri di luar pagar dengan koper dan wajah yang sudah tiga puluh tahun tapi masih tampak seperti bocah yang takut dimarahi —
Bu Lies terdiam.
Satu detik. Dua detik.
Lalu ia turun dari teras, membuka pagar dengan tangan yang sedikit gemetar, dan menggandeng tangan Sarah masuk ke dalam rumah. Tidak ada kata-kata. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada kemarahan.
Seperti biasa.
Di dalam, bau masakan sisa sore itu masih menggantung — bawang goreng, sedikit aroma jahe. Aroma yang sama dengan dua puluh tahun lalu, dengan sepuluh tahun lalu, dengan setiap kali Sarah pernah merasa dunia terlalu berat dan rumah ini adalah satu-satunya tempat yang tidak memintanya menjelaskan apa-apa.
Sarah duduk di kursi tamu yang kulitnya sudah retak-retak di pinggir. Bu Lies masuk ke dapur. Tidak lama, ia kembali dengan segelas teh hangat.
Tidak ada pertanyaan tentang enam tahun yang hilang. Tidak ada tuntutan penjelasan. Tidak ada air mata yang diperlihatkan — meski Sarah tahu, seperti ia selalu tahu, bahwa ibunya mungkin akan menangis nanti, sendirian, setelah yakin Sarah sudah tidur.
Bu Lies hanya duduk di sebelahnya, memandang ke depan, dan berkata:
“Sudah makan?”
Dan Sarah — perempuan tiga puluh tahun yang sudah menyelesaikan tesis tentang kebijakan migrasi, yang sudah bertahan enam tahun di negeri orang dalam cuaca dingin dan kesepian yang tidak bisa diceritakan — Sarah menjawab dengan suara yang pecah tanpa ia rencanakan:
“Belum, Bu.”
Bu Lies mengangguk, berdiri, dan masuk lagi ke dapur.
Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Sarah membiarkan bahunya turun — benar-benar turun — dan menyadari bahwa beberapa tempat di dunia ini tidak pernah berhenti menunggumu, bahkan ketika kamu tidak pantas ditunggu.
Ibu adalah salah satunya.
Mungkin satu-satunya.


