Anshar duduk di tepi ranjang dengan lampu kamar yang ia biarkan menyala. Sudah tiga puluh tahun kebiasaan itu tidak berubah. Lampu harus menyala. Sebab kegelapan penuh terlalu mirip dengan sesuatu yang ia tidak mau kenang setiap malam.
Istrinya pergi dalam gelap. Bukan karena mati lampu, bukan karena ia tidak mampu membayar tagihan listrik. Tapi begitulah Anshar mengingatnya — tubuh Ratih yang perlahan dingin di bawah lampu rumah sakit yang remang, dan bisikan itu, bisikan terakhir yang keluar dari bibir kering perempuan yang dua puluh tujuh tahun ia cintai.
“Menikahlah,” kata Ratih.
Anshar tidak menjawab. Ia menggenggam tangan istrinya sampai tangan itu tidak menggenggam balik.
Tiga puluh tahun. Ia tidak menikah.
***
Dua anaknya tumbuh baik. Dina, si sulung, perempuan yang mewarisi keteguhan ibunya, sekarang di Bandung ikut suaminya — seorang insinyur yang Anshar sukai karena tidak banyak bicara dan rajin menelepon mertua. Dua kali sebulan Dina mengirim foto cucu. Anshar menyimpan semuanya di folder yang ia beri nama “Keluarga” di ponselnya, tapi jarang ia buka karena setiap kali membuka folder itu ia merasa sesuatu di dadanya menjadi terlalu penuh.
Bimo, si bungsu, bekerja di lembaga penelitian energi nuklir di Jakarta. Anak laki-laki yang pendiam, rajin, dan memiliki cara bicara yang terlalu mirip dengan Anshar muda sehingga kadang percakapan mereka terasa seperti Anshar sedang bercakap-cakap dengan versi dirinya yang belum pernah kehilangan siapa-siapa.
Mereka baik-baik saja. Anak-anaknya baik-baik saja. Dan itulah masalahnya.
Karena kalau anak-anaknya tidak baik-baik saja, Anshar masih punya alasan untuk tidak memikirkan dirinya sendiri.
***
Kawannya, Hendra, tiga bulan lalu menikah lagi. Istrinya yang ketiga, perempuan dua puluh delapan tahun yang tertawa keras dan suka mengunggah foto liburan di media sosial. Hendra enam puluh dua tahun. Di warung kopi dekat rumah, ia cerita dengan wajah seperti orang yang baru menang lotre.
“Hidup itu singkat, Shar,” kata Hendra sambil menghisap rokok kreteknya. “Kamu mau habiskan sendirian?”
Anshar waktu itu hanya tersenyum. Ia tidak bilang bahwa ia tidak merasa sendirian. Tapi ia juga tidak bilang bahwa ia tidak merasa sepi.
Keduanya berbeda.
Tidak sendirian berarti ada Dina dan Bimo, ada foto cucu di folder yang jarang dibuka, ada pensiun dari perusahaan transportasi yang cukup untuk hidup lebih dari layak, ada tubuh yang masih tegak — otot di lengannya belum mengendur, rambutnya putih semua tapi penuh, tidak seperti Hendra yang berambut tipis dan menutupinya dengan topi.
Sepi adalah hal lain. Sepi adalah ketika malam terlalu panjang dan tidak ada suara napas di sebelah kanannya.
***
Malam itu Anshar tidak bisa tidur.
Ia berbaring selama satu jam. Kemudian duduk. Kemudian berdiri dan minum air di dapur dan berdiri di depan jendela melihat jalanan pinggiran kota yang gelap dan sepi. Seekor kucing lewat. Lampu motor dari kejauhan. Tidak ada yang lain.
Ia mandi, memakai baju rapi — kemeja lengan panjang yang Bimo belikan waktu lebaran, warna abu-abu tua — dan keluar.
Ia tidak tahu ke mana. Atau mungkin ia tahu, tapi tidak mau mengakuinya bahkan kepada dirinya sendiri.
Yang pasti, ia berjalan ke minimarket di ujung blok yang buka dua puluh empat jam, menyala sendirian di antara toko-toko yang sudah tutup, seperti satu-satunya orang yang belum tidur di antara orang-orang yang sudah lama menyerah pada malam.
***
Perempuan itu berdiri di depan rak minuman. Anshar melihatnya dari sudut mata ketika ia mengambil keranjang belanja — kebiasaan lama, ia selalu ambil keranjang meski hanya beli satu atau dua barang.
Ia tidak bermaksud memperhatikan. Tapi perempuan itu memiliki cara berdiri yang janggal — seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu yang tidak datang-datang, atau seperti seseorang yang datang bukan untuk membeli apa-apa.
Tiga puluh enam tahun, Anshar taksir. Wajahnya lelah tapi cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat — seperti kecantikan yang sudah melewati banyak hal dan bertahan meski tidak ingin bertahan.
Anshar mengambil susu UHT. Kemudian berdiri di sebelah rak yang sama pura-pura memilih teh kemasan.
“Susunya bagus,” kata perempuan itu tiba-tiba, tanpa menoleh.
Anshar tidak tahu harus menjawab apa. “Saya tahu,” katanya akhirnya. “Saya beli ini setiap minggu.”
Perempuan itu menoleh. Matanya menilai — bukan dengan cara yang menjijikkan, tapi dengan cara orang yang sudah terbiasa membaca situasi dalam hitungan detik.
“Bapak tinggal di sini?”
“Blok sebelah.”
“Sendirian?”
Ada jeda. “Ya.”
***
Namanya Sasa. Ia cerita ini belakangan, setelah mereka duduk di bangku plastik depan minimarket dengan dua gelas kopi sachet yang dibeli Anshar — Sasa menolak tapi kemudian menerimanya — dan suara motor yang sesekali lewat menjadi satu-satunya tanda bahwa dunia masih ada di luar percakapan mereka.
Buruh pabrik di kawasan industri sebelah barat. Shift siang, tapi malam ini ia tidak bisa tidur — alasan yang sama dengan Anshar, meski sumbernya berbeda. Sasa tidak bilang apa sumbernya, dan Anshar tidak bertanya.
Mereka bicara tentang hal-hal yang tidak penting. Anshar cerita tentang pensiun, tentang betapa anehnya tiba-tiba punya banyak waktu setelah tiga puluh tahun tidak punya waktu. Sasa mendengarkan dengan serius, seperti orang yang benar-benar tertarik, bukan seperti orang yang menunggu giliran bicara.
“Bapak tidak bosan?” tanya Sasa.
“Tidak bosan,” kata Anshar. “Sepi.”
Sasa diam sebentar. “Ada bedanya.”
“Ya. Ada bedanya.”
Anshar tidak tahu mengapa ia merasa dilihat. Bukan dengan cara yang membuat tidak nyaman, tapi dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan — cara seorang manusia melihat manusia lain dan benar-benar mau tahu apa yang ada di dalamnya.
***
Pada titik tertentu dalam percakapan itu — Anshar tidak bisa menentukan kapan tepatnya — sesuatu berubah.
Bukan perubahan yang dramatis. Tidak ada yang diucapkan secara langsung. Tapi ada isyarat kecil yang keduanya mengerti tanpa harus menjelaskan, seperti dua orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak pernah diajarkan di mana pun tapi keduanya tahu.
Sasa yang bangkit duluan. “Mau ke mana bapak malam ini?”
Anshar menatap gelas kopinya yang sudah kosong. Ia berpikir tentang jawaban yang jujur. “Belum tahu.”
“Bohong,” kata Sasa, tapi tanpa nada menghakimi. Lebih seperti seseorang yang menyebut fakta.
Anshar tidak membantah.
***
Kamar kos Sasa kecil tapi bersih. Ada foto anak kecil di lemari — keponakan, kata Sasa, tapi Anshar tidak yakin dan memilih tidak bertanya. Ada kipas angin di pojok yang berputar lambat. Bau deterjen dan sesuatu yang manis, mungkin sabun mandi.
Anshar duduk di satu-satunya kursi di kamar itu dan Sasa duduk di tepi ranjang, dan untuk beberapa saat keduanya diam.
“Bapak mau saya tanya sesuatu?”
“Tanya saja.”
“Ini pertama kali?”
Anshar tahu apa maksud pertanyaan itu. Ia tidak pura-pura tidak tahu. “Ya.”
“Kenapa sekarang?”
Anshar memikirkan ini lebih lama dari yang seharusnya. Di luar, ada suara motor yang lewat, kemudian senyap. “Karena terlalu lama tidak,” katanya akhirnya.
Sasa mengangguk pelan. Bukan anggukan yang mengiyakan, lebih seperti anggukan seseorang yang memahami sesuatu yang tidak perlu diverifikasi.
“Bapak pernah menikah?”
“Pernah. Istri saya meninggal tiga puluh tahun lalu.”
Sasa tidak bilang: *kasihan*, atau *maaf ya*, atau hal-hal yang biasa diucapkan orang ketika tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bilang, “Bapak mencintainya.”
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
“Masih,” kata Anshar. Dan ia terkejut mendengar kata itu keluar dari mulutnya sendiri, karena ia tidak pernah mengatakannya dengan lantang sebelumnya.
***
Mereka tidak terburu-buru. Itu yang paling Anshar ingat kemudian — tidak ada yang terburu-buru. Seolah keduanya tanpa berunding sepakat bahwa malam ini bukan tentang sesuatu yang harus diselesaikan.
Sasa memiliki cara bergerak yang tenang. Anshar yang selama ini membayangkan momen semacam ini — dan ia jujur pada dirinya sendiri bahwa ia membayangkannya, meski dengan rasa bersalah yang tidak kecil — tidak pernah membayangkan ketenangan ini. Ia selalu mengira akan ada kecemasan, atau rasa bersalah yang mencegahnya, atau sesuatu dari dalam dirinya yang akan memberontak.
Tapi yang ada hanya ini: malam, kipas angin yang berputar, dan seseorang yang hadir sepenuhnya.
Pada satu titik Sasa berbisik sesuatu yang Anshar tidak tangkap jelas. Ia bertanya, “Apa?”
“Tidak apa-apa,” kata Sasa. “Saya hanya bilang terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena bapak tidak pernah membuat saya merasa tidak ada.”
Anshar diam. Ia tidak tahu ada yang bisa dikatakan setelah kalimat seperti itu.
***
Setelahnya, mereka berbaring di ranjang yang sempit itu — sisi-sisi tubuh mereka yang bersentuhan tapi tidak berpelukan — dan Anshar menatap langit-langit kamar yang retak di satu sudut.
“Bapak mau tanya sesuatu?” kata Sasa.
“Boleh.”
“Tapi tidak akan tanya.”
Anshar menoleh. Sasa menatap langit-langit juga.
“Saya tahu bapak mau tanya kenapa saya di sini,” kata Sasa. “Kenapa saya melakukan ini. Kenapa perempuan seperti saya — itu yang ada di pikiran bapak, kan, *perempuan seperti saya* — ada di sini.”
Anshar tidak menjawab karena memang itu yang ia pikirkan.
“Ada orang yang membantu saya mencari… tamu,” kata Sasa. Kata *tamu* itu keluar dengan nada yang tidak mengandung apa-apa — bukan kepahitan, bukan ironi. Hanya kata yang ia pilih karena kata itu yang paling tidak menyakiti. “Rekan kerja. Namanya Udin. Ia dapat bagian, saya dapat bagian.”
Anshar merasakan sesuatu bergerak di dadanya. Bukan kaget — ia tidak naif sepenuhnya. Lebih seperti sesuatu yang sudah ia duga tapi tetap terasa berbeda ketika menjadi nyata.
“Kenapa bapak perlu tahu ini?” tanya Sasa, tapi kalimatnya tidak terdengar seperti pertanyaan yang menuntut jawaban.
“Saya tidak tahu,” kata Anshar jujur.
“Karena bapak orang baik,” kata Sasa. “Dan orang baik selalu merasa perlu tahu segalanya supaya bisa memutuskan apakah mereka masih boleh merasa baik.”
Anshar diam lama. “Itu tidak adil.”
“Tidak ada yang adil, Pak Anshar.”
***
Ia tidak bertanya tentang Udin lebih jauh. Ia tidak bertanya apakah Udin tahu ia di sini, apakah ada orang yang menunggu kabar, apakah ada sesuatu yang akan terjadi setelah malam ini berakhir.
Pertanyaan-pertanyaan itu ada. Ia hanya memilih untuk tidak mengucapkannya, karena ia tahu — dengan cara yang baru ia mengerti malam itu — bahwa beberapa pertanyaan bukan untuk dijawab. Beberapa pertanyaan hanya perlu diketahui keberadaannya, seperti retak di langit-langit yang tidak perlu diperbaiki malam itu juga.
Mereka berbicara lagi, tentang hal-hal kecil. Sasa cerita tentang kampungnya di suatu tempat di Jawa Timur yang namanya tidak Anshar kenali. Tentang adiknya yang masih sekolah. Tentang cita-cita yang tidak ia sebutkan dengan jelas tapi Anshar rasa dapat menebak bentuknya — sebuah kehidupan yang lebih tidak rumit dari yang sekarang.
Anshar cerita tentang Ratih. Hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun selain dirinya sendiri dalam keheningan ranjang yang sudah tiga puluh tahun hanya ia tiduri seorang diri. Tentang bagaimana Ratih suka makan kerupuk dengan cara yang berisik dan tidak malu-malu. Tentang bagaimana Ratih menangis di bioskop untuk film yang seharusnya tidak membuat orang menangis. Tentang bagaimana bisikan terakhir itu — *menikahlah* — adalah pesan yang paling mencintai dan paling menyiksa yang pernah ada.
“Bapak tidak mau menikah karena cinta dia?” tanya Sasa.
“Saya tidak tahu,” kata Anshar. “Mungkin karena takut tidak bisa mencintai orang lain dengan cara yang sama. Mungkin karena saya pikir itu tidak adil untuk perempuan manapun.”
“Tapi bapak sudah menyiksa diri sendiri tiga puluh tahun.”
“Mungkin itu juga tidak adil,” akui Anshar.
Sasa tidak menjawab. Ia hanya menggeser sedikit posisinya sehingga bahunya menyentuh lengan Anshar, dan keduanya diam dengan cara yang tidak memerlukan kata-kata.
***
Jam tiga kurang ketika Anshar bersiap pergi. Sasa membuatkan teh — entah dari mana ia punya kompor kecil dan teh celup di kamar sekecil itu — dan mereka duduk berhadapan di ranjang dengan gelas panas di tangan masing-masing.
“Bapak mau ke sini lagi?” tanya Sasa.
Anshar memegang tehnya. “Saya tidak tahu apakah itu ide yang baik.”
Sasa mengangguk pelan. “Saya juga tidak tahu. Tapi saya tanya bukan karena itu.”
“Lalu karena apa?”
Sasa diam sebentar. “Karena malam ini bapak membuat saya merasa seperti manusia. Bukan seperti sesuatu yang dipinjam.” Ia menatap tehnya. “Itu jarang.”
Anshar tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk merespons itu. Semua yang terlintas di pikirannya terasa terlalu kecil atau terlalu besar.
Maka ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menghabiskan tehnya.
***
Di jalan yang lengang menuju rumah, langkah Anshar lebih lambat dari biasanya. Bukan karena lelah. Kakinya masih kuat — ia olahraga tiga kali seminggu, kebiasaan yang ia pertahankan bahkan setelah pensiun.
Ia berjalan lambat karena tidak terburu-buru.
Itu sendiri sudah terasa seperti sesuatu yang baru.
Di depan rumahnya, ia berhenti sebentar. Lampu teras yang ia pasang dengan timer menyala otomatis pada pukul enam pagi — masih dua jam lagi. Rumah itu gelap dari luar. Tapi Anshar tahu di dalam sana lampunya menyala, karena ia selalu lupa mematikannya sebelum pergi.
Ia masuk.
Ia tidak langsung tidur. Ia duduk di kursi ruang tamu — kursi yang sudah dua puluh tahun ada di sana, yang pelapisnya sudah sedikit pudar di sisi kanan karena itu sisi yang selalu ia duduki — dan ia diam.
Dari meja kecil di sebelahnya, ponselnya berkedip. Notifikasi dari Dina — foto yang dikirim tadi malam, cucu yang baru bisa berdiri sambil berpegangan pada meja. Anshar membuka foto itu.
Ia menatapnya lama.
Kemudian ia meletakkan ponselnya kembali, bersandar di kursi, dan menutup matanya.
Ia tidak memikirkan apakah malam tadi adalah kesalahan. Ia tidak memikirkan Udin, atau nama-nama yang tidak ia ketahui, atau semua hal yang menggantung di luar malam itu seperti cuaca yang belum tiba.
Yang ia pikirkan adalah ini:
Tiga puluh tahun, dan baru malam ini ada perempuan yang menyebut namanya — *Pak Anshar* — dengan cara yang membuat namanya terdengar seperti sesuatu yang utuh.
Ratih pernah melakukan itu juga. Dulu.
Anshar membiarkan matanya tetap terpejam. Di luar, langit mulai berubah warna, lambat sekali, dari hitam menjadi sesuatu yang bukan hitam tapi belum bisa disebut terang.
Ia tertidur di kursi itu, dengan lampu yang masih menyala.


