Hari ini genap lima belas tahun Budi menikah. Ia ingat karena istrinya memasak opor ayam pagi tadi—menu yang sama seperti lima belas tahun lalu. Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada pelukan. Hanya opor ayam di meja makan, dan istrinya yang sudah kembali ke kamar saat Budi selesai mandi.
Pernikahan mereka seperti kontrak yang diperpanjang otomatis setiap tahun. Tidak ada keluhan besar, tidak ada kebahagiaan mencolok. Hanya datar. Seperti grafik detak jantung orang yang tidur terlalu lama.
Budi berangkat kerja pukul tujuh pagi. Pulang pukul enam sore. Gajinya pas-pasan, di bawah UMR, tapi cukup untuk makan sebulan dan bayar listrik. Istrinya bekerja paruh waktu di toko kelontong dekat rumah. Mereka jarang bicara. Kalau pun bicara, hanya soal tagihan atau tetangga yang berisik.
Budi tahu istrinya menikah dengannya bukan karena cinta. Dulu, saat ada yang menerima lamarannya, Budi langsung menganggukkan kepala. Ia tidak pernah bertanya apakah perempuan itu benar-benar menginginkannya. Ia hanya takut tidak ada yang mau lagi.
Wajahnya biasa saja. Prestasinya biasa saja. Hidupnya biasa saja.
Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, istrinya sudah tidur pukul setengah delapan.
Budi tidak tahu kapan mulai rutin mampir ke taman kota ini setelah pulang kerja. Mungkin tiga bulan lalu, saat ia merasa sesak di rumah dan memutuskan jalan kaki lebih lama.
Taman itu tidak istimewa—hanya ada beberapa bangku kayu, lampu taman yang setengahnya mati, dan pohon beringin tua di tengahnya.
Tapi di sana ada perempuan muda yang menari.
Bukan penari profesional. Bukan pertunjukan berbayar. Hanya mahasiswi—mungkin awal dua puluhan—dengan tas ransel kampus masih tergeletak di samping pohon. Ia menari sendiri, kadang dengan earphone, kadang tanpa musik sama sekali. Gerakannya bebas, kadang patah-patah, kadang mengalir seperti air.
Budi selalu duduk di bangku nomor tujuh. Dari sana ia bisa melihat tanpa mengganggu.
Ia tidak tahu kenapa ia kembali lagi esok harinya. Dan lusa. Dan seterusnya.
Mungkin karena ada sesuatu yang hidup di sana—sesuatu yang sudah lama mati di dalam dirinya.
Percakapan pertama mereka terjadi secara tidak sengaja.
Perempuan itu berhenti menari, terengah-engah, lalu duduk di rumput. Ia melihat Budi, tersenyum ramah.
“Bapak sering di sini ya?”
Budi tersentak. “Iya… setelah kerja.”
“Saya juga. Latihan di sini lebih enak daripada di kampus. Lebih sepi.”
Budi hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus bilang apa.
Perempuan itu tersenyum lagi. “Saya Dara. Mahasiswa seni tari.”
“Budi.”
Hening sejenak. Lalu Dara bangkit, kembali ke tengah taman, dan melanjutkan gerakannya.
Sejak itu, mereka sering berbicara. Tidak lama—hanya sepuluh menit, kadang lima.
Dara bercerita tentang tugas kuliahnya, tentang koreografer yang galak, tentang mimpinya pentas di luar negeri. Budi hanya mendengarkan, sesekali berkomentar dengan kalimat pendek.
Tapi Dara tidak pernah bosan. Ia bahkan mulai menanyakan pendapat Budi.
“Menurut Bapak, gerakan tadi terlalu kaku nggak?”
“Nggak. Bagus kok.”
“Bapak ngerti tari?”
“Nggak. Tapi saya suka lihat orang yang serius sama yang dia kerjakan.”
Dara tertawa. “Bapak ini… unik.”
Budi tidak tahu apa artinya ‘unik’. Tapi ia merasa hangat mendengarnya.
Hubungan mereka tidak pernah melewati batas. Tidak ada sentuhan, tidak ada janji, tidak ada harapan untuk lebih. Hanya dua orang yang kebetulan bertemu di waktu yang tepat—atau mungkin salah.
Bagi Budi, Dara seperti jendela kecil di tembok hidupnya yang pengap. Ia tidak mencintainya. Ia bahkan tidak membayangkan memilikinya. Ia hanya… senang ia ada.
Bagi Dara, Budi adalah penonton yang tidak menghakimi. Tidak seperti dosen yang terus mengoreksi, atau teman-teman yang hanya memuji tanpa sungguh-sungguh. Budi melihatnya menari dengan tatapan tulus—seperti ayah yang menonton anaknya tampil di panggung sekolah.
Dan Dara merasa, untuk pertama kalinya, tariannya dilihat.
Kamis sore, hujan turun deras.
Budi tetap datang. Ia duduk di bangku nomor tujuh dengan payung lusuh di tangan. Dara tidak muncul.
Jumat sore, cerah. Budi datang lagi. Dara tidak ada.
Sabtu. Minggu. Senin.
Budi mulai cemas. Tapi ia tidak punya cara untuk menghubunginya. Mereka tidak pernah bertukar nomor. Mereka bahkan tidak tahu nama lengkap satu sama lain.
Selasa sore, Budi memutuskan pulang lebih cepat dari kantor. Ia ingin memastikan Dara baik-baik saja. Ia berjalan cepat menuju taman, menyeberang jalan tanpa sabar.
Lalu ada klakson panjang.
Rem yang menjerit.
Dan dunia Budi berakhir sebelum ia sempat sampai ke bangku nomor tujuh.
***
Dara kembali ke taman pada Rabu sore.
Ia absen seminggu karena sakit demam. Saat ia tiba, taman itu sepi seperti biasa. Ia menaruh tasnya di bawah pohon beringin, memasang earphone, dan mulai meregangkan tubuh.
Tapi ada yang aneh.
Bangku nomor tujuh kosong.
Dara menoleh beberapa kali sambil menari. Mungkin Pak Budi terlambat hari ini. Mungkin ia ada urusan.
Tapi sore itu berlalu. Pak Budi tidak datang.
Keesokan harinya, Dara kembali. Bangku nomor tujuh masih kosong.
Hari berikutnya. Masih kosong.
Seminggu berlalu. Sebulan berlalu.
Dara terus menari. Tapi gerakannya terasa hambar. Ia tidak tahu kenapa.
Mungkin karena tidak ada lagi yang melihat dengan sungguh-sungguh.
Mungkin karena bangku nomor tujuh selalu kosong.
Suatu sore, Dara duduk di rumput, menatap bangku itu.
“Pak Budi kemana ya…” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Angin sore bertiup, menerbangkan daun-daun kering.
Dan Dara menari lagi—kali ini untuk bangku kosong yang dulu selalu terisi.
Surabaya, Desember 2025


