Langit sore menggantungkan mendung tipis ketika Rina melangkah masuk ke sebuah coffee shop kecil di sudut kota. Perempuan paruh baya itu masih sama seperti yang Mario kenal beberapa tahun terakhir. Wajahnya teduh, senyumnya hangat, selalu membuat siapa pun lupa bahwa hidup pernah berkali-kali merenggut kebahagiaannya.

Mario sudah menunggu di meja dekat jendela.

“Akhirnya datang juga,” katanya sambil menggeser secangkir cappuccino ke arah Rina.

“Macet,” jawab Rina singkat, lalu tertawa kecil.

Mereka mengobrol seperti biasa. Tentang pekerjaan, anak-anak, dan kenangan lucu yang tak pernah habis.

Di tengah percakapan, Rina tiba-tiba menopang dagunya.

“Rio…”

“Iya?”

“Gimana kalau aku nikah lagi?”

Mario menatapnya beberapa detik. Pertanyaan itu terdengar seperti candaan. Rina mengatakannya sambil tersenyum, bahkan memainkan sedotan minumannya.

“Bagus.”

Rina mengangkat alis.

“Serius?”

“Iya. Kamu masih punya banyak waktu buat bahagia. Anak-anakmu juga sudah mulai besar.”

“Kalau benar-benar ada yang melamar?”

Mario tersenyum lebih lebar.

“Jangan ditolak hanya karena masa lalu.”

Rina tertawa pelan.

“Berarti kamu ngizinin?”

Mario mengangguk ringan.

“Kok minta izin aku? Yang jelas, aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu.”

Rina mengalihkan pandangan ke luar jendela. Senyumnya tetap ada, tetapi matanya tampak berkabut.

“Syukurlah…”

Mario tidak menyadari, kalimat itu bukan sekadar candaan.

Itu adalah pamit.

***

Seminggu kemudian mereka bertemu lagi.

Bukan di coffee shop, melainkan di sebuah warung susu langganan mereka.

Namun kali itu Rina terlihat berbeda.

Wajahnya pucat.

Gerakannya lambat.

Saat hendak duduk, ia meringis kecil.

“Kamu kenapa?”

“Nggak tahu.”

Rina mengusap lututnya.

“Sendi-sendiku sakit semua.”

Mario memperhatikan tangan Rina yang sedikit membengkak.

“Itu bengkak?”

“Iya… sempat lebih parah kemarin.”

“Sudah periksa?”

“Sudah.”

“Terus?”

“Katanya masih harus observasi.”

Mario menghela napas.

“Kamu harus istirahat.”

Rina tersenyum.

“Nanti juga sembuh.”

Mario tahu Rina bukan tipe perempuan yang suka mengeluh.

Kalau sampai ia bercerita soal rasa sakit, berarti rasa sakit itu benar-benar tidak biasa.

***

Seminggu berlalu.

Suatu sore, Juleha datang ke kantor Mario.

“Ada titipan.”

Ia menyodorkan sebuah amplop putih.

Mario membukanya.

Undangan pernikahan.

Nama mempelainya adalah Rina.

Mario terdiam cukup lama.

“Kenapa dia nggak kasih sendiri?”

Juleha menunduk.

“Katanya… nggak tega.”

Mario mengusap pelan nama Rina yang tercetak di kertas itu.

Entah mengapa dadanya sesak.

Bukan karena Rina akan menikah.

Melainkan karena ia baru sadar…

Pertanyaan di coffee shop waktu itu ternyata bukan candaan.

***

Tiga hari menjelang resepsi.

Juleha menelepon Mario.

“Rina dirawat.”

“Apa?”

“Masuk rumah sakit.”

Mario langsung berdiri.

“Kenapa?”

“Katanya kondisinya drop.”

Mario berniat datang.

Namun ia mengurungkan niat.

Ia takut kehadirannya justru membuat keadaan menjadi canggung.

Rina sudah memiliki calon suami.

Ada batas yang harus ia hormati.

Ia hanya mengirim pesan singkat.

“Semoga cepat sembuh. Jangan lupa istirahat.”

Tak lama kemudian muncul balasan.

“Terima kasih, Rio.”

Hanya itu.

***

Sehari menjelang resepsi.

Juleha kembali memberi kabar.

“Rina pulang paksa.”

“Pulang?”

“Iya.”

“Dokter mengizinkan?”

“Katanya… Rina yang memaksa.”

“Kenapa?”

Juleha terdiam.

“Dia bilang… kalau memang waktunya sedikit, dia ingin tetap menjadi istri.”

Mario tidak sanggup menjawab.

***

Hari resepsi tiba.

Hari itu terasa ganjil bagi Mario.

Pagi-pagi sekali ia masih ragu apakah harus datang atau tidak. Berkali-kali ia memandangi undangan yang sudah beberapa hari tersimpan di tas kerjanya.

Hingga akhirnya dua sahabat Rina, Juleha dan Siska, menghubunginya.

“Ayo berangkat bareng,” kata Juleha. “Rina pasti senang kalau teman-teman datang.”

Mario mengangguk pelan.

Mereka bertiga berangkat dengan satu mobil.

Sepanjang perjalanan hampir tak ada percakapan. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Sesampainya di lokasi, resepsi berlangsung sangat sederhana. Tidak ada dekorasi mewah ataupun deretan tamu yang panjang. Hanya keluarga dekat, beberapa sahabat, dan para tetangga yang hadir.

Suasana justru terasa hangat.

Di pelaminan, Rina duduk berdampingan dengan suaminya.

Gaun putih sederhana membalut tubuhnya. Riasan wajah membuatnya tampak begitu anggun. Senyumnya mengembang menyambut setiap tamu yang datang memberi selamat.

Namun dari tempat Mario berdiri, ia masih dapat melihat sesuatu yang tidak mampu disembunyikan oleh riasan secantik apa pun.

Wajah Rina tetap pucat.

Bahkan ketika tersenyum, ada letih yang menggantung di kedua matanya.

Sesekali Rina menarik napas panjang, seolah tenaga yang dimilikinya harus dihemat untuk tetap duduk tegak di pelaminan.

Mario teringat kabar bahwa sehari sebelumnya Rina pulang paksa dari rumah sakit.

Dadanya terasa sesak.

Saat tiba giliran mereka memberi ucapan selamat, Juleha dan Siska berjalan lebih dulu.

Mario mengikuti beberapa langkah di belakang.

Begitu melihatnya, mata Rina berbinar.

Senyum itu masih sama.

Senyum yang dulu sering hadir ketika mereka berbincang di coffee shop atau menikmati segelas susu hangat di warung langganan.

“Terima kasih sudah datang,” ucap Rina lembut.

Mario membalas senyumnya.

“Selamat ya.”

Hanya dua kata itu yang keluar.

Tak ada kalimat panjang.

Tak ada candaan seperti biasanya.

Rina mengangguk pelan.

“Doakan semoga aku bahagia.”

“Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”

Untuk sesaat, keduanya saling memandang dalam diam.

Seolah ada begitu banyak kata yang ingin keluar, tetapi sama-sama memilih menyimpannya.

Juleha yang memahami keadaan segera mengajak mereka berfoto bersama.

Kilatan kamera mengabadikan empat sahabat itu dalam satu bingkai.

Sebelum pulang, Mario menoleh sekali lagi ke arah pelaminan.

Rina masih tersenyum kepada tamu-tamu yang berdatangan.

Senyum yang begitu tulus.

Senyum seorang perempuan yang akhirnya menemukan pelabuhan baru setelah bertahun-tahun diterpa kehilangan.

Mario ikut tersenyum.

Dalam hati ia benar-benar berharap kali ini hidup akhirnya berpihak kepada Rina.

***

Keesokan paginya.

Pukul tujuh.

Ponsel Mario berdering.

Nama Juleha muncul di layar.

Entah mengapa, jantung Mario tiba-tiba berdegup lebih cepat.

“Rio…”

Suara Juleha bergetar.

“Iya?”

“…Rina meninggal.”

Sunyi.

Mario tidak menjawab.

Ia merasa baru saja kehilangan suara.

Juleha menangis di seberang telepon.

“Subuh tadi…”

Telepon masih tersambung.

Namun Mario sudah tidak mendengar apa-apa lagi.

Tatapannya kosong.

Tangannya gemetar.

Ia seolah masih tidak percaya.

***

Siang itu Mario datang ke pemakaman.

Ia berdiri paling belakang.

Tak ada yang memperhatikannya.

Ia memang bukan siapa-siapa.

Bukan keluarga.

Bukan saudara.

Bukan pula seseorang yang pantas menangis paling keras.

Ketika tanah terakhir menutup liang lahat, Mario memejamkan mata.

Dalam benaknya kembali terngiang percakapan di coffee shop.

“Gimana kalau aku nikah lagi?”

“Bagus.”

“Berarti kamu ngizinin?”

“Yang jelas, aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu.”

Kini ia mengerti.

Rina tidak sedang meminta pendapat.

Ia sedang meminta izin untuk pergi.

Dan ia…

Tanpa sadar…

Sudah mengizinkannya.

***

Beberapa bulan kemudian, Mario kembali duduk di coffee shop yang sama.

Kursi di depannya kosong.

Pelayan bertanya, “Menunggu seseorang, Pak?”

Mario menggeleng pelan.

“Tidak.”

Ia memang tidak sedang menunggu.

Karena orang yang pernah mengisi kursi itu sudah tidak mungkin datang lagi.

Ia hanya memesan dua cangkir kopi, seperti kebiasaan mereka dulu.

Satu ia minum perlahan.

Satunya lagi dibiarkan tetap hangat, mengepulkan uap tipis yang lama-kelamaan menghilang bersama waktu.

Seperti sebuah cinta yang tak pernah terucap.

Tidak pernah dimiliki.

Namun akan terus hidup, diam-diam, di hati seseorang yang memilih mencintai tanpa pernah meminta untuk dicintai kembali.

Share.