Nama adalah doa, kata orang bijak. Kalau begitu, ayah Awam adalah orang yang berdoa sambil terpejam, di tempat yang salah, kepada tuhan yang sedang tidak bertugas.
Ceritanya begini. Ketika Awam lahir — merah, keriput, dan sudah tampak bingung — ayahnya berdiri di loket pencatatan sipil dengan dada membusung. Ia ingin anaknya bernama Awan. Nama yang ringan, nama yang terbang, nama yang setidaknya tidak menimbulkan pertanyaan. Namun ayahnya bicara dengan logat Madura yang kental seperti petis, dan petugas loket itu baru dua minggu bertugas dan belum sepenuhnya paham bahwa tugasnya adalah mendengarkan, bukan menebak. Maka tertulislah: Awam.
Ayahnya tidak bisa membaca. Ia pulang dengan senyum lebar.
Awam baru tahu namanya ketika masuk sekolah dasar. Ia protes. Gurunya bilang, “Nama itu amanah.” Awam ingin membalas, tapi ia masih enam tahun dan belum menguasai sarkasme.
Tiga puluh tahun kemudian, Awam masih belum menguasai sarkasme. Yang ia kuasai hanyalah cara jatuh dengan elegan — atau setidaknya, dengan konsisten.
Orang tuanya pergi dalam satu kecelakaan yang terlalu dramatis untuk disebut tragedi biasa: truk pengangkut tahu bertabrakan dengan angkot di Jembatan Wonokromo, dan kedua kendaraan itu memilih untuk tidak menanggung malu dengan cara yang sama-sama spektakuler. Awam waktu itu sedang duduk di warung, makan nasi dengan lauk kerupuk, karena memang itulah yang ia mampu. Ia mendengar kabar itu dari tetangga, selesai mengunyah, lalu menangis pelan — bukan karena tidak cinta, tapi karena air matanya pun tampaknya enggan keluar terlalu deras untuk orang bernama Awam.
SMA ia tamatkan dengan cara yang khas: tidak tamat. Tawuran di tahun kedua membuatnya dikeluarkan, bukan karena ia yang memukul, melainkan karena ia yang dipukul — dan wajahnya terlalu rusak untuk diabaikan pihak sekolah. “Bukti nyata kekerasan,” kata kepala sekolah, “dan kami tidak bisa membiarkan hal ini.” Awam ingin bertanya siapa sebenarnya yang tidak boleh dibiarkan, tapi rahangnya masih bengkak dan diksi terasa mewah.
Maka ia jadi buruh. Buruh kasar di sebuah perusahaan distribusi di kawasan Margomulyo — kerja yang tidak menuntut ijazah, hanya punggung yang kuat dan hati yang lebih kuat lagi.
Di sinilah semesta, yang rupanya punya selera humor rendahan, mulai bekerja lembur.
Namanya Sinta. Karyawati bagian administrasi, dengan senyum yang, menurut Awam, bisa dijual mahal. Awam menggodanya suatu siang di kantin — bukan dengan cara yang cerdas, memang, sebab Awam tidak pernah mengklaim dirinya cerdas. Ia hanya bilang, “Mbak, kayaknya aku pernah lihat Mbak di mimpi.” Kalimat yang sudah usang sejak dua dekade lalu.
Sinta tertawa. Bukan karena terkesan, tapi karena Awam mengucapkannya sambil tersedak kuah soto.
Dua hari kemudian, Awam dipanggil ke ruangan Pak Hendra, sang bos. Pak Hendra adalah laki-laki yang tubuhnya mengesankan bahwa ia tidak pernah mengenal kata “cukup” — dalam hal makan, dalam hal kuasa, dan rupanya, dalam hal asmara. “Kamu mengganggu karyawati saya,” kata Pak Hendra datar. Awam dipecat sebelum sempat menjelaskan bahwa ia sebenarnya hanya tersedak.
Awam pulang ke kamar kosnya di Gubeng dengan langkah orang yang sudah terbiasa kalah, tapi masih heran mengapa kalah terasa seperti rumah.
Tiga minggu menganggur. Lalu sebuah amplop datang.
Dari seseorang bernama Taufan Prasetyo, yang ternyata adalah pemilik kos mewah di Pakuwon, yang ternyata kenal Sinta, yang ternyata — dan ini bagian di mana semesta mulai tertawa terbahak-bahak — adalah kekasih diam-diam Sinta yang selama ini membiayai hidupnya dari kejauhan seperti donatur tanpa nama.
Isi amplopnya: uang tunai lima juta, dan secarik kertas bertulisan tangan: Terima kasih sudah membuat Sinta tertawa. Semoga hidupmu membaik.
Awam membaca surat itu dua kali. Kemudian tiga kali. Ia tidak mengerti mengapa seseorang yang tidak dikenalnya merasa perlu berterima kasih, tapi lima juta adalah lima juta, dan perutnya sudah tiga hari hanya kenal tempe.
Ia pergi ke warung makan. Memesan ayam goreng. Duduk dengan tenang.
Berita itu datang lewat grup WhatsApp eks-karyawan, dua hari kemudian.
Pak Hendra ketahuan. Bukan ketahuan satu hal, melainkan dua hal sekaligus: bahwa ia punya hubungan gelap dengan Sinta, dan bahwa Taufan Prasetyo — si dermawan misterius — ternyata juga punya hubungan gelap dengan Sinta. Segitiga yang rapi, sampai seseorang mempostingnya di media sosial dengan caption: Drama Margomulyo.
Perusahaan guncang. Pak Hendra mengundurkan diri. Sinta menghilang. Taufan Prasetyo membantah semua tuduhan melalui pengacara.
Awam membaca berita itu sambil mengunyah kerupuk — sebab meski ada lima juta, kebiasaan lama susah pergi.
Ia tidak marah. Ia tidak sedih. Yang ia rasakan adalah sesuatu yang aneh, hangat, dan sedikit memalukan untuk diakui: lega.
Bukan karena hidupnya membaik. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia tahu bahwa Pak Hendra — orang yang memecatnya dengan muka tanpa dosa — ternyata bukan pemegang tunggal atas Sinta. Ia hanya salah satu dari daftar. Bahkan dalam urusan cinta gelap pun, bos itu tidak orisinal.
Awam meneguk tehnya.
Di luar, Surabaya bising seperti biasa. Matahari tidak peduli. Angin tidak peduli.
Dan semesta, yang memang tidak pernah memihak siapa pun, terus berputar — dengan Awam di dalamnya, kecil, awam, dan untuk satu momen kecil yang tak ada harganya: tersenyum.


