Kebekuan kita
Dibuat dari batubatu ditata
Dan bayang-bayang silam
Tembok-tembok rapuh dan pucuk-pucuk gedung. Kebekuan kita
Mengelupas pada cat-cat
Dan menjadi titian zaman
Yang selalu berputar
Makin gigil dari gelap manapun
Juga dari luka yang terbang ke awan. Kita menghitung sunyi
Dan mendapatkan peta-peta
Tumbang menjadi ringkih dan terpuruk
Daun-daun tak tumbuh di pohon sepi
Sedang rerumputan telah kering
Di telan matahari. Hanya bata-bata luruh
Dengan kaki-kaki yang makin menjauh
Surabaya, Balai Pemuda, 17 Juni 2025
Jembatan Merah Menjaga Sejarah
Terbaca pada warna kusam
Kebekuan kota tua dan lembayung yang terbengkalai
Di jembatan merah. Lalu kita terpekur menatap
Gedung-gedung tua ditelan senja
Jalan-jalan masih lurus seperti janji
Pohon-pohon mati dan hilang
Tapi mentari terus memanggang jantung sunyi
Dan bangkai-bangkai hewan piaraan
Semuanya kebekuan kita
Berderet gedung-gedung kuno
Dan kekakuan pintu-pintu
Lorong-lorong sunyi yang panjang
Tanpa batas. Kebekuan kita menatap patung-patung
Dan menjawab kalimat-kalimat lara
Tapi selalu dibaca malam
Dengan bintang yang menangis
Surabaya, Balai Pemuda, 17 Juni 2025
Balai Pemuda Tak Ingin Luka
Burungburung mematuk
Remah roti dari bocah bermain
Skate board meluncurkan asa
Berceloteh riang. Burung-burung
Membawa mimpi menjelajah
Semesta raya titian datang
yang selalu menanti
Lembayung menyapa dinding balai pemuda
Mengejar bayang sendiri dan menerkamnya.
Lalu mendung datang.
Menertawakan matahari yang tenggelam
Lenyapkan mimpi tertunda karena hujan
Atap-atap balai pemuda tak ingin luka
Sedang pohon-pohon tak henti zikir
Di tengah rinai. Hanya gigil memeluk
Pada jejak-jejak bocah yang jenaka
Surabaya, 25 Juni 2025
Rindu Pulang Tugu Pahlawan
Tampak pada warna dinding yang bersih
Tugu Pahlawan tersenyum dan lembayung bertandang
Pada air mancur. Lalu bocah-bocah terpekur
Menatap liukan air memainkan angin
Pelataran makin ramai dipenuhi kesetiaan
Ada yang mati dan tumbuh lagi
Tapi lembayung terus berlalu menjemput petang
Dan gelak tawa bocah-bocah makin hilang
Membawa rindu pulang
Berderet-deret gedung tua
Dan kebekuan pintu-pintu
Lorong-lorong diam dalam senyap
Sepanjang waktu. Kesunyian kita memandang
Air mancur
Dan memainkan aksara-aksara sajak
Yang dibaca serupa mantra
Pada hening yang menanti
Surabaya, 25 Juni 2025
Tangis Semanggi Suroboyo
Di setopan lampu merah terdengar lagu
Mengingatkan jejak lawas bakulan semanggi
Menyunggi asa setinggi surya
Memetik kehangatan dedaun dari rahim ibu
Semanggi kian jauh dari dekapan ibu
Hilang ditelan batu-batu tumbuh menjulang
Semua hengkang tak kunjung pulang
Jadi angan di pelupuk mata yang basah
Jalan-jalan yang dulu ramai penjual datang
Kini jadi cerita saat kopi mulai dituang
Semanggi Suroboyo aromanya perlahan hilang
Kembali ke rahim ibu yang sunyi
Surabaya, 18 Juli 2025
Penulis buku tunggal, buku pelajaran SMK, dan antologi berbagai genre. Penerima Anugerah Guru Bestari Literasi Indonesia Angkatan II masa bakti 1 Mei 2025 – 1 Mei 2026. Anugerah Guru Inovator Literasi Indonesia 2025. Mentor Puisi Etnik ASEAN 2025, Peenghargaan GCC Batch 3 Tahun 2022 Kategori APB Fiksi Tingkat Jawa Timur. Mentor Puisi Etnik ASEAN (2025), Mentor Antologi Karmina ASEAN (2024), Mentor Antologi Gurindam ASEAN (2023. Penulis Rekor MURI Dunia untuk Antologi ASEAN kategori penulis terbanyak (2018, 2021, 2022, 2023, 2024, 2025) bersama Perruas, Penulis Rekor MURI Dunia Antologi Pentigraf (2025) bersama Dandelion Publisher. Karyanya juga dimuat pada media cetak dan media online. Email: [email protected] Fb/Ig. Tri Wulaning Purnami WA. 0815515981


