Lorong itu sunyi—
seperti jasad yang lupa alamat roh,
di jam tiga,
saat dunia menggigil tanpa suara doa.
Kau berbisik:
“di sana ada cahaya.”
Tapi yang kulihat hanya kedip plastik usang
bergoyang di ujung kawat bengkok,
mendesis pelan
seperti ular yang disiram khutbah terang.
Aku melangkah,
sebab gelap terlalu jujur—
tak menutup luka,
tak memalsukan arah.
Sedang terang,
selalu menjanjikan pulang
tanpa pernah membuka gerbang.
Langkahku menyentuh darah yang beku
di antara kerikil dan nama ibu.
Ada bau anyir dari kenangan
yang gagal kubakar di kepala.
Dan di ujung lorong,
kupetik seutas cahaya
yang ternyata bukan pelita—
hanya serpih matamu
yang pernah percaya
bahwa luka pun bisa jadi lentera.
Ponorogo, Juni 2025
Pulang Tanpa Tubuh
Aku berjalan menuju peta
yang tak menyisakan jejak kampungku—
hanya garis-garis sunyi,
berliku seperti doa
yang tersesat di dada batu.
Setiap jembatan kutapaki
adalah tulang—
mungkin milik para perindu
yang tak sempat diberi tanah.
Kupanggul punggungku sendiri,
sebab pundak orang lain
terlalu sibuk menyangga semesta.
Dan aku tahu,
menangis di jalan raya
adalah hak mereka
yang kehilangan ayat untuk pulang.
Sore itu, langit tampak letih
seperti ayah
yang tak sempat ditulis anaknya jadi puisi.
Sementara aku mengendap di aspal,
mencari bau ibu
yang hilang dibungkus angin pasar
dan debu perpisahan.
Jika kutemukan rumah,
biarkan aku berdiri di pagar,
tanpa mengetuk,
tanpa menyebut nama.
Karena pulang yang sejati
adalah tubuh
yang mengubur dirinya sendiri
dalam diam.
Ponorogo, Juni 2025
Doa Tanpa Kulit
Sajadah ini tak lagi wangi.
Ia menyerap luka,
bukan pujian.
Tiap seratnya menyimpan jerit
yang disamarkan sebagai dzikir.
Aku sujud,
tapi bumi seperti lantai pabrik
yang menolak air mata.
Langit kaku,
dan Tuhan terlalu jauh
untuk diajak diskusi malam ini.
Kukirim nama-Nya
dengan lidah yang robek.
Tak sampai.
Karena huruf-hurufku
telah dimakan waktu
sejak iman jadi barang warisan
di lemari tua keluarga.
Aku tidak sedang murtad—
aku hanya ingin tahu
bagaimana rasanya mencintai Tuhan
tanpa kulit,
tanpa daging,
tanpa warisan.
Ponorogo, Juni 2025
Mantra dari Sepatu Tua
Aku berjalan mengenakan sepatu tua
yang kubeli di pasar kematian.
Talinya terurai seperti doa yang tak selesai,
solnya patah di bagian kenangan.
Tapi langkahnya
lebih jujur dari pada sejarah yang kubaca.
Setiap bunyi langkahnya
seperti mantra—
mengingatkan bahwa jalan
tak selalu harus punya ujung.
Aku menginjak bayangan
yang bukan milikku.
Entah milik siapa—
barangkali milik masa lalu
yang lupa mengambil sisa dirinya
saat meninggalkan tubuh ini.
Aku berjalan bukan untuk pulang,
tapi untuk menghapus jejak
yang pernah kutinggalkan
di atas sajadah orang lain.
Dan sepatu ini,
yang dipakai orang mati entah siapa,
membawaku ke jalan
yang tak lagi butuh doa—
hanya sisa niat
dan napas yang terseret
oleh ketakberartian.
Ponorogo, Juni 2025
Kamar yang Tidak Pernah Kutiduri
Kamar itu berdiri di dalamku
yang tak pernah kusinggahi.
Kuncinya tergantung di dinding,
tapi aku tak berani memutarnya.
Konon, ada kasur
penuh selimut tak selesai dilipat,
surat tak pernah dikirim,
dan bau seseorang
yang menyebut namaku
dengan darah yang hampir beku.
Setiap malam,
kamar itu memanggil dari sela-sela dinding,
suaranya mirip bisikan Tuhan
saat Ia lupa caranya memberi petunjuk.
“Masuklah,” katanya.
“Jika kau ingin tahu
siapa sebenarnya yang tinggal
di dalam dirimu sendiri.”
Tapi aku tak pernah berani.
Karena tidur di sana
berarti menghadapi diriku sendiri
tanpa alibi,
tanpa nyala,
tanpa peran.
Ponorogo, Juni 2025
Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo. Ia telah meraih banyak kejuaraan kepenulisan tingkat nasional.Ia juga aktif di komunitas Partey Penulis Puisi Berproses belajar kepada: Gus Nas Jogja, Fikar W. Eda, Vito Prasetyo, dan sastrawan besar lainnya.


