Suara sapu ijuk menyapu lantai marmer gereja memecah keheningan pagi. Arman menggerakkan tangannya dengan ritme yang sudah menjadi kebiasaan selama tiga tahun terakhir. Debu-debu kecil menari di bawah cahaya matahari yang menyusup melalui kaca patri berwarna-warni, menciptakan mozaik cahaya di lantai yang baru saja dibersihkannya.
“Mas Arman, istirahat dulu. Sudah hampir siang,” suara Pastor Daniel mengalun lembut dari altar. Pria tua berambut putih itu sedang menata bunga mawar putih di vas kristal, persiapan untuk misa sore nanti.
“Jikapun sampeyan mengabdi pada gereja, rasanya Tuhan jika tidak suka jika kita lupa orang-orang di skitar”
Arman menghentikan gerakan sapunya. Matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menghadap ke perbukitan hijau di luar kota. “Saya tidak tahu, Pastor. Apakah ini mengabdi pada gereja, pada Tuhan? Aku hanya ingin menebus kesalahan masa lalu. Dan sayangnya, rasa tenang itu tak kunjung datang.”
Pastor Daniel meletakkan bunga terakhir, lalu berjalan menghampiri Arman. Kedua pria itu sudah sering melakukan percakapan seperti ini. “Penebusan tidak selalu soal ketenangan, Mas. Kadang ia soal penerimaan.”
“Saya hanya berpikir, dengan pergi dari masa lalu, luka itu akan terobati. Ternyata tidak.” Arman duduk di bangku gereja, tangannya meremas pegangan sapu dengan erat. “Setiap hari saya mencoba melupakan, tapi wajahnya… wajah Sari selalu ada di sini.” Ia menunjuk dadanya.
Lima tahun yang lalu.
Di sebuah kantor bertingkat tinggi di Jakarta.
“Mas Arman, rapat dengan klien Jepang dimajukan jam dua siang,” sekretarisnya memberitahu sambil menyodorkan berkas tebal. Arman Wijaya, 35 tahun, direktur pemasaran di perusahaan multinasional bergengsi. Jas hitam Armani, jam tangan Rolex, sepatu kulit mengkilap. Namanya disegani, presentasinya selalu sempurna, bonusnya fantastis.
Ia menikmati hidup di jalur impian. Karir hebat, dan di rumahnya yang mewah di kawasan elit, Sari, istinya, menunggunya dengan senyuman. Istri yang cantik jelita, rambut hitam berkilau, mata berbinar penuh cinta. “Bagaimana hari ini, sayang?” tanyanya sambil memeluk Arman dari belakang saat pria itu melepas dasi.
“Biasa saja. Capek.” Jawaban yang selalu sama. Arman tidak pernah menceritakan tentang lembur-lembur panjangnya, tentang tekanan dari atasan, atau tentang… tentang dia.
Maya. Asisten manajer dari divisi keuangan. Mata cokelat, senyum nakal, percakapan yang mengalir tanpa beban. Dimulai dari kopi di kantin, lalu makan malam setelah rapat, kemudian hotel-hotel mewah di akhir pekan ketika Sari mengira suaminya sedang dinas luar kota.
Kembali ke gereja kecil
“Mas Arman?” Pastor Daniel menyadarkan pria itu dari lamunannya. “Apakah Mas mau menceritakan tentang hari itu lagi?”
Arman menggeleng pelan. Tapi kemudian mulutnya bergerak sendiri, seperti ritual penyiksaan diri yang dilakukannya setiap hari.
“Hari itu hujan deras. Sari menelepon, katanya ban mobil bocor di jalan. Dia minta dijemput.” Suara Arman bergetar. “Tapi saya sedang… sedang bersama Maya di hotel. Telepon Sari saya abaikan. Saya pikir dia bisa naik taksi atau memanggil bengkel.”
Sunyi. Hanya suara angin yang berdesir di luar.
“Kecelakaan itu terjadi sejam kemudian. Truk trailer kehilangan kendali karena hujan. Mobil Sari ringsek total. Dia meninggal di tempat, kata polisi.” Air mata mulai mengalir di pipi Arman. “Kalau saja saya menjemputnya. Kalau saja saya tidak…”
Pastor Daniel duduk di samping Arman. “Tuhan bekerja dengan cara yang tidak selalu kita pahami, Mas.”
“Tidak, Pastor. Ini bukan pekerjaan Tuhan. Ini adalah akibat dari pilihan saya. Dari keserakahan saya.” Arman menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Setelah pemakaman, saya tidak bisa lagi melihat wajah siapa pun. Teman-teman kantor, atasan, bahkan Maya. Semuanya terasa asing. Saya hanya ingat Sari. Hanya wajahnya yang tersenyum di pagi terakhir kami.”
Tiga tahun yang lalu
“Arman, kamu harus kembali bekerja. Cuti berlarut-larutmu ini tidak sehat,” kata Budi, rekan kerjanya yang datang ke rumah. “Boss masih mau menerima kamu kembali. Proyek besar menunggu.”
Arman menatap kosong ke arah foto pernikahan mereka di dinding. “Siapa kamu?”
“Aku Budi, rekanmu di kantor. Kita sudah kerja bareng lima tahun, Man.”
“Tidak. Saya tidak kenal kamu.” Arman menggeleng. “Saya hanya kenal Sari. Dan dia sudah tidak ada.”
Budi mencoba lagi berkali-kali. Demikian juga dengan Maya yang sempat datang, menangis, meminta maaf. Tapi Arman benar-benar tidak mengenali mereka. Bagian dari otaknya yang menyimpan kenangan tentang orang-orang dari kehidupan lamanya seolah terkunci rapat.
Kembali ke gereja.
“Mas Arman,” Pastor Daniel berkata perlahan, “ada seseorang yang ingin bertemu dengan Mas hari ini.”
Arman menoleh, heran. Dalam tiga tahun di sini, tidak pernah ada yang mencarinya.
Seorang wanita berusia empat puluhan berdiri di pintu gereja. Rambutnya beruban, matanya sembab, pakaiannya sederhana. Arman menatapnya dengan bingung.
“Saya Maya,” kata wanita itu dengan suara bergetar. “Saya… saya mantan rekan kerja Mas Arman.”
Arman menggeleng. “Saya tidak kenal Anda.”
“Saya tahu. Tapi saya harus mengatakan sesuatu.” Maya melangkah lebih dekat. “Saya sudah menderita tiga tahun ini. Rasa bersalah memakan hidup saya. Suami saya meninggalkan saya. Saya kehilangan pekerjaan. Saya sudah mencoba bunuh diri dua kali.”
Pastor Daniel bangkit, memberi isyarat kepada Maya untuk melanjutkan.
“Mas Arman, mungkin Mas tidak ingat saya, tapi saya ingat semua. Saya ingat bagaimana kita berdua menghancurkan hidup yang indah. Saya datang bukan untuk meminta maaf, karena tidak ada maaf untuk perbuatan kita. Saya datang untuk mengatakan bahwa… bahwa Sari tahu.”
Arman terdiam.
“Seminggu sebelum kecelakaan, Sari datang ke kantor. Dia menangis di depan saya. Dia sudah tahu tentang kita, Mas. Tapi kamu tahu apa yang dia katakan?” Maya menangis sekarang. “Dia berkata bahwa dia masih mencintai Mas. Bahwa dia akan memaafkan semuanya. Dia minta saya menjauh, dan dia akan berjuang untuk memperbaiki pernikahan kalian.”
Dunia Arman berputar. Kenangan yang terkunci mulai sedikit terbuka.
“Dia… Sari tahu?” bisik Arman.
“Ya. Dan ketika dia menelepon Mas hari itu, ban bocor, dia hanya ingin pulang cepat untuk memasak makan malam kesukaan Mas. Dia ingin membicarakan semuanya. Dia ingin memulai lagi.”
Arman jatuh berlutut. Tangisannya memecah keheningan gereja.
Pagi tak berkabut
Arman duduk di kursi taman. Lalu Pastor Daniel tiba-tiba di sampingnya. Saling diam. Tak ada kata-kata. “Anak-Ku, kadang pengampunan datang bukan dalam bentuk yang kita harapkan. Kadang ia datang dalam bentuk kebenaran yang menyakitkan, tapi membebaskan.”
Pastor Daniel menyerahkan secarik surat tanpa amplop. Dari Maya. “Mas Arman, saya tidak meminta Mas mengingat saya. Tapi saya minta Mas mengingat cinta Sari. Dia memaafkan kita sebelum pergi. Mungkin, mungkin sekarang saatnya kita memaafkan diri kita sendiri.”
Arman menarik nafas panjang. Lalu Pastor Daniel meninggalkan dirinya sendiri.
Udara terasa sejuk. Angin berhembus perlahan. Dalam hening, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia tidak hanya mengingat wajah Sari yang tersenyum, tapi juga suaranya yang lembut, tawanya yang renyah, dan mata yang penuh cinta itu.
“Sari…” bisiknya. “Maafkan aku.”
Pastor Daniel melihat dari jauh, lalu berpaling ke arah salib kayu di altar. Cahaya pagi menerangi gereja dengan kehangatan yang berbeda. Mungkin ini bukan akhir dari penderitaan, tapi ini adalah awal dari kesadaran. Sesuatu yang lebih berat dari rasa bersalah, tapi juga lebih ringan: penerimaan.
Gerimis tiba-tiba turun. Dan hujan menyusul. Arman berdiri lalu berlari kecil. Meski ia tahu, ini bukan hujan yang menghancurkan. Ini adalah hujan yang menyucikan, yang membasuh, yang memberi kehidupan baru pada tanah yang tandus.
Menuju jalan terang
Enam bulan kemudian, Arman masih tinggal di rumah kecil dekat gereja. Masih membersihkan gereja setiap pagi. Tapi sekarang dia juga membantu Pastor Daniel mengajar anak-anak desa membaca. Dia mulai mengingat nama-nama orang, mulai tersenyum pada tetangga yang menyapanya.
Maya datang sekali sebulan, tidak untuk berbicara tentang masa lalu, tapi untuk berdoa bersama. Mereka berdua membawa beban yang sama, dan entah bagaimana, membagi beban itu membuatnya terasa lebih ringan.
Arman tidak pernah kembali ke kehidupan lamanya. Tapi dia mulai membangun kehidupan yang baru. Bukan kehidupan yang menghindari masa lalu, tapi kehidupan yang menerima masa lalu sebagai bagian dari jalan menuju kedamaian.
Uang ucapan terima kasih dari kantor, pesangon, dan hasil jual rumah, diberikan pada gereja. Untuk rumah yatim piatu, untuk sekolah bagi anak tidak mampu.
Dan setiap malam, sebelum tidur, dia berbicara dengan Sari. Tidak dengan rasa bersalah yang menghancurkan, tapi dengan rasa cinta yang membebaskan.
“Terima kasih, Sari,” bisiknya pada foto kecil yang sekarang dia letakkan di atas meja. “Terima kasih sudah mengajarkan aku tentang pengampunan. Bahkan ketika aku tidak layak mendapatkannya.”
Ambarawa, September 2022


