PARA PUAN yang menjalin cinta dengan pria itu, pelan-pelan mematikan benih kasih dan menyingkir begitu tahu pria itu pengarang.
Sepertinya, telah waham menjadi hukum alam. Pria itu tahu, dan itulah sebabnya ia merumitkan situasi; ganti membaiat diri hanya dengan perempuan yang juga pengarang.
Akadnya, hidup harus rumit. Karena yang sederhana telah demikian jadi hukum alam.
Kredonya, melampaui hukum alam, dan setiap menjalin hubungan dengan perempuan, pria itu tak wajib upacara dengan penjelasan sebagai pengarang, siapa dirinya. Tak mendramatisir amanat keadaannya yang sulit mencari pekerjaan, sentimentalia dengan nikmat penderitaan, kesunyian, kesepian, dan selalu bermimpi menciptakan peristiwa-peristiwa yang di alam kerap dimaknai bualan.
Ya, terkadang masih perlu menjabarkan dirinya—Tuan Fragmen, biasa dipanggil Mas Frag—pria penyuka akrobat, memainkan bahasa di samping peristiwa. Ini pun, kerap terjebak permainannya; adakah dirinya terkait karangan kembang, batu karang, karang gigi dan sebagainya. Ampun.
Kerepotan benar-benar berakhir, dengan mula merawat masa pacaran dengan perempuan pengarang yang menjadikan keiklhasan sebagai panglima hidup dan karya-karyanya.
Apapun tunduk pada panglimanya. Pria itu pun berbagi, bertukar pikiran, dan belajar cinta di bawah panglima keikhlasan itu. Pria itu musti Ikhlas pula begitu tahu kekasihnya sudah bersuami, bahkan beranak tiga.
Tak satupun persoalan atas nama keikhlasan. Kebutuhan pada hidup, eros, sebagai pengarang membuat Mas Frag kian paham peristiwa, waktu, nyala makna dan sudah barangtentu ketakjuban-ketakjuban, kejutan, ketakutan, bersama kekasihnya. Inilah nikmat hidup kepengarangan.
Nikmat yang dimaksud tak lain spiritualitas—perempuan kekasihnya itu kukuh pendapatnya bahwa dirinya menerima siapapun, apapun, yang hidup atau yang mati adalah suara batin di balik tiap yang kasat mata.
“Bagiku, kepekaan seorang perempuan, keindahan dan kemuliaan diri yang nyata, eksis adalah menyadari keberadaan diri, menyingkap karena hidup adalah seni rahasia,” ungkap si Juwitanya.
Ringkasnya, selalu dalam kecemasan.
Pria pengarang itu tahu, deret ucap kekasihnya adalah ajakan untuk tak perlu hidup bersama, menikah, punya anak, apalagi mengarang sama-sama. Bukan.
Kata-kata perempuan kekasihnya itu adalah untaian kebebasan, visi hidup, keberanian yang spontan, kebungahan nikmat hidup. Perkawinan adalah mematikan kemerdekaan itu. Pernikahan adalah lenyapnya kepengarangan
Maka dengan atau tanpa kesepakatan: mereka memastikan berpisah.
Tidak muskil menjelaskan orang lain, apalagi yang bukan pengarang ihwal kewajiban berpisah bagi pemikir yang gemar berbelit; tentang takdir berpisah sebagai penafsir yang mahir.
Apalagi; seorang penganut keikhlasan, tawakal: tingkat penjelasan apapun, sama sahihnya dengan tanpa penjelasan. Penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhan atas nama kepengarangan, ibarat mayat yang sedang dimandikan.
Begitulah iman pengarang, tiada eksistensi diri untuk merugi.
Begitu pulalah, kerumitan pengarang memasuki pikiran, kepelikan perasaan, bahkan memahami jiwa-iman, bahkan denyar kata-kata untuk tak sekadar terucap gagal.
Mengenang itu, pengarang kerap melayang: Menimbang lelaki dan perempuan, ternyata tak semudah ihwal pasangan, kecocokan, sehidup semati. Sehidup dan semati kehidupan pengarang adalah kerumitan inspirasi mengarang itu sendiri.
Tentu, kehidupan dan kematian bagi pengarang sama sekali punya pengertian baru. Sejak di masa lalu, tertanam padanya itu niat ditempuhnya. Bukan hanya baru, tapi juga berbeda.
Sadar, tahu, dan terbuka tempat dan waktu: siap kapan hidup dan kapan-kapan siap mati. Mas Frag terlatih menghadapi situasi kematian pengarang, dalam kehidupannya. Pun suasana kehidupan pengarang dalam kematiannya.
Dia tahu bicara tentang kematian sama dengan bicara tentang kehidupan itu sendiri. Suhu Roland Barthes telah mengajarkan The Death of Author–Matinya Pengarang. Awalnya, niat menjadi pengarang pupus, keropos, terancam ambruk. Tapi Mas Frag jadi tak pernah takut ambruk, begitu ingat kata-kata mati Master Jacques Derrida; “Here is nothing outside of the text.”
Tafsir adalah segalanya. Bahkan matipun adalah baca, baca, dan baca.
Jadi tidak bisa tidak. Tidak menjadi pengarang pun, adalah pengarang. Semua adalah pengarang. Takdir sudah ditentukan padanya.
Di sebalik pertemuan, perpisahan, cinta, ikhlas, tawakal, alam, juga Tuhan tentu saja, mustahil pria itu melupakan kedua mahaguru itu.. Tafsir, makna, memahami, mengerti adalah segalanya. Tak pernah terbayangkan tanpa itu. Pun tanpa pasangan, tafsir tetap kuncinya.
Kunci mengapa Mas Frag kukuh pada perempuan pengarang makin gamblang. “Lebih gamblang alasan ketimbang pentingnya menjawab kapan gemilang, maupun terjengkang urusan dengan perempuan,” ujar sesuatu bisikan, entah dari mahaguru yang mana lagi.
Diakui, dia hidup memuja kemungkinan. Termasuk kemungkinan tentang pengarang yang malang, melintang, bimbang. “Walau selaku pengarang yang terbuka, penting bagiku menutup kemungkinan busuk yang menusuk takdir kepengarangan yang demikian sangar dan garang ini,” Mas Frag mengulum senyum mendengar kelakarnya sendiri, yang terdengar pula keraguan berbaur suatu yang lain.
Adalah: Setiap yang terbuka, padanya sejoli, sekaligus menutup atas nama takdir tafsir—tanpa budak cinta, egosentris, narsis, megalomania, sindrom thanos, introvert, tiranik, eksklusif, congkak, sesat tabiat.
***
TABIAT dan tekad pria itu makin mantap menjadi pengarang, biarpun tanpa penjelasan siapa kelak jodoh terbaiknya, apa pekerjaan rutinnya, bacaannya, bahasanya, makanan sehatnya, dan lain-lain.
“Diri. Ini semua tentang diri sendiri. Kamu sendiri. Carilah, temui, dan temukan dirimu sendiri. Ini hanyalah soal pencarian dan pengalaman kita. Menemui diantara sekian yang ramai, dan menemukan adalah pengalaman unik, eksotis, otentik, dari keramaian, kerumitan ini,” ucap pacarnya amat pengertian.
Sampai bergema: Jika kau butuhkan perempuan, tak lain untuk pencarian dan pengalaman itu. Padanya, kau mencari yang lebih dalam. Pendalaman. Itulah sublimasimu, puisimu, otentisitasmu. Kemungkinan-kemungkinanmu sebagai makhluk.
Menurut teori, itulah sebenarnya masa depanmu, kecemasanmu telah lampau, dan kau kerasan dalam keheningan suasana hati, tanpa soal apapun, juga soal perempuan.
Kamu telah menyatu, kebimbanganmu membangkitkanmu—butuh dan tak butuh perempuan sudah tumbuh dan tampak lagi. Kau telah mengalami keheningan untuk menyadari seberapa jauh kebisingan telah merampok kemerdekaan.
Mas Frag telah melakoninya sebagai jawaban, ketika menjalin asmara perempuan pengarang yang pemberontak. Perempuan yang hidup dari, oleh dan dengan pemberontakan. Pada laki-laki, keadaan, zaman, peradaban, takdir, nasib, bahkan pada Tuhan.
Pemberontakan telah memberinya penjelasan segalanya telah ada dalam keadaan kurang: bahkan kurang sempurna.
Pria pengarang yang tidak sempurna itu, cukup tahu bagaimana berbagi cinta dengan perempuan pengarang yang bersikeras cemas pada apapun. Dia hanya jeri pada kesempurnaan.
Pikiran Istimewa perempuan itu—yang tentu sekaligus ketakutan yang lindap di sisinya—adalah bermula dengan karangan; bongkar, hancurkan, luluh lantakkan apapun yang kuasa, yang beku, yang kukuh, yang taklid buta.
“Semua yang bau mitos, rubuhkan. Itu semua cuma konvensi, kebiasaan jahat. Maka tugas menjadi jelas. Kita tak hidup untuk beku, atau sudi jadi batu,” tedas perempuan pengarang yang berpesan untuk ngebom bangunan nasihat apapun itu.
Mas Frag gagal hidup bersama karena pengarang perempuan itu tak sudi padanya: sebagai lelaki yang juga harus dihancurkan, mitos, pikiran, serta kebekuan-kebekuan lain.
Dia berhasil menghancurkan pria pengarang itu, walau dia tak pernah berhasil meremukkan nafsunya pada sambal pedas yang menyerang lambungnya, karena bangga nikmat cabe rawit.
Dia tidak mati karena itu, tapi rupanya dia jadi budak dirinya sendiri—lambungnya.
Hebatnya, mereka sama-sama memilih hidup sendiri. Mula dari adagium: jadilah budak atas nama dirinya sendiri.
Sebagai yang pernah menjalin pasangan kekasih, mereka tolak mentah-mentah ajakan berbagi. “Kau, jadilah budak kredoku, sebagaimana aku jadi budak kredomu.”
“Emoh!”
“Berbagi mungkin dengan istilah pengarang besar dan pengarang kecil pun.”
“Wegah!”
Yang penting sesama pengarang yang benar dan benar-benar pengarang. Sudah.
Menjadi pengarang adalah pencarian, bukan mata pencarian.
Mata pencarian menjadi pengarang adalah pendongeng, pembual, pemimpi, khurafat, penipu, pembohong.
Pengarang adalah pencarian, penemu—penafsir yang biasa menemui, baik ketemu atau tak ketemu.
Dahulu hukum alam orang-orang menilai betapa anehnya, betapa seriusnya seorang pengarang. Memang, tapi dalam, ketika laku tabiat dan kebiasaan sehari-hari berjalan serius bermain. Hakikatnya, bermain serius, spontan, bebas, lepas, puas, girang bagai binatang, lama-lama dari keanehan menjadi terbit keheranan.
Serasa nikmat sembahyang, dalam dunia kanak-kanak, serupa penyair. Bagaikan makhluk primitif jauh dari segala aturan—nikmat hidup berjalan tanpa pikiran baik dan buruk. Bahkan belum memahami diri sebagai pengarang atau bukan pengarang. Berjalan begitu saja. Berlalu lampau saja begitu. Yang terpenting main-main sungguh sungguh, sungguh sungguh bermain. Entah di alam nyata atau mimpi atau gabungan dari keduanya.
Liar, sebagai pengarang atau hasil karangan. Yang terpenting asli, sungguhan, harmoni alam mimpi, fantasi nujum hari, dalam alam mimpi, pesona, ekstasis dan penuh gelak tawa.
“Kau mengira aku menemukan kegembiraanku sebagai pengarang? Lalu leluasa meniupkan ruh pada siapa dan apapun di luar diriku?”
Bukan hanya diriku. Semua jalang. Semua bermain. Segalanya memainkan peranannya masing-masing. Semua berwujud. Semua bermakna: Inilah permainan.
Wajar bilamana kami saling bertukar, kadang sebagai pengarang, kadang selaku karangan. Kadang orang, lain kali barang. Suatu saat subjek, saat lain predikat, objek.
Sebagai kalimat, kami semua adalah pemain.
Kerap pria pengarang itu teringat pacarnya yang jagoan makan sambal itu, pemberontak yang hanif ingin membebaskan konsep ini dari makna subjektif. Bahwa yang bertahan abadi bukanlah pengarang, juga pengalaman pengarang, melainkan karangannya.
Dalam suatu permainan, pemain, siapa dan apapun tetaplah menyimpan misteri dan rahasianya sendiri dangan sakral.
Ada magis yang melonggarkan, dan mengikatnya—ruang, waktu, peristiwa—atas nama kesempurnaan pengarang dan hasil karangan.
***
WAKTU terus berlalu. Karena dinilai pria pengarang itu bertele-tele, rumit, pelik, berbelit. Tak tegas, tanpa kejelasan. Gagal manunggal dengan perempuan, mulai terbit banyak jebakan pernikahan. Mulai dari mantan pacarnya, temannya, mbahnya, sanak saudara.
Mungkin dianggapnya, kepura-puraan, permainan, setidaknya semacam sebagai karangan. Sebagai karangan, apa saja memungkinkan.
“Semua berburu. Tidak hanya waktu. Terburu-buru. Perburuan paling seru bagi siapa perempuan yang mau menjadi satu. Yang penting menyatu dahulu, setelah itu pasti mau, bahkan jika dimadu.”
Cerita seperti inilah yang tak sulit disederhanakan.
Satu persatu, antre setorkan perempuan percobaan. Eksperimen demi eksperimen berlalu. Berganti. Berganti lagi. Para pelaku dan pengadu.
Mereka adalah perempuan yang kesepian, pendendam,
Semua sudah belajar dari pengalaman. Para germo. Para perempuan. Tentu saja juga Mas Frag, pria pengarang itu.
Pria itu memahami situasi. Mempelajari kemungkinan kemungkinannya.
Perempuan yang kesepian itu ternyata masih perawan. Mungkin belum pernah disentuh lelaki, mungkin juga seorang petualang hanya saja bisa menjaga kesuciannya. Mungkin berharap ada calon nabi atau wali dalam rahimnya. “Siapa tahu dialah benih yang dibawa pengarang. Meski terbuka santapan zindik para pengaku keturunan nabi atau wali.”
Sementara itu, perempuan pendendam yang terjebak dengan pria pengarang itu, lebih tepatnya dendam pada dirinya sendiri. Gonta ganti lelaki, tak satupun yang sudi memiliki. Ia berjanji tak mau dijebak lagi, ini terakhir kali yang dalam dirinya mau takluk pada pria pengarang itu, yang karena kegagalannya menaklukan pria-pria keranjingan, lalu mapan, pasrah ditekuk keadaan.
Sebagai sebuah jebakan, selaku karangan, terang peristiwa itu sukses gemilang, bisa bercinta malang melintang. Ruh dan tubuh sungguh runtuh sampai subuh.
Bila dalam gairah sakral saja, pria pengarang itu bisa berputar-putar inspirasinya, apalagi urusan ugahari nafsu, tubuh, dan tarian karena butuh penyatuan.
“Cinta bukanlah semata yang kasat mata, apalagi kebutuhan tubuh. Cinta adalah puisi. Intensi. Invensi, Inspirasi” inilah kata-kata paling mutakhir menolak menikahi para perempuan sambil keluar dari jebakan.
Kata-kata cinta pria pengarang itulah penyebab alasan apapun reaksi tokoh-tokoh cerita ini bisa diterima; wajar, aneh, unik, ramai, anteng, bertengkar, sedih, menangis, amarah, tengil, sentimental.
Segala ini terbit usai memberesi urusan hasrat tubuh—sesuatu yang bukan subtansi pengarang, isi karangan.
Mereka semua, memahami nikmat antara tebakan, tembakan, dan jebakan.
“Tinggalkan kami. Karena aslinya diri selalu sendiri, personal sejak lahir dan sesudah mati juga sendiri. Pada diri kita dalam kesendirian tiada baik atau buruk. Terimakasih telah berbagi nikmat hikmat tak hanya tubuh, tapi juga hening bening ruh.”
Mungkin kita tak kan lagi jumpa. Tapi keheningan membuat kami pasti tiada lagi dusta.
***
DI ANTARA pencarian, kebenaran, dan dusta bagi pria pengarang itu, pencarian pada seorang perempuan teman hiduplah yang paling hibuk, suntuk dan mabuk.
Sampai harus membuat garis lurus perempuan pengarang agar jantungnya tak henti di tengah jalan pencarian.
Hingga akhirnya pencariannya tiba, jatuh pada perempuan super istimewa. Namanya Puan Skizo—Frenia. Dia pengarang kisah-kisah keturunan nabi. Segala kisah tentang ini. Ahli cerita berbingkai, mimpi, ilham, wahyu, merangkap pakar paranoia.
“Sungguh menggetarkan, luar biasa dahsyat bahkan, memilukan akhir pencarian buhul kisah kedua pengarang ini. Kisah sehidup semati lebih dari menyerupai hidup mati layaknya dongeng kaya imaji, intuisi, persepsi, intepretasi,” genahnya.
Sampai pria dan wanita pengarang itu sepakat menamai kredo karangannya sebagai bucin—budak cinta. Cinta yang abadi tanpa ganti. Cinta yang sama-sama takluk sebagai budaknya. Kisah-kisah yang sulit diterima nalar, pantas menamainya hidup sesudah mati, atau mati sesudah hidup.
Di luar nalar, bahkan meski sejoli sama-sama pengarang, terlebih hidup di dunia karangan—semua aturan administrasi, rukun, hukum, adat nikah bisa dikarang, bukan berarti tanpa kendala. Kendalanya, kedua keluarganya sama-sama menolak perbudakan. Alasan sentimental.
“Cinta di atas segalanya. Mumpung mempelai saling Ikhlas bucin, mbok segera diberesin saja. Masalah naik turun kasta, namanya juga dinamika kan bisa dicipta konvensi-konvensi baru.”
Kisah kasih sejoli pengarang yang tak kurang pelik ini, mengikis tipis kendala dengan makin sering berbagi keluar masuk dari lubang mana saja; mata, hidung, telinga. Biar bisa saling merasa, meraba, saling tukar tahu, pikir dan tafsir.
Berbagi ngeri lidah api. Bayang melayang. Busuk kecamuk amuk. Derita pedih perih ancaman cinta gagal keluarga pengarang yang tak bestari dan murahan—terhalang SARA.
“Justru ini kisah cinta abadi pernikahan paling mulia sejarah semesta antara sejoli sepasang perempuan pengarang keturunan nabi, dengan pria pengarang keturunan pedagang sapi. Inilah sejarah estetika kiwari dunia pengarang dan ihwal karang mengarang,” lelatu.
Pada bayang mata sejoli pengarang itu terlihat bayang pertarungan paling gila: kebenaran dan dusta, cinta dan kebencian, sacral dan profan, dongeng dan kenyataan, kesungguhan dan kepurapuraan, bahkan uang dan kehormatan.
Sungguh mengerikan, bayang yang lain; berkelebat kehidupan dan kematian. Kehidupan sesudah kematian, juga kematian usai kehidupan.
Angin semilir bagai menggoyang blencong di belakang pertunjukan wayang.
Sampai sejoli itu saling tak kuat jika bersitatap. Serasa hendak berbagi sayatan. Berkelebat niat sebagai pengarang untuk mati bunuh diri. Gemuruh, gejolak, kecamuk, gema, renjana di dada hati perasaan adalah milik kebanyakan orang; bukan cuma suara lalu Lalang pengarang.
Memang kedua pengarang yang terluka itu pada akhirnya memilih mati. Kematian yang mayatnya ganda. Pedih perih sekaligus tawa lega.
Kepedihan merasuk masuk sebagai simpulan, mencekik leher menyumbat napas. Kematian menjadikan tafsir beku, tertutup, tunggal, satu-satunya.
Kematiannya, adalah pengorbanannya pada yang peka kasunyatan itu ilusif—metafor yang musti terus dicari, ditemui, dan ditemukan.
Sejoli itu mengerti, kesepakatannya bersatu itu perlu. Juga kematiannya demi agar makna metafora terus dicipta dan tak dilupa.
Inilah pasal kematian yang tiada pernah benar-benar kelar.
Jombang, 23 September 2024
Buku terbarunya, 2024: Posthumanism (Kumpulan Esai); Rumah di Atas Air dan Cerita Lainnya (Kumpulan Cerpen). Novel perdananya Tanah Api (LKiS, 2005); Novel paling mutakhir Ngrong (Pagan Press, 2019) masuk 10 besar penghargaan sastra Nongkrong.co award (2021). Kumara— Hikayat Sang Kekasih adalah novelnya yang memenangi sayembara Dewan Kesenian Jawa Timur 2012, menyusul Rembulan Terperangkap Ranting Dahan yang terpilih sebagai pemenang utama sayembara cerita pendek berdasarkan Cerita Panji oleh lembaga yang sama. Buku kumpulan esainya Postmitos, (Pagan Press, 2018) meraih penghargaan Anugerah Sotasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur untuk bidang kritik sastra 2019. Penerima anugerah penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur tahun 2015 ini kini tinggal di Jombang dan mengelola penerbitan Pagan Press. Facebook; s.jai.589 ; Instagram; misterjaikumara.


