Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Ruang Abu-abu itu Bernama Minji
    Cerita Pendek

    Ruang Abu-abu itu Bernama Minji

    Feri AH26 Oktober 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Ruang Abu-abu itu Bernama Minji

    Hujan Surabaya selalu datang dengan cara yang sama. Tiba-tiba, dan tanpa permisi.

    Arkan menatap jendela kantornya di lantai tujuh, mengamati bagaimana tetesan air menciptakan pola acak di kaca. Pola. Ia selalu melihat pola di mana-mana.

    Bagian 1: Desain yang Sempurna

    “Arkan, klien sudah menunggu sepuluh menit.”

    Suara Dinda memecah konsentrasinya. Rekan kerjanya itu berdiri di ambang pintu, mengenakan dress cream yang kontras dengan wajahnya yang khawatir. Dinda selalu khawatir tentang Arkan. Terlalu khawatir.

    “Biar mereka menunggu,” jawab Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. “Logo yang sempurna tidak bisa dikejar dengan deadline.”

    “Tapi—”

    “Katakan pada Pak Hendra bahwa saya butuh lima menit lagi.”

    Dinda menghela napas panjang. “Arkan, kamu bicara sendirian lagi tadi pagi. Di pantry. Orang-orang mulai… kamu tahu.”

    “Mulai apa?”

    “Mulai berpikir bahwa kamu—” Dinda menggigit bibirnya. “Tidak apa-apa. Aku akan bilang ke Pak Hendra.”

    Setelah Dinda pergi, Arkan tersenyum tipis. Bicara sendirian? Tidak. Ia bicara dengan Minji. Tapi bagaimana menjelaskan itu kepada orang-orang yang tidak bisa melihatnya?

    Lima menit kemudian, Arkan masuk ke ruang meeting dengan file presentasi di laptopnya. Pak Hendra, bos sekaligus pemilik studio desain “Kreasa”, duduk di samping dua orang klien dari sebuah startup teknologi. Wajah Pak Hendra terlihat tegang—campuran antara harap dan cemas.

    “Maaf menunggu,” ucap Arkan datar. Ia membuka laptopnya dan memutar layar menghadap klien. “Ini logo kalian.”

    Ruangan hening. Pak Hendra menelan ludah. Tapi kedua klien itu—seorang pria muda berkacamata dan wanita berambut pendek—membelalakkan mata.

    “Ini… sempurna,” bisik si pria berkacamata. “Bagaimana kamu tahu bahwa kami menginginkan kesan minimalis tapi tetap bold? Gradasi warnanya, negative space-nya—ini persis yang ada di kepala kami tapi tidak bisa kami artikulasikan.”

    Si wanita mengangguk cepat. “Kami ambil designnya. Tanpa revisi.”

    Pak Hendra mengembuskan napas lega. Ini sudah yang ketujuh kalinya bulan ini. Tujuh klien, tujuh desain yang diterima tanpa revisi. Arkan adalah mesin pencetak uang yang berjalan.

    “Bagus, Arkan,” puji Pak Hendra setelah klien pergi. “Tapi kita perlu bicara.”

    “Tidak perlu,” potong Arkan. “Aku tahu apa yang akan kamu katakan. Aku aneh. Aku bicara sendiri. Aku sering melamun. Tapi selama aku menghasilkan uang untuk studio ini, kamu tidak akan mem-PHK aku. Benar, kan?”

    Pak Hendra terlihat tidak nyaman. “Arkan, aku tidak akan mem-PHK kamu. Kamu jenius. Tapi sebagai temanmu, aku khawatir. Kamu perlu bantuan profesional.”

    “Aku tidak butuh psikolog, Pak. Aku butuh tenang.”

    Arkan berjalan keluar dari ruang meeting, meninggalkan Pak Hendra yang menggelengkan kepala dengan prihatin.

    Bagian 2: Dunia di Balik Layar

    Kontrakan Arkan berada di timur kota, sebuah bangunan tua dengan cat yang mengelupas. Ia naik tangga ke lantai tiga—lift sudah rusak sejak dua bulan lalu—dan membuka pintu apartemennya.

    “Kamu terlambat.”

    Suara itu datang dari sudut ruangan. Seorang wanita duduk di sofa lusuh Arkan, mengenakan sweater oversize berwarna abu-abu. Rambutnya panjang, wajahnya cantik dengan cara yang sederhana, dan matanya… matanya selalu terlihat sedih meskipun ia tersenyum.

    “Minji,” Arkan menjatuhkan tasnya. “Maaf. Klien cerewet hari ini.”

    “Kamu bilang mereka langsung menerima desainmu tanpa revisi.”

    “Kamu menguping?”

    Minji tertawa kecil. “Aku selalu di sini, Arkan. Kamu yang memilih kapan melihatku.”

    Arkan duduk di sebelahnya, menjaga jarak. Ia tidak pernah menyentuh Minji. Entah kenapa, ia takut jika ia menyentuhnya, semuanya akan pecah seperti gelembung sabun.

    “Ceritakan harimu,” pinta Arkan.

    “Aku tidak punya hari. Aku hanya punya waktu di sini, bersamamu.”

    “Kalau begitu ceritakan tentang Korea. Tentang rumahmu.”

    Minji menatap jendela yang memperlihatkan langit Surabaya yang mendung. “Seoul sangat berbeda dengan Surabaya. Lebih dingin, lebih cepat, lebih… kejam. Orang-orang di sana tidak peduli jika kamu tersenyum atau menangis. Mereka hanya peduli apakah kamu produktif, apakah kamu cantik, apakah kamu sukses.”

    “Lalu kenapa kamu kabur?”

    “Aku tidak kabur,” Minji menggeleng pelan. “Aku hanya… tersesat. Suatu hari aku bangun dan menyadari bahwa aku tidak tahu siapa aku. Semua yang kulakukan adalah untuk orang lain—orang tua, bos, teman-teman. Jadi aku pergi. Aku naik pesawat pertama yang kulihat. Kebetulan itu ke Jakarta.”

    “Dan dirampok?”

    “Dan dirampok,” ulang Minji dengan senyum pahit. “Paspor, dompet, handphone—semuanya hilang. Aku seharusnya panik. Tapi yang kurasakan malah… lega. Seperti aku akhirnya bebas dari identitas yang selama ini membelengguku.”

    Arkan terdiam. Ia memahami perasaan itu lebih dari yang bisa ia ungkapkan.

    “Tapi sekarang aku terjebak,” lanjut Minji. “Di antara dua dunia. Tidak bisa pulang, tidak bisa melangkah maju. Hanya… melayang.”

    “Kamu tidak sendirian,” bisik Arkan. “Aku juga melayang.”

    Minji menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tahu. Makanya aku bisa menemukanmu.”

    Bagian 3: Retakan Pertama

    Hari Minggu, Arkan mengunjungi rumah ibunya di kawasan Wonokromo. Rumah kecil dengan taman depan yang terawat—satu-satunya hal yang masih dirawat ibunya dengan penuh perhatian sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu.

    “Arkan, kamu kurus,” ibu menyambutnya dengan pelukan dan kecemasan yang sama. “Kamu makan teratur?”

    “Makan, Bu.”

    “Bohong. Ayo masuk, Ibu sudah masak soto.”

    Mereka makan dalam diam yang nyaman. Ibu Arkan tidak pernah banyak bicara sejak kepergian ayahnya. Seperti ada bagian dari dirinya yang ikut terkubur.

    “Kerja lancar?” tanya ibu akhirnya.

    “Lancar. Klien suka semua desain aku.”

    “Bagus.” Ibu menghentikan sendoknya. “Arkan, kamu… kamu masih melihatnya?”

    Arkan mengangkat kepala. “Lihat apa, Bu?”

    “Jangan anggap Ibu bodoh. Ibu tahu kamu tidak baik-baik saja sejak ayahmu meninggal. Kamu mulai bicara sendiri, melamun, seperti ada yang kamu lihat tapi orang lain tidak.”

    “Bu—”

    “Ibu tidak marah,” potong ibunya lembut. “Ibu hanya… khawatir. Ayahmu juga begitu sebelum ia pergi. Ia bilang ia melihat hal-hal yang orang lain tidak lihat. Ia bilang dunia ini terlalu bising, dan ia perlu tempat yang lebih tenang.”

    Arkan merasa dadanya sesak. “Ayah bunuh diri, Bu. Aku tidak akan—”

    “Ibu tahu kamu tidak akan.” Ibu menggenggam tangan Arkan. “Tapi Ibu tidak ingin kehilanganmu dengan cara lain. Cara yang perlahan. Kamu menjauh dari dunia nyata, Arkan. Dan Ibu takut suatu hari kamu tidak bisa kembali.”

    Air mata mengalir di pipi ibunya. Arkan tidak tahu harus berkata apa. Karena ibunya benar. Setiap hari, dunia nyata terasa semakin jauh, semakin kabur. Dan dunia bersama Minji terasa semakin nyata, semakin jelas.

    “Ibu akan baik-baik saja,” janji Arkan, meskipun ia sendiri tidak yakin.

    Bagian 4: Konfrontasi

    Senin pagi, Dinda menunggu Arkan di depan pintu kantornya.

    “Kita perlu bicara,” katanya dengan nada yang tidak biasa—tegas dan putus asa sekaligus.

    “Sekarang?”

    “Sekarang.”

    Mereka pergi ke kafe seberang kantor. Dinda memesan dua kopi hitam dan duduk berhadapan dengan Arkan.

    “Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” Dinda menatap kopinya. “Sudah dua tahun aku bekerja denganmu, Arkan. Dua tahun aku mengagumi kepintaranmu, cara kamu melihat dunia dengan cara yang berbeda. Tapi dua tahun itu juga aku melihatmu perlahan menghilang.”

    “Aku tidak ke mana-mana.”

    “Kamu tahu yang aku maksud.” Dinda mengangkat wajahnya, matanya merah. “Kamu ada di sini secara fisik, tapi tidak secara mental. Kamu bicara dengan orang yang tidak ada. Kamu tertawa sendiri. Kamu—” suaranya bergetar. “Kamu tidak pernah benar-benar melihatku.”

    Arkan terdiam.

    “Aku mencintaimu, Arkan,” lanjut Dinda, air matanya akhirnya jatuh. “Sudah lama. Aku tahu ini egois, mengatakannya saat kamu sedang… seperti ini. Tapi aku tidak tahan lagi. Aku ingin membantumu. Aku ingin menjadi alasanmu untuk kembali ke dunia ini.”

    “Dinda—”

    “Jangan tolak dulu,” Dinda mengulurkan tangannya, menyentuh tangan Arkan di atas meja. “Berikan aku kesempatan. Berikan dirimu kesempatan untuk sembuh, untuk hidup normal, untuk—”

    “Untuk apa?” potong Arkan, suaranya lebih keras dari yang ia maksud. “Untuk hidup seperti orang lain? Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, ulangi? Apakah itu yang kamu sebut hidup, Dinda?”

    “Lebih baik daripada hidup dalam delusi!”

    “Siapa yang bilang aku hidup dalam delusi?” Arkan menarik tangannya. “Mungkin kalian semua yang hidup dalam delusi. Kalian yang terlalu takut untuk melihat apa yang sebenarnya ada. Kalian yang terlalu sibuk dengan rutinitas sampai lupa bertanya—untuk apa semua ini?”

    Dinda menggeleng, frustrasi. “Arkan, kamu sakit. Kamu butuh bantuan.”

    “Aku tidak sakit. Aku hanya… berbeda.”

    “Perbedaan dan penyakit itu tipis garisnya. Dan kamu sudah melewati garis itu.”

    Arkan berdiri. “Terima kasih atas kopinya. Dan maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu.”

    Ia berjalan keluar, meninggalkan Dinda yang menangis di kafe itu.

    Bagian 5: Percakapan Tengah Malam

    Malam itu, Arkan tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon apartemennya yang sempit, merokok—kebiasaan buruk yang ia ambil setelah ayahnya meninggal.

    “Itu tidak baik untukmu.”

    Minji muncul di sebelahnya, duduk di lantai balkon dengan kaki terjuntai.

    “Banyak hal tidak baik untukku,” jawab Arkan. “Tapi aku masih melakukannya.”

    “Kamu bertengkar dengan rekan kerjamu tadi?”

    “Kamu selalu tahu.”

    “Aku bagian dari dirimu, Arkan. Aku tahu semua yang kamu rasakan.”

    Arkan membuang puntung rokoknya. “Kalau kamu bagian dari aku, kenapa kamu terasa lebih nyata dari orang-orang di luar sana?”

    Minji tersenyum sedih. “Karena aku tidak menuntut apa-apa darimu. Aku tidak memintamu untuk sembuh, untuk normal, untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Aku menerimamu apa adanya.”

    “Tapi kamu tidak nyata.”

    “Apakah itu penting?”

    Arkan menatap langit malam Surabaya yang tertutup polusi cahaya. “Ibuku bilang ayahku juga seperti aku. Ia melihat hal-hal yang orang lain tidak lihat. Dan pada akhirnya, ia memilih dunianya sendiri daripada dunia yang sebenarnya.”

    “Kamu takut akan berakhir seperti dia?”

    “Setiap hari.”

    Minji mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Arkan—atau setidaknya Arkan merasakan sentuhan itu, hangat dan nyata. “Ayahmu tidak lemah karena memilih dunianya sendiri. Ia hanya… lelah melawan dunia yang tidak pernah menerimanya. Tapi kamu berbeda, Arkan. Kamu punya ibumu, kamu punya Dinda, kamu punya Pak Hendra. Mereka semua ingin kamu kembali.”

    “Kembali ke mana? Ke dunia yang tidak masuk akal? Ke dunia di mana orang-orang berpura-pura bahagia padahal mereka mati dari dalam? Ke dunia di mana cinta diukur dengan standar dan ekspektasi?”

    “Ke dunia di mana kamu bisa merasakan sinar matahari yang sesungguhnya. Ke dunia di mana kopi yang kamu minum benar-benar terasa. Ke dunia di mana pelukan ibumu tidak hanya kenangan.”

    Arkan merasakan air mata mengalir di pipinya. “Tapi di dunia itu, aku akan kehilanganmu.”

    “Kamu tidak pernah memiliki aku, Arkan.”

    “Aku tahu. Tapi setidaknya di sini, aku tidak sendirian.”

    Minji menarik tangannya. “Kesepian itu menakutkan. Tapi lebih menakutkan lagi adalah melarikan diri dari kesepian dengan cara yang menghancurkanmu perlahan. Kamu pikir aku melindungimu, tapi sebenarnya aku adalah cara kamu menghukum dirimu sendiri.”

    “Menghukum?”

    “Karena kamu tidak bisa menyelamatkan ayahmu. Karena kamu merasa kamu mewarisi kegilaannya. Karena kamu takut jika kamu benar-benar hidup, kamu akan mengecewakan semua orang—seperti yang kamu pikir ayahmu lakukan.”

    Arkan tersentak. Minji tidak pernah berbicara seperti ini sebelumnya.

    “Siapa kamu sebenarnya?” bisik Arkan.

    “Aku adalah bagian dari dirimu yang tahu kebenaran. Bagian yang kamu tekan karena terlalu sakit untuk dihadapi. Aku ada karena kamu membutuhkanku untuk mengatakan hal-hal yang tidak bisa kamu katakan pada dirimu sendiri.”

    Bagian 6: Desain Terakhir

    Tiga hari kemudian, Pak Hendra memanggil Arkan ke ruangannya.

    “Duduk,” perintahnya, tidak seperti biasanya.

    Arkan duduk, merasakan ada yang berbeda. Pak Hendra terlihat lebih tua, lebih lelah.

    “Aku dapat klien besar,” kata Pak Hendra. “Perusahaan multinasional. Mereka minta kita desain ulang seluruh brand identity mereka. Ini proyek terbesar yang pernah kita tangani. Dan aku ingin kamu yang memimpin.”

    “Kenapa terdengar seperti ada ‘tapi’?”

    Pak Hendra menghela napas. “Karena memang ada. Mereka minta kamu presentasi langsung di depan board of directors mereka. Lima orang, semua eksekutif senior. Kamu harus bisa menjelaskan visimu, menjawab pertanyaan mereka, berinteraksi secara profesional. Tidak ada ruang untuk… episode.”

    “Episode,” ulang Arkan datar. “Begitu kamu menyebutnya sekarang?”

    “Arkan, kamu tahu aku peduli padamu. Tapi ini bisnis. Aku tidak bisa mengambil risiko kamu… kamu tahu.”

    “Berbicara sendiri di depan klien?”

    “Ya.”

    Arkan terdiam lama. Ini adalah ujian. Pak Hendra memberikannya kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa ia masih bisa berfungsi di dunia nyata.

    “Kapan presentasinya?”

    “Dua minggu lagi.”

    “Aku akan melakukannya.”

    Pak Hendra tersenyum lega. “Bagus. Dan Arkan… pertimbangkan untuk menemui seseorang. Profesional. Bukan untuk mengubahmu, tapi untuk membantumu mengelola… apa pun yang kamu alami.”

    Malam itu, Arkan duduk di depan komputer dengan layar kosong. Biasanya desain mengalir begitu saja dari pikirannya. Tapi malam ini, tidak ada apa-apa. Hanya kekosongan.

    “Kamu terlalu banyak berpikir,” Minji duduk di kasur di belakangnya.

    “Aku harus membuat desain yang sempurna. Ini kesempatan terakhirku.”

    “Atau kamu bisa mengakui bahwa kamu takut.”

    “Takut apa?”

    “Takut jika kamu sembuh, kamu akan kehilangan apa yang membuat desainmu istimewa. Kamu pikir kegilaanmu adalah sumber kejeniusanmu.”

    Arkan berbalik menatapnya. “Bukankah begitu?”

    “Tidak. Kamu jenius bukan karena kamu gila. Kamu jenius karena kamu melihat dunia dengan cara yang berbeda. Dan itu tidak akan hilang hanya karena kamu memilih untuk hidup di dunia nyata.”

    “Bagaimana kamu tahu?”

    Minji tersenyum. “Karena aku kamu. Dan aku tahu kamu lebih kuat dari yang kamu pikir.”

    Bagian 7: Pilihan

    Seminggu sebelum presentasi, Arkan akhirnya mengunjungi psikolog atas desakan ibunya. Dr. Sari, wanita paruh baya dengan senyum yang menenangkan, mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi.

    “Apakah menurut Anda saya gila?” tanya Arkan di akhir sesi pertama.

    “Saya tidak suka kata ‘gila’,” jawab Dr. Sari. “Anda mengalami sesuatu yang disebut disasosiasi—cara pikiran melindungi diri dari trauma atau stres. Minji adalah representasi dari bagian diri Anda yang merasa aman, diterima, dipahami.”

    “Tapi dia tidak nyata.”

    “Nyata itu relatif, Arkan. Bagi Anda, dia nyata. Dan itu yang penting. Pertanyaannya bukan apakah dia nyata atau tidak, tapi apakah keberadaannya membantu atau menghambat Anda untuk hidup.”

    “Dia membuatku merasa tidak sendirian.”

    “Tapi dia juga membuat Anda menjauh dari orang-orang yang benar-benar ingin dekat dengan Anda. Ibu Anda, Dinda, bahkan Pak Hendra. Mereka semua mencintai Anda, Arkan. Tapi cinta mereka tidak bisa menembus dinding yang Anda bangun.”

    Arkan merasakan sesuatu retak di dadanya. “Bagaimana jika saya tidak bisa hidup tanpa dia?”

    “Anda bisa. Mungkin tidak sekarang, mungkin tidak besok. Tapi suatu hari, Anda akan bisa. Dan saat itu tiba, Anda akan menyadari bahwa melepaskannya bukan berarti kehilangan. Itu berarti memilih untuk hidup dengan utuh.”

    Malam itu, Arkan pulang dan menemukan Minji duduk di balkon, menatap hujan yang turun deras.

    “Kamu akan meninggalkanku,” katanya tanpa berbalik.

    “Bagaimana kamu tahu?”

    “Aku selalu tahu.” Minji tersenyum sedih. “Ini yang seharusnya terjadi sejak awal.”

    Arkan duduk di sebelahnya. “Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpamu.”

    “Kamu akan belajar. Seperti kamu belajar hidup tanpa ayahmu.”

    “Tapi aku gagal. Aku menciptakanmu sebagai pelarian.”

    “Tidak.” Minji menggeleng. “Kamu menciptakanku sebagai jembatan. Jembatan menuju kesembuhan yang kamu belum siap lewati. Tapi sekarang, kamu sudah siap.”

    “Bagaimana kamu tahu aku siap?”

    “Karena sekarang kamu menangis. Dan itu pertanda baik.”

    Arkan tidak menyadari air mata mengalir di pipinya. Minji mengusapnya dengan lembut—sentuhan terakhir yang terasa begitu nyata.

    “Aku akan merindukan percakapan kita,” bisik Arkan.

    “Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap di sini,” Minji menyentuh dada Arkan. “Tapi tidak lagi sebagai seseorang yang kamu lihat. Melainkan sebagai bagian dari dirimu yang sudah sembuh.”

    “Aku takut.”

    “Aku tahu. Tapi keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah memilih untuk melangkah meskipun takut. Dan kamu, Arkan, adalah orang yang paling berani yang pernah kukenal.”

    Hujan semakin deras. Dan perlahan, sosok Minji mulai memudar—seperti tinta yang terlarut dalam air.

    “Terima kasih,” bisik Arkan. “Untuk segalanya.”

    “Terima kasih sudah menciptakanku,” Minji tersenyum untuk terakhir kalinya. “Sekarang pergilah. Dan hiduplah.”

    Bagian 8: Presentasi

    Hari presentasi tiba. Arkan berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja putih dan celana hitam—pakaian paling formal yang ia miliki. Ia terlihat berbeda. Lebih… hadir.

    Di ruang meeting perusahaan multinasional itu, lima eksekutif senior duduk dengan wajah skeptis. Pak Hendra duduk di samping Arkan, gugup. Dinda ada di barisan belakang, tangannya terkepal—entah mendoakan atau bersiap untuk bencana.

    Arkan membuka laptopnya dan memulai presentasi.

    “Selamat pagi. Nama saya Arkan, dan hari ini saya akan menunjukkan kepada Anda bukan hanya desain, tapi sebuah cerita.”

    Ia mengklik slide pertama. Logo yang ia buat—simple, elegan, tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada kehangatan di dalamnya, sesuatu yang manusiawi.

    “Brand Anda selama ini fokus pada efisiensi dan teknologi. Dan itu bagus. Tapi orang-orang tidak jatuh cinta pada efisiensi. Mereka jatuh cinta pada cerita, pada koneksi, pada perasaan bahwa mereka dilihat dan dipahami.”

    Arkan melanjutkan presentasinya, menjelaskan setiap elemen desain dengan passion yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tidak ada jeda aneh, tidak ada tatapan kosong, tidak ada percakapan dengan sosok yang tidak terlihat.

    Ia sepenuhnya ada di sana.

    Setelah tiga puluh menit, ia mengakhiri dengan sebuah pertanyaan: “Apa yang ingin Anda tinggalkan di dunia ini? Karena pada akhirnya, brand bukan tentang produk. Brand adalah tentang legacy.”

    Ruangan hening. Kemudian, salah satu eksekutif—wanita berambut putih dengan kacamata tebal—bertepuk tangan. Yang lain menyusul.

    “Brilian,” katanya. “Ini persis yang kami butuhkan. Kami ambil.”

    Di luar ruangan, Pak Hendra memeluk Arkan erat. “Kamu melakukannya! Kamu benar-benar melakukannya!”

    Dinda mendekat, matanya berkaca-kaca. “Arkan… kamu baik-baik saja?”

    Arkan menatapnya—benar-benar menatapnya untuk pertama kalinya. “Aku sedang dalam proses untuk baik-baik saja. Dan aku minta maaf untuk semua yang pernah aku katakan.”

    “Tidak perlu minta maaf,” Dinda tersenyum meskipun air matanya jatuh. “Yang penting kamu di sini sekarang.”

    “Tentang perasaanmu…” Arkan menarik napas dalam. “Aku tidak bisa berjanji apa-apa. Tapi bolehkah aku mencoba? Perlahan?”

    Dinda tertawa—tawa yang campur tangis. “Tentu saja boleh, bodoh.”

    Epilog: Enam Bulan Kemudian

    Arkan duduk di kafe yang sama tempat ia dulu bertengkar dengan Dinda. Tapi kali ini, mereka datang bersama—bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai dua orang yang sedang belajar saling memahami.

    “Kamu masih melihatnya?” tanya Dinda hati-hati.

    “Kadang,” jawab Arkan jujur. “Tapi tidak seperti dulu. Sekarang lebih seperti… bayangan samar. Kenangan. Dan itu tidak apa-apa.”

    “Aku bangga padamu.”

    “Aku juga.”

    Mereka minum kopi dalam keheningan yang nyaman. Hujan turun lagi—hujan Surabaya yang tiba-tiba dan tanpa permisi. Tapi kali ini, Arkan tidak menatap jendela mencari pola. Ia menatap Dinda, yang tersenyum padanya dengan cara yang membuat dunia terasa sedikit lebih nyata.

    Ia masih belum sepenuhnya sembuh. Mungkin ia tidak akan pernah sepenuhnya sembuh. Tapi ia sudah memilih—memilih untuk hidup di dunia ini, dengan segala ketidaksempurnaannya. Memilih untuk merasakan sakit yang nyata daripada kenyamanan yang palsu.

    Dan di suatu tempat, di sudut pikirannya yang paling sunyi, ia mendengar suara Minji berbisik dengan lembut: *”Aku bangga padamu, Arkan. Sekarang pergilah dan hiduplah.”*

    Ia tersenyum. Kemudian ia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Dinda—tangan yang nyata, hangat, dan ada di sana.

    “Terima kasih sudah menungguku,” bisik Arkan.

    “Selalu,” jawab Dinda.

    Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arkan merasa bahwa ia benar-benar pulang.

    Wonokromo, 2024

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleKematian Pengarang
    Next Article Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.