Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Kau Tetap Perempuan, Jelita
    Cerita Pendek

    Kau Tetap Perempuan, Jelita

    Sapta Arif9 Maret 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Kau Tetap Perempuan, Jelita

    Hari ini persis sebulan yang lalu, terakhir kali kau mengangkat dadak merak. Aku sendiri tidak yakin kau akan benar-benar pulih dari rasa trauma. Setegar-tegarnya hatimu, kau tetap perempuan, Jelita. Hati kita tercipta dari serpihan sesuatu yang rapuh. Berasal dari secuil bagian dada laki-laki yang bengkok. Perasaanmu, perasaanku, adalah kodrat yang tak bisa kau tolak.

    Aku seringkali melihatmu berdiri di hadapan dadak merak yang tergantung di salah satu sisi ruang tamu. Menatap benda itu lekat-lekat seakan-akan meyakinkan diri untuk kembali mengangkatnya. Tatap matamu tak bisa berbohong. Selalu ada kerling keraguan di sana.

    Tetapi, anggapanku mungkin saja keliru melihat aktivitasmu sore ini. Kau kembali mengikat kedua sisi barbel menggunakan tali. Ikatan yang kuat seakan menunjukkan kehati-hatianmu. Lalu kau gigit talinya dan barbel bergelantung bebas. Pelan namun pasti, kau mulai mengangkat barbel menggunakan kekuatan mulut. Sesekali terdengar geraman. Aku mengenangnya seperti yang rutin kau lakukan saat pertama kali akan pentas reog mini di alun-alun dulu.

    Sebagai kakak yang baik, aku tak ingin memutus semangatmu itu. Tetapi, sejujurnya aku begitu khawatir jiwamu belum benar-benar pulih setelah kejadian pentas reog obyok di lapangan kampus IKIP. Sore itu, orang-orang telah berkumpul memadati segala sisi lapangan. Terompet berbunyi, beradu suara kendang, dan alunan kempul. Setelah dua penari kelono swandono beradu tangkas menari, tiba gilirannya pembarong masuk. Kau sibak rambutmu yang panjang. Lalu meletakkan tangan kanan di atas kepala singa, matamu terpejam, sambil merapal mantra. Sejenak kemudian, kau angkat dadak merak itu. Namun, keseimbangan kakimu goyah, tubuhmu terjungkal ke belakang. Penonton gaduh, beberapa orang lekas mengerubung. Kau pun pingsan.

    Mestinya kau sadar, jathil adalah posisi yang baik untukmu. Menari sebagai pasangan kuda putih yang anggun. Meloncat ke sana kemari, seperti yang pernah kau cita-citakan dulu. Terlebih, apakah tubuhmu benar-benar mampu mengangkat dadak merak seberat 80 kilogram? Apalagi bentang tanganmu pun tidak sekokoh pembarong laki-laki. Untuk mengangkat benda selebar dua meter lebih, sudah pasti membutuhkan tenaga yang besar. Tetapi, entah setan dari mana yang berbisik padamu saat itu. Tiba-tiba, pada satu pagi sebelum berangkat sekolah, kau mengutarakan niat padaku.

    “Mba, aku mau mbarong,” ucapmu mantap, tanpa basa-basi.

    Aku sadar, ucapanmu bukanlah sebuah permohonan izin. Pernyataan barusan seperti sebuah penegasan keinginanmu. Sejak dulu, kau memang memiliki watak sekeras batu. Menurun persis seperti ibu. Meski kita paham betul, ibu tak pernah menghabiskan waktu lebih dari enam bulan bersama kita. Bahkan bisa dipastikan, waktu yang kita habiskan dengan ibu tidaklah seberapa dibandingkan dengan waktu yang ibu habiskan dengan anak majikannya di negara sebelah.

    Ibu hanya pulang seperlunya saja. Paling lama seingatku, satu tahun lebih dua bulan. Itu pun karena saat itu ibu mengandungmu. Saat kau genap berusia tiga bulan, ibu pamit kembali ke Malaysia. Perasaan kehilangan selalu membekap saat ibu berpamitan, meski ibu selalu berjanji akan lekas pulang, lalu berhenti bekerja di luar negeri. Impian kosong yang seringkali hadir sebagai mimpi burukku.

    Jelita, pada malam-malam yang menyedihkan, aku sering melihat ayah duduk termangu di teras rumah. Waktu itu aku masih berusia tujuh tahun dan kau masih lucu-lucunya sebagai bayi yang baru saja bisa berjalan. Malam itu, hujan tak kunjung reda, menyebabkan permukaan air sungai di seberang rumah terus meninggi. Aku mendengar beberapa petani mulai khawatir gagal panen. Air dari sungai mulai meluber ke sawah-sawah dan mulai ke jalanan.

    Belakangan aku tahu, ayah meminta ibu untuk pulang. Dalam sambungan telepon, ayah bercerita kerap mendapatiku mengigau memanggil-manggil nama ibu. Ayah juga bercerita tentang perkembangan pertumbuhanmu. Tetapi, entah oleh sebab apa, ayah selalu terlihat sedih saat menutup telepon. Bahkan suatu ketika, ayah pernah berkata, wis sak karepmu! Arep bali apa ora, aku gur ngomong anakmu nggoleki. Telepon ditutup. Setelah itu ayah kembali duduk di teras, memandang ke arah jauh. Seperti menerawang kehadiran ibu di rumah ini.

    Dari sekian banyak laki-laki yang ditinggal istrinya bekerja di luar negeri, ayah berbeda. Pernah aku mendengar, Pak Parmin main serong dengan perempuan penjual kopi di pertigaan pasar. Istri Pak Parmin bekerja di Arab dan hubungan Pak Parmin dengan selingkuhannya itu sudah berlangsung lama. Hingga pada suatu ketika hubungan mereka meledak, dipergoki oleh adik istrinya pada satu malam. Tidak berselang lama, surat permintaan cerai melayang. Hubungan mereka kandas. Cerita seperti ini tidak jauh berbeda dialami oleh Pak Gimin, Pak Tugiman, hingga Mas Ponirin. Seperti sebuah cetakan cerita yang akan mereka lakukan tatkala seorang istri memilih jalan menjadi pekerja migran.

    Tetapi ayah berbeda. Laki-laki seperti ayah seolah sah-sah saja jika memilih punya selingkuhan, mabuk-mabukan, dan menghabiskan kiriman istrinya untuk berjudi. Sekali lagi, ayah kita jauh berbeda. Ayah adalah petani yang giat dan menempatkan kepentingan keluarga di atas segalanya. Dengan sabar, ayah menjadi pengganti ibu bagi kita. Suatu hal yang seringkali membuatku nelangsa. Pernah suatu ketika, saat ibu berada di rumah, dengan polos aku meminta ibu untuk berhenti bekerja di luar negeri. Tetapi, jawaban ibu selalu sama.

    “Kalau Ibu ngga kerja, keluarga kita mau makan apa? Kamu dan Jelita harus bisa sekolah, harus jadi sarjana,” jawaban yang akhirnya membuatku muntab, tiap kali mengingatnya.

    Dan malam itu, hujan yang tak kunjung reda membuat aliran sungai meluap. Air sudah menggenangi rumah tatkala ayah membangunkanku. Keesokan paginya, kita memutuskan pindah. Ayah menggendongmu saat air sudah setinggi pinggangku. Kita menerobos banjir menuju ke pertigaan pasar. Di sana, Lek Diman sudah datang menjemput. Kita mengungsi ke rumahnya di daerah kota. Hari-hari berikutnya, Ayah beberapa kali bolak-balik ke rumah. Mengamankan barang yang bisa diselamatkan, katanya.

    Seminggu kemudian, ibu mendadak pulang tanpa memberikan kabar sebelumnya. Tetapi kepulangan ibu kali ini membawa cerita yang memilukan. Hampir setiap malam ayah dan ibu bertengkar. Tak peduli di rumah Lek Diman atau di rumah sendiri yang beberapa bagiannya masih tergenang air. Ketika siang hari, ibu kerap pergi sendirian. Suasana rumah menjadi begitu kaku.

    Ibu sering mengajakku berbicara empat mata, mengatakan bahwa aku harus bisa sekolah dan meraih gelar sarjana. Ibu juga kembali mengeluhkan soal ayah, ayahmu apa peduli dengan Ibu? Bisiknya tertahan.

    Ayah memang hemat berbicara, segala sesuatunya tak pernah ia sampaikan. Tetapi, bukankah cinta tak perlu diucapkan. Ayah tak pernah mengeluh jika ia terasa lelah sepulang dari sawah dan mendapati kedua anaknya belum makan. Ia lekas memasak. Jika pun tidak, ayah tidak pernah pulang dengan tangan kosong. Ayah pun tak pernah mengeluh jika suatu ketika uang kiriman ibu berkurang. Kita terpaksa berhemat, ayah menanam sayur-sayuran di halaman rumah buat makan sehari-hari. Ayah tak pernah bercerita jika ibu menuduhnya yang tidak-tidak dalam telepon. Mulai dari main judi, mabuk, hingga main perempuan. Ayah menyimpannya rapat-rapat dan berharap kita—anaknya—tidak tahu.

    “Ibu mencintamu dan Jelita, Nduk. Suatu saat kalian harus ikut ibu ke Malaysia. Di sana majikan ibu sangat baik, bahkan seringkali menanyakan kabar kalian,” ucap Ibu.

    Semestinya, aku mulai curiga. Karena tidak lama kemudian, ibu pamit lagi untuk berangkat ke luar negeri. Meninggalkan kita. Meninggalkan sepucuk surat gugatan cerai di meja ruang tamu pada suatu pagi.

    Ibu sah berpisah dengan ayah. Berselang setahun sejak kepergian ibu, aku mendengar dari omongan Lek Diman bahwa ibu telah kawin dengan majikannya di luar negeri. Hatiku hancur berkeping-keping. Masa depanku seakan memudar berselaput keremangan kisah yang kelam.

    Ya, watak keras ibu menurun padamu, Jelita. Sedangkan ayah, selalu menjadi bumi yang tabah menghadapi musim. Ia tetap ayah yang giat dan sabar. Meski pada waktu-waktu tertentu, aku pernah memergoki ayah terlelap di kursi ruang tamu. Mengigau, menyebut nama ibu. Kau pun pernah melihatnya kan?

    Tetapi, aku pun tak paham, apakah kau akan peduli atau memilih tidak. Nyatanya, kau justru sangat merepotkan ayah. Saat pertama kali kau memutuskan menjadi pembarong, ayah adalah orang pertama yang mengkhawatirkanmu. Mengawasimu saban latihan, hingga berupaya mencarikan pelatih pembarong yang paling ampuh, Mbah Wondo. Ya, dari Mbah Wondo-lah kau belajar menjadi pembarong. Sebab Mbah Wondo pula kau mantap mengabdikan dirimu pada kesenian Reog.

    Sejujurnya, aku merasa gagal mengajarimu untuk menjadi perempuan yang jelita. Seperti namamu. Sosok perempuan yang cantik tidak hanya fisik, pun juga hati yang menawan. Meskipun nyatanya, tidak ada yang bisa menghalangi niatmu. Jangankan aku, ayah pun tak sanggup. Dan pagi ini, kau bangun sambil mengeluhkan seluruh tubuhmu yang sakit setelah kembali rutin latihan.

    “Njarem kabeh mbak,” kau meringis sambil memaksa tersenyum.

    Aku membuang wajah dan kau menangkap sinyal itu sebagai sebuah kekecewaan yang sangat dalam. Kau pun diam beberapa saat. Matamu sembab, bibirmu bergetar menahan sesuatu. Gegas aku memeluk tubuhmu. Kehangatan mengalir telak membenamkan rasa kecewa. Timbul kepasrahan yang membuatku semakin membenci diriku sendiri.

    “Apa yang sebenarnya kau cari Jelita?”

    Kau menatap mataku. “Mbah Wondo pernah bilang, jika aku giat berlatih dan berhasil menjadi pembarong perempuan, beliau berani merekomendasikanku ke Pak Bupati. Kita akan pergi ke Malaysia Mbak,” suaramu tertahan. Aku semakin erat memeluk.

    “Ibu harus tahu kalau ayah begitu mencintainya. Sampai hari ini, sampai kapan pun juga,” ucapmu dengan suara bergetar. (*)

    Ponorogo, November 2024


    Sapta Arif adalah pengajar sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Berkomunitas di Sutejo Spektrum Center. Pernah menjadi peserta Residensi Literatutur Gresik yang diselenggarakan oleh Yayasan Gang Sebelah bekerja sama dengan Kemendikbud RI. Kenali lebih hangat melalui IG:@saptaarif.

    barong jathilan penari reog
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleJika Para Penguasa Berdagang Dengan Rakyatnya
    Next Article Balada Sayyidah Sukainah

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.