Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Balada Sayyidah Sukainah
    Puisi

    Balada Sayyidah Sukainah

    Nihasyy16 Maret 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Balada Sayyidah Sukainah
    Balada Sayyidah Sukainah

    “Luaskan dada kalian, bersabarlah
    Segera julurkan baju panjang kalian
    Bersiaplah untuk musibah”

    Usai kalimat itu diterbangkan
    Ia mendekap tubuh kami yang berbungkus
    Lembaran kain hitam berlapis
    Lalu derapnya menjauh, mengucap pisah
    Menunggangi zuljanah yang melaju memburu tanah

    Sejurus tak terdengar
    Tersiarlah sebuah kabar yang hingar
    Namanya disebut, kepalanya telah terpenggal

    Zuljanah yang diselimuti panah
    Merunduk di hadapanku
    Aku mengajak kuda itu bicara
    Kuda yang telah runtuh kemudinya
    Kuda yang telah penuh sayatan itu
    Menjawab dengan ringkikan tajam

    Gelombang debu yang menderu
    Telah biasa menampar wajahku
    Tapi debu suci yang bercampur darah husainah
    Menumbangkan nyaliku dalam hunusan pedang yang memerah

    Aku bergetar dalam lumatan sebuah kalimat besar,
    Takbir yang lebar
    Dengan hujan panah yang menelusup bumi karbala
    Ujung tombak yang bertenggerkan kepala para syuhada

    Tiba-tiba di tanah yang pecah
    Dengan aroma kemasygulan
    Malak al maut telah menyapamu
    Merengkuh ruh-mu
    Untuk pergi jauh merobek cakrawala karbala
    Sedang jasadmu dihina para durjana

    Wa husainah wa abtah
    Bertambah pula nestapa ini
    Saat kepalamu yang suci juga di sana
    Kepala yang digiring di atas runcingnya lembing

    Kala itu di barak tenda
    Saat rusukmu masih memelihara nyawa
    Aku membanjiri jubahmu dengan air duka
    Yang meronta dari pelupuk rinduku
    “Sukainah, selama ruhku masih di kandung badan,
    Jangan kau beratkan ia dengan tangisan ini”
    Aku mengeratkan dekapan itu padamu
    Suluh hatiku diserang gundah

    “Sukainah putriku, nanti saat izrail menarik ruh ini
    Engkau yang akan menangis lama
    Karena engkau yang lebih pantas untuk itu,
    Aku masih di sini, Jangan biarkan air mata itu
    Mengaliri deras lembut pipimu”

    Kini, aku tenggelam
    Dalam luap duka yang berdarah
    Namun, kaki-kaki yang membunuhmu
    Juga kudengar derapnya mendekati pertahanan ini
    Tanganku disimpul pati, husainah
    Aku digiring dengan seretan rantai yang kasar
    Sembari dicambuk ratusan kali
    Putrimu ini tertawan

    Rombongan pasukan bertombak
    Menggamitku dan ahlul bait yang lain
    Aku menatap nanar mereka
    Menginjakkan pangkal tongkat berlumur dosa
    Dalam hingar singgasana yazid
    Sedang bilur pada lengan ini, relung dada ini
    Belum pulih, dan gugur dalam pejaman
    Mata kejam penghianat


    Api Tamak

    Di balik jendela, kubekukan waktu
    Aku poranda, diterjang badai yang memburu
    Di balik jendela yang resah
    Aku pecah, dihujam ribuan panah

    Wajahku murung menafsirkan
    Api tamak yang telah lama kunyalakan
    Dan pelan-pelan membakar
    Menghanguskan tubuhku

    Mataku berkabung, menerjemahkan
    Riuh megah yang akhirnya punah
    Menyisakan bongkahan sesal
    Yang pelan-pelan mengoyakkan moral

    Tanganku menggenggam luka yang menganga
    Luka dari perangai serakah yang bertahta
    Melahirkan lalai dan lengah yang begitu meraja
    Yang pelan-pelan jeritkan hina
    Di dermaga kesadaran ini
    Tubuhku runtuh dan karam
    Di antara buih-buih sesal
    Yang begitu bengal

    Sebab sempat kutinggalkan
    Muara kasih-Nya
    Demi kobar kemegahan
    Yang berlabuh sirna

    Yang Tersisa dari Sebuah Berita Besar

    Pada tenggat waktu di mana semesta berkabung
    Kalimat tanya menyembul dari bibirku yang bingung
    Berbisik hilir, tanyakan petaka
    Berita besar yang konon bangkitkan jiwa

    Kabar itu menyapa persinggahanku yang hendak pudar
    Membekukan radar mataku yang begitu nanar
    Ia bergetar menerbitkan sadar
    Bahwa iradah-Nya selalu benar

    Di palung mana lagi aku akan bersembunyi
    Sedang seluruh Samudera sepakat terlipat
    Ketika semua air mengikuti satu suara
    Seruan sangkakala yang memekak telinga

    Di jengkal jazirah mana lagi aku akan berlari
    Sedang seluruh tanah retak, tak menerima pijak
    Ketika kabar kehancuran yang kuduga hanya materi
    Kini, ia meluluhlantakkan diri

    Di lembaran langit mana lagi aku akan bernaung
    Sedangkan angkasa meruntuhkan semua ornamennya
    Bintang pejamkan mata, lalu meledak
    Rembulan kehilangan jejak, hingga semua ia tabrak
    Di rubayat daratan mana lagi, akan kugali asa
    Sedang mimpi telah runtuh di amuk poranda
    Tak ada lagi barisan kata yang rapi
    Sebab hanya segunung pekikan yang akan kujumpai

    Nyatanya aku tak perlu lari, atau tutupi diri
    Ketetapan itu akan menyergap dari kanan maupun kiri
    Di mana semua lakon drama di dunia
    Tertuai merekah di sana

    Aku hanya perlu menapaki Qudrah-Nya yang suci
    Dalam percintaan yang abadi
    Mengobati segala luka
    Untuk menempuh dan menemukan suluk cinta-Nya

    Aku hanya perlu benahi hati
    Tuk selalu menyelami cinta-Nya yang pasti
    Tapi kesempatan itu telah pergi
    Lari terbirit, arungi lautan pati


    Ranah Rantauan

    Poros jemariku melambai tanpa pejam
    Pada negeri berjuta gundukan garam
    Air laut beda warna, dalam satu muara
    Mengantarku pada ranah asing penuh rona

    Vitalisasi alam yang amat menggoda
    Di ketinggian, gunung berbaris simpan suluh surya
    Nida’ dari menara masjid bertalu
    Terbitkan renjana yang kian bertubi

    Tak jarang pucuk mataku mengedar
    Menafsirkan langit yang sedang senyap
    Tak ada tsuroya
    Pun gumpalan awan yang menjelma

    Ranum kumenyembulkan tanya
    Apakah udara yang kuhirup
    Hujan yang kupeluk; sama persis
    Dengan sepoi dan ricik di janabijana1

    Malam enggan menjawab
    Gemintang redupkan moleknya
    Rembulan bersembunyi di balik rumpun
    Semua penyap, aku memilih lelap

    Bekal Musiman

    Ketika fajar memberi tabik
    Layaknya gejolak api di langit timur
    Dan senja hadir
    Dengan indahnya yang tak terukur

    Bersiaplah!
    Bersiaplah angkasamu menggelap
    Selayaknya tabir hitam di atas pentas
    Yang perlahan bergerak sebagai tanda pungkas
    Atau sekadar memberi jeda
    Di hari Lelah berselimut drama
    Di sana kau akan merengkuh dinginnya malam
    Sebab seharian gersang, kemarau

    Mei, 2023

    Melumat Algoritma

    Di lipatan langit yang meliput pekat
    Laksana selendang malam hitam
    Bermanik kerlip gemintang
    Juga sinar warni layang-layang

    Aku menapaki rentang liburan
    Dengan jejakan laku sederhana
    Menikmati pamit dari penyair kesukaanku
    Ketika semesta merintikkan puisi

    Menarik senyum di senar layang-layang
    Yang kupandang tanpa ampun
    Lewat bunga tabur dan ritme nada gala
    Sesakkan algoritma bosanku

    Bertahun menimba di rantauan
    Menyulapku asing pada remukan dapur
    Pantai atau gegunung
    Bersabarlah untuk kusambangi

    Lain hari

    Sebab tak ada
    Yang lebih piawai memikatku
    Selain memandang senyum ibu
    Dan canda garing ayah

    Sepaket saksi mata,
    Peron dan kereta
    Ia mengantarku pada kenang
    Yang rupanya tak dapat ku ulang


    Isi Kepala Orang Sakit

    Apa yang bisa kutembus?
    Dari tipis
    Dan lembut kapas
    Yang menjelma di langit lepas

    Apa yang bisa kusimak
    Dari kidung yang merambat
    Pada tubuh nyenyak
    Di bawah awan penat

    Apa yang bisa kuraup
    Dari telaga, tanpa cawan
    Menyisakan remah butir air
    Di tetes jemari yang menguncup

    Apa yang bisa kuharapkan
    Dari sumringah bibirmu
    Sedang jarak enggan melipat
    Dan aku selalu dikulum rindu

    Januari, 2024


    Benturan Itu, Membentukku

    Kita bertumbuh
    Sepadan
    Dengan
    Berapa puluh
    Kali; serpih coba
    Menembus dada

    Kita harus tumbuh
    Dengan dersik tasbih
    Getar takbir
    Dan ricik syukur


    Kejora yang Menemani Gulita

    Ia yang tabah
    Menembus malam yang begitu gagah
    Ia yang bijak
    Mengetuk pintu langit yang tampak
    Bagaimana denyutnya dicipta?

    Ia lahir dari filantropi-Nya, dari kasih sayang-Nya
    Yang sorotnya menebar pesona
    Menjelma cinta
    Bagi mata-mata yang senantiasa
    Mengejanya di samudera malam

    Mereka melayang terpelihara
    Di antara selembar takdir
    Yang bergetar
    Yang enggan luput
    Dari penjagaan-Nya

    Takdir itu pun mendekapmu
    Yang kini kau tempuh
    Untuk sampai ke muasal mu
    Menemukan hakikat cinta-Nya


    Episode Sadrah

    Ketika purnama tertinggal indahnya,
    Rapalan berbaur di lapisan langit.
    Menaklukkan dingin pun ruai musim.
    Memberi bara kecil untuk kebekuan jiwa jiwa.

    Menghadiri ruang dari tiga bagian malam
    Seharusnya menjadi asupanku
    Namun aku serupa bedebah,
    Hingga ia selalu kusanggah.
    Lalu setelahnya
    Aku porak dan runtuh pijakannya.

    Sudikah kau menunggu
    Wahai malam hitam tenang bermanik gemintang,
    Aku merindukannya, sungguhan
    Saat-saat semelehku, bersamamu
    Merajut benang cintaku pada-Nya
    Menceritakan lagi bagaimana tuhanku memberiku tenang detik itu
    Saat lengkara puji mengudara
    Searah dan sepadan dengan lentera hidupku

    Di bawah buku kukila, 25 Mei 2024


    Lahir di Bangkalan, 9 Februari 2006. Mahasiswa baru Fakultas Adab dan Humaniora UINSA ini menyukai seluk beluk puisi sejak kelas 4 SD. Salah satu karyanya yang berjudul Balada Sayyidah Sukainah tergabung dalam antologi puisi bersama Sketsa Kematian Bapak (2024). Puisinya juga termuat dalam antologi Majelis Sastra Urban, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) berjudul Mistik Bulan Tanah Rantauan (2025).

     

    Kuda panah
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleKau Tetap Perempuan, Jelita
    Next Article Harta, Tahta, Janda

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.