Politik tanpa pencitraan hanyalah omong kosong. Kata-kata Hana terus saja merasuk ke dalam hati Winar. Mirip bebijian yang bertunas, ia menjalar, mengakar, menumbuhkan dedaunan hijau di kepalanya yang terus membuat tubuhnya bergairah untuk terus melakukan kebaikan pada sesama. Awalnya, Winar memang belum begitu paham pesan itu. Setelah ditelusuri lebih dalam, mengupasnya tiap lembar seperti mengupas kulit bawang, barulah ia paham.
Bersama Hana, hari Kamis yang manis kemarin itu ia membagi-bagikan bantuan beras 2 ton yang terbagi dalam karung kecil 10 kilo ke warga miskin. Setelah sebelumnya, ia telah meminta data warga miskin dari Pak RT dan diverifikasi data dari kelurahan. Dengan bungkus karung kecil yang telah diberi logo partai Hati Nurani Janda. Sebuah gambar jabat erat dua tangan warna merah jambu yang dilingkari bulatan elips warna ungu yang terlihat lucu dan unyu.
Bulan-bulan sebelumnya, Winar pun pernah membagi-bagikan hampers lebaran, peresmian sekolah kolong, pemberian gerobak gratis untuk pedagang bakso, dan lagi, harus ada logo partai yang tertera. Entah di totebag-nya, entah di spanduknya, entah di gerobaknya, juga harus ada foto simbolis yang akan ia upload di akun media sosialnya. Tentunya dengan sedikit pengaturan cahaya dan filter agar wajahnya lebih glowing dan tulisan watermark maha bijak.
Minggu yang lalu pun ia baru saja memberikan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk warga miskin ekstrem di desa tetangga. Ia dan kadernya tak mau kalah dari partai sebelah yang telah pasang badan lebih dulu untuk menarik hati pemilih dalam masa kampanye, ketika salah satu tetangganya bilang, “Hooh, Mbah Ratinah kemarin dapat bantuan bedah rumah. Dari partai yang ada gambar badaknya,” begitu celotehnya. Winar tersenyum. Logo partai sekarang aneh-aneh. Malah mirip logo obat pereda panas dalam. Barangkali mereka ingin memakai filosofi meredakan panas yang akan menggempur tiap partai dalam persaingan ketat pemilu tahun depan.
Hari ini, atas nama perwakilan koalisi, Winar didaulat Hana sebagai penyambung lidah ke partai Gerakan Janda Indonesia, Partai Kebangkitan Perempuan, dan Partai Jomlo Sejahtera. Winar sebetulnya telah menyarankan untuk lebih mendekati satu partai unggulan. Partai baru yang lima tahun lalu mengantongi lebih dari 15 persen suara pemilu. Itu artinya, jika partai Hati Nurani Janda bisa mengantongi 5 persen saja suara nasional, gabungan dua partai saja bisa mencalonkan presiden dan wakil presiden sendiri di kursi dewan. Sebuah partai yang misi dan visinya sama persis. Partai Persatuan Duda Indonesia. Entah kenapa Hana malah seolah tak tertarik berkoalisi dengan partai itu. Seperti aliran air yang tercegat dari berbagai arah, pikiran Winar makin penasaran dan berusaha menembus keanehan itu, meresapkan keingintahuannya ke segala arah.
Sebetulnya, Winar harus berterima kasih banyak pada Hana. Dari tangannya lah, Winar yang awalnya lugu, malu bergaul, grogi di tempat umum mirip kungkang, berubah total menjadi perempuan pemberani. Winar dan Hana sama dalam hal latar belajang sejarah. Mereka sama-sama perempuan yang berpisah dengan lelaki terkasihnya. Bedanya, Hana terlahir dari keluarga berada. Teman-temannya sekelas gubernur, kepala dinas, dan anggota dewan daerah. Lain dengan Winar yang hanya berkutat dengan kelompok ibu-ibu pengajian, kader Posyandu, dan kelompok PKK. Namun, kesamaan misi mereka lah yang menjadi tonggak bertemunya dua wanita yang ingin mengabdi pada kepentingan masyarakat.
Winar ingat betul, saat ia pertama kali ikut PKK dan membawa anaknya yang berumur lima tahun ke balai desa. Ia baru tahu bagaimana kegiatan kelompok ibu-ibu kader pemberdayaan masyarakat itu. Ia yang ketika itu masih baru, hanya bisa mangap-mangap ketika lagu mars PKK dikumandangkan. Seolah mengikuti nada. Mirip ikan yang kehausan. Padahal yang ia tahu ikan tak pernah kehausan. Sekarang lain hal. Winar hafal mars partainya di luar kepala.
Perpisahan itu memang belum genap enam bulan. Setelah akta turun dari kantor pengadilan, dan hak asuh jatuh di tangan Winar, ia berusaha sekuat tenaga bangkit dari keterpurukan masa lalu. Winar yang biasa hidup bersih dan rapi, sudah tak sudi lagi harus terus bersama suaminya yang hanya hobi mendengkur dan mancing dengan teman-temannya. Makan, mancing, tidur. Begitu saja tiap hari tanpa mau berpikir masa depan mereka bertiga.
Awal dari pertengkaran hebat itu adalah ketika Winar menemukan sebutir upil menempel di tepi ponselnya. Winar wanita prefeksionis. Segala benda di rumahnya harus selalu bersih dan rapi. Melihat hal itu ia murka. Sudah tak pernah memberi nafkah lahir, malah bikin ulah. Tak pernah kerja dan disuruh bersih-bersih rumah saja tak mau. Malah buat susah. Suaminya hanya tersenyum, terus memasukkan ujung jari itu ke hidung sambil nyengir, memijit-mijit dan menyatukan telunjuk dan jempolnya, mirip gerakan membuat onde-onde mini. Lalu melemparkan bulatan upil tadi ke rambut Winar yang baru saja perawatan creambath. Dalam pengajuan gugatan ke pengadilan, Winar tak segan menyantumkan kronologi sebutir upil. Hakim hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sudah cukup alasan untuk tidak mempertahankan pernikahannya. Suaminya di pengadilan sering berkelit, ia mancing untuk memenuhi kebutuhan lauk dan makan keluarga. Padahal, biaya nongkrong di pinggir kali tak sebanding dengan hasilnya. Suaminya berangkat bawa kripik, minuman soda dua, roti sobek dua lembar, belum lagi umpan jangkrik. Pulang-pulang tak bawa ikan atau apa. Kalau hanya sekadar hobi dan selingan di antara kerja, Winar tak mempermasalahkan. Ini setiap hari. Begitu terus. Hati wanita mana tak tersiksa.
Hari ini Winar benar-benar tampak beda. Ia melihat kagum penampakan wajahnya di depan kaca. Rambutnya bagian tepi dicat blonde ala-ala bintang Korea. Lipstik di bibirnya semerah biji saga. Lipstik mahal rekomendasi Hana. Tentu saja, ia tak akan ketakutan saat dahaga. Beda dengan lipstik murah miliknya yang meninggalkan bekas di tepi gelas saat ia minum. Bedak yang menempel juga bedak mahal yang sangat sesuai dengan kulit Winar yang sawo matang. Winar jadi ingat sewaktu kecil pernah memakai bedak murah yang tiba-tiba luntur menyisakan aliran santan ke leher saat ia kehujanan sewaktu pulang sekolah. Sempurna sudah penampilannya hari ini dengan balutan blus longgar merah marun dan celana jins ketat ungu tua.
Tak lupa, ia mencangklongkan tas Hermes dari Hana. Penampilan Winar makin parlente. Ia yang dulunya ke mana-mana terbiasa memakai goodiebag lebaran bergambar masjid atau tas kresek bekas toko baju, sudah nyaman dengan penampilan barunya sekarang. Dengan tambahan sepatu kets hitam hak rendah yang terlihat serasi, kasual, tetapi terlihat mewah. Winar yakin orang-orang yang meremehkannya akan berkurang.
Dua jam acara di aula pertemuan hotel bintang empat itu berjalan lancar. Winar dan Hana bersalaman, saling menepuk pundak, saling melempar ucapan selamat tepat ketika nota kesepahaman itu telah ditandatangani di atas meja. Sebagai partai baru, empat partai akan sepakat melakukan koalisi jika ambang batas minimal suara nasional 20 persen tak terpenuhi. Namun, ada yang tak luput dari perhatian Winar. Seorang laki-laki berkulit bersih dengan perut subur seolah sedang menyembunyikan bola tendang di perutnya. Dalam jarak sebelas langkah yang duduk manis di sebelah kanan. Dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu. Rambut klimis dengan sedikit cambang di pipi yang merambat dari atas telinga sampai pipi bawah, menjalar mirip pohon ubi jalar. Tatap heran dan tak asing itu membuat Winar semakin yakin siapa pria di depannya.
Ketika tiba-tiba Hana berjalan mendekati pria itu, mencium pipi kanan dan kirinya, ada perasaan luka tak bernama dalam dada. Lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika ia dan laki-laki itu satu sekolah, Winar pernah menaruh hati untuknya. Sayang, kasta memang tak salah memilih mana yang akan sesuai dan seimbang untuk orang terkasihnya. Winar perlahan mundur. Kekecewaan itu membuatnya gagal masuk tes sekolah akuntansi negara dan lagi, sehari setelahnya ayah dan ibu Winar bercerai. Sekarang, Winar jadi yakin Hana memang pantas untuknya walau dalam hati, ia tetap tak rela.
Kerumunan orang tiba-tiba merenggang dan Winar bersiap pulang, seseorang menarik lengannya dari belakang. Ia menoleh dan laki-laki yang pernah membawanya dalam kisah cinta remaja SMA telah berdiri di hadapannya. Ia tahu harus menjaga jarak karena pria di depannya sudah jadi kekasih sahabatnya saat ini.
“Kamu Winar bukan?”
Ia mengangguk gugup. Malu.
“Tukar kartu nama bisa? Aku wakil ketua umum dari partai sebelah.”
Winar menerima kartu nama itu. Gegas ia mengeluarkan benda selebar KTP dari dalam dompet dan balik memberikannnya ke pria yang sudah pasti bernama Roby. Teman SMA-nya dulu. Seorang lelaki yang pernah juara dua ujian nasional sesekolahan.
Winar melihat kartu nama itu dengan saksama dan logo “yang ada badaknya” terpampang di sana. Winar tahu, partai Persatuan Duda Indonesia cukup tenar lima tahun lalu. Jika tak pintar-pintar memilih rekan koalisi, partai barunya bisa saja tenggelam dan tak akan ada lagi di lima tahun mendatang. Winar, diam-diam ingin menjalankan sebuah misi.
Maka, seusai tabuh isya, Roby datang sendirian ke rumahnya. Setelah basa-basi dan minum kopi setengah jam, Winar malah mengajak Roby langsung menarik lengannya ke kamar. Anak laki-laki Winar yang baru kelas 1 SD sudah mendengkur di sofa ruang tamu. Win mencium ganas bibir Roby di depan pintu kamar, mengalungkan tangannya ke bahu Roby yang empuk.
Dua tahun sudah ia memendam hasrat setelah berpisah dengan suaminya. Roby datang seolah air pelepas dahaga. Ia belum lupa, rasa empuk perut suaminya jika ia sedang memeluknya. Dalam jarak enam detik yang tidak bisa dihentikan semesta, Winar sudah menduduki perut Roby yang gemoy dan telah merebah di tepi ranjang. Melihat bulatan mata Roby yang terus bernapas, merekah, terengah penuh gairah.
Winar sejenak melupakan tujuan awal gerakan bawah tanah untuk koalisi atas nama Partai Hati Nurani Janda. Ia sengaja mengabaikannya. Ia yang dianggap lugu oleh teman-temannya, melakukan misi balas dendam atas nama pribadi. Sebuah rasa sakit hati pada Hana yang Roby tak akan pernah memahami. Ia sadar, selalu sadar, politik selalu dipenuhi ambisi pribadi.
Dody Widianto lahir di Surabaya. Karyanya tersiar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Kompas.id, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Bangka Pos, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.


