Aji Pamalayu!
menjangan bidikanku
kaukirim bala seratus ribu
kusambut dua ratus ribu
jumawa menjelma Batara Syiwa
pada segumpal getih di dada
Aji Pamalayu!
Medang Kamulan meradang
menagih takhta yang kauhutang
di sini, tanah Gejag, Anjuk Ladang
Aji Pamalayu!
kubangun Jaya Stambha
mengabadikan lampusmu di tanah Jawa
oleh tangan-tangan putra Dyah Wawa
Anjuk Ladang, 2020
Catatan
Jaya Stambha = Tugu kemenangan Mpu Sindok di Anjuk Ladang, dikenal sebagai Candi Lor.
(2) Satu Wuku Setelah Kubangun Jaya Stambha
suatu wuku di bulan Caitra
ketika paruh kresnapkasa mengambang di cakrawaka
sebagaimana dua dasawarsa silam
puan dipatahkan dari rusuk sahaya
sendiri
mendongak ke bentangan langit
menyasar tanah kemenangan di kaki Wilis
sunyi
hanya ada guratan-guratan tatit
entah kemana bidadari itu pergi
pada mega-mega hitam yang bergelayutan
yang terbentang bagai jubah raksasa
sahaya menyapa, “di manakah bidadari itu, tuan?”
dijawab gemlegar yang memercik entah berapa banyak cahaya
lalu, penuh letih berpeluk perih
sahaya kembali tertatih-tatih
merangkak di antara cakrawala yang berhujan
tersungkur di bawah selangkangan kaki-kaki awan
“dinda Dyah Kbhi, ini sahaya.”
“kau siapa?” tanyamu.
bagai luka baru yang dijilati ujung sembilu
sahaya lunglai terpedaya
satu wuku setelah kubangun Jaya Stambha
kupijak lagi kadhaton lama
(Mpu Sindok)
Anjuk Ladang, 2020
(3) Hilangnya Kotaraja Lama
kupanggil kalian, tiada jawaban!
barangkali tak mendengar, kuulang dengan bibir bergetar.
barangkali bersembunyi, mengajakku bermain-main lagi.
kucari kalian, hanya ada kesunyian!
ke mana kalian, yang dulu menyapa?
ke mana kalian, yang dulu gemulai, sajikan tari penentram hati?
ke mana kalian, yang dulu suntuk, jika sehari saja tak kujenguk?
kupanggil kalian, tiada jawaban!
aku jatuh bersimpuh.
ketika nyaris senja, kita tak bersua.
kucari kalian, hanya ada kesunyian!
aku lalu melangkah
:pasrah.
meninggalkan kalian, yang entah ke mana,
:tiada
“Kami di sini,” kudengar suara lirih,
merintih, bagai menahan rasa perih.
“Oh, kawan,” kudengar lagi ratapan,
tertahan, bagai memohon lindungan.
air mata kalian berlinang
berkilauan luka, disengat cahaya candikkala
angin surub ikut berduka,
semilirnya bagai tangis pralaya
kini, aku menyaksikan, perang telah menggilas kalian.
aku menyaksikan, keserakahan terbahak-bahak kegirangan.
aku menyaksikan, kalian saling berpelukan,
menyambut kehancuran.
(Mpu Sindok)
Anjuk Ladang, 2020
(4) Sajak Untuk Ayahanda Dharmawangsa
kutulis sajak
untukmu, ayahanda
pada sepenggal malam
mengenang peristiwa kelam
entah, ini sajak tentang apa?
larik-lariknya membuat hati lebam bagai terperam
pada usia tak lagi muda
api nyalimu kian berkobar-kobar
sedang aku yang belia
gusar dan kian memudar
sungguh,
ketika jalan purna kautempuh
ke mana lagi aku berteduh
ketika tubuh dibalut lelah berselimut luluh
kubaca sajak
untukmu, ayahanda
tentang pralaya di Kadhaton Medang
(Airlangga)
Gunung Penanggungan, 2020
(5) Dari Malam Pralaya ke Dyah Sri Laksmi
Aku enggan lagi menolehmu ke belakang, sepenggal kisah kelam di kadhaton Medang yang telah menyerupa kaca cabar membuyar.
Kini, Dyah Sri Laksmi ada di sampingku. Wanita pemuja rindu, melalui sepasang mripat sendu, telah menjeratku dengan sajak-sajak peluruh kalbu.
(Airlangga)
Anjuk Ladang, 2020 – 2021
(6) Kadhaton yang Pernah Megah
dia minta kutulis sebuah kisah
entah, balada apa yang harus kugurat dalam abjad
kutimang-timang pena bertinta merah
namun, tak jua sepenggal gagasan kudapat
sudah, kataku enggan menulis kisah
abjad-abjadku, telah lama hilang arah
tinggal serpih yang membuih di pelupuk
hingga tanda baca pun tiada lagi berbentuk
dia minta aku menulis sebuah kisah
entah; tentang cinta, pengkhianatan, atau desah kesah
: di kadhaton yang pernah megah
(Airlangga)
Anjuk Ladang, 2020
Enam judul puisi ini merupakan bagian dari puisi-puisi lain yang terkumpul dalam manuskrip berjudul Romansa Kadatuan Medang i Kahuripan.
Heru Sang Amurwabumi, pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk dan Sekolah Menulis Nganjuk. Kini bermukim di Sidoarjo. Tulisan-tulisannya telah terbit di sejumlah media massa. Pernah duduk sebagai anggota redaksi Harian BERNAS dan tulisan-tulisannya telah menjuarai sayembara menulis platform Indonesiana Kemendikbud RI, Kemenparekraf RI, dan Ditjen. PAI Kemenag RI. Cerpennya, “Mahapralaya Bubat”, mengantarnya terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival 2019.


