sia-sia dan terhempas
selembar pandan kupetik
bejana pecah tanpa benturan
embun kutadah dengan telapak
terkulai, dikecup tanah kering
resap ke kelam dalam
sammbil kuulang tadah panampik zat beku
garis tangan sebut dhahirnya diri
menyulut harum cium
yang patah sebelum bibir
masya’allah, hampir tak teraba
wajah rejekimu
Kebunlaras-Jakarta, 2012-2025
Mulut Ternganga
mereka telah datang
bawa roti dan susu sapi
kita hadir monolak garis takdir
berdiri dengan mulut terngaga
“kami penantang segala musim,
perubahan cuaca, keadilan iklim,
pandemi, juga perang yang segara tiba!”
suara menggema menyusul segala yang viral
lalu tersiar cepat ke sekujur negeri
berdentum ke kota-kota, masuk desa
ke dusun-dusun tak terjamah pemerintah.
semua muulut ternganga dan terpejam
dalam mata kelam, saat suara itu tiba-tiba
menggerogoti daging segar pengangguran!
Jakarta, 2025
Lidah tak Bertulang
lidah penghasut dewan perampas
menjulur di gedung-gedung oligarki
menjilat-jilat dengan wajah melas
tubuh membungkuk tanpa alas kaki
bagai anjing lapar di kaki tuannya
ia gonggongkan kata-kata patuh
merekahkan telinga gajah betina
sebelum genderang perang ditabuh
dengan bahasa rakyat paling ramah
lidah penghasut menjilati daging segar
di luar pagar, di luar kehendak tuannya
gajah betina murka, gadingnya retak
terhantam pengingkaran sempurna
di hadapan para “korea-korea” itu!
Jakarta, 2024-2025
Menunggu Suami Bercerita
mas, tahukah kamu
aroma bibir tetangga terasa asin dan pedas
padahal harga cabe terbilang mahal
garam dapur mesti impor
apa ayam di kandang sebelah
masih bikin telingamu gatal?
kalau anak sudah lulus siswa
ayam satu-satunya kamu sembelih, mas
kumasak dengan bumbu asem-manis
buat tetangga sehabis doa bersama
sambil makan daging ayam
tetangga kita ajak bicara
tentang cabe busuk
ayam buang kotoran sembarangan
dan garam sesendok
yang tak cukup buat sepekan
bibir suami terkatup
hanya menghela nafas, menunggu waktu
yang tepat bercerita: aku dirumahkan!
2024/2025
Dunia Tipu-tipu
saat tubuhmu bagai sapi betina bunting
bergeliat dijilat basah pejantannya
kau tiru bahasa terpuji pemabuk puja
lalu menyulap anggaran di balik dinding
kau fasih berpura-pura paling paham
segala ingin dan kehendak masyarakat
bagai pendongeng kau ninabobokan
tuanmu di atas tumpukan buku program
di luar program yang kau sulap pula
diam-diam kau menjadi perantara
upaya penghancuran jiwa manusia
“ini jakarta, harus pandai bermain angka”
kau berkelakar sambil menyunat anggaran
dan mengelus tubuh bagai sapi betina bunting
Jakarta, 2016-2025
Pulau Puisi
madura bukan sekadar pulau
ia gugusan puisi yang tumbuh
membiak ke pusat-pusat kota
tersiar ke negeri-negeri jauh
di wajah para pelaut dan perantau
madura menjelma lukisan tua
yang menunaikan hajat hidup
dan martabat manusia
madura tak hanya soal sate atau garam
ia puisi yang dinyanyikan
tak habis-habis, tak basi-basi
adakah yang lebih maut dari celurit
untuk carok yang kehilangan taji
selain puisi yang menyucikan hati?
Jakarta, 2019/2024
Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989 dan kini mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa cetak dan elektronik serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi Puisi Tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018). Buku puisi keduanya segera terbit pertengahan tahun 2025.


