Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
pastilah mengatasnamakan regulasi negara
sudah dibicarakan antar departemen katanya
dipikirkan matang dari masukan para cendekia
seakan telah sempurna layaknya sabda para pandita
harus diturut sebagai bukti kesetiaan pada bangsa
dalihnya untuk kemakmuran bersama
Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
untung yang diraih bisa berlipat-lipat jua
monopoli negara tak mengenal persaingan harga
pintu-pintu tak bisa dimasuki oleh lain peniaga
seperti peternakan buaya dijaga anjing di gerbangnya
harus bayar upeti dan bagi untung jika ingin bermitra
tarif diatur seragam oleh para aktornya
agar terkesan terkendali dan tidak suka-suka
Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
saat wabah pun jadi peluang juga
alat kesehatan beserta obat-obatan dan sejenisnya
saat semua rakyat membutuhkan untuk menyambung nyawa
dibentuklah badan usaha secara kilat untuk mengeruk laba
keuntungan dibagi antar kolega dalam penguasa
menaikkan harga berlipat-lipat atas nama regulasi negara
berjuta rakyat yang menderita dimangsa mentah-mentah
berpesta laba di atas lautan derita rakyat di bawah
masih juga kurang apa yang kalian tadah
bantuan untuk rakyat miskin pun telah disunat secara merata
entah untuk pundi-pundi partai atau apa
kemanusiaan dan keadilan tinggal cerita
Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
pasal yang dipakai pastilah sama
bumi dan air serta segala isinya
pun yang menjadi hajat hidup segenap warga
dikuasai negara demi kemakmuran bersama
biar rakyat bisa sejahtera karena kekayaan alam berlimpah
biar harga-harga terjangkau karena negara dan tengkulak pasti beda
daganglah dengan harga mahal untuk mereka di luar sana
biar keuntungan untuk rakyat makin naik merata
jangan kenakan tarif berlipat-lipat untuk warga
itu aji mumpung selagi berkuasa
menenggak segala kekayaan untuk diri dan kroninya
seperti bolduser mengeruk habis hidup semesta
tinggal lubang dan ampas yang tersisa
Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
prinsip dan motif ekonomi apa masih berlaku jua
modal dan usaha sekecil-kecilnya
tapi dapat untung sebesar-besarnya
apa untungnya untuk warga secara merata
karena keadilan seharusnya tidak mengenal kasta
apa bedanya tengkulak dengan pemegang amanah
apa bedanya pabrik dengan negara
Jika para penguasa berdagang dengan rakyatnya
semua atas nama amanah negara
tak ada persaingan karena pasar otomatis tercipta
tak perlu iklan menebar hadiah
mestinya keuntungan bisa dihitung rata-rata
tak sampai berutang ke manca menutupi kerugian badan usaha
atau negara ikut berutang karena tak bisa mengelola
gaji para aktornya berlipat-lipat angka
tapi tak sanggup memberi keuntungan buat rakyat pemberi amanah
mereka diangkat berdasarkan apa
ke mana kekayaan diputar-putar hingga hilang rimbanya
rakyat juga yang nanti menanggung beban semua
Surabaya, 2021-2025
Jika Para Penyair Di Negerimu
Jika para penyair di negerimu terdiam
penguasanya tenteram karena dianggap tak ada persoalan
segala keputusan digelindingkan
dianggap aman tak ada hambatan
menikmati persekongkolan atas nama kebijakan
hari-hari dilalui dengan jargon keadilan
katanya kemakmuran meningkat signifikan
padahal bayi yang baru lahir harus menanggung utang
jumlahnya menggunung tak terperikan
Jika para penyair di negerimu terdiam
setumpuk dana negara dibuat bancaan
bertahun ditilap tanpa pertanggungjawaban
tak ada rimbanya karena dibagi sesama lingkaran
pajak-pajak dibajak
investasi masuk kantong sendiri
kekayaan alam dikuras tanpa peduli
rakyat yang menghuni dibiarkan jadi kuli
dibayar murah meski keringatnya seperti kali
aparat diminta menjaga pintu gerbang industri
biar rakyat tak bisa mendekat untuk mengkritisi
secara berjenjang upeti dibagi-bagi
karena untuk menduduki jabatan juga harus bayar ke petinggi
biar modal kembali dan tak rugi
banyak juga yang jadi pelindung bandar narkoba dan judi
atau mengebiri gaji anak buah sendiri
Jika para penyair di negerimu terdiam
penguasa meluncurkan undang-undang tanpa hambatan
hasil kasak-kusuk dari kursi-kursi dagelan
disokong dana berlimpah dari para cukong dan gerombolan
rakyat dijerat hingga anak tekak
suaranya tak terdengar dibolduser kekuasaan
jika masih ada yang lantang bicara
para preman bayaran segera diselundupkan
Jika para penyair negerimu terdiam
atau bersyair tentang angin dan lautan
simaklah itu metafora atau ungkapan
penguasa yang kehilangan bahasa rasa
tak akan berubah haluan
karena nalurinya adalah bertahan
metafora ungkapan atau sindiran
dianggap angin lembut yang meninabobokkan
Jika penyair di negerimu terdiam
lantas apa yang akan kau lakukan
Surabaya, 2023-2025
Watak Kuasa
Jangan bermimpi soal kemakmuran dan keadilan
jika penguasa negerimu ingin terus memperpanjang masa jabatan
sejarah di berbagai belahan telah cukup sebagai peringatan
makin lama kuasa jadi lupa pada amanah yang diberikan
pada akhirnya rakyat terpaksa turun ke jalan untuk menjungkalkan
kekuasaan bukanlah aktor tunggal yang mudah dipisahkan
rodanya digerakkan oleh jeruji yang saling mencengkeram
aktor utamanya bisa tak berdaya kayak boneka mainan
melongo serupa kodok di comberan melihat hukum diselewengkan
dikendalikan para pemilik modal yang mendekte kepentingan
kekuasaan cenderung korup adalah rumusan tak terbantahkan
hingga malaikat bisa jadi iblis jika masuk pada kekuasaan
Kekuasaan mengeruk kekayaan hingga lupa hakikat kerakyatan
oposisi yang terus teriak lama-lama tak tahan godaan
jika bisa ikut bancaan mengapa harus berseberangan
lalu bergabunglah atas nama koalisi kebangsaan
kekuasaan makin percaya diri karena banyak perkomplotan
kesewenang-wenangan makin terang-terangan
pajak dan harga-harga dinaikkan seperti mainan
aturan-aturan diciptakan untuk membungkam oposan
keyakinan dan pijakan keimanan dilemahkan
kekuasaan berlagak begal karena merasa tak mungkin dijatuhkan
Masih adakah yang percaya pada janji
setelah sekian lama teringkari malah minta tambah lagi
bukanlah ingatan masih setia menghitung hari
dulu menghardik penguasa lama yang katanya tirani
meminta simpati pada rakyat agar memilihnya sebagai pengganti
tapi apalah yang terjadi
sejarah diulang kembali
membabi buta melebihi yang dulu pernah terjadi
Jangan bermimpi soal kemakmuran dan keadilan
jika penguasa negerimu ingin terus memperpanjang masa jabatan
karena watak kuasa inginnya tak ada pembatasan.
Surabaya, 2022-2025
Jika Para Fir’aun Berkuasa
Jika para fir’aun berkuasa
jangan harap kemakmuran tercipta
bumi dan kekayaan dikuras membabi buta
dikapling rata dengan kelompoknya
sampai rakyat tak kebagian apa-apa
dijual murah pada tengkulak manca negara
agar uang segar cepat mengalir ke kantongnya
sambil terus berutang agar tetap jadi penguasa
tak peduli para pewaris nanti kebagian apa
Jika para fir’aun berkuasa
keringat para anak bangsa dibayar murah
diobral sebagai umpan untuk para pemangsa
diiklankan ke mana-mana agar para pemodal tiba
dicipta beribu aturan yang membuat tidak berdaya
hasil persekongkolan atas nama institusi negara
para pekerja dari manca masuk dengan leluasa
dibayar lebih mahal dari martabat anak bangsa
katanya sebagai syarat untuk kerja sama
tanpa menyadari martabat telah terpedaya
karena hanya kebagian ampas yang tersisa
Jika para fir’aun berkuasa
jangan harap keadilan tercipta
hukum dipermainkan di depan mata
seperti pesulap yang bangga dengan muslihatnya
hukum hanya dikenakan di luar kelompoknya
mereka yang kritis ditangkapi semauanya
disiapkan pasal karet yang berubah-ubah
seperti syahwat saat birahi tiba
mereka yang menyuarakan moral dan etika dicap radikal adanya
dengan membayar orang-orang agar menyerang mereka
sambil mencari alasan agar dapat memenjarakan juga
Jika para fir’aun berkuasa
orang-orang briian dan jujur dianggap tak berguna
karena jabatan-jabatan penting telah dikapling untuk kelompoknya
tak peduli bekas narapidana yang telah menggarong uang negara
atau para begundal yang telah lama bersekutu dengannya
semua tetap mendapat jatah
asal bersedia menjilat pantat penguasa
Jika para fir’aun berkuasa
mereka berlaku seakan tuhan semesta
semua dipaksa untuk menyembah angkara
tapi dalam benak khalayak tak henti berdoa
datanglah wahai musa dengan tongkatnya
agar fir’aun ditenggelamkan di laut merah
Surabaya, 2021-2025
M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan pendidikan ke IKIP Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hingga menyelesaikan program doktor. Kini menjadi dosen dan tinggal di Surabaya. Shoim banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Karya-karyanya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, seperti Cerita Pendek dari Surabaya (editor Suripan Sadi Hutomo), Negeri Bayang-bayang (editor D. Zawawi Imron, dkk.), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), Dari Fansuri ke Handayani (editor Taufiq Ismail, dkk.), Horison Sastra Indonesia (editor Taufiq Isamail, dkk), Black Forest (kurator Budi Darma), New York After Midnight (editor Satyagraha Hoerip), Beyond the Horizon (editor David T. Hill), Le Vieux Ficus et Autres Nouvelles (editor Laura Lampach), dll.
Kumpulan cerpen Shoim yang telah terbit adalah Oknum (Gaya Masa,1992), Musyawarah Para Bajingan (Gaya Masa,1993), Limau Walikota (ed., Surabaya Post, 1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (Dewan Kesenian Surabaya, 1995), Bermula dari Tambi (ed., Dewan Kesenian Jatim, 1999), Soeharto dalam Cerpen Indonesia (ed., Bentang, 2001), Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah (Tiga Serangkai, 2004), Perempuan Terakhir (Grasindo, 2004), Asap Rokok di Jilbab Santi (Jaring Pena, 2010), Kutunggu di Jarwal (SatuKata, 2014), Sepatu Jinjit Aryanti (Pustaka Ilalang, 2018), Tikus Parlemen (Tankali, 2019). Novelnya yang pernah dipublikasikan Meniti Kereta Waktu (SIC, 1999, juga terbit dalam terjemahan bahasa Jawa Ngoyak Impen) dan cerita bersambung di media massa adalah Sang Pelancong (1991), Angin Kemarau (1992), Tandes (1999), serta Elies (2006).
Buku lain yang ditulisnya adalah Sejarah Sastra Indonesia (2012), Sastra Rebonding (2013), dan Theatrum- Malam Terakhir (ed., 2013), Sastra yang Menuntut Perubahan (2015), Sastra dan Korupsi (2019), Penyair Memburu Bayangan Tuhan (2019), dan Sastra Merespons Dinamika Zaman (2020).


