Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Sirkulasi Bandit
    Puisi

    Sirkulasi Bandit

    M. Shoim Anwar4 Mei 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Sirkulasi Bandit
    Sirkulasi Bandit

    Aku teringat Mancur Olson kembali
    pikiran terbaca seusai menulis disertasi
    dalam buku termahal yang pernah kubeli
    harus pesan langsung ke penerbit luar negeri
    termaktub dua tipe bandit disebut di sini
    stationary bandit dan roving bandit istilah asli
    bandit mengeram dan bandit kelayapan itu lebih membumi
    metafora kriminal dalam politik dan ekonomi
    tumbuh dan runtuhnya komunis diktator kapitalis
    diperkuda kuasa dan harta yang tak lagi manis

    Sejarah para bandit di lampau masa
    hidup bergerombol dipimpin panglima bersenjata
    mereka mengeram menguasai wilayah
    dicengkeram erat hingga penghuninya tak berdaya
    kelompok yang lain kelayapan mencari mangsa
    semua bertujuan untuk memeras dan menjarah
    menguras habis harta benda orang-orang tak bersalah

    Lalu datanglah era yang disebut negara
    menyusup bandit mengeram dan bandit kelayapan
    bertingkah dikendali hasrat dan nalurinya
    kekuasaan cenderung curang itu dikata
    kemakmuran tinggal cerita dan kata-kata
    aturan dibuat untuk kepentingan kelompok semata
    hukum dimainkan hompimpah tapi dapat ditebak juga
    rakyat ditilap suaranya sedemikian rupa
    seperti di rimba mereka menerkam mangsa
    mulut berdarah-darah tak merasa bersalah

    Di negeri yang tergolong tirani
    bandit mengeram ikut menguasai
    kebebasan dan hak rakyat dikebiri
    dibungkam dan diancam masuk bui
    kekuasaan mencengkeram tak berhati
    regulasi negeri telah dimanipulasi
    semua atas nama konstitusi
    dikendalikan para penguasa bertangan besi
    pajak-pajak dan keuntungan negeri
    rente-rente dihitung tersembunyi
    dimainkan dan dibagi-bagi sendiri
    agar tampak berbaik hati sebagai penguasa negeri
    atas dan bawah sudah saling mengerti
    tetap menjilati tak jalan sendiri-sendiri
    strategi agar anggota saling mengikat diri
    negeri seperti donasi hingga tak ada yang iri
    dari waktu ke waktu telah mereka nikmati
    sambil tetap diberi kesempatan untuk menggerogoti
    asal yang di atas tetap dapat porsi berlebih

    Keberanian rakyat akhirnya pecah
    angin telah bertiup sebagai penggelora
    seperti bah tuntutan kebebasan menerjang ke mana-mana
    suara-suara tak lagi bisa dibungkam juga
    huru-hara menyelimuti situasi yang membara
    para bandit mengeram mulai goyah
    sambil berbenah menyelamatkan kekayaan mereka
    mencari-cari para aktivis yang menyemangatkan massa
    untuk ditangkap sebagai kambing hitam perkara
    atau diculik dan dihilangkan nyawanya
    hukum dan alat keamanan diperkosa jadi penghamba
    era anarki datang secara tiba-tiba
    sebagai peletup kepundan derita
    tak ada yang berdaya mengerem laju yang meruah
    ketidakpastian menjelma di mana-mana
    negeri terbelah karena bosan dengan ulah penguasa
    akhirnya runtuh sebagai keniscayaan sejarah

    Di negeri yang masih diselimuti anarki
    semua bisa memanfaatkan situasi
    adu cepat untuk mendapatkan yang diingini
    dengan dalih kepentingan dan situasi negeri
    seperti kebingungan jalan mana yang hendak dititi
    perubahan-perubahan bisa cepat terjadi
    biar dikata sebagai menyerap aspirasi
    ada yang mengeram menyembunyikan naluri
    seperti para binatang saat berhibernasi
    menyimpan energi sambil mengintip sana-sini
    menunggu musim untuk beraksi kembali

    Bersama suara-suara yang terus menggema
    cita-cita lama terlahirlah sudah
    situasi demokrasi digerakkan di mana-mana
    ideologi yang dipuja sebagai era terbuka
    rakyat boleh bersuara sesuai kata hati mereka
    memilih wakil dan pemimpin secara langsung dan terbuka
    calon penguasa menebar janji untuk sumpah setia
    memperjuangkan nasib rakyat agar merata sejahtera
    keadilan akan ditegakkan tak pandang kasta
    amanah akan dipegang sampai di lubuk dada
    kuasa tak boleh terpusat di ibu kota negara
    wilayah-wilayah diberi wewenang sebagai otonomi daerah
    maka mulailah semua itu berubah

    Di negeri yang baru mengalami demokrasi
    para bandit pun mulai beraksi kembali
    kelayapan mencari peluang yang bisa ditumpangi
    ada yang berpindah-pindah partai dan institusi
    menyebar ke seluruh penjuru negeri
    ingin jadi raja-raja baru sebagai ambisi
    seusai menebar janji dan bagi-bagi upeti
    agar diberi tempat untuk duduk di kursi

    Di negeri yang baru mengklaim demokrasi katanya
    para bandit kelayapan kembali berulah
    menjadi penumpang gelap mengatasnamakan warga
    menunggangi demokrasi untuk mengeruk harta benda
    mereka menjarah ke berbagai wilayah
    kelayapan seperti wabah di mana-mana
    tak lagi mengeram seperti dahulu kala
    berlompat-lompat wadah dalam negara
    agar bisa menjarah secara leluasa
    situasi kembali menyiksa
    ketidakpastian merajalela

    Ketika para bandit menyebar ke mana-mana
    mereka punya keinginan serupa
    mereka menggalang kekuatan bersama
    untuk memperkuat posisi yang ada
    agar tak terusik oleh suara dan tuntutan massa
    menyatu dalam satu wadah pendukung penguasa
    agar bisa dapat jatah menikmati kekayaan negara
    menguras alam dan isinya dengan leluasa
    menelikung dana tanpa diperkara
    tak disentuh hukum karena perkomplotannya

    Di negeri yang katanya diklaim demokrasi
    di manakah menteri yang ngurusi hukum dan hak asasi
    sejarah berulang dan disadari
    bandit kelayapan jadi mengeram kembali
    ada yang mengendalikan dari pusat negeri
    menata kekuatan dan menjarah lagi
    membentuk oligarki yang menguasai sendi-sendi
    kekayaan dikeruk dan dibagi-bagi
    yang di atas tetap dapat bagian berlebih
    para pengikutnya diberi kesempatan menggerogoti lagi
    asal tetap setia mendukung dan menjilati
    hukum dikebiri hingga kehilangan taji
    institusi penegak keadilan dipreteli
    tersisa para pengikut yang telah lupa diri
    mereka yang kritis dimasukkan bui
    janji-janji yang pernah diucap diingkari
    regulasi negeri hanya menguntungkan pemberi upeti
    jika negeri merugi menambah utang kembali
    sementara penjarahan tak pernah usai
    rakyat membayar melalui pajak bertubi-tubi
    mengais sampai keringat dan air mata menutupi mata kaki

    Surabaya, 2021-2025


    Menjilat Pantat

    Terlalu banyak menjilat pantat raja
    hingga tak bisa membeda itu kotoran atau mentega
    mulut memamah dengan senyum bahagia
    merasa puncak kenikmatan tiada tara
    orang-orang di sekitar ingin muntah
    karena di mulutmu bukan layaknya untuk manusia

    Terlalu banyak menjilat pantat raja
    sampai lupa kalau punya agama
    akidah berubah-ubah seakan semua sama
    memperlakukan seperti membuat rujak saja
    ayat-ayat dibolak-balik sesuai selera
    demi kepentingan sesaat semata

    Terlalu banyak menjilat pantat raja
    menjadi lupa kalau pernah sekolah
    lidah berkelit-kelit tak jelas maksudnya
    masalah mudah dibuat seakan susah
    bangku-bangku yang kau makan menjadi sampah
    akal sehat tercampak tanpa harga
    para teman sekolah mengelus dada
    sementara para guru menangis melihat ulah bekas muridnya

    Terlalu banyak menjilat pantat raja
    membuat lupa etika
    menghina sekenanya seakan hidup di belantara
    meracau tak bisa menimbang rasa
    ulah dan kata-kata membusukkan sejarah
    lupa yang diajarkan orang tua
    melompat sana sini di atas kepala
    seakan peradaban tak ada dalam dunia nyata

    Terlalu banyak menjilat pantat raja
    membuat lupa kalau keadilan untuk semua
    pantat yang dijilat dibela hingga tak masuk logika
    orang-orang yang tak disuka dicari-cari kesalahannya
    mesti semua tahu kalau mereka benar adanya
    kau tebang pilih berdasarkan selera rimba
    seakan drakula yang bebas menyiksa
    hingga tangan dan mulut penuh darah
    sambil terus mengancam orang-orang kritis yang bersuara

    Terlalu banyak menjilat pantat raja
    para garong negara dibela sampai akhir titik darah
    atau disembunyikan biar tak terjamah
    karena padanya bisa terbuka seribu rahasia
    hukum diperkosa sesuai selera
    piranti dan lembaga yang bisa menjerat mereka
    kau gembosi dengan persekongkolan berbagai cara
    para cukong mencekoi agar kau bisa jadi boneka
    tak peduli jutaan kawula menjerit tak kebagian apa-apa
    anak cucu mereka ikut dililit utang atas nama negara
    padahal kaulah yang menyesap melalui pantat sang raja

    Surabaya, 2021-2025


    M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan pendidikan ke IKIP Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hingga menyelesaikan program doktor. Kini menjadi dosen dan tinggal di Surabaya.
    Shoim banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Karya-karyanya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, seperti Cerita Pendek dari Surabaya (editor Suripan Sadi Hutomo), Negeri Bayang-bayang (editor D. Zawawi Imron, dkk.), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), Dari Fansuri ke Handayani (editor Taufiq Ismail, dkk.), Horison Sastra Indonesia (editor Taufiq Isamail, dkk), Black Forest (kurator Budi Darma), New York After Midnight (editor Satyagraha Hoerip), Beyond the Horizon (editor David T. Hill), Le Vieux Ficus et Autres Nouvelles (editor Laura Lampach), dll.
    Kumpulan cerpen Shoim yang telah terbit adalah Oknum (Gaya Masa,1992), Musyawarah Para Bajingan (Gaya Masa,1993), Limau Walikota (ed., Surabaya Post, 1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (Dewan Kesenian Surabaya, 1995), Bermula dari Tambi (ed., Dewan Kesenian Jatim, 1999), Soeharto dalam Cerpen Indonesia (ed., Bentang, 2001), Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah (Tiga Serangkai, 2004), Perempuan Terakhir (Grasindo, 2004), Asap Rokok di Jilbab Santi (Jaring Pena, 2010), Kutunggu di Jarwal (SatuKata, 2014), Sepatu Jinjit Aryanti (Pustaka Ilalang, 2018), Tikus Parlemen (Tankali, 2019). Novelnya yang pernah dipublikasikan Meniti Kereta Waktu (SIC, 1999, juga terbit dalam terjemahan bahasa Jawa Ngoyak Impen) dan cerita bersambung di media massa adalah Sang Pelancong (1991), Angin Kemarau (1992), Tandes (1999), serta Elies (2006).
    Buku lain yang ditulisnya adalah Sejarah Sastra Indonesia (2012), Sastra Rebonding (2013), dan Theatrum- Malam Terakhir (ed., 2013), Sastra yang Menuntut Perubahan (2015), Sastra dan Korupsi (2019), Penyair Memburu Bayangan Tuhan (2019), dan Sastra Merespons Dinamika Zaman (2020).

    bandit buku disertasi
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleGadis Bergigi Kelinci
    Next Article Terjebak di Banda Neira

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.