“Dor!”
Letusan pistol dari genggaman panitia lomba meledak. Kaki-kaki berloncatan membentuk hiruk pikuk yang lama-lama menjadi suara hentakan saja. Dengus napas berkumpul di hidung para pelari. Bersama ribuan peserta, Boyan melentingkan langkah terbaiknya. Lomba half marathon 21 kilometer ini adalah pembuktian diri bahwa ia bisa berlari, bisa bertahan lebih jauh dari yang ia sangkakan. Semangatnya benar-benar mirip banteng ketaton-beringas. Siap melibas apapun. Langkah kakinya melebar melewati kerumunan peserta lain yang juga berselimut semangat api nan tak pernah kunjung padam. Semua orang berteriak, mendukung, seiring sejalan sekendang sepenarian. Keringat-keringat menyembur dari pori-pori mirip banjir bandang. Saat ini, lari lagi menjadi tren. Orang-orang kena demam FOMO(fear of missing out- kondisi takut akan ketinggalan tren). Lari bersama dalam terpaan kebahagiaan dengan balutan kenekatan.
Berbagai kejadian nampak terlihat di beberapa kilometer. Apakah karena kurang persiapan atau menganggap enteng, beberapa peserta tumbang, sempoyongan, kram, pingsan, muntah-muntah, terseok-seok sampai terjungkal. Panitia turun tangan menandu guna masuk perawatan.
Bagi Boyan pribadi, nantinya, ia akan dibuat terkesima oleh suasana mendadak yang akan membawanya ke pusaran sejarah. Jauh, lebih jauh dari sekadar garis finish yang akan di jangkau. Detak jantungnya berdegup kencang. Ia mendengar desahan napasnya sendiri, tapi ada yang aneh. Suara-suara di sekelilingnya mulai terbang menjauh. Suara orang-orang yang bersorak, Hentakan-hentakan kaki, napas-napas pelari yang kelelahan, muka-muka kuyu, pelan namun pasti semuanya menghilang.
Dalam sekejap, ia merasa berlari ke dalam kehampaan. Tanpa sadar, langkah kakinya keluar dari rute lomba. Ia disesatkan ke jalur yang salah. Sebuah jalan setapak yang membingungkan. Boyan berlari lebih cepat, berharap bisa menemukan kembali jalur yang benar. Namun, semakin ia berlari, semakin ia merasa dunia di sekelilingnya berubah. Waktu seakan menyeretnya ke dimensi lain.
Tiba-tiba, pijakan di bawahnya terasa lebih keras, udara berhenti mendadak. Ia kaku. Tubuhnya seperti tersengat pasukan lebah. Boyan terjatuh bergulingan di hamparan rumput. Punggungnya menabrak gundukan lunak beraroma hijau alam. Ia terkapar, diam sejenak, mencoba mengumpulkan nyawa. Ketika membuka mata, pemandangan yang terlihat sangat berbeda. Di atas, langit begitu biru, tapi ada segumpal awan gelap yang menggelayut di horizon. Seperti dunia yang terjebak di antara masa lalu dan masa kini. Ia terperangkap di koridor waktu yang tidak ia kenali.
Di depannya, ada jalan tanah sedikit lembab berukuran kecil yang dikelilingi oleh bangunan yang unik- rumah-rumah rendah dengan atap rumbia(daun sagu), tampak alami. Orang-orang berinteraksi menggumamkan hasrat.
Dengan langkah was-was, ia berjalan menuju jalan yang lebih lebar dan melihat orang-orang berpakaian tradisional berlalu lalang-tapi ada yang membuat dirinya jengah, mereka menatapnya, bukan hanya sekadar lewat, ada yang terpana melihat penampilannya yang unik. Boyan menyentuh kaos lari yang ia kenakan-busana yang sangat berbeda dengan pakaian orang-orang di sekitarnya.
“Anda baru datang dari luar?” tiba-tiba seorang pria bertanya dalam logat asing yang memaksa Boyan bingung, meskipun ia bisa memahami. Pria itu mengenakan pakaian meneer Belanda, dengan topi berwarna putih gading. Boyan mengangguk ragu.
“Ah, tentu. Anda harus berhati-hati di sini, ini bukan tempat sembarangan,” kata pria itu sambil menatapnya penuh keheranan. Meneer itu pergi meninggalkan Boyan dalam kondisi pikiran terpaku.
Beberapa menit ke depan, pemuda asal Gawok Sukoharjo itu akan sadar sepenuhnya bahwa ia ternyata berada di Banda Neira, sebuah pulau yang terletak di kepulauan Maluku. Tempat ini bukan sekadar pulau tropis yang indah, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang sangat penting bagi Indonesia. Buku sejarah yang ia baca mengantarkan sekelumit daya ingatnya tentang pulau yang menjadi rebutan bangsa-bangsa Eropa karena rempah-rempahnya, pun pengasingan para pejuang kemerdekaan. Ia menyadari bahwa dirinya telah terlempar ke tahun 1940-an, masa ketika Indonesia masih dalam penjajahan kolonial Belanda, dan di mana tokoh-tokoh perjuangan seperti Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Iwa Kusumasumantri dan lain sebagainya bahu membahu mengatur napas perjuangan untuk meraih cita-cita kemerdekaan.
Manakala berjalan lebih jauh, pandangan mata anak muda itu terkunci pada sesosok pria yang berpakaian sederhana dengan wajah sangat tenang nan teduh. Pria itu sedang duduk di teras depan sebuah rumah kecil, menatap laut yang tampak begitu biru. Boyan merasa mengenali sosoknya. Tapi ia tak tahu kapan ia melihatnya dan di mana.
“Anda tersesat, anak muda?”, tanya pria itu dengan suara lembut penuh wibawa.
Boyan terkejut. Daya ingatnya berpijar. “Iya, pak. Oh,… Anda… Anda Muhammad Hatta?” tanyanya, seakan tak percaya.
Pria itu tersenyum. “Memang, saya Muhammad Hatta. Siapa kamu…?”
Boyan dibelenggu ketidakpercayaan, tapi ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya merasa aman. “Saya Boyan, seorang pelari dari masa depan,” jawabnya, meskipun ia tahu itu terdengar janggal.
“Pelari?” Hatta bertanya, sedikit skeptis seraya tertawa. “Saya juga pelari, tetapi berlari untuk kemerdekaan.”
“Bagaimana kamu bisa ke sini?”, tanya Hatta.
Boyan menceritakan asal mula ia terdampar di pulau ini. Hatta mendengarkan dengan cermat. Ia mengamati sosok muda itu dengan penuh selidik.
“Selamat datang di Banda Neira. Satu dari banyak pulau tercantik di bumi khatulistiwa”. Hatta berkata sambil tersenyum serius. “Apakah kamu tahu seluk beluk pulau ini?”
Boyan mengangkat bahu, “sedikit”
“Sedikit? Kenapa tidak banyak yang kau ketahui?”
Boyan dibuat kecut. Pertanyaan itu membuat dia hampir tersedak. Ia akhirnya menelan ludah.
“Ok, sudahlah. Tak usah kau jawab. Untuk sementara waktu, ikutlah bersamaku”, ajaknya.
Waktu berlalu, dan Boyan mulai menjalani hari-harinya bersama Hatta. Ia mulai mengenal lebih dalam sosok berkacamata yang disiplin dan penuh perhitungan. Dirinya juga sudah terbiasa mendengar suara gaduh dari mesin tik tua. Awalnya dirinya terganggu, “Ini apaan?”. Hatta selalu menulis pun membaca. Hatta mengajarkan banyak hal tentang perjuangan, tentang politik, tentang arti sebuah kemerdekaan yang harus diperjuangkan dengan darah dan air mata. Ditengah-tengah kehidupan yang penuh dengan berita politik, Boyan dipaksa ikhlas terjebak dalam labirin sejarah.
Sayangnya, semakin hari ia tinggal di Banda Neira, ia merasa terasing. Budaya, cara berpikir, dan cara hidup masyarakat di sana begitu berbeda dengan dunia yang selama ini ia geluti. Gegar budaya memberangus dirinya.
“Apa pun yang dihidangkan jangan kau tolak”, pesan Hatta pada dirinya. “Aku tahu, kamu terkejut dengan beberapa hidangan pulau ini”
Itu benar. Boyan tidak biasa makan papeda bersama kuah ikan. Kombinasi yang aneh. Makanan dari sagu tersebut sungguh asing baginya. Tapi ia harus memakannya. Lidahnya masih sanggup menerima rasanya. Bung Hatta telah mengajarinya teknik memakan papeda, namun ia tetap jengkel. Boyan tidak mau mengecewakan juru masak di rumah ini. Tapi kebalikannya, nafsu makanannya akan bergejolak bila nasi putih dihidangkan didampingi ikan bakar bersama sambal dapu-dapu. Pulau ini berlimpah hasil laut. Ikan bukan barang mewah. Boyan bisa beringas. Hatta, sang induk semang sampai kaget melihat cara makan anak muda bertinggi badan 187 cm dengan bobot 90 kg itu.
“Logistikku bisa terkuras kalau begini caranya”, batin Hatta tersenyum.
Di lain waktu, Boyan merasa seperti seorang penonton yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menyaksikan perjuangan tanpa bisa ikut terlibat. Dunia ini bukan dunia yang ia kenal. Ia terkurung dalam dimensi waktu yang gagal ia pahami.
Di pematang hari, Hatta mengajaknya ke pantai, di tempat yang sering mereka kunjungi untuk berbicara tentang Indonesia yang merdeka.
“Boyan,” Hatta memulai, “Kita berjuang bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Setiap perbuatan kita adalah benih yang akan tumbuh di masa depan. Apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan dunia yang akan datang. Jadi, tanamlah benih yang baik”
Berhadapan dengan Hatta untuk pertama kalinya, Boyan merasa beruntung dipertemukan dengan seorang pejuang sejati. “Saya merasa sudah terlalu jauh dari dunia yang selama ini saya arungi,” katanya dengan nada penuh ketidakmengertian. “Semua ini begitu aneh. Kenapa saya dipaksa berhenti berlari”
“Bukan begitu. Mungkin hanya jeda sejenak,” Hatta berkata sambil tersenyum, “Tapi ingatlah, kita semua tetap akan berlari menuju tujuan yang sama. Tidak ada yang benar-benar tahu jalannya. Tapi yang penting adalah, kita harus terus berlari menuju garis finish”.
Boyan menerawang, menatap deburan ombak di sana. Ia merasa kehilangan arah, tetapi juga merasa terkoneksi dengan perjuangan yang lebih besar. Ia terjebak dalam sebuah lingkaran waktu yang cukup membuatnya takut.
Sore itu di 1 Februari 1942 menjelang rembang senja. Hiruk pikuk menyala di dermaga pelabuhan. Sebuah pesawat amphibi Catalina dengan di piloti penerbang berkebangsaan Amerika Serikat, bersiap lepas landas menuju pulau Jawa, tepatnya, Surabaya. Sesuai kawat yang dikirim pihak pemerintah Belanda, Hatta dan Syahrir harus keluar dari pulau tersebut. Waktu untuk berkemas hanya satu jam. Namun terjadi sedikit kegaduhan.
“Sepertinya, bung, harus mengikhlaskan buku-buku tidak terangkut”, ucap sang pilot. Ya, pesawat ini akan kepayahan jika harus diisi beban sebanyak ini: Bung Hatta, Syahrir, Boyan, 5 orang anak angkat, kotak-kotak berisi buku beserta pilot dan ko-pilot. Harus ada yang dikalahkan. Semua saling bersitatap. Pilot itu sudah tidak sabar, “Cepat putuskan! Kita mengejar waktu”, ucapnya menggerutu.
Akhirnya Boyan dan 2 anak yang paling besar serta beberapa kotak-kotak berisi buku keluar dari kabin pesawat. Raut sedih menyergapnya. Bung Hatta membuang muka. Ada sesal serta kesedihan yang tergambar. Gesturenya terucap, “Maafkan, semoga bisa bertemu lagi dan kalian selalu dalam lindungan Tuhan”.
Boyan menatap Bung Hatta dengan kelu. Ia teringat perbincangan-perbincangan yang mendalam dengan proklamator tersebut. Keasikan tanpa jarak, sanggah tanpa amarah.
“Betapa hebatnya timnas kita”, ucap Hatta ketika Boyan menceritakan geliat sepakbola di 2025. Hatta sangat antusias, karena sepakbola merupakan olahraga yang sangat digemari. Mantan bek tangguh klub Swallow FC itu sesekali sunggingkan senyum manakala hal menarik terjadi dalam obrolan kami.
“Sayangnya, gegap gempita korupsi, manipulasi, pungli, juga semarak di republik ini”, kata Boyan melanjutkan.
“Kenapa terjadi?”, serak bung Hatta. “Bagaimana pemimpinnya hingga membiarkan praktek jahat tersebut?”
“Semuanya berawal dari mental bangsa dan sistem peradilan hukumnya”, jawab Boyan. “Sudah begitu, ekornya mengikuti, yaitu, penyelenggaraan pemerintahan tidak transparan, Penegakan hukum tidak tegas serta tidak efektif, manajemen dan pengawasan yang kurang baik, ditambah sifat alamiah manusia”. Ia hamparkan tetek bengek kejahatan kerah putih dan segala masalah buruk Indonesia. Bung Hatta tersentak. Wajahnya muram. Mendung membekap matanya.
“Seharusnya, Indonesia tidak usah merdeka”, katanya, “Biar saja di jajah Belanda”
“Hush! Jaga omonganmu, anak muda”, sergap bung Hatta
“Buat apa merdeka kalau rakyat masih menderita, dan penjajahnya hanya ganti kulit saja”, paparnya, “Coba bung Hatta bayangkan, 79 tahun kita merdeka, tetapi kemiskinan masih merajalela, dan ketidakadilan mengemuka tanpa malu-malu”
Bung Hatta tepekur. Beliau menangis sesenggukan. “Kenapa nasib bangsaku jadi begini?’ Boyan iba, tapi begitulah adanya.
Mesin pesawat menderu. Catalina itu lepas landas dari bentang air laut, menciptakan cipratan yang membuncah. Pesawat itu mengangkat dirinya tertatih-tatih, meliuk-liuk menembus udara. Tangan-tangan terangkat melambai mengiringi kepergian mereka.
Sementara, Maghrib akan mendekat. Lima belas menit setelahnya, raungan deru pesawat dari timur membahana. Orang-orang dipaksa menolehkan wajah mencari arah suara. Beberapa titik nampak dari kejauhan. Titik kecil itu mendekat dan kian membesar, berubah menjadi pesawat tempur Dai Nippon seraya memuntahkan peluru sekalian menjatuhkan bom. Retetettt…retetettt…..retetetettt….Buum! Orang-orang berteriak ketakutan, tunggang langgang menyelamatkan diri. Boyan terlonjak. Jiwa pelarinya tersengat. Segera meloncat menuju tempat yang dia rasa aman. Kakinya lincah bak kijang menghindari tebaran peluru yang beringas mencari sasaran. Tanah, rumput, pelepah daun, papan dermaga, tercabik-cabik disayat pelor. Serpihannya mencelat tak karuan. Segera Boyan tiarap diantara jejeran pepohonan dengan batangnya yang melengkung. Dia menghempaskan diri berlindung dengan keyakinan penuh. Dia tundukkan kepala sambil berdoa, minta keselamatan pada Tuhan Pemilik Alam, Allah SWT.
Tak beberapa lama, kegaduhan itu usai, Boyan bangun dan mendapati dirinya kembali di jalan yang sama-jalan di mana ia pertama kali berlari, di awal lomba marathon yang ia ikuti. Tetapi, seiring langkahnya kembali ke garis start, ia sadar ada sesuatu yang berbeda, namun familiar. Ia melihat kembali jam di pergelangan tangan, serta sebuah tempat yang semula ia tinggalkan-sebuah dunia yang penuh dengan perjuangan dan harapan. Ia kembali ke marathon yang sebenarnya, tetapi dengan perasaan dirinya seakan belum keluar dari labirin pulau Banda. Dan kali ini, dia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah bagian dari sebuah perjuangan yang tak berakhir. ***


