Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Yang Menikahi Kata-kata
    Cerita Pendek

    Yang Menikahi Kata-kata

    S. Jai11 Mei 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Yang Menikahi Kata-kata

    DUA PULUH lima tahun silam, Emak berbisik padaku, selepas perempuan yang kubawa berkendara bis itu tak di dekatku.

    “Jangan kau nikahi perempuan itu,” kata Emakku.

    Kala itu perempuan itu kubawa pada Emak, kuperkenalkan padanya, calon menantunya. Mungkin, maksudku sekaligus kuberitahu Emak, anak lelakinya telah dewasa, waktunya mengelola nafsunya, masa depannya, dan layak hidup dengan perempuan pilihannya.

    Maka, tanpa rencana kubawa perempuan itu. Dia juga dewasa sebagaimana aku.  Kami terpelajar, dan terlatih improviasasi yang demikian.  Di luar maksudku sesungguhnya, ada maksud lain yang mulanya kusembunyikan, mengemuka: menciumnya, memeluknya, menindihnya dan lain sebagainya, sebagaimana pria dan wanita dewasa. Ya, kami mengira sudah benar-benar dewasa, bestari, punya pengalaman, dan tentu punya agama.

    Kata saudara-saudaraku, walau tak menyatakan alasan larangannya, memang emak berkata sepengetahuan Emak perempuan itu membuang sisa sarapannya; sepiring nasi, sayur serta lauk pauknya.

    Aku tak membantah, tidak juga mengiyakan ihwal sisa yang dibuang itu. Aku teringat ditendang bapak, sehabis membuang sisa makanan—ketika masih kecil, mungkin saat tak tahu apa-apa.

    Sekarang tentu beda. Emak kini bicara perihal lain terkait itu.

    “Perempuan yang pendek, kecil, hati dan harapannya juga kecil; gampang tersinggung, marah, murung, mutung,” ujar Emak.

    “Emak gak berkata apa-apa. Cuma tanya wetonku yang sama denganmu,” kata perempuan itu. “Rezekinya sulit, katanya. Tapi kukira itu rahasia sang Ilahi,” imbuhnya.

    Sebagai kekasih, apalagi terbilang suatu asrar, tentu aku bersetuju—rezeki, takdir, bergantung pada kita sendiri, garis tangan, tekad dan tentu saja keterlibatan Tuhan.

    Kami menikah, punya tiga anak, dan di sebalik keterlibatan Tuhan, kami aman, juga untuk pada suatu hari kemudian: Berpisah. Rahasia, rezeki, takdir, juga garis tangan, sungguh nyaman untuk itu semua.

    “Jangan takut, agama sudah mengatur semuanya,” ujar kekasih yang kemudian menjadi istri dan kini akan saling melupakan.

    “Betul. Kebaikan bisa berawal dari kebobrokan seperti ini, ini Namanya dekonstruksi,” kataku sebagaimana pikiran orang-orang berpengalaman.

    Bagaimana anak-anak, jika aku dan istriku sudah nyaman melibatkan Tuhan, nasib, takdir dan agama?  Mereka sudah dibekali pendidikan—sekolah, ketrampilan, agama tentu saja. Dua yang pertama sudah lulus. Memang yang ketiga belum tuntas menengah atas.

    Wajar punya bekal tekad bekerja, kuliah, kursus atau wiraswasta. Bagaimanapun aku dan ibunya, masih orangtua anak-anak kami. Kadang-kadang mereka lupa, marah, susah, sinis, tentu wajar pula—karena kami tak bersama-sama lagi.

    Pesanku: “Jangan lupakan tuhan, takdir, pendidikan agama.” Biasanya kutambahi, “Sehat tubuh, ruh, itu yang utama.”

    Damar, Kashif, Ulayat—ketiga anakku—masih gencar menghubungi dan sama sekali tak melupakanku, ayahnya, utamanya bila terkait duit.

    Telepon, chat, videocall, pesan suara berjejal. Masalah? Biasa, karena kami pernah sekeluarga. Keluarga bukan pegadaian—mengatasi tanpa masalah—bahkan kami mengatasi masalah dengan masalah. Terkadang, kami sulit menembus. Harapan? Susah saling menerima. Gaya bicara yang berbeda oleh karena mereka keturunan dua pasang orang yang beda; watak, karakter, tabiat, pengalaman, keturunan dan sebagainya.

    Kukatakan; Damar keras hati lebih dekat watak ibunya—ini alasan buatku tak jenak bicara, diskusi, apalagi berbagi pendapat.  Sayang memang, Damar dan denganku sudah tak berhubungan lagi. Lalu Kashif lebih dekat pembawaanku: tak mudah mengumbar amarah—emosi, tabiat keras. Kashif lebih sering bicara baik-baik, ngobrol, berbagi pendapat, terbuka. Aku lega padanya, terlebih Kashif juga dekat dengan Ulayat—si kecil;  biasa bertukar pikiran, membantu segala kebutuhan belajar. Ulayat baru masuk SMA.

    Aku bisa menambah deretan yang membuatku nyaman, aman, selain takdir, agama. Yakni anak-anakku. Aku teduh. Jeriku hidup sendiri, sepi, sunyi, tanpa matahari, atau bunuh diri, tak terjadi.

    Damar, Kashif, dan Ulayat tercinta, teruslah hidup, dan berbahagia. Jangan henti berbagi pada ayah, yang kelak menua. Ayah ingin muda seperti dirimu kini. Ayah ingin sering bersama Emak yang renta, dan bapak yang damai karena telah tiada.

    Seperti adanya kalian, ayah ingin terus hidup, sayang pada kalian, pada Tuhan, pada agama, pada alam semesta, dan berguna ilmunya, pengetahuannya. Peluk sayang dan jangan pernah keramatkan.

    “Seperti engkau yang makin dewasa, ayah ingin kembali muda, bertarung, merdeka, bermain, spontan, lepas, gembira dan puas. Teruslah bertambah usia, tapi jangan pergi dari hati anak-anak demikian,” ujarku, sambil ingatkan mereka tak perlu risau pada ayah, jika demikian adanya.

    Ya, Tuhan! Jadikanku cermin bagi anak-anakku. Aku tak punya pasangan lagi. Aku mesti memulai lagi jika hendak bersama sejoli.

    Anak sudah tak bersama. Aku kesepian. Aku gundah.  Aku mengatur, menghitung, mencari, menemukan, mengekespresikan diriku kembali. Peristiwa, waktu, momen, kesempatan, kuraba-raba, kuingat-ingat lagi. Terkadang senang, lain kali gering. Terkadang girang, walau banyak yang kurasa hilang.

    Bahkan, lupa diriku, karena bukan hanya waktu, kesempatan, ingatan yang hilang, tapi juga tubuh dan jiwa serasa keadaannya tak di sini lagi—hanya di masa lalu.

    Usia telah lebih separuh abad, seperti kehilangan semuanya ketika tiada yang bersama-sama. Jangankan pasangan dan anak-anak, ayam, kucing, burung piaraan pun tak ada yang sudi bersama. Semua yang kupelihara satu persatu pun pergi—kebahagiaan mereka.

    Juga mimpi-mimpiku lebih cepat loncat. Mimpi hidup seperti kitab-kitab paling suci, kehidupan indah seperti deret-deret buku yang kupelihara, kucipta, kurawat, kubaca, kutafsiri di sepanjang rak-rak kayu paling arkais punyaku.

    Inilah pekerjaan mengasyikkanku yang kelak kemudian hari membuatku oleh perempuan yang melahirkan anak-anakku sebut dungu dan terlambat terseret waktuku.

    Baiklah, mungkin aku hanya hidup dalam buku, akulah teks kitab yang selama ini kubaca setiap pagi, siang, malam hingga pagi ini. Akulah budak cinta ilmu pengetahuan.

    Akan kubuka kembali kitab-kitab itu, dan kucari, kutemui dan kudapatkan cinta lagi.

    Amboi…cinta berhasil kutemui dan kutemukan dalam kitab kesejatian. Kitab Pengada Sejati karangan Gadamer.

    Kitab yang membebaskanku dari konsep subjektif, kitab aku sebagai karya seni mainan, mode keberadaan karya seni itu sendiri.

    Di samping karya seni mempunyai pengada sejatinya sendiri, ia pada kenyataannya menjadi sebuah pengalaman yang mengubah orang yang mengalaminya.

    “Aku adalah pengada sejati itu. Pengalaman mengubah orang yang mengalaminya.”

    Tapi Tuan Gadamer, bukan orang sini. Dia Ilmuwan, filosof, sejarawan. Kita alergi dengan pengetahuan-pengetahuan sejenis ini, apalagi bukan yang kitab agama.

    Aku sudah terlampau jompo lama diracuni pengetahuan yang kotor, subjektif, pikiran-tradisi lawas. Aku sulit menjadi bersih, bening, seperti binatang liar yang bebas, berani, energik, muda, kreatif.

    Aku hanya punya masa lalu. Masa depan masih kukejar, kucari, kutaklukkan: Aku mau pinjam ungkapan; tua-tua keladi makin tua makin menjadi jadi.

    Cinta sejatiku, entah mengapa, mungkin lantaran agama juga mengizinkan, adalah perempuan. Kitab itu membuat mimpiku berjumpa perempuan yang tak mengharapkan bersuami, ia perempuan penuh cinta hanya kepada Tuhan, seperti Rabi’ah al-Adawiyyah.

    Mungkin dialognya seperti ini:

    “Aku telah kehilangan seorang perempuan, ibu dari anak-anakku,” kataku. “Sudikah engkau menggantikannya padaku dan anak-anakku?”

    “Aku hanya cinta pada Tuhan, dengan atau tanpa syarat. Bagaimana aku bisa memahami engkau dan anak-anakmu adalah  kasih Tuhanku?”

    “Kami memang makhluk, dan hamba Tuhan.”

    “Bagiku manusia bukan lagi hamba. Bukan lagi hubungan makhluk dan penciptanya. Tuhan dan manusia adalah satu eksistensi dua perwujudan.”

    Memang hubungan dengan perempuan cinta tanpa pamrih ini tak pernah terjadi.

    “Tetapi jika aku beribadah kepada Engkau hanya karena semata-mata karena kecintaanku kepada-Mu, maka janganlah, Ya Illahi, Engkau haramkan aku melihat keindahanmu yang azali.”

    Aku hanya bermimpi karena suasana batin, memiliki kekasih dengan cinta yang seindah-indahnya. Di dunia nyata, aku dipertemukan perempuan penyair yang mengagumi syair-syair Rabi’ah. Perempuan itu mengenalkan cinta padaku melalui syair-syair Rabi’ah. Bisakah?

    “Jika engkau belajar sejati, harus berlawanan dengan realitas, meruntuhkan semua ilusi- ilusi realitas,” katanya.

    Kedengarannya seperti omong kosong. Dia perempuan dengan syair.  Pertemuan penyair dengan kata bagaikan pertemuan dua pasang sejoli yang sedang bercinta.

    Perempuan itu, menyerukan moralnya adalah cinta yang baru pada Tuhan, bukan cinta-cinta yang lama sebagaimana dikenal selama ini.

    Cinta sesama, kepada lelaki, juga cinta sesama makhluk, yang memperbudak makhluknya, gulana, tetapi ia ingin membebaskan manusia dengan cinta yang baru.

    Ini bukan mimpi. Tapi nyata. Kenyataan yang membuatku berputar-putar dalam banyak keraguan. Cinta dan perempuan.  Masa lalu dan masa depan. Aku pecinta sejati, tetapi kesejatian yang mana?

    Suatu malam, ketika aku mengaduk-aduk rak buku lagi, kutemukan kitab lawas tentang kesejatian yang kumaksud. Homo Luden—makhluk bermain—karangan Johan Huizinga; kitab yang menyadarkanku keluar  dari lingkungan norma-norma moral, menghapus penyesalanku, pada diriku tak ada lagi masa silam yang buruk atau baik-baik.

    Ada kata-kata di sana: “Dunia permainan sakral ini adalah dunia anak-anak dan penyair.”

    Aha! Anak-anak! Penyair!

    Inilah pengada kesejatianku. Anak-anak adalah kenyataan dan mimpiku. Penyair adalah kebaikan takdir Tuhan, mengirimkannya padaku sebagai kekasih baru.  Dunia baruku bukan hanya di depan mataku. Melainkan inhern dalam diriku, mimpi dan kenyataanku.

    “Asmara!” kupanggil perempuan kiriman Tuhan itu.

    “Ada apa, lelaki penuh cinta?”

    ***

     

    “MAUKAH engkau hidup  bersamaku? Berbagi? Menjadi belahan sukma? Agar hidupmu tidak berbagi hanya dengan kata?”

    “Sejak lama aku menunggu lelaki yang persis berkata seperti katamu hari ini.”

    “Oh iya?”

    “Ya, aku belum pernah menikah dan hanya cinta pada kata-kata, puisi, dan misteri makna. Aku masih perawan karena itu. Kata-kata tidak bisa membuatku berbagi cinta di dunia nyata.”

    “Baiklah. Aku bukan hanya memberimu kata-kata.”

    “Kalau begitu kukatakan aku cinta padamu. Kau tak perlu lagi katakan. Lamarlah aku pada orangtuaku.”

    “Kalau begitu,” kataku, ”izinkan aku menikahimu. Aku akan menjagamu, merawatmu,  melindungimu.  Kita akan hidup bersama, aku, kau, kata-kata, dan anak-anak yang lahir dari rahimmu, bila Tuhan melengkapi rezeki kita. Tuhan akan menitipkan pada kita.”

    “Kita seperti kata-kata, juga seperti Tuhan mencipta.”

    “Tuhan, kami mencintaimu, sebagaimana engkau mencintai kami. Kami mencintai kata-kata.”

    “Aku mencintaimu karena kata-kata. Aku menikahimu karena kata-kata. Aku menikahi kata-kata.”

    “Baiklah. Tidak masalah buatku. Semua hanyalah permainan.”

    Aku lebih bisa menerima ini semua permainan kata-kata ketimbang perintah menikahi lagi perempuan hingga empat kali sesuai agama. Sungguh sulit buatku menerimanya; logika, mimpi, nyata maupun pengalaman semua—sebagai makhluk biasa, kecuali jika sebagai makhluk bermain.

    Kukenang, kupandang, pijar dan deretan kata-kata, juga imaji dari pelbagai indera. Aku mulai menyusun konsep-konsep pasal  kecantikan, kebaikan, keasyiikan, keapikan. Menggabungkan banyak bagian tubuh juga ruh, jiwa raga.

    Pengalaman membuatku hati-hati. Terlepas dari estetika moral spiritual. Tak mau berada lagi dalam lingkungan demikian, kecantikan tak berarti cantik dan jelek. Kecantikan, keasyikkan, keapikan, kebaikan ini semua adalah kata-kata, puisi. Semua satu padu dan inhern. Dialah ruang, ciptaan, jiwaku sendiri.

    Tiada kepenuhan, kesempurnaan ruang ciptaku ini. Jika tampak hampa, kosong, inilah kehampaan, kekosongan. Dia tidak sungguhan, inilah duniaku kini nyata dalam arti asli: dunia anak kecil, binatang, manusia badung dan penujum, dalam alam mimpi, pesona, ekstasis dan tawa.

    Sejak lamaran dan pernikahanku, penuh gelak tawa, riang bungah. Tidak sungguh-sungguh, hanya dunia anak kecil. Jajanan, pesta, hiasan dekorasi mantenan, lampu-lampu kelap kelip, kantor Urusan Agama, demikian berdenyar sebelum berlalu.

    Semua baru. Tiada pengalaman yang benar-benar berulang. Suatu pertunjukan, meski tak berarti panggung sandiwara—Shakespeare. Kumau panggung untuk anak-anak sepanjang masa—sampai tanpa gigi, tanpa mata, tanpa  semuanya.

    Kami bersanding di pelaminan. Akulah lelaki kata-kata. Bersanding dengan istriku, juitaku perawan sepanjang zaman. Wangi melati di pelaminan, dari ruangan, kamar dan tilam. Istriku memuja aroma kembang. Di hari pernikahan, kami semua berebut kembang; aku, kekasihku juga tamu undangan. Semua tergila-gila pada aroma—bau, kembang.

    Edan! Kami semua memuja kembang dan aroma daripada  sejoli yang majenun pada dunia masa kanak-kanak ini.

    Pagi kembang, siang kembang, petang kembang. Malam pun kami bercinta dengan kembang. Istriku menebar melati putih beraroma di ruang kamar, juga di atas tilam.

    Kekasihku menikahiku sebagai kata-kata. Aku bercinta dengannya sebagai bunga. Kami saling peluk, cium, raba, rasa, dan menghikmati hari baik sebagai kata maupun bunga. Kami bercinta, menyatukan kata-kata dan bunga. Kami saling berburu, berbagi, gairah menyatu, kini, yang silam, yang akan datang, lapar, haus, nyala gelora, sakit bangkit, tak hanya sehari dua hari, seminggu dua minggu, melainkan berminggu-minggu, berwindu-windu.

    Sampai kami saling masuk, saling bertukar. Dia adalah aku. Sebagaimana aku adalah dia. Seperti berhadapan dalam cermin.

    Bagaimana bisa? Masih kuingat ujaran doa buat anak-anakku: Ya, Tuhan! Jadikanlah aku cermin bagi anak-anakku. Kini, kuubah doa itu sebagai: jadikanlah kami semua cermin.

    Rumah kontrakan kami dihajar angin kering. Musim hujan mau menampar genteng seng. Pohon pepaya, dedaunan dan kembang di pelataran berguguran.

    Cermin hanya menangkap perangai, tubuh, benda-benda, dan cahaya. Dia menangkal bunyi dan suara-suara.

    Itulah sebabnya selain pada kata-kata, orang bisa jatuh cinta pada wayang. Karena wayang bisa menjadi cermin, lengkap melalui suara-suara dalang.

    Baiklah, aku telah memenangkan, menemukan pencarian diriku yang hilang. Aku tidak menjadi budak cinta–seorang yang hanya dia yang kumaui. Aku juga tidak menyunting perintah agama; beristri sampai empat batas jumlahnya.

    Aku telah menemukan penghayatan diri. Ihwal cinta dan perempuan. Keluar masuk kata-kata, cermin, wayang dan perempuan penyair.

    Jika kita semua adalah kata-kata, cermin, bila ada yang menjadi cahaya, suara atau dalangnya, ada di atas semua itu yakni Tuhan.

    “Tuhan boleh bermain?”

    Aku tak bermaksud melibatkan Tuhan dalam dunia permainan ini. Tuhan bukan makhluk. Tapi Tuhan bisa disakralkan, dipuja, dengan permainan ini. Kultus permainan religious.

    Kukatakan seperti ini : Cintaku religious, khalis padamu. Luhur.

    Abaikan soal ini. Terpenting sekarang saatnya kita bebas, riang, gembira. Ayolah menari, tegang, jalang…

    Sampai subuh. Tubuh. Luruh. Lunglai.

    Sial! Aku tak bisa bermain bersih. Hati, pikiran, perasaan, masih kerap bocor. Tuhan hadir melalui pori-pori. Atas nama Tuhan kerap pula terbawa istriku. Entah sejak awal, di tengah-tengah, atau akhir permainan. Bermain tak cukup berbekal: aku jauh, engkau jauh, aku dekat engkau dekat.  Hati adalah cermin! Sungguh sial!

    “Kami lebih dekat kepada-Nya daripada urat di lehernya,” istriku,  pecinta kata-kata itu menenangkan padaku.

    Cinta, hidup, matinya padaku sedekat itu.  Dia hadir dalam setiap permainan. Aku tidak pedulikan itu semua. Aku sudah memenangkan pertarungan dalam dunia bermainku.

    Aku tak peduli apakah kekasihku kata-kata, atau Tuhan yang selalu bersamanya. Tugasku, kewajibanku, janjiku di dunia; menjaganya, merawatnya, seindah, sebahagia hidup di dunia baru ini.

    Sekalipun  istriku menjaga keperawanannya, sampai padaku kekasih terkininya, melampaui kata-kata, bisa berbagi cinta.

    ***

     

    TULISANKU yang pelik, rumit dan berbelit ini, diam-diam dicatat, dibaur buku harian istriku. Kemudian disebarluaskan, cuma-cuma meski tak menolak bilamana ada yang sedekah ganti biaya menggandakan naskah.

    Dari pertemuan, rapat, pengajian, arisan kian bertambah. Lalu email, chat, ebook, lewat grab. Kian banyak teman yang membaca, kian banyak pula yang keliru sasaran, tafsiran dan membawa korban ihwal dunia bermain.

    Apapun, bermula dari ruang cipta, tiada kepenuhan, kesempurnaan, bahkan kehampaan, kekosongan. Segala benda, takdir, tabir, pengetahuan, tubuh, ruh, subjek, objek. Bisa menjadi bagian dari permainan. Segalanya bisa menjadi utama, pokok, bermakna, esensi.

    Suatu ketika istriku menangis, merasa berdosa: Ihwal cinta, permainan, dan permainan cinta.

    “Ceritamu, tidak saja bermain cinta, tetapi juga memainkan agama, wanita, belas kasih bukan hanya empat tapi belasan.”

    Bisa lelaki bisa perempuan. Bisa pelaku bisa pula korban. Setiap subjek, pastilah ada objeknya. Merekalah yang tunduk pada hasrat bermain berlebihan, memuaskan suatu kebutuhan hiburan.

    Yang mengerikan; minta perempuan jadi istrinya–padahal sudah berkeluarga. Istriku menangis tiada henti. Malam sampai pagi, pagi sampai malam. Seperti lingkaran setan.

    “Siapa pelakunya?”

    “Orang yang beragama.”

    “Itu mereka bukan hanya memainkan agama, tapi juga biasa menjualnya. Atas nama cermin dan cahaya”

    “Atas nama nabi, dan keturunannya.”

    “Biadab! Laknat!”

    “Sudah mati berkali. Pemalsu kepalanya sendiri yang sempurna, diganti kambing dan babi.”

    Di sela isak tangis istriku, gemuruh batinku bergema. Aku mendekapnya, memeluknya kuat-kuat. Mungkin dia belum pernah merasa totalitas seorang pria. Tapi aku makin bisa memahami dia memilih menikahi dan bercinta dengan kata-kata pada saat puisi dan Tuhan demikian dekat darinya—inhern, padu menyatu lebih dekat dari urat nadi di lehernya.

    Anteng. Suasana jiwa seorang suami beristri perawan suci, aku terbawa mimpi di dunia yang entah selalu baru ini.

    ***

     

    “TUAN Pengarang!” istriku, memanggilku. “Sudah malam. Ayolah bercinta! Berharap dari rahimku lahir nabi-nabi suci.”

    Tak kukatakan apapun. Aku ingin melampaui kata-kata; cinta dan kasih sekalipun.

    ***

     

    AKU lupa ihwal mimpi ini. Kelar atau belum? Tidak penting, ini mimpi atau nyata. Damai, di duniaku yang selalu baru.

    Berapa usiaku kini?

    Aku sudah tiada!

    Dimana kuburnya?

    Maesan kuburku dipalsukan demikian banyaknya. Karyaku dimusnahkan. Mungkin yang otentik ada ditinggalkan. Juga puisi-puisi istriku.

    Tangisnya masih kudengar. Penyesalannya. Cintanya. Dosanya. Apakah dia menangis di kubur sebelahku? Aku teriak-bentak malaikat agar tak menyiksanya, tapi tak bersuara. Di alam pasca kasat mata aku bermaksud menjaga, merawatnya penuh cinta kasih. Aku kehabisan kata-kata selama di dunia, tepat saat istriku mencintaiku karena kata-kataku.

    “Kenangan,” pikirku, “rupanya tidak bisa benar-benar kutinggalkan.”

    Kukenang kebaikan kekasihku, berbagi pada yang nestapa di masa muda. Kini aku tahu kubur ini masih berguna, keramat-keramat kami dipalsukan atas nama surga.

    “Tuan pengarang” tutur penyair Asmara, istriku. “Jangan jauh-jauh dariku.”

    “Aku sedang bermain denganmu, sayang. Dengan kata-kata, puisimu. Jangan cemburu,”  kataku lembut.

    Padanya, kukenangkan sepeda pancal antiknya, puisi bulan di atas kuburan, taman—tempat romantiknya, berbincang dengan kembang-kembang. Hendak kutunjukkan file foto bersamanya di sebalik matahari senja, di tepian sawah itu. ***


    Lahir di Kediri, 4 Februari 1972. Pengarang sejumlah novel: Tanah Api (LKiS 2005); Tanha—Kekasih yang Terlupa (Jogja Media Utama 2011, Pagan Press,2017); Khutbah di Bawah Lembah (Najah 2012, Diva Press); Tirai, (Garudhawaca, )2014

    Perempuan Pernikahan
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleTerjebak di Banda Neira
    Next Article Tuhan, Aku Ingin Viral!

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.