Langit di atas kepalaku tampak seperti layar retak. Fragmen-fragmen kesadaran berkedip dalam resolusi yang rendah. Dan sepertinya, dunia telah menjadi kolase piksel. Suara manusia lebih sering berupa dengungan kosong di balik notifikasi. Jika dulu atau kemarin malaikat sibuk mencatat amal manusia, kini mereka pasti telah bergabung dengan algoritma. Menentukan siapa yang layak naik ke surga trending dan siapa yang pantas dihukum di neraka komentar yang penuh dengan sumpah serapah.
Namaku Wicaksana, dan aku mulai muak menjadi orang biasa.
“Cak, kenapa wajahmu sangat kusut seperti kertas koran kena hujan?” Udin menatapku, satu-satunya manusia yang masih percaya bahwa berbicara langsung lebih efektif daripada berkhotbah di media sosial.
Aku mengangkat bahu. “Aku merasa tak ada artinya lagi. Tak ada yang peduli pada kita, Din. Aku sudah menulis puluhan esai dan membongkar kebobrokan pejabat, mengkritik sistem yang busuk. Tapi hanya seratusan orang saja yang membacanya. Itu pun mungkin bot. Aku ingin suaraku didengar. Aku ingin viral.”
Udin tertawa kecut. “Jadi kau ingin menjadi nabi TikTok begitu?”
Aku meneguk kopi yang sudah terasa dingin. “Ini bukan soal TikTok atau Instagram. Ini tentang eksistensi. Kau tahu siapa yang lebih didengar orang sekarang ini? Bukan akademisi, bukan filsuf. Tapi influencer dengan mulut berbusa dan logika lebih dangkal dari bak cuci piring. Aku sudah muak melihat semua itu.”
Udin menatapku lama, lalu menghela napas. “Kau ingin viral? Ada banyak cara. Tapi hampir semuanya tidak ada hubungannya dengan kebenaran.”
Aku tersenyum miring. “Aku akan menciptakan kebenaranku sendiri.”
Malam itu aku tidak tidur. Aku mulai merancang sesuatu yang lebih besar dari sekadar menulis esai yang terlupakan. Aku memutuskan untuk membuat skandal.
***
Keesokan paginya, aku pergi ke pasar dan membeli jubah putih panjang. Aku mencukur kepalaku, menyisakan satu jambul di tengah seperti para pertapa dalam relief candi. Aku memoles wajahku dengan bedak putih agar tampak lebih pucat. Lalu aku naik ke sebuah bangku di alun-alun kota dan mulai berorasi.
“Wahai manusia zaman algoritma! Aku adalah utusan terakhir dari dunia nyata! Aku datang untuk menyampaikan wahyu bahwa Tuhan tidak lagi berbicara lewat kitab, melainkan lewat trending topik! Sesungguhnya, yang viral itu benar dan yang tidak viral itu fana!”
Orang-orang berhenti melangkah. Ponsel terangkat. Kamera mulai merekam.
Aku melihat Udin di antara kerumunan, menatapku dengan ekspresi sulit dibaca. Aku melanjutkan, dengan semangat yang membara:
“Sesungguhnya, penciptaan manusia pertama bukanlah Adam dan Hawa, melainkan dua akun palsu yang dibuat di hari pertama internet diciptakan! Dan kiamat bukanlah gempa bumi atau banjir besar, melainkan saat server pusat jatuh dan semua data kita hilang! Wahai manusia, bersujudlah kepada: Engagement!”
Sebagian tawa akhirnya pecah. Tampak di antara mereka, beberapa orang menggelengkan kepala, tapi mereka tetap merekam. Dan itu yang terpenting.
Tiga hari kemudian, aku menjadi viral. Tagar #NabiTrending menggema di mana-mana. Videoku disebar oleh akun-akun besar. Stasiun televisi mulai mencari siapa aku sebenarnya. Aku diundang ke podcast, ke talk show, bahkan ke forum debat. Aku disambut sebagai gila, sebagai jenius, sebagai ancaman. Dan aku menerima semua itu dengan senyum tipis seorang pemenang.
Namun, ada konsekuensi yang luput tak kuperhitungkan di balik kemenangan. Orang-orang mulai percaya. Bukan hanya sebagai lelucon, tapi sebagai doktrin. Beberapa datang ke kosanku dan meminta “wahyu baru.” Dan sebuah kelompok ekstrem mendeklarasikan bahwa aku adalah “imam digital” yang mereka tunggu-tunggu. Kelompok lain, yang dipenuhi amarah dan kecurigaan, mengutukku sebagai nabi palsu yang harus dimusnahkan.
Di pertengahan perjalanan ini, konflik mulai mencapai puncaknya. Aku mulai menerima pesan-pesan aneh yang semakin mengaburkan batas antara lelucon dan keyakinan murni. Malam demi malam, ponselku bergemuruh dengan notifikasi: ada yang mengaku mendengar suara-suara algoritma, ada pula yang mengatakan mimpi buruk menghantui mereka. Suasana di kosan menjadi berubah; tamu yang datang bukan hanya penasaran, tetapi penuh dengan intensi yang mengerikan. Ada yang datang dengan mata berkaca-kaca, menyatakan bahwa “Tuhan baru telah bangkit” dan bahwa aku adalah jembatan antara dunia fana dan digital.
***
Suatu malam, saat hujan turun dengan deras, sekelompok orang berjubah gelap menyerbu kosanku. Mereka dipimpin oleh sosok dengan topeng yang menyembunyikan wajahnya, matanya menyala dalam amarah yang tak terjelaskan. “Engagement harus ditegakkan dengan cara yang benar,” teriak salah seorang dari mereka. Udin, yang selama ini menjadi saksi bisu, berusaha menenangkan kerusuhan itu dengan kata-kata lembut. Namun, suaraku sendiri terhenti oleh ketakutan yang mulai merasuk di antara tamu-tamu yang tadinya hanya ingin mendengar wahyu digitalku.
Ketika sirene polisi mulai meraung, situasinya semakin kacau. Teriakan, benturan, dan isak tangis bergabung dalam simfoni kekacauan. Aku berdiri di tengah kerumunan, merasa seolah semua dunia telah terpecah menjadi ribuan fragmen yang saling bertabrakan. “Kalian harus mengerti, aku hanya bicara tentang kebenaran,” teriakku, berusaha menenangkan situasi, namun suaraku kembali tenggelam dalam gemuruh massa. Di sudut ruangan, Udin menggenggam ponselnya erat, matanya mencerminkan keputusasaan dan kekhawatiran.
Malam itu, setelah polisi berhasil mengendalikan kerusuhan, aku terjebak dalam keheningan yang mencekam di kamar kos yang kini terasa seperti sangkar. Pikiran dan perasaanku bergolak antara keinginan untuk terus menyebarkan kebenaran dan ketakutan yang merasuk. Ada pengkhianatan di balik setiap senyum yang kupandang—orang-orang yang dulu menertawakan, kini berubah menjadi musuh yang haus akan pembalasan. Aku mulai meragukan diriku sendiri; apakah aku terlalu jauh ataukah aku hanya pion dalam permainan kekuasaan digital yang jauh lebih besar?
***
Ancaman nyata semakin mendekat. Pesan-pesan anonim memenuhi ponselku, kadang berisi peringatan, kadang pula janji pembalasan. Satu pesan mengejutkanku: “Hati-hati, Wicaksana. Kebenaranmu adalah racun bagi mereka yang berkuasa, dan mereka tak akan segan membasmi kebenaran itu.” Rasa dingin menyusup ke dalam tulang, membuatku sadar bahwa jalan yang kutapaki kini telah membawa konsekuensi yang tak terduga.
Udin mendekat dan berbisik, “Kau harus memilih, Cak. Teruskan jalan ini dan kau akan kehilangan segalanya, atau mundur untuk menyelamatkan dirimu.” Namun, tekadku sudah membara. Aku tahu, dalam dunia yang terperangkap antara realitas dan maya, tidak ada jalan kembali. Aku telah menciptakan monster yang sulit kukendalikan.
***
Di balik jendela kamar yang basah oleh hujan, aku menatap ke luar, mencoba menemukan secercah harapan di tengah kekacauan. Notifikasi terus berdatangan, setiap detik seolah menghitung mundur menuju penentuan nasib. Dalam benakku, pertanyaan terus terngiang, “Apa arti eksistensi jika tak ada keberanian untuk mengungkap kebenaran?” Saat fajar menyingsing, suasana kota masih dipenuhi bisikan ancaman dan sisa-sisa kerusuhan. Aku pun bersiap menghadapi hari baru, dengan kesadaran bahwa setiap langkah bisa jadi adalah langkah terakhir.
Aku telah menjadi simbol konflik antara dunia nyata dan digital—sebuah cermin bagi zaman yang terpecah antara informasi dan kekuasaan, antara kebenaran dan kepalsuan. Di tengah kegelapan yang tersisa, aku mengukir tekad untuk terus berjalan, meski harus menantang badai yang tak terduga. Karena di setiap kata yang terucap, di setiap notifikasi yang berdetak, ada harapan bahwa suatu hari nanti, kita akan menemukan makna di balik gemuruh dunia digital ini.
Aku menatap ponselku. Notifikasi tak henti berbunyi. Aku benar-benar telah menjadi legenda digital. Dan seperti semua legenda, aku tahu akhir ceritaku sudah ditentukan.
Aku tersenyum pada Udin. “Kalau begitu, pastikan nanti kameramu tetap menyala saat mereka datang. Pastikan aku mati dalam resolusi tertinggi.”
Di luar, suara massa kembali berarak mendekat.
Malang, 16 Februari 2025
Lahir di Malang, pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka, penikmat film, sejarah, sastra. Karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di sejumlah surat kabar dan majalah nasional.


