Kelinci itu imut karena warna bibirnya merah jambu dan bulunya lembut. Tapi bagi Danar sih yang imut giginya. Ya, dua gigi di depan itu, sangat menarik dilihat terutama saat ia sedang menyeringai.Itulah alasan Danar menyukai hal hal yang berbau kelinci. Hewan yang lincah dan tangkas sebagai senjata utamanya untuk menghindari dari pemangsanya.
Mulai dari gambar kaos dan pernak pernik hiasan di kamarnya semua mengandung unsur kelinci. Bahkan bantalnya pun bersarung hitam dengan gambar kepala kelinci berwarna putih. Hal ini pernah disalahartikan oleh teman-teman kuliahnya karena menganggap Danar sebagai penggemar majalah porno yang berlogo kepala kelinci. Inilah kebiasaan orang Indonesia suka sekali mengambil kesimpulan dari sedikit tanda yang ia ketahui.
Kata sebagian temannya, Danar ini lelaki lembut kalau tidak bisa dibilang gemulai. Padahal temannya justru banyak yang tidak tahu bahwa wallpaper hape Danar bergambar Ronaldo si Fenomena dari Brazil sedang tertawa lebar menunjukkan gigi kelincinya. Tahu kan kenapa Ronaldo yang dipilih Danar untuk menjadi gambar layar gawainya, ya, betul, itu karena Ronaldo punya gigi yang mirip gigi kelinci. Banyak yang menduga Danar menyukai Ronaldo karena gocekannya tapi ternyata itu salah besar.
Danar ternyata juga penggemar sepakbola, meski dengan gaya gemulai seperti itu ia tak kehilangan kelelakiannya. Klub favoritnya adalah Barcelona, saingan berat Real Madrid. Tersebab inilah Danar sangat membenci semua pemain bintang sepakbola yang bermain di klub super kaya dari ibukota Spanyol tersebut.
Mengapa orang-orang selalu mengaitkan gender dengan kebiasaan dan perilaku seseorang. Selalu saja dianggap tidak lazim jika seorang pria menyukai sesuatu yang dianggap lebih dekat dengan kebiasaan kaum hawa. Kelinci yang imut selalu dianggap bukan unsur maskulin di Tengah Masyarakat. Ujung-ujungnya jika ada pria yang menyukainya dianggap aneh. Dan sepertinya Danar sudah nggak peduli dengan itu semua.
“Apa sih yang membuatmu jatuh cinta pada kelinci, Nar?” tanya Santi sepupu jauhnya.
“Entahlah, setiap aku melihat dua gigi depannya yang imut itu kok aku seperti terhipnotis,” jawabnya enteng saja. Santi hanya tersenyum mendengar jawaban subyektif Danar yang di luar nalar itu.
Berhari-hari dalam tidurnya ia selalu dikejar ular berkepala kelinci. Mimpi itu menghantui Danar tiap malam. Ular berwarna hitam dengan kepala kelinci yang selalu menyeringai dengan dua gigi depannya yang imut. Mimpi yang bagi Danar, sebagai orang jawa, selalu ia kaitkan dengan tanda-tanda akan memperoleh pasangan atau mau diajak menikah oleh seseorang.
“Tapi itu hanyalah ular yang mengejar bukan ular yang menggigit,” jawab Dudin yang ia ajak ngobrol perihal mimpinya yang aneh itu. Mungkin karena mimpi itu pula kini Danar pun mulai memberi arti akan kehadiran perempuan di kehidupannya.
Dan benar saja, akhir-akhir ini, Danar sedang terjerat oleh kecantikan seorang gadis yang memiliki gigi seri mirip gigi kelinci. Setiap kali ia memberi makan kelinci peliharaannya ia akan membayangkan wajah gadis yang baru ia kenal di sebuah toko buku. Kala itu, Gadis bergigi kelinci itu sedang menjatuhkan buku dan tanpa sengaja menimpa kepalanya ketika ia sedang berjongkok melihat buku-buku di barisan bawah rak buku.
“Maaf, Kak saya tak sengaja tadi,” itulah ucapan yang ia dengar ketika ia terkejut merasakan kepalanya tertimpa sebuah buku. Gadis itu hanya berujar dengan mimik wajah datar seolah tak terjadi apa-apa. Hanya matanya yang bulat tajam menatap tepat ke matanya.
“Nggak papa, lain kali hati-hati,” jawabnya singkat.
Tiba-tiba gadis itu tersenyum lebar menunjukkan dua gigi kelincinya. Danar kini yang terkejut ketika ia melihat gigi kelinci yang mengintip dari mulut gadis itu. Keterkejutan yang didera banyak orang kala terpana atau mendapati sesuatu yang begitu ia puja.
Selain dua gigi depan yang mirip gigi kelinci, gadis itu juga memiliki mata berwarna merah muda. Kondisi ini seolah menahbiskan gadis itu bak jelmaan kelinci atau jangan-jangan ia kelinci yang berreinkarnasi menjadi sosok manusia.
Saat gadis itu berpaling ke rak buku yang lain, Danar melihat seolah langkah gadis itu bagai langkah zig zag seekor kelinci kala menghindari predator yang mau memangsanya.
Gadis itu mendekati rak buku kesehatan. Dari kejauhan, Danar menyaksikan mata bulat itu menyapu jajaran buku yang terpajang dengan cepat. Penanganan Gangguan Jiwa, sebuah judul buku menarik perhatiannya. Jari lentiknya memungut buku di rak itu, dan dibukanya sebentar, kebetulan bungkus plastiknya tak ada. Lembaran halaman buku itu ia buka dengan cepat. Matanya memicing tajam kala ia membaca beberapa paragraf di sampul belakang. Ketika ia menggigit bibir bawahnya, gigi itu nyembul lagi, dan Danar kembali tertegun.
Ah, nama yang indah. Gumam Danar dalam hati. Ia sempat mengenalkan diri ketika berpapasan hendak kembali dari kasir. “Ratri Gautama,” gadis bergigi kelinci itu menyebutkan namanya ketika Danar mengulurkan tangan sambil menyebutkan namanya juga.
Sejak saat itu kepala Danar seperti telah dipenuhi oleh Dopamin, zat yang memicu otak untuk menonaktifkan unsur pengendali logika, akibatnya membuat orang tak bisa mengontrol tingkah lakunya secara rasional. Ia mulai mabuk kepayang dan tertawan pada sosok gadis bergigi kelinci itu.
Sejak saat itu pula ia mulai sering ke toko buku dan berharap bisa bertemu dengan Ratri. Malangnya lagi, banyak temannya menganggap Danar adalah kutu buku karena sering melihat atau berpapasan dengannya ketika sedang keluar dari toko buku itu. Sebuah dugaan yang menguntungkannya.
Tepat di hari ke lima belas setelah ia rutin ke toko buku ia bertemu kembali dengan Ratri. Perasaan berbunga-bunga terlihat dari mimik wajahnya yang seketika cerah dan seperti wajah orang yang sedang bahagia. Ini kata psikiater sebenarnya efek dari zat yang bernama serotonin. Zat ini menimbulkan rasa ketagihan. Inilah zat yang menipu seseorang yang lagi jatuh cinta. Selalu ingin bertemu dan ketika bertemu makin saja tak menentu perasaannya. Ah kasihan juga si Danar.
Danar makin yakin dengan mimpi yang menghantuinya tiap malam. Ya, mimpi dikejar ular yang ia yakini adalah tanda seseorang akan memperoleh pasangan. Bagimana ia ragu, jika setelah mimpi-mimpi itu kini ia malah bertemu dengan sosok yang seolah dihadirkan untuknya. Gadis bergigi kelinci.
“Saya sedang menyelesaikan skripsiku,” jawaban singkat Ratri ketika Danar menanyakan keperluannya ke toko buku. Danar sudah pasti tahu bahwa Ratri pasti membutuhkan banyak buku sebagai referensi skripsi yang sedang digarapnya.
“Bisakah kita ngobrol sebentar?” tanya Danar lebih lanjut.
“Maaf, saya tak ada waktu,” Gadis itu menjawab sambil terus melanjutkan memilih buku.
“Sebenta saja apa saya mengganggu?”
“Boleh, kalau begitu, silahkan,”
“Apa sih kesukaan Ratri,”
“Kesukaanku banyak. Tapi aku punya satu hal yang tidak bisa dekat-dekat dengan aku. Aku benci segala sesuatu yang berhubungan dengan kelinci. Terutama lagi jika itu pria penggemar kelinci, aku malas berteman dengan pria seperti itu.”
Danar merasa jawaban dari Ratri itu memberi tanda bahwa gadis bergigi kelinci itu sangat tidak layak untuk diajak ngobrol lebih lanjut. Ia memutuskan untuk menghentikan perasaannya terhadap Ratri. Ia menyadari kekeliruan prasangkanya terhadap Ratri.
Ketidaksukaan seseorang pada sesuatu adalah hal yang wajar. Tidak perlu pendapat yang masuk akal untuk tahu alasan seseorang membencinya. Itu bisa terjadi pada siapa saja. Ada yang benci kecoa ada juga yang benci tikus. Toh kedua binatang menjijikkan itu ada juga yang mencintainya bahkan jadi pakar tentang anatominya. Tapi, untuk tidak menyukai kelinci Danar betul-betul kehilangan akal jika ada orang yang melakukannya.
Penulis lahir di desa nelayan, Paciran, di pesisir utara Kabupaten Lamongan. Puisi dan Guritnya tersebar di Bali Post, Radar Bojonegoro (jawa Pos grup), Balai Bahasa Jawa timur dan di pustaka ekspresi.com, Panyebar semangat, Djaya baya, Djaka lodang.Tahun 2019 meluncurkan Antologi cerpen Muson dan sebuah antologi puisi, Muasal Puisi, di tahun 2020.


