Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Hantu Espresso di Jam 2 Pagi
    Puisi

    Hantu Espresso di Jam 2 Pagi

    Hamimie23 Februari 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Hantu Espresso di Jam 2 Pagi

    sunyi kejarlah aku
    pakailah alas duka
    duduklah di botol wine

    dan Rosa adalah gelas kopi
    pria yang menyentuhnya jadi tanah
    tertimbun jadi benih cinta atau nadi
    aku bilangan dini, habis dibagi sendiri

    ia merampungkan ujud dagingku
    darah yang tumbuh
    dialiri ruh menuju jauh
    ke tiap inci sendi dan sarafku

    ketika untuk pertama kalinya
    tuhan menoreh kuasnya pada kanvas semesta;
    aku panas sebelum api menyentuh
    cahaya pertama tiba
    menyekap gelap yang mengepung
    pada tiap gang hidupku

    beranjak dari hati ke hati
    menguras jantung ini
    menciptakan sendiri hujan di kamar kita
    seperti ada yang melempar batu
    ke kolam hidupku yang jernih
    menyisakan riak dan lubang sesaat
    di tengah senyawa hebat

    matikan obor Rosa, aku tak
    membiarkan orang lain melihatnya
    meski hanya bayangnya

    yang seperti ia, barangkali
    hanya dilahirkan sekali

    Mei, 2024 di Besuki
    *dari lagu Sabrina Carpenter yang didengar Rosa


    Beberapa Jam Sebelum Operasi
    — untuk Arriety

    aku mengandaikan
    hidup di hatimu
    sebagai api

    rumah impian
    adalah rasa aman
    dari musim panas dingin
    dari macam penolakan
    sebab ketidaktahuan

    dengan mata baru
    dunia kulihat
    segala yang menatapku setiap hari
    kini kulihat seperti pertama kali

    kau izinkan kah
    mataku meminjam
    kecantikan kedua
    setelah keluarga?

    2024


    Layat
    : Rekki Zakkia

    tangan lama yang memeluk bunga
    kini mencekik darah
    bersulang kata
    saling mengisi
    kehendak jumpa seseorang
    yang ditemu-pisahkan
    cinta

    berlabuh di Mei
    daffodil terselip musim semi
    daffofil di hati
    tersayat nyeri

    kicau burung
    terdengar seperti berdoa
    jauh di belantara kepala
    menanti
    di liang luka

    “karena Skizofrenia adalah
    nafas yang ditiup Israfil dalam
    dadaku; demi hidup
    yang dititipkan Izrail
    pada ruhku!”

    Situbondo, 2024


    Suwuk

    kembali ke liang radio
    kita nikmati alunan musik sampai tepi
    karena tak kuasa memangkasnya

    demi Elea yang melesatkan filsufnya
    ke masa depan
    yang tak percaya pada kebetulan

    kucari-cari plat N di sekujur jalan
    dari Kepanjen ke Magelang
    yang kutemui hanya N-amamu
    lengang melintasi tubuh

    pada bilik rahim
    cinta jatuh, antara gertak
    pistol dan ancaman peluru
    menjadi alfatihah yang kau tiupkan ke botol airku

    Paiton, 2024


    Hamimie, lahir di Malang. Selain menerjemah puisi Arab ia juga terhibur dengan memasak. Puisi-puisinya terbit di Radar Banyuwangi, Buletin Jejak Literasi dan sejumlah portal daring. Alumnus Mahad Aly An-Nur II. Sekarang menyelesaikan studi di UNUJA Probolinggo.

    Espresso
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleMeses Coklat
    Next Article Masih Ada yang Dia Cari di Balaraja

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.