Aku teringat Mancur Olson kembali
pikiran terbaca seusai menulis disertasi
dalam buku termahal yang pernah kubeli
harus pesan langsung ke penerbit luar negeri
termaktub dua tipe bandit disebut di sini
stationary bandit dan roving bandit istilah asli
bandit mengeram dan bandit kelayapan itu lebih membumi
metafora kriminal dalam politik dan ekonomi
tumbuh dan runtuhnya komunis diktator kapitalis
diperkuda kuasa dan harta yang tak lagi manis
Sejarah para bandit di lampau masa
hidup bergerombol dipimpin panglima bersenjata
mereka mengeram menguasai wilayah
dicengkeram erat hingga penghuninya tak berdaya
kelompok yang lain kelayapan mencari mangsa
semua bertujuan untuk memeras dan menjarah
menguras habis harta benda orang-orang tak bersalah
Lalu datanglah era yang disebut negara
menyusup bandit mengeram dan bandit kelayapan
bertingkah dikendali hasrat dan nalurinya
kekuasaan cenderung curang itu dikata
kemakmuran tinggal cerita dan kata-kata
aturan dibuat untuk kepentingan kelompok semata
hukum dimainkan hompimpah tapi dapat ditebak juga
rakyat ditilap suaranya sedemikian rupa
seperti di rimba mereka menerkam mangsa
mulut berdarah-darah tak merasa bersalah
Di negeri yang tergolong tirani
bandit mengeram ikut menguasai
kebebasan dan hak rakyat dikebiri
dibungkam dan diancam masuk bui
kekuasaan mencengkeram tak berhati
regulasi negeri telah dimanipulasi
semua atas nama konstitusi
dikendalikan para penguasa bertangan besi
pajak-pajak dan keuntungan negeri
rente-rente dihitung tersembunyi
dimainkan dan dibagi-bagi sendiri
agar tampak berbaik hati sebagai penguasa negeri
atas dan bawah sudah saling mengerti
tetap menjilati tak jalan sendiri-sendiri
strategi agar anggota saling mengikat diri
negeri seperti donasi hingga tak ada yang iri
dari waktu ke waktu telah mereka nikmati
sambil tetap diberi kesempatan untuk menggerogoti
asal yang di atas tetap dapat porsi berlebih
Keberanian rakyat akhirnya pecah
angin telah bertiup sebagai penggelora
seperti bah tuntutan kebebasan menerjang ke mana-mana
suara-suara tak lagi bisa dibungkam juga
huru-hara menyelimuti situasi yang membara
para bandit mengeram mulai goyah
sambil berbenah menyelamatkan kekayaan mereka
mencari-cari para aktivis yang menyemangatkan massa
untuk ditangkap sebagai kambing hitam perkara
atau diculik dan dihilangkan nyawanya
hukum dan alat keamanan diperkosa jadi penghamba
era anarki datang secara tiba-tiba
sebagai peletup kepundan derita
tak ada yang berdaya mengerem laju yang meruah
ketidakpastian menjelma di mana-mana
negeri terbelah karena bosan dengan ulah penguasa
akhirnya runtuh sebagai keniscayaan sejarah
Di negeri yang masih diselimuti anarki
semua bisa memanfaatkan situasi
adu cepat untuk mendapatkan yang diingini
dengan dalih kepentingan dan situasi negeri
seperti kebingungan jalan mana yang hendak dititi
perubahan-perubahan bisa cepat terjadi
biar dikata sebagai menyerap aspirasi
ada yang mengeram menyembunyikan naluri
seperti para binatang saat berhibernasi
menyimpan energi sambil mengintip sana-sini
menunggu musim untuk beraksi kembali
Bersama suara-suara yang terus menggema
cita-cita lama terlahirlah sudah
situasi demokrasi digerakkan di mana-mana
ideologi yang dipuja sebagai era terbuka
rakyat boleh bersuara sesuai kata hati mereka
memilih wakil dan pemimpin secara langsung dan terbuka
calon penguasa menebar janji untuk sumpah setia
memperjuangkan nasib rakyat agar merata sejahtera
keadilan akan ditegakkan tak pandang kasta
amanah akan dipegang sampai di lubuk dada
kuasa tak boleh terpusat di ibu kota negara
wilayah-wilayah diberi wewenang sebagai otonomi daerah
maka mulailah semua itu berubah
Di negeri yang baru mengalami demokrasi
para bandit pun mulai beraksi kembali
kelayapan mencari peluang yang bisa ditumpangi
ada yang berpindah-pindah partai dan institusi
menyebar ke seluruh penjuru negeri
ingin jadi raja-raja baru sebagai ambisi
seusai menebar janji dan bagi-bagi upeti
agar diberi tempat untuk duduk di kursi
Di negeri yang baru mengklaim demokrasi katanya
para bandit kelayapan kembali berulah
menjadi penumpang gelap mengatasnamakan warga
menunggangi demokrasi untuk mengeruk harta benda
mereka menjarah ke berbagai wilayah
kelayapan seperti wabah di mana-mana
tak lagi mengeram seperti dahulu kala
berlompat-lompat wadah dalam negara
agar bisa menjarah secara leluasa
situasi kembali menyiksa
ketidakpastian merajalela
Ketika para bandit menyebar ke mana-mana
mereka punya keinginan serupa
mereka menggalang kekuatan bersama
untuk memperkuat posisi yang ada
agar tak terusik oleh suara dan tuntutan massa
menyatu dalam satu wadah pendukung penguasa
agar bisa dapat jatah menikmati kekayaan negara
menguras alam dan isinya dengan leluasa
menelikung dana tanpa diperkara
tak disentuh hukum karena perkomplotannya
Di negeri yang katanya diklaim demokrasi
di manakah menteri yang ngurusi hukum dan hak asasi
sejarah berulang dan disadari
bandit kelayapan jadi mengeram kembali
ada yang mengendalikan dari pusat negeri
menata kekuatan dan menjarah lagi
membentuk oligarki yang menguasai sendi-sendi
kekayaan dikeruk dan dibagi-bagi
yang di atas tetap dapat bagian berlebih
para pengikutnya diberi kesempatan menggerogoti lagi
asal tetap setia mendukung dan menjilati
hukum dikebiri hingga kehilangan taji
institusi penegak keadilan dipreteli
tersisa para pengikut yang telah lupa diri
mereka yang kritis dimasukkan bui
janji-janji yang pernah diucap diingkari
regulasi negeri hanya menguntungkan pemberi upeti
jika negeri merugi menambah utang kembali
sementara penjarahan tak pernah usai
rakyat membayar melalui pajak bertubi-tubi
mengais sampai keringat dan air mata menutupi mata kaki
Surabaya, 2021-2025
Menjilat Pantat
Terlalu banyak menjilat pantat raja
hingga tak bisa membeda itu kotoran atau mentega
mulut memamah dengan senyum bahagia
merasa puncak kenikmatan tiada tara
orang-orang di sekitar ingin muntah
karena di mulutmu bukan layaknya untuk manusia
Terlalu banyak menjilat pantat raja
sampai lupa kalau punya agama
akidah berubah-ubah seakan semua sama
memperlakukan seperti membuat rujak saja
ayat-ayat dibolak-balik sesuai selera
demi kepentingan sesaat semata
Terlalu banyak menjilat pantat raja
menjadi lupa kalau pernah sekolah
lidah berkelit-kelit tak jelas maksudnya
masalah mudah dibuat seakan susah
bangku-bangku yang kau makan menjadi sampah
akal sehat tercampak tanpa harga
para teman sekolah mengelus dada
sementara para guru menangis melihat ulah bekas muridnya
Terlalu banyak menjilat pantat raja
membuat lupa etika
menghina sekenanya seakan hidup di belantara
meracau tak bisa menimbang rasa
ulah dan kata-kata membusukkan sejarah
lupa yang diajarkan orang tua
melompat sana sini di atas kepala
seakan peradaban tak ada dalam dunia nyata
Terlalu banyak menjilat pantat raja
membuat lupa kalau keadilan untuk semua
pantat yang dijilat dibela hingga tak masuk logika
orang-orang yang tak disuka dicari-cari kesalahannya
mesti semua tahu kalau mereka benar adanya
kau tebang pilih berdasarkan selera rimba
seakan drakula yang bebas menyiksa
hingga tangan dan mulut penuh darah
sambil terus mengancam orang-orang kritis yang bersuara
Terlalu banyak menjilat pantat raja
para garong negara dibela sampai akhir titik darah
atau disembunyikan biar tak terjamah
karena padanya bisa terbuka seribu rahasia
hukum diperkosa sesuai selera
piranti dan lembaga yang bisa menjerat mereka
kau gembosi dengan persekongkolan berbagai cara
para cukong mencekoi agar kau bisa jadi boneka
tak peduli jutaan kawula menjerit tak kebagian apa-apa
anak cucu mereka ikut dililit utang atas nama negara
padahal kaulah yang menyesap melalui pantat sang raja
Surabaya, 2021-2025
M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan pendidikan ke IKIP Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hingga menyelesaikan program doktor. Kini menjadi dosen dan tinggal di Surabaya.
Shoim banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Karya-karyanya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, seperti Cerita Pendek dari Surabaya (editor Suripan Sadi Hutomo), Negeri Bayang-bayang (editor D. Zawawi Imron, dkk.), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), Dari Fansuri ke Handayani (editor Taufiq Ismail, dkk.), Horison Sastra Indonesia (editor Taufiq Isamail, dkk), Black Forest (kurator Budi Darma), New York After Midnight (editor Satyagraha Hoerip), Beyond the Horizon (editor David T. Hill), Le Vieux Ficus et Autres Nouvelles (editor Laura Lampach), dll.
Kumpulan cerpen Shoim yang telah terbit adalah Oknum (Gaya Masa,1992), Musyawarah Para Bajingan (Gaya Masa,1993), Limau Walikota (ed., Surabaya Post, 1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (Dewan Kesenian Surabaya, 1995), Bermula dari Tambi (ed., Dewan Kesenian Jatim, 1999), Soeharto dalam Cerpen Indonesia (ed., Bentang, 2001), Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah (Tiga Serangkai, 2004), Perempuan Terakhir (Grasindo, 2004), Asap Rokok di Jilbab Santi (Jaring Pena, 2010), Kutunggu di Jarwal (SatuKata, 2014), Sepatu Jinjit Aryanti (Pustaka Ilalang, 2018), Tikus Parlemen (Tankali, 2019). Novelnya yang pernah dipublikasikan Meniti Kereta Waktu (SIC, 1999, juga terbit dalam terjemahan bahasa Jawa Ngoyak Impen) dan cerita bersambung di media massa adalah Sang Pelancong (1991), Angin Kemarau (1992), Tandes (1999), serta Elies (2006).
Buku lain yang ditulisnya adalah Sejarah Sastra Indonesia (2012), Sastra Rebonding (2013), dan Theatrum- Malam Terakhir (ed., 2013), Sastra yang Menuntut Perubahan (2015), Sastra dan Korupsi (2019), Penyair Memburu Bayangan Tuhan (2019), dan Sastra Merespons Dinamika Zaman (2020).


