“Luaskan dada kalian, bersabarlah
Segera julurkan baju panjang kalian
Bersiaplah untuk musibah”
Usai kalimat itu diterbangkan
Ia mendekap tubuh kami yang berbungkus
Lembaran kain hitam berlapis
Lalu derapnya menjauh, mengucap pisah
Menunggangi zuljanah yang melaju memburu tanah
Sejurus tak terdengar
Tersiarlah sebuah kabar yang hingar
Namanya disebut, kepalanya telah terpenggal
Zuljanah yang diselimuti panah
Merunduk di hadapanku
Aku mengajak kuda itu bicara
Kuda yang telah runtuh kemudinya
Kuda yang telah penuh sayatan itu
Menjawab dengan ringkikan tajam
Gelombang debu yang menderu
Telah biasa menampar wajahku
Tapi debu suci yang bercampur darah husainah
Menumbangkan nyaliku dalam hunusan pedang yang memerah
Aku bergetar dalam lumatan sebuah kalimat besar,
Takbir yang lebar
Dengan hujan panah yang menelusup bumi karbala
Ujung tombak yang bertenggerkan kepala para syuhada
Tiba-tiba di tanah yang pecah
Dengan aroma kemasygulan
Malak al maut telah menyapamu
Merengkuh ruh-mu
Untuk pergi jauh merobek cakrawala karbala
Sedang jasadmu dihina para durjana
Wa husainah wa abtah
Bertambah pula nestapa ini
Saat kepalamu yang suci juga di sana
Kepala yang digiring di atas runcingnya lembing
Kala itu di barak tenda
Saat rusukmu masih memelihara nyawa
Aku membanjiri jubahmu dengan air duka
Yang meronta dari pelupuk rinduku
“Sukainah, selama ruhku masih di kandung badan,
Jangan kau beratkan ia dengan tangisan ini”
Aku mengeratkan dekapan itu padamu
Suluh hatiku diserang gundah
“Sukainah putriku, nanti saat izrail menarik ruh ini
Engkau yang akan menangis lama
Karena engkau yang lebih pantas untuk itu,
Aku masih di sini, Jangan biarkan air mata itu
Mengaliri deras lembut pipimu”
Kini, aku tenggelam
Dalam luap duka yang berdarah
Namun, kaki-kaki yang membunuhmu
Juga kudengar derapnya mendekati pertahanan ini
Tanganku disimpul pati, husainah
Aku digiring dengan seretan rantai yang kasar
Sembari dicambuk ratusan kali
Putrimu ini tertawan
Rombongan pasukan bertombak
Menggamitku dan ahlul bait yang lain
Aku menatap nanar mereka
Menginjakkan pangkal tongkat berlumur dosa
Dalam hingar singgasana yazid
Sedang bilur pada lengan ini, relung dada ini
Belum pulih, dan gugur dalam pejaman
Mata kejam penghianat
Api Tamak
Di balik jendela, kubekukan waktu
Aku poranda, diterjang badai yang memburu
Di balik jendela yang resah
Aku pecah, dihujam ribuan panah
Wajahku murung menafsirkan
Api tamak yang telah lama kunyalakan
Dan pelan-pelan membakar
Menghanguskan tubuhku
Mataku berkabung, menerjemahkan
Riuh megah yang akhirnya punah
Menyisakan bongkahan sesal
Yang pelan-pelan mengoyakkan moral
Tanganku menggenggam luka yang menganga
Luka dari perangai serakah yang bertahta
Melahirkan lalai dan lengah yang begitu meraja
Yang pelan-pelan jeritkan hina
Di dermaga kesadaran ini
Tubuhku runtuh dan karam
Di antara buih-buih sesal
Yang begitu bengal
Sebab sempat kutinggalkan
Muara kasih-Nya
Demi kobar kemegahan
Yang berlabuh sirna
Yang Tersisa dari Sebuah Berita Besar
Pada tenggat waktu di mana semesta berkabung
Kalimat tanya menyembul dari bibirku yang bingung
Berbisik hilir, tanyakan petaka
Berita besar yang konon bangkitkan jiwa
Kabar itu menyapa persinggahanku yang hendak pudar
Membekukan radar mataku yang begitu nanar
Ia bergetar menerbitkan sadar
Bahwa iradah-Nya selalu benar
Di palung mana lagi aku akan bersembunyi
Sedang seluruh Samudera sepakat terlipat
Ketika semua air mengikuti satu suara
Seruan sangkakala yang memekak telinga
Di jengkal jazirah mana lagi aku akan berlari
Sedang seluruh tanah retak, tak menerima pijak
Ketika kabar kehancuran yang kuduga hanya materi
Kini, ia meluluhlantakkan diri
Di lembaran langit mana lagi aku akan bernaung
Sedangkan angkasa meruntuhkan semua ornamennya
Bintang pejamkan mata, lalu meledak
Rembulan kehilangan jejak, hingga semua ia tabrak
Di rubayat daratan mana lagi, akan kugali asa
Sedang mimpi telah runtuh di amuk poranda
Tak ada lagi barisan kata yang rapi
Sebab hanya segunung pekikan yang akan kujumpai
Nyatanya aku tak perlu lari, atau tutupi diri
Ketetapan itu akan menyergap dari kanan maupun kiri
Di mana semua lakon drama di dunia
Tertuai merekah di sana
Aku hanya perlu menapaki Qudrah-Nya yang suci
Dalam percintaan yang abadi
Mengobati segala luka
Untuk menempuh dan menemukan suluk cinta-Nya
Aku hanya perlu benahi hati
Tuk selalu menyelami cinta-Nya yang pasti
Tapi kesempatan itu telah pergi
Lari terbirit, arungi lautan pati
Ranah Rantauan
Poros jemariku melambai tanpa pejam
Pada negeri berjuta gundukan garam
Air laut beda warna, dalam satu muara
Mengantarku pada ranah asing penuh rona
Vitalisasi alam yang amat menggoda
Di ketinggian, gunung berbaris simpan suluh surya
Nida’ dari menara masjid bertalu
Terbitkan renjana yang kian bertubi
Tak jarang pucuk mataku mengedar
Menafsirkan langit yang sedang senyap
Tak ada tsuroya
Pun gumpalan awan yang menjelma
Ranum kumenyembulkan tanya
Apakah udara yang kuhirup
Hujan yang kupeluk; sama persis
Dengan sepoi dan ricik di janabijana1
Malam enggan menjawab
Gemintang redupkan moleknya
Rembulan bersembunyi di balik rumpun
Semua penyap, aku memilih lelap
Bekal Musiman
Ketika fajar memberi tabik
Layaknya gejolak api di langit timur
Dan senja hadir
Dengan indahnya yang tak terukur
Bersiaplah!
Bersiaplah angkasamu menggelap
Selayaknya tabir hitam di atas pentas
Yang perlahan bergerak sebagai tanda pungkas
Atau sekadar memberi jeda
Di hari Lelah berselimut drama
Di sana kau akan merengkuh dinginnya malam
Sebab seharian gersang, kemarau
Mei, 2023
Melumat Algoritma
Di lipatan langit yang meliput pekat
Laksana selendang malam hitam
Bermanik kerlip gemintang
Juga sinar warni layang-layang
Aku menapaki rentang liburan
Dengan jejakan laku sederhana
Menikmati pamit dari penyair kesukaanku
Ketika semesta merintikkan puisi
Menarik senyum di senar layang-layang
Yang kupandang tanpa ampun
Lewat bunga tabur dan ritme nada gala
Sesakkan algoritma bosanku
Bertahun menimba di rantauan
Menyulapku asing pada remukan dapur
Pantai atau gegunung
Bersabarlah untuk kusambangi
Lain hari
Sebab tak ada
Yang lebih piawai memikatku
Selain memandang senyum ibu
Dan canda garing ayah
Sepaket saksi mata,
Peron dan kereta
Ia mengantarku pada kenang
Yang rupanya tak dapat ku ulang
Isi Kepala Orang Sakit
Apa yang bisa kutembus?
Dari tipis
Dan lembut kapas
Yang menjelma di langit lepas
Apa yang bisa kusimak
Dari kidung yang merambat
Pada tubuh nyenyak
Di bawah awan penat
Apa yang bisa kuraup
Dari telaga, tanpa cawan
Menyisakan remah butir air
Di tetes jemari yang menguncup
Apa yang bisa kuharapkan
Dari sumringah bibirmu
Sedang jarak enggan melipat
Dan aku selalu dikulum rindu
Januari, 2024
Benturan Itu, Membentukku
Kita bertumbuh
Sepadan
Dengan
Berapa puluh
Kali; serpih coba
Menembus dada
Kita harus tumbuh
Dengan dersik tasbih
Getar takbir
Dan ricik syukur
Kejora yang Menemani Gulita
Ia yang tabah
Menembus malam yang begitu gagah
Ia yang bijak
Mengetuk pintu langit yang tampak
Bagaimana denyutnya dicipta?
Ia lahir dari filantropi-Nya, dari kasih sayang-Nya
Yang sorotnya menebar pesona
Menjelma cinta
Bagi mata-mata yang senantiasa
Mengejanya di samudera malam
Mereka melayang terpelihara
Di antara selembar takdir
Yang bergetar
Yang enggan luput
Dari penjagaan-Nya
Takdir itu pun mendekapmu
Yang kini kau tempuh
Untuk sampai ke muasal mu
Menemukan hakikat cinta-Nya
Episode Sadrah
Ketika purnama tertinggal indahnya,
Rapalan berbaur di lapisan langit.
Menaklukkan dingin pun ruai musim.
Memberi bara kecil untuk kebekuan jiwa jiwa.
Menghadiri ruang dari tiga bagian malam
Seharusnya menjadi asupanku
Namun aku serupa bedebah,
Hingga ia selalu kusanggah.
Lalu setelahnya
Aku porak dan runtuh pijakannya.
Sudikah kau menunggu
Wahai malam hitam tenang bermanik gemintang,
Aku merindukannya, sungguhan
Saat-saat semelehku, bersamamu
Merajut benang cintaku pada-Nya
Menceritakan lagi bagaimana tuhanku memberiku tenang detik itu
Saat lengkara puji mengudara
Searah dan sepadan dengan lentera hidupku
Di bawah buku kukila, 25 Mei 2024
Lahir di Bangkalan, 9 Februari 2006. Mahasiswa baru Fakultas Adab dan Humaniora UINSA ini menyukai seluk beluk puisi sejak kelas 4 SD. Salah satu karyanya yang berjudul Balada Sayyidah Sukainah tergabung dalam antologi puisi bersama Sketsa Kematian Bapak (2024). Puisinya juga termuat dalam antologi Majelis Sastra Urban, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) berjudul Mistik Bulan Tanah Rantauan (2025).


