sunyi kejarlah aku
pakailah alas duka
duduklah di botol wine
dan Rosa adalah gelas kopi
pria yang menyentuhnya jadi tanah
tertimbun jadi benih cinta atau nadi
aku bilangan dini, habis dibagi sendiri
ia merampungkan ujud dagingku
darah yang tumbuh
dialiri ruh menuju jauh
ke tiap inci sendi dan sarafku
ketika untuk pertama kalinya
tuhan menoreh kuasnya pada kanvas semesta;
aku panas sebelum api menyentuh
cahaya pertama tiba
menyekap gelap yang mengepung
pada tiap gang hidupku
beranjak dari hati ke hati
menguras jantung ini
menciptakan sendiri hujan di kamar kita
seperti ada yang melempar batu
ke kolam hidupku yang jernih
menyisakan riak dan lubang sesaat
di tengah senyawa hebat
matikan obor Rosa, aku tak
membiarkan orang lain melihatnya
meski hanya bayangnya
yang seperti ia, barangkali
hanya dilahirkan sekali
Mei, 2024 di Besuki
*dari lagu Sabrina Carpenter yang didengar Rosa
Beberapa Jam Sebelum Operasi
— untuk Arriety
aku mengandaikan
hidup di hatimu
sebagai api
rumah impian
adalah rasa aman
dari musim panas dingin
dari macam penolakan
sebab ketidaktahuan
dengan mata baru
dunia kulihat
segala yang menatapku setiap hari
kini kulihat seperti pertama kali
kau izinkan kah
mataku meminjam
kecantikan kedua
setelah keluarga?
2024
Layat
: Rekki Zakkia
tangan lama yang memeluk bunga
kini mencekik darah
bersulang kata
saling mengisi
kehendak jumpa seseorang
yang ditemu-pisahkan
cinta
berlabuh di Mei
daffodil terselip musim semi
daffofil di hati
tersayat nyeri
kicau burung
terdengar seperti berdoa
jauh di belantara kepala
menanti
di liang luka
“karena Skizofrenia adalah
nafas yang ditiup Israfil dalam
dadaku; demi hidup
yang dititipkan Izrail
pada ruhku!”
Situbondo, 2024
Suwuk
kembali ke liang radio
kita nikmati alunan musik sampai tepi
karena tak kuasa memangkasnya
demi Elea yang melesatkan filsufnya
ke masa depan
yang tak percaya pada kebetulan
kucari-cari plat N di sekujur jalan
dari Kepanjen ke Magelang
yang kutemui hanya N-amamu
lengang melintasi tubuh
pada bilik rahim
cinta jatuh, antara gertak
pistol dan ancaman peluru
menjadi alfatihah yang kau tiupkan ke botol airku
Paiton, 2024
Hamimie, lahir di Malang. Selain menerjemah puisi Arab ia juga terhibur dengan memasak. Puisi-puisinya terbit di Radar Banyuwangi, Buletin Jejak Literasi dan sejumlah portal daring. Alumnus Mahad Aly An-Nur II. Sekarang menyelesaikan studi di UNUJA Probolinggo.

