Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Nafas Demokrasi
    Puisi

    Nafas Demokrasi

    Fajrul Alam14 Juli 2024
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Nafas Demokrasi

    Republik yang baik tersusun
    dari senyum rakyat,
    pekik kebebasan berekspresi,
    dan nafas demokrasi

    Di republik rasa kerajaan
    Demokrasi seperti sedang disekap
    Nafasnya terengah-engah

    Demokrasi punya caranya sendiri untuk bernafas
    Oksigennya terbuat dari
    Kedaulatan rakyat
    Keterbukaan pemerintah
    Dan kebebasan serta kesetaraan

    Purwokerto, Januari 2024


    Warisan Gus Dur

    Gus Dur mewariskan kita tentang
    cara sederhana berteduh dari hujan hinaan berikut derasnya hujatan

    Dari musim ke musim
    Didera badai nyinyiran yang berjilid-jilid
    Hanya secangkir senyum yang ia minum
    Seperti sedang di teras rumah
    menikmati segelas teh hangat
    di kala hujan deras menerpa

    Purwokerto, Januari 2024


    Dekap Malam

    Dalam dekap malam
    yang anginnya meresap mencekam
    Diiringi oleh gigil waktu

    Seorang penyair gemetaran tangan
    Menorehkan butiran kata di pangkuan kertas
    yang telah lama merindukan lambaian pena

    Malam kian erat mendekap
    Menghangatkan kesunyian
    Tapi sepotong puisi masih saja membeku

    Purwokerto, Januari 2024


    Mahasiswa Akhir

    Mahasiswa yang sedang di ujung studinya
    Menatap malam sebagai bulir embun pagi yabg bening pada rimbun daun sirih
    Segar dan bersih
    Tak boleh sekalipun dinodai oleh iler, dengkur, dan pelukan bantal-guling
    dan cengkraman kemul.

    Malam tak lain adalah semangat
    Saatnya menguras keringat
    Menumpas tugas akhir yang menyebalkan dan selebihnya membosankan.

    Purwokerto, Januari 2024


    Depan Layar Laptop

    Sore hari di depan layar laptop
    Temanku meributkan media online
    yang bersedia menampung hatinya berikut kepalanya

    Kepalanya sudah lama beku
    Kedinginan oleh banjir informasi
    Terlebih di musim-musim big data,
    big dusta, dan bahkan big cinta

    Dihasratinya hidup sederhana
    Memetik honor di akhir bulan
    Berteduh di bawah tulisan
    Menyeduh syukur di secangkir kopi
    pada senja hari

    Purwokerto, Januari 2024


    Rindu Guru

    Pagi yang seharusnya
    berselimut hangat kenangan
    berbaring di atas harapan di musim hujan
    Kali ini berperang melawan mentari
    mengkerdilkan menara kokoh yang bercokol di dasar hati.

    Pagi hari yang terbuat dari serpihan mimpi semalam
    Menuntunku menuai rindu yang kelewat masak
    Dimatangkan oleh waktu dan jarak.

    Diberangkatkan oleh getaran rindu
    Sebuah perjalanan ke Timur
    dari Kebumen Beriman
    ke Purworejo Berirama

    Kebumen, Februari 2024


    Menunggu Setengah Jam

    “Setengah jam lagi ke sini,” katamu
    Langkah kakiku beranjak mundur
    menapaki semangat mengikuti perintahmu

    Telah lama aku bercumbu dengan waktu
    yang pada akhirnya hanya meninggalkan
    remah-remah risau dan sebongkah pilu

    Sembari menunggu, aku bersandar pada dinding penyesalan
    Menatap jam dinding yang melengking
    Tebersit, ingin memutar mundur jarumnya
    Melihat barisan tanggal di hamparan kalender
    Terlahir rasa, ingin membaliknya jauh kebelakang

    Purworejo, Februari 2024


    Resep Bahagia

    1. Menyusuri secangkir kopi di pagi hari
    2. Menjauhi banjir berita politik
    3. Mensucikan akal sehat
    4. Menghapus kerak kotor di dinding hati
    5. Mengulum senyummu dengan tekun
    6. Pensiun menjadi fans MU
    7. Duduk manis mendoakan Indonesia sejahtera

    Purwokerto, Desember 2023


    Fajrul Alam, lahir di Kebumen. Kecanduan kopi dan gorengan. Saat ini mengenyam kuliah di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri sekaligus menjadi Tim Asesor puisi di SKSP (Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban). Karya-karyanya pernah masuk di beberapa buku antologi puisi, majalah, dan media online.

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleBalada Cinta Wakil Rakyat
    Next Article Di Taman Kehidupan… Aku Tanam Larik Kata

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.