Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Di Taman Kehidupan… Aku Tanam Larik Kata
    Puisi

    Di Taman Kehidupan… Aku Tanam Larik Kata

    Sultan Musa16 Juli 2024
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Di Taman Kehidupan… Aku Tanam Larik Kata

    Aku tanam larik kata
    lewat bibir ditelan masa
    dan berjalan dimakan waktu
    serta menjelujur di batas pisah dan temu

    Sembari berdansa aku hirup aroma kata lain
    semilir pancarkan irama disitu
    ditandu keluhuran hamba
    merunut kata, hingga senja beranjak pulang

    biarkanlah larik kata…
    waktu senja berdebar untuk saling abadi

    Pun saat hujan dengan tanah basah
    samar-samar aroma kata bercampur
    penuh warna dalam makna
    menyeruak tak pernah hilang
    meski dengan sebab yang berbeda

    Sepintas indah pelangi hadir
    penebus telusur rindu aksara
    yang tenggelam dalam cawan wahyu
    suluhkan lepas disitu dalam kehidupan
    berikanlah larik kata …
    ruang semerbak rindu untuk saling berbagi

    Kulihat kupu-kupu menikmati waktu
    terbang diiringi ayat-ayat kebaikan
    berkelana sederhana di benakku
    dengan eloknya masih disana
    serta tersenyum manis,
    dan esok akan kucari jawaban manisnya !

    Sesekali terdengar percakapan burung
    sedingin bercerita merimba harapan
    meramu bijak petuah kembara
    dan kata pun tak bertitik

    ……berjalan dan pulang
    kicauan larik kata menikam sapa;
    hingga mengungkapkan ‘apapun yang datang pasti akan pergi’
    (sebuah taman kehidupan)

    #2022


    Telur Mata Sapi

    di balik tudung tersaji
    seakan menyapa
    “lihatlah aku sekarang”
    siap menghilangkan lapar

    kabarmu masih kutanyakan
    ; sapi siapa ?
    masih ada kamu disini
    ; mata tak pernah berkedip

    dalam lahap, ada yang bergumam
    “apa yang kau tanya belum tentu sesungguhnya ada jawaban”

    sebelum mendapatkan jawaban,
    menyimpan seribu heran

    meretas sudah pertanyaan lain
    : jalan lapar pun sirna

    itu yang tidak ternilai !

    #2022


    Kerupuk dan Satu Ikan

    dalam sepiring nasi
    mencari cara beradu lezat
    tak peduli bagaimana pun persaingan
    “jangan menambah luka pada yang sedang berjuang”

    bila diselami sejenak
    …tidak ada yang dipertaruhkan
    …tidak ada yang memenangkan

    bisa jadi mereka hanya menantang diri sendiri
    kalah dan menang adalah saksi hidup
    ; apapun hasilnya setiap peristiwa itulah kehidupan

    #2022


    Meretas Larik Kenangan

    Kita adalah kenangan
    bernaung dari masa lalu
    keriputnya adalah pikiran

    atas pertemuan atau tidak,
    sebelum kau berubah jadi kenangan
    telah kumaafkan dirimu

    atas kebersamaan atau tidak,
    sebelum bahagia itu menghilang
    telah kusimpan senyummu

    Kita tidak pernah tahu,
    sampai kapan mampu menangguhkan hari
    Menjaga tatapan waktu,
    meski sejuta misteri
    Sampai akhirnya berhenti,
    jadi cerita atau saksi
    ; selalu teraduk pagi dan sore

    maka simpan larik ini
    dan ambillah waktumu !

    #2022


    Senyuman Tua (Kabut) Pembisik Karsa

    Kabut itu mulai menyapa
    membekap koar kata
    membiaskan gelombang gema
    menggambarkan tertangkap telinga

    Kabut itu baru saja berkata
    menjepit riuh nan lena
    mengharapkan senyum jiwa
    menyambut sirnanya lara

    Wahai kabut teruslah menyangga
    menyambut lembut sang suka
    mengabaikan ragu sang duka
    mewakili pembisik penuh karsa

    Dan, ketahuilah tidak semua orang akan mengerti perjalanan kabut
    mereka hanya tahu kau terus berjalan,
    tapi tak merasakan seruanmu
    “ meski dari senyuman tua, selalu ada untuk selamanya”

    #2023


    Perempuan Berselimut Kabut

    Walaupun kabut diam, namun selalu berbisik diantara remah dalam kesaksian
    dan mnegurai dalam ketenangan

    Melihat luas samudera di kedalaman hati,
    jauh nan memancarkan keteduhan
    tak perlu dijawab, perempuan ini tahu
    yang mana hati indah atau pun sebaliknya

    Dipangkal talu berpacu kekuatan, mengubah hikmah kebaikan dibaliknya
    menghadirkan himmah dari sang pendahulu
    dalam wujud atau bayangan limpahan ruhani mengucur pada perempuan ini
    lewat dzikir nurnya tiada batas, tauhidnya tiada usai
    menjelma semesta yang tak meredup, dzikir tanpa suara
    kabutnya bertualang menuju mata rantai
    dalam damai yang selalu tersenyum

    Dalam kabut Perempuan ini, menjelma dalam kebaikan
    menebar kebaikan, berprasangka pun bersama kebaikan
    meskipun tidak diperlakukan secara baik

    Perempuan ini yakin ada yang terbuka,
    meski akhirnya setiap orang mempunyai pandangannya masing – masing
    sebelum atau sesudah Perempuan ini dihadirkan

    Perempuan ini mengarungi tapak, tanpa berhenti
    berlelah – lelah dalam kabut hanya mencari ridho-Nya
    tujuan yang pasti sampai, bagi hari baru untuk setiap napas

    #2023

    Note :
    Himmah = tekad


    Sebusur Tanya (Kabut)

    pada liris menjawab
    dari kabut yang tak menyatu

    pada sorot membuncah
    dari kabut yang tak terlihat

    ……kemana diri ini untuk ‘berpihak’

    pada angin mencari
    dari kabut yang tak biru

    pada suara memanah
    dari kabut yang tak kelabu

    …..kemana diri ini untuk ‘berpijak’

    semua merajut restu
    dalam bingkai kabut
    lalu….
    dijawab jalinan sayup perasaan masih sama
    namun tak tersimpul kata – kata
    ‘merakit harapan pasrah dan berserah’

    #2023


    Perca Pelukan

    Duhai kawan,
    bila bersemayam luka
    tak perlu digenggam
    sebab pasti akan berlalu

    Duhai teman,
    bila bersemayam pilu
    tak risau dirasa
    sebab semua akan sirna

    Dimana pun mencari
    Duhai sahabat
    semua akan terurai
    : bersama pelukan orang terkasih

    #2022


    Balak Pelukan

    : episode satu

    meski pelukan ini singkat
    namun, kenangannya tidak sesaat

    karena nyatanya pelukan itu sederhana
    mencipta laju erat
    dari orang kasih terdekat
    yang selalu melekat

    #2022


    Balak Pelukan

    : episode dua

    Ada pelukan yang meronta
    pilu tak perlu dikenang

    Semua tumbuh dalam serenata
    bersemayam pesan panjang

    Merekah hingga tua
    pelukan di ujung waktu

    ; dan kita hanyalah jiwa yang diberi akal
    tak terhenti namun harus kembali kelak

    #2022

    Penulis berasal dari Samarinda Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar diberbagai platform media daring & luring. Serta karya – karyanya masuk dalam beberapa Antologi bersama penyair Nasional & Internasional. Seperti Antologi Puisi Penyair Dunia “Wangian Kembang : Antologi Puisi Sempena Konvesyen Penyair Dunia – KONPEN” yang di gagas Persatuan Penyair Malaysia (2018), Antologi Puisi “Negeri Serumpun” Khas Sempena Pertemuan Dunia Melayu GAPENA & MBMKB (2020), “La Antologia De Poesia Cultural Argentina – Indonesia“ Antologi Puisi Budaya Argentina – Indonesia (2021). Antologi Puisi “Cakerawala Islam” MAIK – Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan –Malaysia (2022), Festival Sastra Internasional Gunung Bintan – Jazirah ( 2019,2020,2021,2022) dan HOMAGI – International Literary Magazine. Tercatat pula dibuku “Apa & Siapa Penyair Indonesia – Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017. Karya tunggalnya bertajuk “TITIK KOMA” (2021) masuk nominasi Buku Puisi Unggulan versi Penghargaan Sastra 2021 Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Adapun IG : @sultanmusa97

     

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleNafas Demokrasi
    Next Article Yang Terhempas di Titik Nadir

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.