Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Langit Hanyalah Sisa-Sisa Isyarat
    Puisi

    Langit Hanyalah Sisa-Sisa Isyarat

    Adnan Guntur9 Februari 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Langit Hanyalah Sisa-Sisa Isyarat

    langit terbakar dan gelombak hanyalah sisa-sisa isyarat yang tak terjejak dalam kelemasanmu dalam menanggapi hari-hari yang kian tanggal dan pecah menyarungkan kalimatnya seperti suara gema memantul menguraikan benang lindu dari susumu yang kusauh menuju hamparan senja yang tinggal menuju timur tanpa kabar

    Surabaya, 2024


    Kubelah Kampung Lalu Mengemasinya Dengan Perjalanan

    sunyi adalah letak paling subur yang kuerami bersama matahari, kampung kubelah lalu mengemasinya dengan perjalanan melewati berpetak-petak pengetahuan dari dagumu, matamu meredup, menit-menit mengalir, membawa kutuk yang jatuh dari kesedihanku

    kusedot genangan-genangan yang hancur tak ternamai derita atas segala tanggul memenuhi udara, tapi, kau mengencingi kerinduan, muka yang memeras hari-hariku ke dalam igauan malam dan meninggikan sepi

    kengangaan melewati rambat nyanyian tuk menelan sejarah yang telah menciumi telingamu dalam kemarau panjang, aku berdiri menuju puncak lalu memanjang mengeluarkan abad-abad yang terakhir dan terlupakan

    Surabaya, 2024


    Kegalauan Dari Nasib Dan Riwayat-Riwayat

    menahan nafas panjang, tubuhku menggeliat menghapus peluit, mengikati jiwamu, denting terpanjang yang membakar jawaban noktah-noktah lalu menyemburkannya

    isakku bergumuruh, tanganku telanjang membutakan bebayangan yang menembus rimbun mengaliri suara-suara basah dari desir tenggorokanku

    “beginilah bahasa terbutakan, melebur dan membakar para peziarah ketika menunduki batu nisan”

    kau membopong kubah dan kening hitammu mengeluarkan nanah, bau amis menguar menuju kelopak-kelopak mawar, cahaya meluruh seperti cairan membentuk dan menyangsikan kecemasan terpancar pada bintang yang menyesakan dada terselip di ujung-ujung langit

    Surabaya, 2024


    Hawu

    – untuk kawan Zarkasyi

    lumpur menghampar teriakan dari lenguh beribu pasir yang menyimpan dengung asap berkumpul menjadi batu dan terselip pada lumut kelaparanku hingga mataku menggigil membiarkan lekukan terisi penuh dengan harapan yang tak terisi lalu terbang kemana arah pergi dan terbakar oleh kematian daun-daun

    Surabaya, 2024


    Bulan Di Panggung Senja

    menggantung malam, tubuhmu adalah bulan yang putih, nama-nama mencari cerita dari sepi dalam tengkukmu, melupakan waktu dan nyanyian yang memancar seperti kematian yang terlupakan

    kota semakin padam, mati satu per satu, menunggu giliran sebagai teater yang tak pernah selesai sebab tubuhmu menggelantung tak bisa turun, waktu membeku dalam gelap, aku melihat bayanganku sendiri

    “apakah kita hanya aktor di panggung teater, yang tak pernah tahu kapan tirai akan diturunkan?

    lihatlah, tabir tergelincir pada sebuah nama yang tak berjiwa, pertunjukan tak bertepuk tangan,
    dan kematian hidup sebagai adegan yang dikenang dari sebuah pesan

    bayangku kian memanjang pada sebuah gambar dan lamunan tak mengenal suara, bayanganku kian nyata dan hidup sebagai penonton terakhir

    cerita panjang beputar di atas panggung ini, dialogku terlupakan namun hujan yang berputar atau melupakan kehadiran dan cerita seperti tidak diinginkan

    orang-orang pergi dan pulang, namun kau melingkar di kerongkonganku seperti kelahiran juga kematian dalam hening yang kian terputus

    bintang semakin sepi namun bulan menatapku seperti tidak mengenal dan tubuhmu adalah monolog panjang;
    Apakah ada yang lebih besar dari kematian yang pasti datang?

    Surabaya, 8 Desember 2024


    Kematian Yang Paling

    – Mas Yogi

    kau buka pintu, malaikat tak berubah seperti hujan, cahaya bersembunyi dibalik kamis, kesedihanku semakin pasi dan menggemetari tanganku yang lapar menghabisi malam dengan nyanyian juga tarian-tarian yang turun seperti musim

    ” kau mungkin bisa sebab disini kematian mengepul seperti asap ”

    menjelang sore tubuhmu terbuka membaca peta, mengaisi ingatan, menandai laut dan peperangan bersama tidur kematian yang paling

    Stand Up Poetry, 15 Agustus 2024


    Adnan Guntur, pria kelahiran Pandeglang. Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Sekarang berdomisili di Surabaya. Pendiri Saung Indonesia, juga aktif berkegiatan di Teater Gapus, Majelis Sastra Urban, dan Forum Studi dan Seni Sastra Luar Pagar (FS3LP). Menulis Puisi, Cerpen, dan Lakon; Kumpulan Puisinya ( Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri, Pagan Press 2022 dan Sebagai Daun yang Tak Lagi Raib Terbakar oleh Darah Api, Langgam Pustaka 2023) dan Kumpulan Lakon (Tubuh di Pukul 11.11 , Pagan Press, 2022) .

    kegalauan langit senja
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleHalaman Terakhir Sebuah Novel
    Next Article Pohon yang Tumbuh di Kepala Ibu dan Kupu-kupu Menguar dari Dada Lelaki Itu

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.