Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Pohon yang Tumbuh di Kepala Ibu dan Kupu-kupu Menguar dari Dada Lelaki Itu
    Cerita Pendek

    Pohon yang Tumbuh di Kepala Ibu dan Kupu-kupu Menguar dari Dada Lelaki Itu

    Winda Soekamto9 Februari 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Pohon yang Tumbuh di Kepala Ibu dan Kupu-kupu Menguar dari Dada Lelaki Itu

    Aku menatap nyalang di bahu perbukitan di waktu fajar. Kupetik buliran embun lalu menggelindingkannya di kantong kain warna putih pucat. Aku pun merayap bak ular yang mencicipi tanah berdebu di pinggiran hutan. “Barangkali embun-embun ini bisa membantu pohon di kepala Ibu tumbuh.”

    Sementara itu, di jalan kecil yang sempit dan lembab, di antara kandang sapi dan kambing, seorang laki-laki mengeluarkan banyak kupu-kupu dari balik dadanya dan puluhan bunga mawar merah dari kepala ketika bertemu dengan Ibu. Setiap kali. Mataku makin nyalang menyaksikan tingkah tubuh aneh itu. Bila Ibu menjauh, entah bagaimana kupu-kupu dan bunga-bunga mawar tersebut menghilang. Lalu dari mulutnya menguar cahaya coklat berbau amis.

    Aku tidak menyukainya meskipun senang melihat kupu-kupu yang indah di badannya. Ada satu kupu-kupu berwarna hitam putih bermotif aliran Kali Keluntung, tetap hinggap di pundak kirinya meski yang lain menghilang dari tubuhnya. Namun reaksi Ibu masih saja datar.

    Baginya, ia tak ingin berbagi pepohonan yang susah payah ia besarkan dengan orang lain. Cukup dirinya dan aku yang boleh menikmatinya. Pernah aku bertanya, “Mengapa tidak membiarkan hati Ibu berwarna lagi? Kenapa dibiarkan menjadi hitam putih seperti kupu-kupu yang kulihat di bahu kiri laki-laki itu?” Namun Ibu hanya tersenyum sambil berkata bahwa kelak ketika dewasa, aku akan tahu sendiri. Aku tak sabar menjadi dewasa agar bisa mengerti. Namun, apakah aku bisa tumbuh?

    Aku bingung. Mengapa sering sekali melihat tangan Ibu berubah menjadi dua sayap putih yang lebar dan berbulu tebal hanya ketika malam hari saja? Sedangkan pagi hingga petang, Ibu sibuk memunguti tanaman-tanaman kecil itu lalu memasukkan ke dalam kepalanya, sambil menekuri sebuah harapan yang hampa… Tapi Ibu tidak pernah menyerah. Kadang aku melihat tubuhnya berdarah-darah seperti bekas luka ribuan anak panah. Ibu memang wanita seribu wajah. Selamanya tak berubah. Aku sangat menyayanginya.

    Aku sering berbicara pada Malam untuk menjaga Ibu. Sebab dengan badan kekarnya, ia mampu menghabisi orang-orang jahat, dan mengusir anjing-anjing peliharaan Tuan Tanah di desa seberang. Kadang Malam terdiam, cukup lama, dalam mengiyakan setiap permintaanku. Sepertinya, dia juga punya permintaan yang enggan ia bicarakan denganku, anak yang berdiri tegak tanpa kaki yang lengkap. Aku butuh bantuan Malam agar aku bisa hidup lebih panjang. Sebab selain tak punya kaki sempurna, mataku silau menghadap sinar matahari. Aku terus memprotes Malam di antara lipatan gelapnya.

    ***

    “Apa benar Bapak sudah bahagia tanpa Ibu, Malam?” Suma bertanya. Ia masih melemparkan banyak pertanyaan lagi padahal saya sudah terlalu berat baginya. Kadang saya biarkan saja Suma melewati saya, kadang juga melarangnya. Tepat sepuluh tahun lalu, saya menjadi penyebab kematian bapaknya. Maka dari itu, saya tak menjawab pertanyaannya.

    Saya mengingat semua permintaan-permintaannya. Suma ingin melindungi ibunya dari manusia-manusia dengan banyak kotoran di kepala mereka. Ia pun ingin menjaga wanita berwajah kembang kamboja layu itu dari tangan-tangan yang ingin merenggutnya sejak sepuluh tahun lalu.

    Bagaimana saya tak mengabulkan permintaan-permintaan itu karena sayalah penyebab semua penderitaannya? Truk besar itu menggilas kakinya dan bapaknya luka parah. Sementara wanita layu itu, tidak bersama keduanya. Saya terlalu kuat memeluk area Kali Keluntung. Sehingga lampu motor tua itu tak mampu menjadi pemandu yang baik baginya. Tapi sebenarnya, penyebab utamanya bukan saya. Saya tak mau bersalah sendirian. Kelak, rahasia besar ini akan saya bentangkan lebar-lebar seperti primadani alam yang menghias wajah perbukitan ini.

    Bukan hanya itu. Saya pun menjadi saksi banyaknya kepala tanpa tubuh, dilempar ke badan kali ini, kali tak lebar, tapi bengis. Dan salah satunya adalah kakek Suma yang terfitnah–komunis. Caranya mati jauh lebih tragis dari korban-korban fitnahan lainnya. Itulah mengapa keluarga Suma menderita hingga kini. Namun, aku tahu anjing-anjing Tuan Tanah dari era sang kakek, hingga anak keturanannya, Suma. Sayalah yang akan menjembatani takdir ini. Takdir yang diciptakan oleh orang dungu.

    “Ini semua karena Bos menginginkan wanita malang itu. Andai perintah itu tak turun di malam hari.”
    “Kau menyesal karena sudah membunuh suaminya?”

    “Kalian berdua ga usah membahas masa lalu. Itu buruk.”

    “Tapi wajib diingat. Kita berempat bersalah pada nasib wanita itu. Bos menghalalkan segara cara. Namun wanita itu tetap menginginkan kesendiriannya.”

    “Ah, ini, jika bukan karena kau yang korupsi uang perkebunan, kita tidak akan terjebak pada kejahatan.”
    “Halah, kau juga ikut makan.”

    “Kalian berdua bisa berhenti ribut ga? Aku pusing ini. Pedatiku tak bisa jalan. Sapi-sapiku mulai mati satu per satu. Ini pasti karma.”

    “Kau juga. Andai kau tak ketahuan menggelapkan sebidang tanah, ga akan jadi begini. Sudah enak jadi bos peternakan malah jadi pencuri. Kau salah nyari musuh.”

    “Kok jadi nyalahin aku? Ya mana aku tahu jika sebidang tanah yang kugunakan dalam memberi makan sapi-sapiku adalah milik Tuan Tanah rakus itu?”

    “Lha terus apa?”

    “Sudah, kalian diam! Intinya kita sama-sama punya kesalahan sehingga Tuan Tanah memanfaatkannya. Daripada kita diserahkan ke penjara, sudah, lanjutkan sisa umur kita dengan hal-hal baik. Dan berhenti berbuat dosa.”
    Itulah percakapan manusia-manusia yang siap menggonggong dan menjulurkan lidah ketika tuannya memberikan perintah. Meskipun, katanya sudah tobat.

    Sementara di sisi lain, Artanti sedang bersimpuh sangat dalam di tengah ritual sembahyangnya. Ia merindukan masa bahagianya dulu. Ketika semuanya sedang berkumpul. Saya bergeming. Menyaksikan setiap tetes air matanya, mendengarkan tiap butir pinta dan doanya, adalah bentuk perhatian saya padanya. Ia bermimpi akan berkumpul dengan suami dan anaknya kelak di nirwana. Menyaksikan ini semua, saya bahkan tak mampu melipat tubuhku dengan sempurna.

    Sementara, Tuan Tanah itu duduk bersilang kaki di atas meja sambil menghisab rokok keretek mahal favoritnya.
    “Artanti… Kau ini bodoh atau bagaimana? Harusnya kau sekarang sudah bahagia menjadi istri ketigaku. Kau memang keras kepala. Andai saja kamu tahu jika aku mencintaimu lebih dulu dari suamimu yang sudah di alam baka itu, tak mungkin ada istri pertama dan kedua.”

    Saya tak yakin dengan ucapannya. Lelaki ini, makin banyak dihinggapi kupu-kupu warna-warni, keluar dari dalam dadanya yang makin membusung. Mereka beterbangan, menguar bak asap berwarna pelangi. Sementara, kupu-kupu hitam putih bercorak Kali Keluntung, tetap bertengger di bahu kirinya. Tapi, lebih mirip corak tengkorak.

    Swastamita pun menyapa. Ia berbisik bahwa waktu yang telah lama saya tunggu sudah dekat. Saya tersenyum lebar. Artinya, tugas berat di pundak akan segera ditunaikan. Saya tak kan lagi menjaga dan melindungi wanita layu itu. Sumalah yang akan menjadi pagar beton setelah hari ini.

    ***

    Aku masih menunggu Ibu bangun dari kesadaran terakhirnya—terlalu khusyuk. Sudah beberapa puluh menit, Ibu belum juga bangun. Aku mulai khawatir. Sudah lama sekali aku duduk di samping Ibu, tapi… Ibu belum juga mampu menatapku.

    “Suma, kau cemas, ya? Ibu di sini, Nak.”

    “Ah, Ibu. Ibu membuat Suma takut. Suma sangat lapar. Sangat lapar.”

    “Ke sinilah. Peluk Ibu.”

    Aku beringsut perlahan mendekati Ibu. Dan pelukan ini—pada seorang anak kecil yang tak pernah bisa tumbuh, adalah pelukan terhangat, sebelum pelukan terakhir itu aku rasakan, sebelum Ibu sibuk memunguti pohon-pohon kecil, dan meletakkan mereka ke dalam kepalanya.

    “Ibu sengaja merawat pohon-pohon ini, agar kelak bisa menghidupi kita, bisa menjadi pengayom kita. Dan kepala Ibu akan selamanya menjadi lahan subur untuk mereka. Kau bisa leluasa bermain ayunan di pohon, dan memanjatnya nanti. Di antara awan pada pagi hari dan di tengah bintang di belantara langit Malam. Hormati dirinya. Dia teman Ibu, teman kita.”

    “Memanjat? Bukannya kedua kaki Suma pergi berlari mengejar Bapak? Tapi, Malam bilang, suatu hari, aku akan bisa berlari kembali,” ucapku berseri.

    “Sayang, tak lama, kau akan punya kaki. Dan bermain dengan pohon-pohon itu. Tunggu sebentar lagi. Mereka itu akan segera menjadi sebuah pohon besar.”

    Wah, benar …!

    Pohon besar itu akan segera tumbuh meninggi. Tunas-tunas kecil pun bermunculan. Namun, aku jadi khawatir.

    “Ibu, tidak apa-apa jika ada pohon yang tumbuh di kepala Ibu? Apa tidak berat?” Ibu terlihat menggeleng.

    “Lalu bagaimana dengan laki-laki itu? Laki-laki yang mengeluarkan banyak kupu-kupu dari dalam dadanya, dan seekor kupu-kupu putih hitam bercorak Kali Keluntung. Kemudian banyak bunga mawar keluar dari kepalanya, lalu tiba-tiba kupu-kupu itu hilang, berganti dengan cahaya coklat yang bau, keluar dari mulutnya.” Sekali lagi, Ibu hanya tersenyum mendengar celotehku.

    “Dia bukan laki-laki. Jangan tertipu. Hanya bayangan dari potongan lembah di kaki bukit milik bapakmu dulu. Dia telah mengambil hak Ibu atas bapakmu, lalu mengambil paksa Bapak dari Ibu, dan tak pernah mengembalikannya. Begitu juga dengan kakekmu. Lelaki tua itu sudah tidak akan pernah mengganggu Ibu lagi. Karena pohon ini telah tumbuh.”

    Bayangan dari potongan lembah di kaki bukit jahat itu beserta makhluk-makhluk yang suka menggonggong di malam hari pasti akan segera menemui karma. Malam akan segera meringkus mereka tanpa ampun. Ia terbang melesat, menghardik batin-batin lemah berselimut kegelapan, kemudian menelan mereka, dan melumat di batang temboloknya.

    “Kenapa kalau sudah tumbuh, Bu?”

    “Maka, nanti akan kita tanam di tempat Bapak. Lalu kita bermain bersama.”

    “Apakah Bapak bahagia tanpa Ibu?”

    Ibu tersenyum lagi.

    “Tentu saja. Bapak bahagia menunggu kita. Dan nanti, kita akan menyusul Bapak di sana.” Pohon di kepala Ibu makin tumbuh tinggi.

    “Sudah waktunya, Sayang. Kita pulang. Kita temui Bapak.”

    “Asyiiiikk …. Kenapa Ibu baru menepati janji untuk membawaku ke Bapak? Aku sudah menunggu lama sekali. Dan aku akan makan enak di sana. Aku sudah sangat lapar. Lapar sekali, Ibu.”

    “Itu karena Ibu menunggu waktu untuk bisa melihatmu seperti sekarang. Ibu tahu kau tak pernah pergi karena sebuah janji, tapi Ibu tak mampu melihatmu.”

    “Mata Ibu tertutup biji-bijian itu.”

    Ibu tersenyum lagi mendengar kata-kataku.

    “Ayo, Bapak sudah menunggu kita dan pohon ini.”

    Malam membentangkan sayapnya. Ia memeluk kami. Aku tak kedinginan lagi dan Ibu tak sempoyongan membawa pohon yang berat itu. Ibu menggandeng tanganku yang pucat pasi karena terlalu lama menentang dingin dan lapar. Kepala Ibu masih terhuyung. Pohon itu sudah tinggi dan mulai berbuah. Kami membawanya menuju tempat Bapak di ujung tempat sana, memanjang, dan bercahaya. Lalu orang-orang dungu dan serakah itu telah musnah rata dengan tanah.


    Selain mencintai dunia sastra dan pendidikan, perempuan yang memiliki nama asli Winda Sulistyoningsih ini aktif di bidang sosial, seni budaya, dan UMKM. Founder “Yuk Nulis Sidoarjo” ini juga produktif dalam menulis cerpen, artikel, puisi, novel, terutama buku-buku non-fiksi.

     

     

     

    fajar kupu-kupu
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleLangit Hanyalah Sisa-Sisa Isyarat
    Next Article Apa Hukum Mendengar Musik?

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.