Guru-guru umum dan guru-guru diniyah di pesantren Al-kahfi berkumpul di lobby, diikuti langsung pendiri pondok Syekh Junaidi. Ia yang berjubah putih memakai serban hijau duduk di kursi depan, memutar-mutar tasbih, bibirnya komat-kamit berselawat. Matanya yang tajam melirik kiri kanan. Kitab Ianatut Tholibin jilid 2 yang ia pegang baru saja ia letak di atas meja. Ia sering bawa kitab ke mana pun ia pergi. Pertemuan kali ini dengan guru-guru setelah ia pulang dari Mekah beberapa hari yang lalu karena ada urusan penting, bukan karena mengadakan pengajian kitab kuning, tapi diskusi saling tukar pikiran.
“Sudah satu bulan, baru kita bertemu kembali. Mudah-mudahan selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT untuk kita semua.”
“Amin,” jawab guru-guru serentak.
“Apa kira-kira yang perlu kita evaluasi untuk perbaikan pondok pesantren ini?,” suara Syekh begitu lembut menunggu masukan dari guru-guru, seseorang mengacungkan tangan tingi-tinggi.
“Silakan Ustaz Dahrial,” Syekh Junaidi mempersilakan. Uastaz Dahrial mengomentari mengenai kegiatan senam yang dilaksanakan santri setiap Rabu pagi. Ia bilang tidak suka dengan musiknya yang berdentum-dentum itu. Sebelum Syekh Juanaidi mempersilakan yang lain menanggapi, ada yang menyambut langsung, ia yang duduk di bibir pintu tak mengacungkan tangan seperti guru diniyah itu. Ia minta izin berdiri untuk menyanggah.
“Saya rasa tidak apa-apa kalau dihidupkan musik waktu santri senam, kalau ada yang merasa terganggu bisa dikecilkan volumenya nanti. Lagian musiknya kan musik yang mendidik, lagu-lagu perjuangan untuk membangkitkan semangat bangsa, bukan musik yang berujung fitnah,” nama lelaki yang berbicara itu Adreza, lelaki bertubuh kecil. Kawan-kawannya di sekolah memanggilnya dengan sebutan Luncong. Ia dari guru umum yang sering berbeda pandangan dengan guru-guru diniyah, yang menyebabkan mereka saling berbenturan gara-gara beda pendapat.
“Saya tetap tidak suka. Lagian musik itu bisa menggaganggu konsentrasi santri belajar. Begitu pula mereka yang mendengar bisa menghilangkan hafalan qurannya,” masih guru diniah itu yang berkoar.
“Kita kan melakukan senam seminggu sekali dengan santri, pas jam masih kosong. Jadi tidak menganggu konsentrasi belajar mereka. Lagian banyak orang yang belajar sambil mendengar musik.”
“Apa kalian tidak tahu musik itu haram, sebenarnya saya ingin mengatakan itu,” guru diniyah itu membesarkan volume suaranya di depan Syekh. Ia yakin Adreza yang ia hadapi sebagai guru umum buta pengetahuannya mengenai agama. Syekh Juaniadi yang melihat hanya tersenyum, dan ia tak memberi komentar apa pun, apalagi membela salah seorang dari mereka. Ia yakin, soal yang satu ini ia percayakan pada mereka bisa menyelesaikan sendiri permaslahan itu. Ia sengaja membiarkannya, ada saatnya nanti ia jadi penengah.
“Saya tahu musik itu haram, kalau membawa kita pada jalan setan. Menururt penelitian, mendengar musik yang baik, bisa mendatangkan nilai positif. Musik itu juga salah satu seni yang mendatangkan nilai estetis. Kalau musik yang baik, syair-syairnya juga mendidik, apasalahnya didengarkan,” guru diniah itu mengangguk-angguk seolah setuju, tapi hatinya melawan keras pernyataan itu.
“Kalian tahu tidak, alat musik itu saja haram, sama dengan suara perempuan,” semua yang hadir tertawa kecil. Syekh Juanaidi tersenyum-senyum menutup mulut. Ustaz Dahrial semakin panas.
“Itu kamu yang bilang, bukan kitab suci kan? Coba pelajari lagi baik-baik, agar jangan gagal paham. Kamu kan lulusan pesantren, tahu kitab Arrudud, coba lihat di situ apakah suara perempuan itu haram atau tidak? Lihat juga kitab-kitab lain sekadar menambah wawasanmu, musik seperti apa yang diharamkan itu.” Hati guru diniyah itu semakin mendidih. Ia merasa lawannya berdebat bukan orang awam, walaupun guru umum. Ia tidak tahu Adreza 7 tahun di pondok, cuma setelah lulus ia masuk perguruan tinggi mengambil jurusan umum. Ia juga bilang pada guru Diniyah itu, Jalaluddin Rumi, seorang sufi terkemuka, pernah memberikan wejangan pada orang-orang yang ribut tentang hukum musik, musik yang haram adalah suara sendok dan garpu yang berdenting ketika kita makan, sementara perut tetangga yang kelaparan berbunyi minta diisi. Guru Diniyah semakin tidak berani, ia saja belum pernah dengar cerita itu, ia juga tak berani menuduh Adreza mengada-ada. Ia yang merunduk kesal sudah tak bersuara. Akhirnya Syekh Juanaidi mendamaikan kedua orang itu, permasalahan tentang musik pun kelar.
“Apa ada lagi yang perlu kita diskusikan?” Tanya syekh Juanaidi sambil memutar-mutar tasbihnya. Seseorang yang duduk paling pojok, tepat dekat jendela kaca mengacungkan tangan. Kepalanya yang dari tadi tertunduk, sekarang mendongak tidak terlalu tinggi memandang lurus ke depan.
“Silakan,” syekh Juanidi menjulurkan tangannya yang memegang tasbih.
“Izin, Syekh, ini sekadar saran. Mana tahu nanti ada kesalahan dalam tutur kata saya, atau yang saya sampaikan kurang berkenan, terlebih dulu saya mohon maaf.”
“Dimaafkan,” cepat syekh Junaidi menyambut pernyataan karyawannya itu, yang disambut tawa guru-guru lain. Walaupun ia pendiri pondok, tapi ia bukan orang sombong dan arogan, ia sangat menghargai pendapat orang lain, dan membutuhkan opini yang mengalir deras dari kepala guru-guru.
“Saya lihat, Syekh membangun beberapa kelas baru di putra dan juga di putri,” Syekh mengangguk, ia yang duduk santai setia menunggu apa yang akan disampaiakan.
“Jadi alangkah baiknya, Syekh, kalau sebagaian kita gabung saja santri putra dan putri.” Saran itu seperti petir yang menusuk jantung pendengar. Syekh Junaidi juga hampir marah, tapi ia singkirkan dengan mengucapkan istigfar. Apalagi guru itu sudah meminta maaf terlebih dulu, ia merasa tidak ada hak untuk marah. Pasti ada alasan Helvinaldo menyampaikan itu. Seharusnya Syekh Juanidi senang ada guru umum pemberani mantan wartawan mengajar di pondok yang ia dirikan.
“Apa alasan ustaz menyampaikan itu?,” kali ini suasana begitu tegang, tidak ada lagi suara tawa.
Helvinaldo menjawab tegas, kata-katanya menandakan ia berani menagggung risiko atas apa yang ia ucapkan, termasuk jika dipecat. Ia memaparkan opininya, karena ia yakin suatu saat nanti banyak pesantren, putra putri dijadikan satu kelas dengan alasan yang tidak menyimpang dari fitrah. Ia sampaikan juga, kalau putra dan putri tidak dipisah, terjadi pemborosan biaya. Ia yang pernah melihat sendiri data itu, begitu banyak santri putri yang mendaftar, tapi terpaksa tidak diluluskan dengan berbagai pertimbangan yang matang, salah satu di antaranya dengan ruang kelas yang tidak cukup menampung mereka. Sementara ada beberpa ruang kelas di putra masih ada yang kosong. Apasalahnya ditarik beberapa kelas santri putri ke situ daripada tidak diluluskan sama sekali.
“Menurut hemat saya, Syekh, ada keuntungan sendiri, kalau santri putra satu kelas dengan putri.
“Apa keuntungannya?,” Syekh langsung bertanya.
“Santri putra, tidak bebas tidur di kelas seperti yang sering kami jumpai para guru-guru ketika mengajar. Mereka pasti malu karena adanya santri putri, apalagi yang putri.”
“Bagaimana kalau tidak berhasil. Di sekolah umum banyak laki-laki tidur. Mereka tidak malu pada perempuan-perempuan yang satu kelas dengan mereka.”
“Bedalah, Syekh, kalau di pesantren insaalah itu tidak akan terjadi, karena ada aura pesantren yang terus bersinar tidak pernah redup yang tidak dimiliki sekolah lain, sebutlah semacam ciri khasnya sendiri gitu.”
“Bagaimana kalau moderatnya lebih banyak ketimbang manfaatnya? Misalnya ketika belajar mereka saling pandang, terjadi zina mata. Atau nanti semakin mudah mereka saling berkirim surat,” sepertinya Syekh sekadar ingin menguji pengetahuan anak muda itu.
“Tentu kita semua yang bertugas membentengi itu, Syekh, bukan tugas pengawas saja. Atau misalnya di dalam kelas dibuat tirai pembatas antara laki-laki dan perempuan. Terus dibuat jalan khusus untuk santri putri yang tidak boleh dilewati santri putra, jadi semakin tenang santri putri datang menuju kelas, dan waktu pulang ke asrama, tidak merasa terganggu sama sekali.”
“Kalu dibuat tirai pembatas, berarti gugur dong manfaat yang tadi?”
“Maksudnya, Syekh?” Helvinaldo tak mengerti.
“Ustaz bilang tadi, salah satu manfaatnya santri putra dan putri kalau dijadikan satu kelas, santri putra tidak mudah tidur, ia malu dilihatin santri putri. Kalau dibuat tirai, tentu ngak kelihatan lagi, otomatis dia pasti ketiduran juga waktu belajar.”
“Helvinaldo tersenyum, ia yang banyak akal, dan ide-ide cemerlang tak mati kutu.
“Tinggal disorakin aja, Syekh, atau sebut namanya. Kalau perlu bilang air liurnya jatuh. Biar ia malu dan jera dengan kelakuannya karena malu sama santri putri.” Syekh mengerjabkan mata sesaat memikirkan itu.
* * *
Empat bulan setelah saran Helvinaldo dipraktikkan Syekh Junaidi. Banyak pandangan miring, dan ucapan-ucapan kasar silih berganti berdatangan dari luar pesantren. Mereka bilang pesantren Al-kahfi sesat. Akhirnya Helvinaldo dipanggil ke ruangan Syekh.
“Sudah dapat informasi, Ustaz, apa kata mereka di luar sana tentang pesantren kita?” Helvinaldo mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Melihat Helvinaldo diam, Syekh Juanaidi berucap lagi,
“Coba kamu tanggapi masalah ini, aku ingin dengar pendapatmu,” seperti biasa Syekh Junaidi duduk memutar tasbihnya, ia yang berduskusi dengan salah seorang guru itu menyelang-nyelingi diskusinya dengan memperbanyak membaca selawat.
“Selama kita berada di jalan yang benar, dan tidak melanggar sariat, saya yakin Tuhan menolong kita, Syekh,” kalimat itu membuat Syekh Juanaidi merenung.
“Bagaimana nanti kalau gara-gara ini, santri tidak ada lagi yang mendaftar? Atau mungkin bisa saja karena kita dibilang pesantren sesat, ada wali santri yang berhasil dikelabui di luar sana, akhirnya ia memindahkan anaknya ke sekolah lain? Padahal tujuan kita membuat ini semua, supaya jumlah santri lebih banyak di pesantren ini.”
Helvinaldo menarik napas, lalau membuangnya cepat. Lama ia terbisu. Sejurus kemudian,
“Izinkan saya, Syekh, berpikir beberapa hari untuk menjawab pertanyaan Syekh nanti.” Syekh Juanaidi mengangguk-angguk tanpa suara.
Depri Ajopan, lahir di Desa Lubuk Gobing, Sumatera Barat, 07 Desember 1989. Lulusan Universitas Negeri Padang. Prodi Sastra Indonesia. Karya-karyanya dimuat di Koran Tempo, Singgalang, Riau Pos, Jawa Pos Radar Banyuwangi, Koran Merapi, Pontianak Post, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Sinar Indonesia Baru, Jawa Pos Radar Lawu, Lensasastra.id, Langgampustaka.com, tatkala.co, Kurungbuka.com, dll. Buku Novelnya Amelia (Stiletto Book, Yogyakarta, 2016) Aura Seorang Perempuan Pelacur (Guepedia, Bogor, 2021) Pengakuan Seorang Novelis (Hyang Pustaka, Cirebon, 2024). Penulis anggota Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau.


