Di padang rumput tak bertuan
Ia meringkik di antara kuda betina
ekornya dikibaskan menebar pesona
diangkatnya kedua kakinya sambil berpuisi
matanya merah nyalang menantang
luka dan perih ia hadang
karena hidup ini baginya
mendatangi kematian
kehidupan adalah hari ini
ditinggalkannya masa lalu yang beku
dan ia mengucap dengan daya pukau yang baru
dan kita mengeja dengan gagu
Perjalanannya terhenti di tengah hari
ringkiknya terdengar hingga senja hari
gemanya bergaung hingga malam
esok hari hingga nanti
2025
Penjelajah Kata
Kecintaanmu pada kata-kata
membuatmu mengembara hingga ke Jawa
menggelandang di ibukota
menjadi saksi Syahrir, Hatta, Soekarno
Menyiapkan Indonesia merdeka
“Ayo Bung” sebuah poster mengabadikan kata kata darimu
Kebebasan kau jalani dalam laku dan kata
menjadi orang merdeka bebas berteman pada segala
kau bercengkerama dengan pelacur dan gelandangan
tapi tak kaku berdiskusi dengan para cendekia
Cintamu kau sandarkan di pelabuhan kecil
hatimu kering meski
kau basahi dengan keringat di gerbong murahan
Siapakah perempuan Mirat?
hingga kau menjadi penjelajah cinta
lalu setiap serapah dan ratap
menjadi sajak
membuatmu ingin lebih panjang
meski kau sandang pedih dan perih
kepahitan yang kau nikmati
menjelma puisi yang tak pernah mati
bagimu tiap frasa dan kata kau rangkai
hanya cara untuk menunda kekalahan. Lunglai.
2025
Si Mata Merah Menyala
Setiap kata yang kau ucap seolah bernyawa
hadir nyata di setiap pendengarnya
laksana baru kau temukan
dari berjuta bacaan yang kau telan
Mata merah menyala menyisir malam
dari gerbong picisan
menghayati gejolak hidup kaum terbuang
Ia tidak flamboyan sebagaimana burung merak
sajak lebih memikatnya daripada Harta
berlaku bohemian agar tak terjerat kemiskinan
datang dan pergi sesuka hati
pada kawannya ia hanya membawa puisi
itulah hartanya yang sejati
Kehidupan yang tak berpihak padanya
ia siasati dengan menggauli kata kata
2025
Hikayat Sebatang Bambu
di rimbun sudut tegalan
keteduhan kau persembahkan
berayun bersama irama angin
gemerisik daun-daun menyapu lelah petani
dan tiba tiba lautan menarikmu
dicabutnya dari tempat kelahiranmu
berbatang-batang lunglai ditebas keserakahan
ditancapkan pada garis pantai tak bertuan
Kamu yang dulu dipuja
kini menjadi sasaran serapah
menjadi martir
menjadi batas
menjadi tanda
antara di sini dan di sana
adalah ruang khayal perbedaan
si kaya dan si miskin
kamu menghitam di lautan
hijaumu luruh oleh kerakusan
berjajar-jajar namun didekap kesepian
tanpa rimbun dan tak punya perasaan.
Paciran, Lamongan 2025
Pagar Khayal
melihat barisan bambu di pantai
nelayan bertanya, itu bambu ditanam untuk apa
tak akan tumbuh sebuah bambu
menjadi rimbun menghijau
karena ia bukan tanaman bakau
ketololan itu, siapakah pelakunya?
melihat barisan bambu di pantai
perahu terhalang menuju lautan
sejauh mata memandang adalah penghalang
pagar khayal panjang membentang
ini lautan siapa punya
hatinya bertanya
membentur batu karang
melihat barisan bambu di pantai
merasakan keserakahan yang pongah
uang menjadi raja di meja penguasa
para keparat takluk sempurna
menghamba pada cukong berperut buncit
sementara anak anak pantai menjerit
dipagari nasibnya
menciut
kehilangan mata pencahariannya.
Paciran, Lamongan 2025
Penulis lahir di desa nelayan, Paciran, di pesisir utara Kabupaten Lamongan, 17 November 1975. Puisi dan Guritnya tersebar di Kompas.id, KBAnews.com, Bali Post, Radar Bojonegoro (jawa Pos grup), Balai Bahasa Jawa timur dan di pustaka ekspresi.com, Panyebar semangat, Jaya baya, dan Djaka lodang. Dan Solo Pos. Tahun 2019 meluncurkan Antologi cerpen Muson diterbitkasn Boenga Ketjil Jombang dan sebuah antologi puisi, Muasal Puisi, Oleh Pustaka Ilalang di tahun 2020.


