Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Janji di Peron Tua
    Cerita Pendek

    Janji di Peron Tua

    Shafa Citra25 Mei 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Janji di Peron Tua

    Selamat berpisah kenangan bercinta
    Sampai kapankah jadinya
    Aku harus menunggu
    Hari bahagia seperti dulu

    Hujan turun dengan ringan, nyaris ritmis seperti gerimis, ketika Darma sampai di stasiun yang sudah lama tak melayani penumpang itu. Jam di atas loket tiket berhenti pukul tiga lewat dua belas. Seolah waktu memang sengaja membeku di sana –bersama peron, bangku-bangku besi yang sebagian dudukannya berkarat, dan papan petunjuk arah yang pudar.

    Ia dalam diam, duduk di bangku yang sama, bangku yang tiga puluh lima tahun lalu menjadi saksi bisu janji yang tak pernah ditepati. Di sakunya, sebuah surat yang telah lusuh dimakan waktu. Lelaki itu bahkan sudah hapal tiap katanya.

    “Tunggulah aku di tanggal 17 Agustus. Di peron nomor empat. Di bangku yang pernah kita duduki diam-diam, sayangku, seolah dunia bisa kita tahan dengan tenang. Aku akan pulang.”

    – Perempuanmu, Laras

    Itu surat terakhir dari Laras. Setelahnya hanya diam. Tidak ada kabar dan tidak ada alasan. Dan kereta yang datang setiap tanggal 17 Agustus sore hari, membawa siapa pun kembali kecuali perempuan itu.

    Selama tiga dekade lebih, setiap tahun, tentu saja Darma datang ke peron nomor empat itu. Tanggal 17, bulan Agustus. Bukan karena nasionalisme, tapi karena janji yang belum selesai. Ia tidak pernah menikah. Hidupnya diisi menjadi guru sejarah SMA di kota kecil di selatan Jawa Timur. Murid-muridnya mengenalnya sebagai guru yang sabar, suka bercerita, dan kadang terlalu larut membahas peristiwa masa lalu.

    “Sejarah, anak-anakku, adalah tentang orang-orang yang tak akan pernah kembali,” katanya sekali waktu, “tapi mereka tetap hidup, karena ada yang mengingat.”

    Perempuan itu adalah satu-satunya perempuan paling keras kepala yang ia kenal. Dan karena itulah ia mencintainya. Laras suka menulis lirik lagu dan menempelkan kutipan asing di halaman belakang buku catatan: Camus, Sylvia Path, dan Jane Austen. Mereka bertemu di ruang baca, jadi teman diskusi sastra, lalu pelan-pelan saling menautkan cinta.

    Bagaimana pun cinta mereka, saat itu, adalah cinta yang sederhana: bertukar surat, saling melempar senyum, naik sepeda ke desa sebelah, dan berjanji untuk bersama meski belum tahu caranya. Sayangnya, orang tua Laras tidak setuju pada hubungan mereka. Sudah bisa ditebak, alasan klasik: status sosial, perbedaan rencana hidup.

    “Kalau nanti aku pergi,” kata Laras, “jangan berhenti menungguku.”

    “Aku pasti menunggumu,” kata Darma, “aku pasti menunggu dalam pelukanmu.”

    Selebihnya hanya ada anggukan dan genggaman tangan. Lelaki itu percaya pada seikat janji. Baginya, janji bisa memanggil kembali siapa saja, selama si penunggu cukup setia menjaga waktunya.

    Tapi Laras tidak kembali. Dan Darma, seperti merpati yang kehilangan arah angin, tetap datang ke peron nomor empat. Ia bahkan tidak tahu pasti kenapa. Mungkin karena didorong rasa ingin tahu. Mungkin karena takut lupa. Atau mungkin karena hanya itu satu-satunya yang tersisa dari angan dan masa lalunya.

    Musim berganti musim. Stasiun itu mulai terbengkalai karena pihak berwenang memutuskan untuk menutup jalur kereta di sana dan akan memindahkannya ke lokasi yang lebih strategis. Jalur rel lama mulai berkarat. Tak ada desing roda kereta. Tak ada lagi peluit panjang di sana. Tapi Darma tetap datang: duduk, diam, kemudian pulang.

    ***

    Selamat berpisah
    Kenangan cinta
    Kenangan bercinta

    Sore itu, ketika ia bersiap untuk pergi kembali ke stasiun, rumahnya diketuk. Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu. Rambutnya sebahu, wajahnya tenang setenang air kolam, kira-kira berusia dua puluh lima. Dan ada sesuatu di matanya –campuran gugup dan tekad, mata yang membuat Darma terpana.

    “Permisi… Bapak Darma?”

    Beberapa belas detik lelaki itu mematung sebelum akhirnya Darma mengangguk pelan. “Iya. Saya Darma. Ada yang bisa saya bantu?”

    Si perempuan muda menarik napas pendek. “Saya Nisa. Anak dari Laras.”

    Dunia mendadak terasa sunyi. Bahkan detak jam di ruang tamu terdengar seperti gema yang panjang. Seketika begitu banyak pertanyaan menyergap kepalanya. Badannya panas sekaligus lemas. Guna mendapatkan jawaban, Darma meminta perempuan muda itu masuk.

    Di meja tamu, Nisa meletakkan sebuah kotak kayu kecil. Tangan Darma sempat gemetar ketika membukanya. Di dalamnya, foto usang dirinya dan Laras di peron yang kerap ia kunjungi. Di baliknya, tulisan tangan yang masih dikenalnya: Aku ingin pulang. Tapi waktu menawanku. Aku bahkan tak sempat mengantarkan kata maaf padamu.

    “Ibu mengembuskan napas terakhirnya dua bulan lalu,” ujar Nisa, sejenak suaranya tertahan, “sebelum benar-benar pergi, Ibu meminta saya mencari Pak Darma. Katanya, ada seseorang yang tidak pernah, tidak akan pernah berhenti percaya padanya. Bahkan saat tubuhnya sendiri sudah menyerah.”

    Darma tenggelam dalam lubang masa lalu. Ia menatap potret foto itu lama, bibirnya bergetar seperti ada yang ingin ia ucapkan, sebelum akhirnya mengangguk kecil.

    “Terima kasih, Nisa. Karena kedatanganmu, aku tahu ia tidak benar-benar pergi.”

    Ia tak tanya siapa ayah Nisa. Tak juga bertanya di mana mereka tinggal selama ini. Penjelasan, baginya, kadang justru akan menyakitkan. Ia cukup tahu: Laras mengingat juga dirinya, sebagaimana ia mengingat Laras.

    ***

    Mengering sudah bunga di pelukan
    Merpati putih berarak pulang
    Terbang menerjang badai
    Tinggi di awan
    Menghilang di langit yang hitam

    Sekarang, tanggal 17 Agustus lagi. Tanggal 17 di tahun yang kesekian. Tapi kali ini, Darma tak datang sendiri. Ia membawa dua cangkir kopi. Nisa duduk di sampingnya, mengenakan jaket hitam dan syal abu-abu. Peron itu sepi. Peron itu masih setia pada keheningannya.

    “Tempat ini seperti lupa caranya jadi hidup,” gumam Nisa, memandangi rel tua.

    “Dulu ramai,” jawab Darma. “Tiap jam ada kereta lewat. Selalu ada pelukan yang menyambut dan tentu saja ada lambaian yang mengiringi kepergian. Sekarang hanya suara angin yang lewat.”

    “Seperti orang yang ditinggal?”

    “Seperti orang yang ditinggal”

    Darma tersenyum simpul. Air matanya menetes, seperti ada kelegaan di sana. “Atau bisa lebih seperti seseorang yang tetap menunggu. Meski tahu tak ada yang datang,” lanjut lelaki tua itu.

    Diam melingkupi mereka. Hujan sudah berhenti. Udara dingin menyergap. Awan hitam masih menggantung, tapi cahaya mulai turun perlahan.

    “Bapak pernah marah sama Ibu?” tanya Nisa. Ada beban yang ingin dilepaskannya.

    Darma menatap jauh ke rel-rel yang menjulur entah ke mana. Lalu ia berkata, lirih, “Tidak, hanya rindu. Rindu yang lama. Lama sekali.”

    Dua ekor merpati putih terbang rendah, lalu naik perlahan menembus langit jingga. Sejenak, hanya suara kepak sayap yang terdengar. Darma memejamkan mata sebentar. Ada lega yang tidak bisa dijelaskan. Luka itu mungkin tidak pernah sembuh, tapi tidak lagi bernanah. Karena akhirnya, ia tahu: Perempuannya tidak lupa. Ia hanya kehabisan waktu.

    Kini bagi Darma, cinta tak butuh balasan. Ia hanya perlu diingat. Dan kadang, yang tersisa bukan rindu, tapi cara mencintai yang tak pernah menuntut kembali. Sebelum pulang, Nisa berdiri di depan bangku tua tempat mereka duduk, menatapnya lama. “Apa Bapak akan ke sini lagi tahun depan?”

    Darma diam sejenak. Lalu, tanpa mengalihkan pandangan dari langit yang mulai bersih, ia menjawab, “Mungkin tidak. Tapi kamu boleh datang kalau mau.” Beberapa detik setelahnya ia menoleh. “Merpati tidak selalu kembali. Tapi kita bisa belajar hidup dari yang pernah terbang,” kata lelaki itu, meski sebentar ia menghapus tangis.

    Terinspirasi dari lagu Merpati Putih – Chrisye, 1977


    Shafa Citra, lahir dan besar di Nganjuk 2006. Bergiat di Komunitas Rabo Sore. Saat ini tengah menempuh program studi Sastra Indonesia di Unesa. Bisa disapa melalui instagram: @citrashads

    merpati stasiun kereta api
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleAryanti, Perempuan Bermuka Rusak, dan Bunyi Gemeretak
    Next Article Kuda Liar

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.