Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Aryanti, Perempuan Bermuka Rusak, dan Bunyi Gemeretak
    Cerita Pendek

    Aryanti, Perempuan Bermuka Rusak, dan Bunyi Gemeretak

    M. Shoim Anwar18 Mei 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Aryanti, Perempuan Bermuka Rusak, dan Bunyi Gemeretak
    Aryanti, Perempuan Bermuka Rusak, dan Bunyi Gemeretak

    Pesawat  Garuda nomor penerbangan  GA-0238 mendarat  di Bandara  Ahmad Yani    pukul 16.15.  Penerbangan cuma memakan waktu sekitar satu jam lebih sepuluh menit. Sementara perjalanan dengan kereta api yang akan kutempuh butuh waktu sekitar dua kali lipatnya. Tentu saja lebih lama. Tapi ini adalah pilihan terbaik daripada naik kendaraan sendiri. Kereta akan berangkat pukul 18.38 dan tiba sekitar pukul  20.52. Kota, perumahan, jalan, dan nomor rumah Aryanti sudah ada di chat lengkap dengan Google Maps-nya.

    Sekitar lima belas menit perjalanan ke stasiun. Waktu masih cukup untuk istirahat dan makan malam. Rasanya tak ada yang lebih menarik kecuali segera bertemu dengan Aryanti di rumahnya. Sekaligus membuktikan bahwa dia benar-benar telah membeli rumah. Dia pulang duluan berapa hari yang lalu.  Baginya mungkin ini adalah investasi terbesar. Rumah yang dibeli dan ditempatinya sendiri jika pulang ke kampung halaman. Membuktikan keberhasilan saat bekerja di rantau adalah mampu membeli rumah atau tanah, sekaligus bisa jadi lambang kebanggaan keluarga. Dipakai pamer-pamer juga tak apalah.

    “Saya mau beli rumah, Papi,” katanya beberapa waktu lampau.

    “Wah hebat. Di mana?” balasku.

    “Di kota saya sana. Perumahan. Tapi uangnya kurang, Papi…,” ia merajuk sambil janggutnya ditempelkan di pundakku.

    “Rumah baru?”

    “Milik orang dijual, butuh uang cepat katanya,”  balasnya seraya ujung hidungnya di dekatkan ke pipiku. “Tapi ya itu, Papi… Uangnya kurang.”

    Aku paham benar apa yang dimaui Aryanti. Beberapa saat dia terdiam sambil jemarinya memijit-mijit lembut lengan kiriku. Hmmm…. Mungkin ini adalah nilai terbesar yang dimauinya hingga saat ini. Aku tak yakin uang yang dimiliki jumlahnya lebih besar dari kekurangannya. Bisa jadi kurangnya justru lebih besar. Tapi tak apalah, sebuah rumah di kota kecil mungkin harganya masih terjangkau.

    Sambil menunggu kereta berangkat, aku membuka-buka posisi rumah Aryanti di peta elektronik yang dikirimkan. Sebuah wilayah dataran tinggi yang terdapat bukit-bukit dengan rimbunan pohon. Tampak jalan raya antar provinsi berkelok-kelok. Ada jalan lebih kecil masuk ke arah utara. Di mulutnya terdapat pintu gerbang yang dihubungkan dengan besi melengkung warna merah muda. Peta menunjukkan bahwa jalan kecil itu adalah arah menuju perumahan Aryanti. Itulah wilayah yang akan kumasuki nanti. Jalan kecil itu menurun, kanan kirinya masih banyak yang kosong, terpetak-petak dengan ditumbuhi rumputan dan perdu-perdu. Jika diperbesar, ada beberapa pohon palem di depan pintu gerbang. Tampak pula  ilalang dan tanaman jagung.   Pohon-pohon pisang, gelodok, trembesi, waru, serta jati  tumbuh di kanan kiri jalan.

    Meski tanah  kosong masih banyak menghampar, kompleks perumahan Aryanti seperti sudah lama dibangun. Jika citra wilayah diperbesar dan didekatkan,  banyak rumah yang kondisinya harus diperbaiki, bahkan  tidak sedikit  yang benar-benar rusak. Paving block yang melapisi jalan pun banyak yang terkikis.  Nama-nama jalan diambil dari nama-nama bunga.  Untuk menuju rumah Aryanti harus melewati Jalan Bougenvil. Di sebelah kiri ada Jalan Mawar dan Jalan Asparagus. Sementara  di sebelah kanan ada Jalan Raflesia, berikutnya terpampang  nama  Jalan Sakura, lalu bercabang menjadi Jalan Sakura I dan Sakura II.  Titik koordinat rumah Aryanti ada di lokasi sebelum bercabang ini. Nomor rumahnya  sudah ratusan. Pasti posisinya agak jauh dari mulut gang. Sopir taksi tentu bisa menemukan dengan mudah.

    Malam merambat. Kereta melaju dengan cepat ke arah timur. Lampu-lampu berpendar. Rumah-rumah di sebelah kiri kereta  seperti ikut berlari ke arah belakang sana. Wilayah pantura, seperi yang sering aku lewati, masih banyak tanah-tanah kosong dan sawah. Jika siang hari, rumah-rumah dengan arsitektur tradisional tampak hampir merata sepanjang jalan, berdinding papan, genting dari puncak menurun hingga menyambung dengan teras. Puncak lebih landai dibanding joglo. Jika hujan, air dari genting akan mengalir dan jatuh di depan rumah. Mereka yang punya tinggi badan agak berlebih harus menunduk ketika akan masuk rumah.  Pintu terdapat di tengah, sebelah kiri dan kanan terdapat jendela.

    Aku tiba di rumah Aryanti  pukul 21.03. Suasana sekitar telah sepi. Pintu-pintu sebagian besar telah tertutup. Ini perumahan untuk golongan orang kebanyakan. Kulihat korden disingkap. Mungkin Aryanti mendengar deru taksi yang berhenti di depan rumah. Tak lama pintu pun dibuka sebagian. Rumah bercat hijau muda itu tampak mungil dari depan. Ada teras tambahan dari asbes hingga memakan halaman.

    “Aaah… Papi benar-benar datang,” kata Aryanti dengan nada ceria. Aku melangkah masuk. Pintu ditutup pelan. Perempuan itu memelukku  dari depan. Kedua lenganku pun melingkar ke tubuhnya. Kucium kedua pipinya. Aryanti tersenyum berseri-seri. Beberapa saat kami bersitatap sambil tetap saling memeluk.

    “Sendirian?”

    “Ya iyalah….” jawabnya manja.

    Aryanti tampak senang sekali dengan kedatanganku. Dia menawariku minum sambil mengeluarkan gelas. Pandangannya terus diarahkan padaku. Kursi dan  meja ukuran kecil, lantai warna putih, bersih, ada beberapa foto di dinding.

    “Ya  ini rumahnya, Papi,” Aryanti menegaskan.”Ini dulu milik seorang guru. Sosoran depan itu dulunya untuk ngelesi anak-anak SD dan SMP. Kamar kecil di belakang jendela depan ini dulunya untuk pracangan,” dia melanjutkan sambil membuka pintu. Tidak ada dipan di dalamnya. Ada kasur menghampar di lantai, spreinya tampak masih baru dan bersih. Aroma wangi terasa, mungkin habis diberi spray pengharum ruang.

    “Kamar satunya ada di belakang itu, sebelahnya kamar mandi. Rumahnya kecil, Papi.”

    “Syukurlah. Kecil-kecil kan milik sendiri,” aku menimpali.

    “Di sebelah kanan itu masih ada ruang kosong, Papi. Lorong memanjang untuk parkir motor dan meletakkan barang-barang.”

    Aku manggut-manggut. Kupandangi sekitar. Dinding rumah tampak agak lembab. Aryanti memandangiku. Mungkin menunggu komentarku terkait rumah ini.

    “Nanti kalau ada  uang bisa diperlebar ke kanan. Juga bisa ditingkat,” Aryanti melanjutkan sambil memandangku lagi dengan senyuman.

    “Ya, pasti bisalah.”

    “Hemmmmmm, Papi…,” perempuan itu kembali memelukku. Nada suaranya gemes dan manja.

    Aku senang dengan cara Aryanti. Dia menujukkan posisi diri apa adanya,  tidak menyimpan rasa gengsi. Rumahnya memang sederhana, tapi mungkin dirasa  cukup untuk membuatnya lebih tenang di hari tua. Pembelian pertama. Pasti sangat bermakna baginya. Ibarat naik tangga, dia sudah meninggalkan pijakannya di tanah. Mungkin dia sudah bercerita pada orang tua dan sanak kerabatnya. Orang tuanya barangkali  juga sudah cerita pada para tetangga. Tidak mustahil pakai bancaan pula sebagai ungkapan syukur. Tetangga yang baik pasti ikut senang dan memuji, sementara tetangga yang iri hati mungkin akan bergunjing macam-macam.

    Aku tidak tahu di mana rumah orang tua Aryanti. Dulu dia pernah cerita kalau ayahnya bekerja di penambangan minyak tradisional. Orang tuanya  hanya mampu menyekolahkan Aryanti hingga tamat SMA. Selepas itu Aryanti bekerja di hotel di kota kelahirannya. Perkenalannya dengan para tamu dari  Pertamina membuatnya bisa berpindah kerja ke kompleks lapangan golf milik Pertamina. Masih di kota yang sama juga. Dari sinilah pergaulannya meluas dan, katanya, banyak yang menawari kerja. Aryanti memutuskan untuk pindah kerja, meninggalkan kota kecil yang membesarkannya. Profesinya sebagai caddy golf profesional memasuki babak baru dengan mengikuti training sekitar tiga bulan. Aryanti beruntung, katanya juga, setelah training masa uji coba hanya dua minggu. Dia langsung dinyatakan lulus.  Penampilan diri mulai dibangun. “Biar kalah nasi asal jangan kalah aksi”,  itu peribahasa Manado  yang beberapa kali dikatakan Aryanti.

    Kuseruput teh hangat yang disuguhkan Aryanti. Ada brownis kukus warna coklat, jeruk santang kecil-kecil, dan apel di atas meja. Berulang perempuan itu mempersilakan aku mencicipi. Kuambil satu jeruk warna kuning itu. Perumahan ini  jauh dari pusat kota, suasana terasa sepi meski hari belum benar-benar larut. Aku berdiri dari kursi. Sedikit kusingkap  korden untuk melihat keluar. Rumah di depan itu  digunakan sebagai salon kecantikan. Dindingnya dicat warna pink sehingga berbeda dengan yang lain.

    “Di belakang deretan rumah yang di depan itu Papi, kalau pagi pemandangannya bagus sekali.”

    “Memang itu tanah kosong?”

    “Ya, kosong. Tampak sawah-sawah, hutan berwarna hijau,  dan gunung-gunung bertingkat yang indah.”

    “Seindah-indahnya gunung yang jauh, masih indah gunung yang dekat,” aku meledek.

    “Di mana itu?” Aryanti menimpali.

    “Ya, di rumah ini.”

    “Ah, Papi…,” perempuan itu  mencubit lengan kiriku.

    Terdengar bunyi-bunyi binatang di luar, mungkin berjenis-jenis serangga. Ada yang seperti berderik panjang, mendenging, bersaut-sautan, ada yang iramanya patah-patah, terdengar pula bunyi ecek-ecek mirip seperti milik para pengamen. Sesekali ada klakson di kejauhan dari jalan lintas provinsi di luar sana.

    Sepi yang alami  memang terasa karena aku telah terbiasa dengan hiruk pikuk kota besar beserta kesibukannya. Wilayah perbatasan dua provinsi ini memang sudah lama aku dengar sebagai daerah penghasil minyak bumi.  Pertamina, sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah atau negara, telah mematok wilayah-wilayah di sini untuk dieksplorasi dan dieksploitasi. Seperti juga di wilayah-wilayah lain, beberapa pemberitaan yang pernah aku baca, jangan punya bayangan penduduk di wilayah pertambangan hidupnya makmur. Mereka sangat banyak yang hidup di bawah kemiskinan. Mereka tidak sedikit yang meninggalkan kampung halaman mengadu nasib ke wilayah-wilayah yang jauh.

    Keuntungan dari hasil tambang mengalir ke pemerintah pusat, investor, pertamina, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta lembaga-lembaga di bawahnya. Makin ke bawah makin kecil. Padahal, masyarakat di daerah pertambangan akan menanggung dampak secara langsung akibat kerusakan lingkungan. Keuntungan secara personal diraup oleh para pejabat melalui pembagian dengan cara tertentu. Lihat juga gaji para komisaris dan penggedenya. Melalui jaringan politik dan kekuasaan, kekayaan negara disedot untuk mereka-mereka.   Sudah bukan rahasia jika badan usaha milik negara itu menjadi  sapi perah bagi para pejabat.  Bahkan, tanah-tanah di sekitar blok pertambangan sudah banyak yang dimiliki para pejabat dan orang kaya dari luar. Mereka telah mendapat bocoran rencana pengembangan ke depan. Tanah-tanah milik penduduk dibeli dengan perjanjian di bawah tangan untuk mengakali peraturan.  Para penduduk   hanya dijadikan atas nama, faktanya  tanah milik mereka sudah berpindah tangan.

    “Terus rumah orang tuamu di sebelah mana?”

    “Jauh, Papi. Lebih dari dua puluh kilo ke utara sana. Desa tempat penambangan  minyak tradisional.”

    “Pertamina?”

    “Dulu dikuasai Pertamina. Sekarang diserahkan ke penduduk melalui desa. Papi pernah dengar nama Teksas nggak?”

    “Teksas di Amerika?”

    “Bukan. Teksas Wonocolo. Itu nama lokasi penambangan yang dijadikan objek wisata. Tempatnya naik-turun, berbukit-bukit dikelilingi hutan jati.”

    “Wah, kamu anak juragan minyak,” aku menggoda.

    “Bukan, Papi. Kan saya udah pernah cerita.  Bapak itu hanya bekerja ikut orang. Sumur-sumur tua tinggalan Belanda itu sudah ada yang menguasai. Kayak dikontrak gitu lo, Papi. Kalau kandungan minyaknya besar ya untung, tapi kalau sedikit ya rugi. Tiwas ngebor. Rugi tenaga dan bahan bakar yang dipakai menyalakan mesin. Itu belum kalau ngebor  membuat sumur baru. Kalau gak ada minyaknya malah rugi lagi.  Makin lama kandungan minyaknya makin kecil. Sumur-sumurnya makin banyak dan berdekatan.  Banyak sekali keluarga yang menggantungkan hidup pada sumur-sumur tua itu.  Makanya desa itu sekarang dijadikan tempat wisata juga. Agar  warga ada penghasilan lain. Rombongan yang ke sana harus mencarter  jip khusus.”

    Hari merambat makin malam. Suasana makin sepi. Suara-suara binatang malam makin jelas terdengar.  Meski terasa sepi,  sebenarnya aku merasa agak kurang nyaman di sini.  Aku terbiasa tidur di hotel kota besar   dan merasa nyaman,  tentu juga merasa aman, tapi di sini kawatir ada orang di luar rumah. Sangat mungkin  ada yang tahu saat aku turun dari taksi dan masuk ke rumah Aryanti.  Bisa jadi ada yang mengendap-endap di kegelapan, mengintip di celah-celah pintu atau jendela. Walau merasa senang bisa datang ke rumah ini, dari tadi aku merasa tidak leluasa menghadapi Aryanti. Cerita-cerita tentang tamu “ditangkep hansip”, “digerebek orang kampung”, “dikeler warga” karena dia bermalam di rumah perempuan tanpa izin. Pada umumnya mereka yang hidup di perumahan memang tidak terlalu peduli dengan tetangga, tapi ini termasuk kecamatan di kota kecil, jangan-jangan mereka malah sudah guyup dan selalu peduli  dengan situasi sekitarnya.

    “Papi nanti tidur di sini, ya,” kata Aryanti sambil membenahi bantal di atas kasur, dikencangkan spreinya, dan dibersihkan lagi dengan penebah dari  sapu lidi.

    “Saya mau tidur di hotel,” jawabku.

    “Ah Papi…?” Aryanti  terhenyak. Lenganku dipegangnya. Wajahku ditatapnya. Sambil memelukku dia kembali berujar, “Jangan tidur di hotel, Papi….”

    “Kenapa?”

    “Sudah malam dan jauh tempatnya….” dia merapatkan tubuhnya. Aku dipeluknya  makin rapat sambil mendongak.

    “Kamu tidur di mana?” kutatap dia, tahu bahwa di rumah ini ada dua ruang tidur.

    “Ya, di rumah ini, Papi.”

    Aku tidak melanjutkan  percakapan soal tidur. Aryanti duduk, di depannya ada meja kecil yang tersambung dengan cermin. Dia membuka tas  berbentuk kotak. Ada berbagai macam isinya: berupa tube, stoples kecil, tabung,  botol, compacts, penyemprot, serta kuas kecil . Pasti ini untuk skincare dan kosmetik.  Perempuan itu menghentikan tangannya, lalu menatapku beberapa saat sambil tersenyum. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.

    “Apa?” aku  membuka.

    “Rasanya sudah ketat,” katanya sambil memijit-mijit pipi dengan telunjuk. “Enaknya dibersihkan apa nggak ya?”  lanjutnya.

    Aku paham, menjelang tidur  perempuan umumnya membersihkan wajahnya. Perawatan rutin itu akan dilakukan oleh perempuan yang peduli dengan penampilannya.  Kulit wajah menjadi prioritas.  Skincare dan kosmetik sebagian besar juga untuk area wajah. Jangan heran jika banyak perempuan kulit wajahnya tampak putih, terkesan seperti lebam dan pori-porinya membesar,  tapi punggung tangan, lengannya, dan lehernya  berwarna coklat.  Perempuan  di negeri ini, yang umumnya berkulit sawo matang, sangat ingin memiliki kulit putih merona. Iklan kecantikan  selalu memojokkan perempuan berkulit coklat, sawo matang, dan hitam  dengan berbagai cara yang persuatif. Kata-kata whitening, glowing, brightening, dan lightening selalu dikedepankan pada kemasan dan iklan kecantikan. Sang model berkulit putih ditonjolkan, menjadi pusat perhatian, sementara yang berkulit coklat, sawo matang, dan hitam dibuat takjub, lalu  cemas, iri, serta menyesali warna kulitnya. Pada situasi rendah diri inilah skincare dan kosmetik ditawarkan agar bisa berpenampilan seperti si model.  Perempuan-perempuan yang telah terjajah kesadarannya akan menjadi konsumen industri alat kecantikan.  Kapitalisme mengubah gaya hidup perempuan menjadi kemaruk  dengan warna kulit yang putih. Jika ada teman yang  kulit wajahnya menjadi putih lebih cepat, para perempuan lain akan bertanya, “Kamu perawatan di mana?”,  “Kamu pakai apa?”, dan seterusnya dan seterusnya.

    Tiba-tiba  aku teringat si Wiwit, perempuan bagian bersih-bersih di kantor. Sudah beberapa tahun dia bekerja di kantor kami.  Aku paham betul warna kulitnya sawo matang. Suatu hari aku melihat warna kulit wajahnya berubah kemerahan, tidak seperti biasanya. Beberapa hari setelahnya kulit itu  tampak gosong dan mau mengelupas. Esoknya dia izin tidak masuk dengan alasan sakit. Kata temannya, kulit wajah Wiwit mengelupas. Aku bayangkan dia seperti ular yang berganti kulit. Konon dia memakai kosmetik pemutih wajah.  Pikirku, pastilah ini kosmetik yang  mengandung merkuri. Kabarnya, banyak dokter  praktik yang menjual kosmetik tanpa merek, bisa membuat wajah cepat putih, serta harganya lebih murah. Mungkin kosmetik jenis itu yang dipakai Wiwit.

    Aku melihat perubahan perilaku Wiwit. Dia tampak kemayu. Wajahnya masih  kemerahan setelah berganti kulit. Memang beberapa waktu setelah itu menjadi  putih secara instan. Tapi, karena aslinya berwarna sawo matang, lama-lama  kulit wajahnya kembali seperti  asal, bahkan bertambah hitam saat terpapar matahari, muncul flek  hitam dan jaringan parut.  Wiwit adalah model perempuan yang ingin punya kulit putih secara mendadak, korban dari rasa rendah diri karena kolonialisme rasial oleh industri yang kapitalistik. Jika punya cukup uang, perempuan yang rendah diri ini akan membongkar pipinya, bibirnya, matanya, dan hidungnya agar tampak mancung seperti bule. Jika mereka ditanya “Mengapa ingin menikah dengan lelaki bule?”, jawabnya hampir pasti “Ingin memperbaiki keturunan.”  Rasa rendah diri yang sangat akut.

    Aryanti  masih melihat ke arahku. Kulit wajahnya  memang tampak jauh lebih putih dibanding leher dan pergelangan tangannya. Dia merupakan bagian dari perempuan yang  ingin punya kulit wajah lebih putih. Sekarang aku lebih paham bahwa piranti kecantikan di depannya itulah yang diyakini bisa mengubah penampilan. Tampaknya juga bukan produk  yang murah.

    “Dibersihkan apa nggak, Papi?” dia minta persetujuanku.

    “Kalo  memang sudah waktunya, ya dibersihkan.”

    Meski mulanya agak ragu, Aryanti akhirnya membersihkan wajahnya juga. Dia mengoleskan krim ke dahi, kedua pipi, hidung, dan bawah bibir. Krim lunak  seperti susu itu diratakan dengan jari ke seluruh wajah, diputar-putar dengan pelan, lalu disaput dengan kapas. Aku memandangi di sampingnya sambil duduk di bibir dipan. Sesekali dia melirik ke arahku sambil tersenyum. Sisa-sisa kosmetik di wajahnya sudah tak ada. Permukaan kulit wajahnya lebih jelas. Pori-pori yang tadi tertutup kosmetik makin tampak.

    “Sudah selesai?” aku pandangi dia dari tadi.

    “Belum, Papi…. Mestinya pakai masker bengkowang dulu, dioleskan secara merata. Tapi sekarang nggak usahlah.”

    “Kenapa?”

    “Terlalu lama. Harus nunggu sampai kering dulu. Bisa sampai tiga puluh menitan. Cukup dipakai dua kali seminggu. Sekarang pakai ini saja.”

    Aryanti meneteskan cairan dari botol ke telapak tangan, lalu diusapkan ke wajah dengan gerakan memijat secara lembut, dimulai dari tengah, lalu naik perlahan  secara merata. Matanya dipejamkan. Sepertinya dia menikmati betul adegan itu.

    “Biar apa gitu?” aku memancing, pura-pura tidak mengerti.

    “Ini namanya serum, Papi. Biar meresap harus dibeginikan. Tunggu sekitar lima sampai  sepuluh menit. Biar aliran darahnya  lancar untuk  regenerasi sel.”

    Aku melihat ke arah pintu. Sepertinya ada yang berkelebat ke arah belakang. Spontan aku terhenyak. Sosok itu terlihat melintas, tapi tak menampakkan wajahnya. Tadi Aryanti bilang kalau di rumah ini sendirian. Dan memang aku sempat melihat-lihat seluruh ruang rumah. Juga  tak ada orang lain. Aku  penasaran dengan kelebat tadi. Ada rasa yang aneh.  Sengaja aku tidak memberitahu Aryanti. Aku tak ingin dia terusik di rumah barunya ini.

    “Sebelum kamu beli, apa rumah ini lama tidak ditempati?”

    “Katanya sih lama juga. Di halaman itu dulunya sempat ditumbuhi rumput. Ada tumbuhan merambat juga di dindingnya.”

    Aku manggut-manggut. Pelan-pelan aku bangkit dari bibir dipan, menuju ke arah pintu dan melihat ke arah belakang. Plasss…. perasaanku berdenyar seketika. Saat aku melihat, secara bersamaan ada yang berjalan masuk ke kamar mandi sambil melihatku, sosok berambut panjang dan bermuka rusak, samar tapi pasti. Dadaku berdegup. Kupejam-pejamkan mata. Segera kualihkan pandangan. Takut melihatnya kembali.

    Aku mencoba mengontrol diri, jangan-jangan ini cuma halusinasi dari penglihatan. Tapi aku merasa bergidik juga. Banyak kisah dan kejadian aneh dari rumah yang lama tidak ditempati. Degup jantungku masih meningkat. Aku sudah  mendekati Aryanti kembali. Aku menahan diri untuk tidak bilang apa-apa.

    Untuk menetralkan perasaan, aku arahkan kesadaran soal bentuk halusinasi. Konon ada halusinasi terkait dengan mendengar  suara tertentu, ada juga seperti melihat sesuatu, mencium bau-bau aneh, merasakan ada sesuatu saat mengunyah,  merasa ada yang menyentuh atau menggamit anggota badan, atau kejadian-kejadian lain yang sifatnya temporer.

    Ini di rumah Aryanti. Mulanya aku tidak memiliki kesan buruk apa-apa soal rumah ini, apalagi soal hal-hal gaib. Tadi memang sempat berpikir soal masyarakat, murni soal hubungan sosiologis, bukan soal hal-hal mistis. Aku juga tidak memiliki pengalaman traumatis di rumah ini, justru aku merasa senang bisa sampai di sini, menyaksikan rumah yang baru dibeli Aryanti.  Di rumah ini juga berdua, sebuah kesempatan untuk bisa berbagi rasa. Tapi aku tiba-tiba melihat keanehan di sini.

    Sambil menunggu serum di pipinya meresap, tangan kanan Aryanti diletakkan di lututku, ditepuk-tepuk dengan lembut. Malam makin merambat juga. Seharusnya hasratku meningkat, tapi aku merasa dihantui sosok berambut panjang bermuka rusak sehingga aku merasa berkerut. Bunyi-bunyi di luar makin nyaring terdengar. Suara klakson di kejauhan juga  makin jelas.  Pembicaraan sengaja aku pelankan agar tidak terdengar dari luar.

    Setelah rehat beberapa saat, Aryanti membuka stoples kecil, mengambil dan  mengoleskan krem lagi ke wajahnya, diratakan dengan lembut, ditepuk-tepuk secara merata. Katanya, ini adalah pelembab kulit, memberi nutrisi agar regenerasi sel-selnya dapat maksimal. Tidak seberapa lama perempuan itu memencet tube kecil, mengeluarkan sedikit krim  warna putih di telapak tangan kiri. Dengan telunjuk jari krim itu dioles-oleskan ke area di bawah mata. Katanya, ini untuk menghilangkan lingkaran hitam di bawah mata, mencegah terjadinya kantung mata dan keriput.

    “Kok susah ya?”  kembali aku pura-pura tidak paham.

    “Memang Papi suka nggak kalo lihat yang cantik-cantik?”

    “Ya sukalah, kan kamu sudah cantik?”

    “Ah, Papi….kan biar tambah cantik gitu loh….”

    Aryanti menggemulai manja. Dia menempel di dadaku dengan kepala mendongak, mungkin menyadari kalau kulit wajahnya masih basah. Kuelus-elus rambutnya, lalu kusentuh janggutnya dengan ujung jari. Terasa agak licin. Perempuan itu menatapku, kedua matanya berkedip-kedip seperti kelinci yang manis.Beberapa helai rambut yang luruh di keningnya kukembalikan ke atas.  Tapi perasaanku benar-benar tidak fokus. Aku melihat ke arah pintu, berharap tidak melihat apa-apa.

    “Papi ngantuk?”

    “Belumlah. Mana bisa ngantuk.”

    Aryanti tersenyum penuh makna. Dia menatapku sambil berkedip-kedip.   Beberapa saat kami sama-sama terdiam. Perempuan itu meraih penebah di sebelah kirinya, lalu membersihkan bantal dan sprei yang sebenarnya sudah bersih dan tertata rapi. Aroma pewanginya masih terasa di hidung. Tempat tidur ukuran sedang. Selimut motif bunga-bunga terlipat rapi di antara dua bantal.

    “Sebelum tidur harus minum air putih,” katanya, sambil membuka air kemasan dan menuangkan ke gelas.

    “Papi, nggak ke belakang ta?”

    “Untuk apa?” aku ganti bertanya.

    “Ya, pipis kali….”

    Seusai menyeruput air putih, Aryanti beranjak. Aku ikut berdiri. Dia berjalan ke kamar mandi. Aku mengikuti.  Aryanti kuminta tidak menutup keseluruhan pintu kamar mandi. Masih ada celah jika aku ingin masuk. Tapi bukan itu maksudku. Ada rasa kawatir, persisnya mungkin takut, adanya kemunculan kembali sosok berambut panjang dan bermuka rusak. Aku melihat ke kanan-kiri. Kali ini aku menyadari, bahwa perasaan dan pandangan mataku tidak metral lagi. Setiap usai kerdipan mata, muncul perasaan aneh saat melihat sudut-sudut rumah.

    Aryanti melongok keluar sambil tersenyum. Tubuh dan anggota badannya masih dalam kamar mandi. Aku masih berdiri di tempat. Kecipak air terdengar jelas sekali. Suara-suara binatang malam di luar juga makin nyaring.  Saat melihat ke arah depan, lamat-lamat sepertinya ada sosok berkelebat masuk ke kamar. Degup jantungku terasa cepat kembali.  Aku mencoba merasionalkan diri. Mungkin masih terbawa perasaan sebelumnya. Kuyakinkan bahwa tak ada apa-apa  di kamar, meski perasaanku juga tidak semudah itu diatasi.

    Kami sudah kembali ke kamar semula. Aryanti duduk di depan cermin seperti tadi. Dia mencermati wajahnya, membenahi kembali krem yang dioleskan. Aku tak ingin memberitahunya soal sosok berambut panjang dan bermuka rusak yang tadi berkelebat. Tentu aku berharap itu tidak benar-benar ada. Udara terasa makin dingin. Ini wilayah terletak di dataran tinggi. Daerah belakang sana, kata Aryanti tadi, masih banyak rimbunan pohon, hutan dan persawahan juga. Tentu masuk akal jika binatang-binatang liar, ular misalnya, masuk ke perumahan ini. Aku melihat sayap pintu dan lantai jaraknya terlalu longgar. Ular kecil pasti masih bisa menyusup masuk ke rumah ini. Sangat berbahaya jika dia binatang berbisa.

    Tiba-tiba terdengar bunyi dari atas rumah. Aku dan Aryanti terjingkat. Spontan aku merenggang dari  perempuan itu. Seperti ada yang terbang dari dadaku. Bunyi itu menyerupai orang anjlok atau melompat di teras  rumah. Saat turun dari taksi  tadi aku melihat, tampaknya teras rumah terbuat dari asbes, atau mungkin dari seng, sehingga saat diinjak bunyinya terdengar keras. Kecemasan menyelimut. Jangan-jangan ada orang yang mengendap di atas rumah untuk mengintip kami.

    “Apa?” aku menggerakkan bibir ke Aryanti, tanpa suara. Dia menggeleng, ekspresinya cemas.

    Aryanti menuding ke depan, ke korden yang menutup kaca jendela. Mungkin maksudnya aku diminta melihat keluar. Kecemasanku datang kembali. Pelan-pelan terdengar bunyi seperti orang berjalan menginjak atap, agak gemeretak. Wajah Aryanti menciut. Hari sudah makin melarut. Bunyi itu betul-betul ada dan jelas. Apakah itu orang jahat yang hendak membobol rumah ini, atau utusan yang ditugasi untuk memantau kami?   Apakah orang-orang kampung akan datang ke rumah ini, lalu membawa kami ke suatu tempat untuk diinterogasi?

    Kami saling bersitatap. Aryanti menggeleng-geleng, entah apa maksudnya. Kembali dia menuding ke korden. Punggungku didorong ke depan. Dia memberi kode agar aku mengintip keluar. Rasa penasaran bercampur cemas menyelimut. Korden warna biru muda itu aku singkap pelan-pelan. Aku mengintip situasi di luar. Belum tampak ada sesuatu yang bergerak. Bersamaan dengan itu kembali terdengar bunyi gemeretak di atas teras. Aryanti menguatkan pegangannya di punggungku. Dan…. tiba-tiba ada yang meloncat turun ke depan teras. Korden kubuka lebih lebar. Kutarik lengan Aryanti. Kami sama-sama melihat sosok yang melompat tadi berlari menjauh, menerobos keremangan.

    “Alaaa….Kucing garong!”  seru Aryanti. Dia segera meremas  mulutnya sendiri, sadar kalau suaranya terlalu keras.

    Kucing garong. Kejadian yang lumrah sebenarnya. Tapi aku berpikir, apakah ini rangkaian kejadian yang tadi di dalam rumah? Bayangan tetap mengendon di kepalaku:  sosok perempuan berambut panjang dan bermuka rusak….


    M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan pendidikan ke IKIP Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hingga menyelesaikan program doktor. Kini menjadi dosen dan tinggal di Surabaya.

     

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleIngatan Penyair
    Next Article Janji di Peron Tua

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.