
___Bilik Gelap Kesadaran
Kamar ini bukan tempat,
ia adalah pertanyaan
yang tak pernah selesai kutanyakan—
tentang siapa aku,
dan mengapa langit tak lagi menoleh._
Dinding-dindingnya tidak diam,
mereka menghafal setiap kegagalan,
setiap nama yang kubisikkan diam-diam,
yang tak pernah menjawab kembali._
Ada meja. Ada kasur. Ada lampu kecil.
Tapi cahaya tidak pernah cukup
untuk membuat bayangku pulang.
Ia melayang—kadang menyentuh atap,
kadang merasuk ke lubang-lubang waktu
yang kubuat sendiri dari kepalaku.
Aku hidup di sini,
seperti debu yang tidak punya arah angin,
seperti waktu yang lelah berdetak
karena tak pernah didengar.
Jika ini adalah rumah,
maka aku adalah tamu yang lupa jalan keluar,_
yang tinggal terlalu lama
sampai tak lagi disebut siapa-siapa._
Ponorogo, Mei 2025
Bangkit Dalam Hening
___Bilik Gelap Kesadaran
Dalam hening, aku belajar berdiri—
bukan karena dunia memanggil,
tapi karena bayangku sendiri mulai bicara.
Tak ada gemuruh,
hanya sunyi yang mengajarkan suara hati,
bahwa bangkit bukan berarti lari dari luka,
tapi menerima jejak yang tertinggal.
Kadang, patah itu adalah arah baru,
dan hilang adalah ruang untuk ditemukan.
Di sana, aku bertemu diri—
yang dulu takut, tapi kini tahu,
bahwa hening bukan sepi,
melainkan panggilan yang paling jujur.
Ponorogo, Mei 2025
Senandung Sebelum Lupa
___Bilik Gelap Kesadaran
Kuingat suara itu seperti hujan—
yang pernah menyentuh jendela.
bukan karena nyaringnya,
tapi karena setelahnya:
hening._
Seperti itu kenangan menyapaku.
bukan sebagai peristiwa,
tapi sebagai kehilangan
yang terlalu lama diam di sudut meja
dan berubah jadi debu._
Sebagian dari diriku tinggal di sana,
di detik-detik yang tak pernah kembali,
di tawa yang tak pernah kembali utuh,
di tatap yang tak lagi punya tubuh._
Kadang aku mencoba menulisnya kembali,
sebaris demi sebaris,
dengan pena yang patah dan kertas yang koyak
sebab waktu terlalu tajam untuk dikenang._
Tapi tiap baitnya justru menghapus yang kutulis,
seperti mencatat air di atas air,_
dan aku belajar bahwa lupa— adalah bentuk lain dari mengingat._
Ponorogo, Mei 2025
Surat untuk Tuhan
___Bilik Gelap Kesadaran
Tuhan,
aku menulis ini
bukan untuk memaki—
hanya ingin tahu,
adakah Engkau masih menunggu
suratku yang tak pernah utuh sampai?
Kertas ini kosong,
seperti jiwaku
yang kehilangan huruf-huruf untuk menyebut-Mu.
Dulu, aku bicara dengan air mata,
kini aku diam—
dan diamku tak tahu caranya memanggil.
Tapi barangkali,
Engkau pun rindu.
Barangkali di singgasana cahaya-Mu
Engkau juga gelisah,
menunggu satu nama
yang tak lagi menyebut-Mu seperti dulu._
Tuhan,
maaf jika aku membuat-Mu kesepian.
Maaf jika sujudku
lebih sering hanya ritual tubuh
tanpa degup yang menyala._
Aku hanya ingin didengar
seperti batu yang retak
masih bisa menyimpan gema.
Biarlah surat ini menguap jadi kabut,
atau menjadi desir
yang menyentuh jendela langit-Mu.
Sebab mungkin,
rindu paling dalam
adalah ketika dua yang saling mencari
sama-sama diam.
Ponorogo, Mei 2025
Mazmur Sunyi dari Dalam Diri
___Bilik Gelap Kesadaran
Di balik sunyi, aku mendengar,
desir yang tak pernah hilang—
cahaya yang tak pernah pergi,
hanya tertutup kabut jiwa._
Di ruang paling dalam,
rindu itu berdiam,
menunggu aku membuka mata,
melihat bukan hanya kegelapan._
Tuhan, dalam sunyi ini aku tahu—
bahwa hadirmu bukanlah gemuruh,
melainkan napas halus
yang mengalir di sela-sela luka._
Aku tersesat dalam bayang-bayang sendiri,
namun bayang itu bukan ketiadaan,
melainkan jembatan yang kau titipkan,
antara aku dan cahaya-Mu._
Mazmur ini bukan suara tangis,
tapi bisik yang memanggil,
bahwa di kala kelam melanda,
ada cahaya yang tak pernah padam._
Ponorogo, Mei 2025
Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo. Karyanya telah dipublikasikan di berbagai media erakini.id, jernih.co, potretonline.com dan forum literasi. Ia telah meraih banyak kejuaraan kepenulisan tingkat nasional.Ia juga aktif di komunitas Partey

