Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Kamar Tanpa Jendela
    Puisi

    Kamar Tanpa Jendela

    S. Sigit Prasojo8 Juni 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

    Kamar Tanpa Jendela

    ___Bilik Gelap Kesadaran

    Kamar ini bukan tempat,
    ia adalah pertanyaan
    yang tak pernah selesai kutanyakan—
    tentang siapa aku,
    dan mengapa langit tak lagi menoleh._

    Dinding-dindingnya tidak diam,
    mereka menghafal setiap kegagalan,
    setiap nama yang kubisikkan diam-diam,
    yang tak pernah menjawab kembali._

    Ada meja. Ada kasur. Ada lampu kecil.
    Tapi cahaya tidak pernah cukup
    untuk membuat bayangku pulang.
    Ia melayang—kadang menyentuh atap,
    kadang merasuk ke lubang-lubang waktu
    yang kubuat sendiri dari kepalaku.

    Aku hidup di sini,
    seperti debu yang tidak punya arah angin,
    seperti waktu yang lelah berdetak
    karena tak pernah didengar.

    Jika ini adalah rumah,
    maka aku adalah tamu yang lupa jalan keluar,_
    yang tinggal terlalu lama
    sampai tak lagi disebut siapa-siapa._

    Ponorogo, Mei 2025


     Bangkit Dalam Hening

    ___Bilik Gelap Kesadaran

    Dalam hening, aku belajar berdiri—
    bukan karena dunia memanggil,
    tapi karena bayangku sendiri mulai bicara.

    Tak ada gemuruh,
    hanya sunyi yang mengajarkan suara hati,
    bahwa bangkit bukan berarti lari dari luka,
    tapi menerima jejak yang tertinggal.

    Kadang, patah itu adalah arah baru,
    dan hilang adalah ruang untuk ditemukan.
    Di sana, aku bertemu diri—
    yang dulu takut, tapi kini tahu,
    bahwa hening bukan sepi,
    melainkan panggilan yang paling jujur.

     Ponorogo, Mei 2025


    Senandung Sebelum Lupa

    ___Bilik Gelap Kesadaran

    Kuingat suara itu seperti hujan—

    yang pernah menyentuh jendela.
    bukan karena nyaringnya,
    tapi karena setelahnya:

    hening._

    Seperti itu kenangan menyapaku.
    bukan sebagai peristiwa,
    tapi sebagai kehilangan
    yang terlalu lama diam di sudut meja
    dan berubah jadi debu._

    Sebagian dari diriku tinggal di sana,
    di detik-detik yang tak pernah kembali,
    di tawa yang tak pernah kembali utuh,
    di tatap yang tak lagi punya tubuh._

    Kadang aku mencoba menulisnya kembali,
    sebaris demi sebaris,
    dengan pena yang patah dan kertas yang koyak
    sebab waktu terlalu tajam untuk dikenang._

    Tapi tiap baitnya justru menghapus yang kutulis,
    seperti mencatat air di atas air,_
    dan aku belajar bahwa lupa—                                                                          adalah bentuk lain dari mengingat._

    Ponorogo, Mei 2025


    Surat untuk Tuhan

     ___Bilik Gelap Kesadaran

    Tuhan,
    aku menulis ini
    bukan untuk memaki—
    hanya ingin tahu,
    adakah Engkau masih menunggu
    suratku yang tak pernah utuh sampai?

    Kertas ini kosong,
    seperti jiwaku
    yang kehilangan huruf-huruf untuk menyebut-Mu.

    Dulu, aku bicara dengan air mata,
    kini aku diam—
    dan diamku tak tahu caranya memanggil.

    Tapi barangkali,
    Engkau pun rindu.
    Barangkali di singgasana cahaya-Mu
    Engkau juga gelisah,
    menunggu satu nama
    yang tak lagi menyebut-Mu seperti dulu._

    Tuhan,
    maaf jika aku membuat-Mu kesepian.
    Maaf jika sujudku
    lebih sering hanya ritual tubuh
    tanpa degup yang menyala._

    Aku hanya ingin didengar
    seperti batu yang retak
    masih bisa menyimpan gema.

    Biarlah surat ini menguap jadi kabut,
    atau menjadi desir
    yang menyentuh jendela langit-Mu.

    Sebab mungkin,
    rindu paling dalam
    adalah ketika dua yang saling mencari
    sama-sama diam.

    Ponorogo, Mei 2025


    Mazmur Sunyi dari Dalam Diri

    ___Bilik Gelap Kesadaran

    Di balik sunyi, aku mendengar,
    desir yang tak pernah hilang—
    cahaya yang tak pernah pergi,
    hanya tertutup kabut jiwa._

    Di ruang paling dalam,
    rindu itu berdiam,
    menunggu aku membuka mata,
    melihat bukan hanya kegelapan._

    Tuhan, dalam sunyi ini aku tahu—
    bahwa hadirmu bukanlah gemuruh,
    melainkan napas halus
    yang mengalir di sela-sela luka._

    Aku tersesat dalam bayang-bayang sendiri,
    namun bayang itu bukan ketiadaan,
    melainkan jembatan yang kau titipkan,
    antara aku dan cahaya-Mu._

    Mazmur ini bukan suara tangis,
    tapi bisik yang memanggil,
    bahwa di kala kelam melanda,
    ada cahaya yang tak pernah padam._

    Ponorogo, Mei 2025


    Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo. Karyanya telah dipublikasikan di berbagai media erakini.id, jernih.co, potretonline.com dan forum literasi. Ia telah meraih banyak kejuaraan kepenulisan tingkat nasional.Ia juga aktif di komunitas Partey

     

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticlePerempuan yang Tak Pernah Pulang
    Next Article Sepenggal Kisah di Indonesia

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.