Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Sepenggal Kisah di Indonesia
    Cerita Pendek

    Sepenggal Kisah di Indonesia

    Rosa L8 Juni 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

    Sepenggal Kisah di IndonesiaAku tidak tahu apa yang tidak kucintai dari Indonesia. Budayanya yang beragam, makanannya yang enak, penduduknya yang ramah, dan dia.

    Aku bertemu dengannya pertama kali di sekolah menengah internasionalku. Dia adalah murid baru yang datang dari Jakarta. Kebetulan kami berada di kelas yang sama. Wajahnya yang sangat cantik, tubuhnya yang langsing, dan kulitnya yang kuning langsat membuat banyak murid laki-laki terpesona pada pandangan pertama, termasuk aku, namun belum ada yang berani mendekatinya karena dia juga mengaku juara pencak silat nasional.

    Beda dengan tipikal kebanyakan murid baru, dia berani mengajukan pendapat-pendapatnya dalam diskusi kelas hanya beberapa hari setelah dia pindah. Pendapat-pendapatnya yang tajam dan brilian membuatnya menjadi bahan pembicaraan dalam waktu singkat. Sifatnya yang ramah dan penolong membuatnya sangat cepat mendapat teman. Dalam sekejap, ia menjadi salah satu gadis terpopuler di sekolah.

    Kemanapun dia pergi, segerombolan orang selalu bersedia menemaninya, membuatnya bak tuan putri yang dikelilingi dayang-dayang. Banyak sudah pria yang berusaha mendekatinya, termasuk Adrian yang memegang jabatan prestisus sebagai Ketua Murid di sekolah atau Mike yang merupakan anak orang terkaya di negaraku, namun entah kenapa belum ada yang mampu memikat hatinya.

    Meskipun jatuh hati, namun aku tidak banyak berharap. Aku tahu bahwa diriku hanya seorang kutu buku pendiam yang tidak terlalu istimewa. Memang orangtuaku cukup terpandang dan otakku lumayan cerdas, tapi aku masih belum terlalu percaya diri untuk mendekatinya, sang idola sekolah yang nyaris sempurna. Bahkan untuk bicara dengannya saja aku tidak berani.

    Karena perasaanku padanya, aku jadi banyak belajar tentang Indonesia. Sekarang aku tahu hampir semua pengetahuan umum tentang Indonesia, mulai dari makanan, tarian, adat-istiadat, dan lain-lain. Diam-diam aku juga belajar bahasa Indonesia secara gratis di internet. Dalam beberapa minggu, aku sudah bisa merangkai kalimat sederhana dalam bahasa Indonesia. Mungkin beberapa bulan lagi aku sudah bisa menulis cerita pendek dalam bahasa Indonesia.

    Selain itu, aku rajin mengunduh wallpaper Indonesia di internet dan kupasang sebagai desktop background di komputerku. Aku pun sering mampir ke restoran Indonesia. Makanan di sana ternyata sangat enak. Favoritku sejauh ini adalah nasi pecel dan sop buntut yang takkan kujumpai di negara asalku yang dingin.

    Hingga hari tak terduga itu tiba.

    Hari itu bersalju di penghujung Desember. Saat jam istirahat, seperti biasa aku pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Tidak akan ada yang mempedulikanku. Ini sudah seperti rutinitas harian bagiku dan kalau ada perlu, semua tahu dimana mencariku. Jadi aku melangkahkan kakiku ke perpustakaan dan mencari buku favoritku, buku tentang Indonesia.

    Aku mengambil buku tebal dengan kertas luks berwarna tentang kebudayaan di Pulau Madura dan duduk di sofa empuk yang sudah disediakan dalam perpustakaan untuk membacanya. Hampir lima belas menit kuhabiskan untuk membaca dan aku sudah hampir membuka bab baru tentang Kerapan Sapi ketika suara itu muncul, “Batik Madura? Wah, aku tidak tahu kalau kau mau meluangkan waktu untuk membaca tentang kebudayaan negaraku, Thompson.”

    Jantungku seperti berhenti berdetak ketika mendengar suara itu, suara yang selalu kudengar dalam mimpi- mimpiku. Setengah tak percaya, aku mendongak dan menelan ludah melihat dia sudah ada di depanku dengan segala keanggunannya, yang membuatnya jauh lebih cantik dari siapapun yang pernah kulihat di muka bumi ini.

    “Hei, kau pasti kaget melihatku,” dia berkata dengan bahasa Inggris yang lancar sambil tersenyum. “Kau meninggalkan kelas terlalu cepat jadi tidak sempat mengambil makanan bagianmu.”

    Makanan bagian?

    “Aku membagikan makanan dan suvenir untuk semua orang hari ini sebagai tanda syukur karena ibuku baru saja melahirkan. Ini bagianmu!”

    Dia menyerahkan sebuah kotak dari karton berwarna putih dan sebuah gantungan kunci yang masih terbungkus plastik berwarna cokelat tua. Aku tahu gantungan kunci ini adalah salah satu senjata tradisional Indonesia, hanya saja aku lupa apa namanya.

    “Itu adalah keris, senjata tradisional dari Jawa,” dia duduk di depanku dan tersenyum manis, membuatku merasa sebagai laki-laki paling bahagia di dunia. “Mau kuajari tentang kebudayaan Indonesia yang lain?”

    Aku tak mampu berkata-kata, hanya mengangguk singkat, meski jantungku berdebar kencang. “Bagus! Nah, sekarang coba lihat ini…”

    *******

    Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Meskipun hanya berlangsung selama 30 menit, tapi satu kenangan itu telah mengubah seluruh hidupku.

    Usai lulus sekolah menengah, aku melanjutkan pendidikanku ke sebuah universitas dengan jurusan Indonesian Studies. Entah kenapa aku merasa bahwa semakin dekat aku dengan Indonesia, maka semakin dekat aku dengan dia. Memang bodoh kedengarannya karena aku hampir tidak pernah lagi berinteraksi dengan dia sejak hari itu, tapi cinta memang bodoh dan aku tidak bisa memaksakan logika padanya.

    Orangtua dan seluruh kenalanku protes pada pilihan studiku. Mereka bilang aku bisa jadi dokter atau insinyur dengan kepandaianku, tapi sepintar-pintarnya otakku tetap tidak bisa mengalahkan hatiku.

    Setelah lulus, aku melamar di beberapa perusahaan Indonesia dan untunglah diterima di salah satu perusahaan multinasional yang cukup bergengsi. Beberapa saat kemudian aku terbang ke Indonesia. Aku bersyukur karena bisa tinggal di negara yang dia cintai dan kini juga mulai kucintai.

    *******

    “Pagi, Mister!” anak-anak sekolah menyapaku yang sedang membaca koran di teras. Aku menurunkan koranku.

    “Pagi! Hati-hati di jalan!”

    Aku sudah sangat fasih berbahasa Indonesia. Selain belajar secara otodidak, aku juga mempelajarinya secara intensif di kampus. Senang rasanya melihat orang Indonesia sangat antusias melihat bule berambut pirang dan bermata biru sepertiku bisa berbahasa Indonesia.

    “Beli jamu, Mister?” tanya seorang tukang jamu berkebaya yang lewat di depan rumah. Ini adalah hal baru yang tidak akan pernah kujumpai di negara asalku.

    Aku senang melihat pedagang berjualan dari rumah ke rumah begini. Mereka membuatku tidak perlu kemana-mana untuk membeli sesuatu.

    “Tidak, terima kasih,” kataku sopan. Dia tersenyum dan berlalu.

    Aku kembali membaca koran dan berkhayal seandainya dia ada di sini, menikmati keindahan Indonesia bersamaku. Pasti akan semakin lengkap rasanya.

    *******

    Malam tiba. Aku naik mobil bersama sopirku untuk memburu makanan di tepi jalan. Sengaja kubuka kaca mobil sehingga bisa membaui aroma makanan yang sedang dimasak oleh para pedagang kaki lima. Aromanya sungguh sangat menggoda. Dari baunya saja sudah terbayang kelezatannya.

    Saat melewati gerai martabak, aku menyuruh sopirku untuk berhenti. Aku turun untuk membelinya karena kudengar dari penjual bakso langgananku bahwa martabak adalah salah satu makanan Indonesia yang enak.

    Saat kulihat, ternyata martabak seperti pizza namun khas Indonesia dan topping-nya tidak di luar, tapi di dalam. Aku pun memesan satu yang paling mahal.

    Salah satu yang kusukai dari jajanan rakyat Indonesia adalah harganya yang tergolong murah bagi ekspatriat sehingga yang paling mahal pun tidak akan banyak menguras kantongku.

    Sekarang sang penjual martabak sedang membuat pesananku. Aku sangat takjub melihatnya membuat martabak yang berlapis-lapis dan minta izin untuk merekamnya ke ponselku agar bisa ku-upload ke situs video ternama. Dia mengiyakan saja. Saat merekam itulah aku merasa ada yang menepuk punggungku.

    “Belum selesai, Pak,” kataku dalam bahasa Indonesia yang fasih, mengira itu adalah sopirku. Anehnya, aku mendengar suara tawa yang sangat kukenal. Tidak… tidak mungkin…

    Aku berbalik dengan jantung berdebar kencang, berusaha tidak berkhayal yang macam- macam, namun ponselku jatuh ketika tahu siapa itu.

    “Thompson, itu kau, kan? Sedang apa di sini? Rupanya kau sudah lancar berbahasa Indonesia?” “Mawar…?”

    Aku hanya bisa memberi tahu kalian bahwa ini bukanlah akhir, namun awal dari kisah cintaku dengan Mawar di negeri yang kucintai, Indonesia.


    Sempat bergabung dengan Forum Lingkar Pena dan menjadi jurnalis di beberapa media. Karya-karyanya pernah dimuat di Warta Unair, Retorika, C ‘n S Magazine, Hops.id dan Majalah Elipsis.

    Cinta
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleKamar Tanpa Jendela
    Next Article Aku, Lestari

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.