Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Aku, Lestari
    Cerita Pendek

    Aku, Lestari

    Hendro D. Laksono16 Juni 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Aku, Lestari

    Lestari mengusap keringat yang membasahi dahinya. Usia 32 tahun, tangannya yang kasar bercerita tentang belasan tahun mengabdi tanpa upah. Bangku kuliah? Itu hanya mimpi yang terkubur bersama masa kecilnya yang berakhir terlalu cepat.

    Rumah petak di gang sempit tempat ia dilahirkan masih terbayang jelas. Bapaknya, lelaki kurus dengan mata yang selalu cemas, duduk gemetar di hadapan Pak Widjaja—ayah Mas Didik. “Tujuh belas juta, Pak. Kalau tidak dibayar minggu depan…” ancaman itu menggantung seperti pisau di atas kepala keluarganya.

    Malam itu, tanpa banyak pilihan, Lestari menjadi jaminan hidup keluarganya. Seperti barang yang digadaikan, ia diserahkan untuk mengabdi pada Mas Didik, putra sulung keluarga Widjaja yang baru berusia 19 tahun saat itu.

    Kini, setelah lebih dari sepuluh tahun, Lestari masih menjalani rutinitas yang sama. Setiap fajar, ia bangun sebelum ayam berkokok untuk menyiapkan sarapan. Tangannya terampil mengaduk bubur dan menyeduh kopi dengan takaran yang sudah hafal di luar kepala. Rumah besar dengan halaman luas itu ia bersihkan dari sudut ke sudut, hingga lantai marmer berkilap seperti cermin.

    Mas Didik kini sudah berubah. Dari remaja yang dulu sering bermain bersamanya di halaman Balai RW, kini ia menjadi pengusaha sukses dengan dua anak dan istri yang bekerja di bank bergengsi di Surabaya. Istri Mas Didik selalu tampil sempurna—rambut tertata rapi, makeup tipis yang menonjolkan kecantikan alaminya, dan setelan kerja yang selalu pas di tubuhnya.

    “Lestari, tolong ambilkan tas yang di meja rias,” suara Bu Dina—istri Mas Didik—terdengar lembut dari kamar. Wanita itu memang baik hati. Sesekali ia memberikan uang lima puluh ribu, bahkan seratus ribu untuk Lestari. Baju-baju yang tidak muat lagi atau tidak cocok, selalu diberikan kepada Lestari yang memang berpostur lebih kecil.

    “Lestari, kamu cantik sebenarnya. Tapi kenapa tidak pernah merawat diri? Sesekali pakai pelembab, senyum sedikit,” Bu Dina pernah berkata sambil tersenyum hangat.

    Lestari hanya mengangguk. Bagaimana ia bisa merawat diri? Gajinya nol rupiah. Tempat tidurnya hanya kasur tipis di kamar sempit dekat dapur yang pengap. Makan tiga kali sehari sudah ia syukuri. Protes? Ia tidak berani. Terlalu paham bahwa dirinya sudah terikat kontrak yang dibuat bapaknya.

    Bab 2: Bayangan Masa Lalu

    Mas Didik bukanlah lelaki jahat. Bahkan ia selalu bersikap baik, meski terkesan menjaga jarak. Lestari masih ingat masa kecil mereka—saat Mas Didik masih dipanggil “Didik” saja, dan mereka sering bermain petak umpet di halaman luas dekat Balai RW. Orang-orang tua sering menggoda, “Awas pacaran ya, kalian masih kecil!”

    Saat itu mereka tertawa polos. Siapa sangka takdir akan memisahkan mereka dalam posisi yang sangat berbeda.

    Hari pertama Lestari resmi menjadi ‘harta’ keluarga Widjaja, ia tidak sanggup menangis. Hanya berdiri kaku di ruang tamu yang megah, memandangi lantai marmer yang dingin. Dari sudut matanya, ia melihat Mas Didik duduk di ruang tengah, pura-pura menonton televisi tapi matanya sesekali melirik ke arahnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu—mungkin rasa bersalah, mungkin kenangan masa kecil yang sama-sama mereka rasakan.

    Mas Didik memang sukses karena kerja kerasnya sendiri. Sejak usia 19 tahun, ia sudah rajin mencari peluang usaha. Bukan karena warisan keluarga Widjaja. Mas Didik yang cekatan dan pintar melihat peluang. Di usia 20 tahun, ia sudah memiliki rumah sendiri. Beberapa tahun kemudian, cafe dan dua minimarket miliknya berkembang pesat.

    Tetapi sungguh, rumah pertama Mas Didik itu yang menjadi penjara Lestari. Rumah dengan halaman luas, hanya dihuni berdua. Di sinilah takdir hidupnya benar-benar dimulai sebagai pembantu yang tidak bisa pergi kemana-mana.

    Bab 3: Perlindungan Senyap

    Mas Didik memang terkesan enggan berinteraksi langsung dengan Lestari. Bahkan ketika teman-temannya datang dan berkumpul hingga larut malam di teras samping, ia cenderung diam saja saat mereka menggoda Lestari.

    “Dik, aku pinjam pembantumu sebentar ya,” suara Askar, salah satu temannya, disusul tawa lepas yang membuat Lestari merinding.

    Mas Didik hanya tersenyum tipis sambil mengangkat cangkir kopinya, seolah tidak mendengar. Tapi mata tajamnya sesekali melirik, mengawasi dari kejauhan.

    Suatu malam, ketika Mas Didik keluar sebentar untuk membeli rokok, Askar nekat menghampiri Lestari yang sedang mencuci piring di dapur. Tangan kasarnya menyentuh tangan Lestari, lalu naik ke dagu. “Cantik juga kamu, Tar. Sayang banget jadi pembantu terus.”

    Lestari ketakutan, tubuhnya gemetar. Askar semakin berani, mencoba menarik lengan Lestari ke sudut dapur yang gelap. “Bentar aja, Tar. Didik juga enggak akan tahu.”

    Tepat saat itu, Mas Didik muncul. Tanpa kata-kata, ia langsung mendorong tubuh Askar dengan kasar. “Wes, kamu pulang aja.”

    Askar tersentak, wajahnya merah padam karena marah dan malu. “Cuk, santai kenapa sih?”

    “Mulih!” bentak Mas Didik dengan nada dingin yang jarang terdengar.

    Askar akhirnya pergi dengan wajah masam. Mas Didik tidak berkata apa-apa kepada Lestari, tapi sejak itu ia tidak pernah lagi mengundang teman-temannya ke rumah saat malam hari.

    Bab 4: Pertemuan yang Mengubah Segalanya

    Tahun ke-13. Rutinitas yang sama, hari-hari yang sama. Sampai suatu sore, saat Lestari berbelanja di minimarket langganan, hidupnya berubah.

    “Sampeyan Dik Tari ya?”

    Lestari menoleh. Seorang lelaki tegap berdiri di belakangnya, dengan senyum yang familiar. Kulitnya lebih gelap—bekas terpaan matahari, tapi matanya masih sama. Ada tato kecil berbentuk naga di lengan kanannya.

    “Iya, njenengan sinten?”

    “Norman. Kowe ra kelingan? Biyen kita dolanan bareng nang lapangan RW.”

    Norman! Teman masa kecilnya yang dulu sering bertengkar dengan Mas Didik. Kini ia bekerja sebagai buruh pabrik di Sidoarjo. Tubuhnya lebih kekar, wajahnya lebih dewasa, tapi senyumnya masih sama hangatnya.

    Percakapan singkat itu membuat jantung Lestari berdebar. Sudah lama ia tidak merasakan sensasi diperhatikan sebagai seorang wanita, bukan sekadar pembantu.

    “Kowe isih jeneng Lestari kan? Aku teka kene saben minggu, kerja shift. Sesuk aku nang kene maneh, ketemu yo?”

    Lestari mengangguk, pipinya merona.

    Pertemuan demi pertemuan terjadi begitu alami. Kebetulan Mas Didik sering menyuruh Lestari berbelanja ke minimarket. “Belikan kopi hitam yang biasa. Sama roti tawar untuk sarapan anak-anak,” katanya, tidak tahu bahwa setiap kali Lestari pergi ke sana, ada seseorang yang menunggu.

    Norman bercerita tentang hidupnya—bekerja keras di pabrik, menabung untuk membeli rumah kecil di kampung. Lestari menceritakan sedikit tentang kesehariannya, meski tidak berani berterus terang tentang statusnya yang sesungguhnya.

    Saat Norman mulai serius dan berkata ia sudah jatuh cinta, Lestari tidak bisa menyembunyikan kebenaran lagi. Dengan terbata-bata, ia bercerita tentang hutang bapaknya, tentang statusnya sebagai jaminan hidup.

    Norman terdiam lama. Kemudian, dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, “Aku akan menebusmu, Tar. Aku akan menemui Mas Didik dan keluarganya.”

    Bab 5: Kebebasan yang Tiba-tiba

    Tiga minggu kemudian, Mas Didik memanggil Lestari ke ruang tamu. Bu Dina duduk di sampingnya dengan postur anggun seperti biasa, tapi kali ini wajahnya terlihat sedih.

    “Lestari,” suara Mas Didik terdengar datar, “kamu boleh meninggalkan rumah ini. Mulai besok.”

    Begitu saja. Setelah belasan tahun.

    Norman kemudian menceritakan apa yang terjadi. Ia menemui keluarga Widjaja dengan membawa uang 22 juta rupiah—hutang pokok ditambah bunga selama bertahun-tahun. Uang itu hasil kerja kerasnya bertahun-tahun, ditambah pinjaman dari saudara-saudaranya.

    Mas Didik berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa. Tapi Bu Dina masih duduk, kemudian mengeluarkan amplop tebal dari tasnya.

    “Bawa uang ini, Tar. Mulai besok, kamu ngekos dulu sambil menyiapkan pernikahan dengan Norman,” katanya dengan suara lembut tapi mata berkaca-kaca. “Maafkan kami, ya. Kami sudah menganggapmu seperti keluarga, tapi, keadaan memang seperti ini.”

    Bab 6: Kebahagiaan tanpa Tanya

    Tempat kos di perbatasan Surabaya-Sidoarjo itu sederhana tapi terasa seperti istana bagi Lestari. Untuk pertama kalinya dalam 13 tahun, ia bisa keluar masuk sesuka hati, makan apa yang ia inginkan, tidur siang jika lelah.

    Norman datang setiap hari setelah kerja. Mereka berjalan-jalan ke pasar tradisional, mencoba jajanan pinggir jalan, atau sekadar duduk di taman kecil sambil bercerita. Lestari belajar tertawa lagi—tertawa sungguhan, bukan senyum sopan yang selalu ia pasang selama bertahun-tahun.

    Lalu pernikahan, pernikahan yang sangat sederhana. Dihadiri keluarga Norman dan beberapa tetangga kos. Bapak Lestari datang dengan mata sembab—mungkin karena bahagia, mungkin karena rasa bersalah. Ia memeluk Lestari lama sekali tanpa berkata apa-apa.

    Rumah kecil Norman di kampung Sidoarjo menjadi surga kecil mereka. Hanya dua kamar, dapur mungil, dan halaman belakang yang ditanami cabai dan tomat. Tapi Lestari tidak pernah merasa sebebas ini.

    Bab 7: Warna-warni Kehidupan Baru

    Setahun pernikahan, Lestari berubah total. Wajahnya lebih berseri, tubuhnya tidak lagi kurus kering. Ia belajar memasak masakan baru, menanam bunga di pot-pot kecil, bahkan sesekali pergi ke salon untuk potong rambut.

    Norman berangkat kerja setiap pagi dengan ciuman di dahi, pulang habis maghrib dengan senyum lelah tapi bahagia. Kehidupan mereka sederhana tapi penuh cinta.

    Malam itu, Norman pulang terlambat satu jam dari biasanya.

    “Kenapa telat?” Lestari bertanya sambil merajuk main-main.

    Norman tertawa sambil memeluknya dari belakang. “Maaf, Dik. Aku beliin kopi po’o buat kita?”

    “Kan di dapur ada kopi. Aku bikinin aja.”

    “Aku lagi senang hari ini, pingin minum kopi mahal. Di minimarket ujung jalan itu ada yang bagus. Beliin ya, sayang?”

    Lestari mengangguk sambil tersenyum. Tanpa Norman tahu, ia sudah menyiapkan kejutan khusus malam itu. Pakaian dalam baru yang ia pesan online—agak mahal untuk ukuran mereka, tapi ia ingin memberikan yang terbaik. Parfum yang katanya disukai lelaki juga sudah ia beli. Pipinya merona membayangkan reaksi Norman nanti.

    Bab 8: Malam yang Mencabik

    Antrean di minimarket cukup panjang malam itu. Lestari menggerutu dalam hati karena rencananya tertunda. Ia sudah tidak sabar ingin menyemprotkan parfum baru dan memakai pakaian dalam yang cantik itu.

    Setengah jam kemudian, ia membuka pintu rumah sambil tersenyum nakal.

    “Nor… man…?”

    Norman duduk di kursi ruang tamu. Lehernya berdarah, matanya terbuka tapi tidak menatap apa-apa. Darah menggenang di lantai.

    Jeritan Lestari memecah kesunyian malam. Jeritan yang keluar dari kedalaman jiwanya, mencabik-cabik kebahagiaan yang baru saja ia rasakan.

    Tetangga berdatangan, pengurus RT berlari sambil menelepon polisi. Halaman kecil mereka tiba-tiba riuh oleh orang-orang yang ingin tahu. Lampu senter menyinari sudut-sudut rumah, suara radio polisi bersahut-sahutan.

    “Aku ikut sama dia! Aku ikut sama dia!” teriak Lestari histeris saat petugas hendak membawa tubuh Norman ke ambulans.

    “Iya, Dik Tari, ikut aja. Rumah biar kami urusin. Polisi juga masih penyelidikan,” kata Bu Sumi, tetangga sebelah yang baik hati.

    Dari balik kaca ambulans yang dingin, Lestari melihat rumah kecilnya yang kini dipenuhi orang asing. Rumah tempat ia dan Norman membangun mimpi-mimpi sederhana, tempat mereka tertawa bersama setiap sore.

    Dan di antara kerumunan orang itu, ia melihat sosok yang familiar. Mas Didik berdiri tegap di ujung kerumunan, menatapnya dari jauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Hanya sesaat—karena saat ada petugas yang lewat dan menghalangi pandangan, sosok itu sudah hilang.

    “Tidak mungkin” Lestari menangis semakin keras, mencakar-cakar kaca ambulans hingga tangannya berdarah.

    Malam tidak lagi sekadar gelap. Malam kini menjadi jurang tanpa dasar yang menelan habis kebahagiaannya. Satu-satunya lelaki yang pernah membebaskannya dari takdir kelam, kini terbujur kaku dalam kantong mayat. Sirene ambulans meraung-raung membelah malam, membawa Lestari kembali ke dalam kegelapan yang sudah terlalu lama ia kenal.

    hutang keluarga kemiskinan
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleSepenggal Kisah di Indonesia
    Next Article Suara di Balik Layar

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.