Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Cahaya yang Ditelanjangi
    Puisi

    Cahaya yang Ditelanjangi

    Sigit Prasojo12 Agustus 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Cahaya yang Ditelanjangi
    Cahaya yang Ditelanjangi

    Lorong itu sunyi—
    seperti jasad yang lupa alamat roh,
    di jam tiga,
    saat dunia menggigil tanpa suara doa.

    Kau berbisik:
    “di sana ada cahaya.”
    Tapi yang kulihat hanya kedip plastik usang
    bergoyang di ujung kawat bengkok,
    mendesis pelan
    seperti ular yang disiram khutbah terang.

    Aku melangkah,
    sebab gelap terlalu jujur—
    tak menutup luka,
    tak memalsukan arah.
    Sedang terang,
    selalu menjanjikan pulang
    tanpa pernah membuka gerbang.

    Langkahku menyentuh darah yang beku
    di antara kerikil dan nama ibu.
    Ada bau anyir dari kenangan
    yang gagal kubakar di kepala.

    Dan di ujung lorong,
    kupetik seutas cahaya
    yang ternyata bukan pelita—
    hanya serpih matamu
    yang pernah percaya
    bahwa luka pun bisa jadi lentera.

    Ponorogo, Juni 2025


    Pulang Tanpa Tubuh

    Aku berjalan menuju peta
    yang tak menyisakan jejak kampungku—
    hanya garis-garis sunyi,
    berliku seperti doa
    yang tersesat di dada batu.

    Setiap jembatan kutapaki
    adalah tulang—
    mungkin milik para perindu
    yang tak sempat diberi tanah.

    Kupanggul punggungku sendiri,
    sebab pundak orang lain
    terlalu sibuk menyangga semesta.

    Dan aku tahu,
    menangis di jalan raya
    adalah hak mereka
    yang kehilangan ayat untuk pulang.

    Sore itu, langit tampak letih
    seperti ayah
    yang tak sempat ditulis anaknya jadi puisi.
    Sementara aku mengendap di aspal,
    mencari bau ibu
    yang hilang dibungkus angin pasar
    dan debu perpisahan.

    Jika kutemukan rumah,
    biarkan aku berdiri di pagar,
    tanpa mengetuk,
    tanpa menyebut nama.
    Karena pulang yang sejati
    adalah tubuh
    yang mengubur dirinya sendiri
    dalam diam.

    Ponorogo, Juni 2025


    Doa Tanpa Kulit

    Sajadah ini tak lagi wangi.
    Ia menyerap luka,
    bukan pujian.
    Tiap seratnya menyimpan jerit
    yang disamarkan sebagai dzikir.

    Aku sujud,
    tapi bumi seperti lantai pabrik
    yang menolak air mata.
    Langit kaku,
    dan Tuhan terlalu jauh
    untuk diajak diskusi malam ini.

    Kukirim nama-Nya
    dengan lidah yang robek.
    Tak sampai.
    Karena huruf-hurufku
    telah dimakan waktu
    sejak iman jadi barang warisan
    di lemari tua keluarga.

    Aku tidak sedang murtad—
    aku hanya ingin tahu
    bagaimana rasanya mencintai Tuhan
    tanpa kulit,
    tanpa daging,
    tanpa warisan.

    Ponorogo, Juni 2025


    Mantra dari Sepatu Tua

    Aku berjalan mengenakan sepatu tua
    yang kubeli di pasar kematian.
    Talinya terurai seperti doa yang tak selesai,
    solnya patah di bagian kenangan.
    Tapi langkahnya
    lebih jujur dari pada sejarah yang kubaca.

    Setiap bunyi langkahnya
    seperti mantra—
    mengingatkan bahwa jalan
    tak selalu harus punya ujung.

    Aku menginjak bayangan
    yang bukan milikku.
    Entah milik siapa—
    barangkali milik masa lalu
    yang lupa mengambil sisa dirinya
    saat meninggalkan tubuh ini.

    Aku berjalan bukan untuk pulang,
    tapi untuk menghapus jejak
    yang pernah kutinggalkan
    di atas sajadah orang lain.

    Dan sepatu ini,
    yang dipakai orang mati entah siapa,
    membawaku ke jalan
    yang tak lagi butuh doa—
    hanya sisa niat
    dan napas yang terseret
    oleh ketakberartian.

    Ponorogo, Juni 2025


    Kamar yang Tidak Pernah Kutiduri

    Kamar itu berdiri di dalamku

    yang tak pernah kusinggahi.
    Kuncinya tergantung di dinding,
    tapi aku tak berani memutarnya.

    Konon, ada kasur
    penuh selimut tak selesai dilipat,
    surat tak pernah dikirim,
    dan bau seseorang
    yang menyebut namaku
    dengan darah yang hampir beku.

    Setiap malam,
    kamar itu memanggil dari sela-sela dinding,
    suaranya mirip bisikan Tuhan
    saat Ia lupa caranya memberi petunjuk.

    “Masuklah,” katanya.
    “Jika kau ingin tahu
    siapa sebenarnya yang tinggal
    di dalam dirimu sendiri.”

    Tapi aku tak pernah berani.
    Karena tidur di sana
    berarti menghadapi diriku sendiri
    tanpa alibi,
    tanpa nyala,
    tanpa peran.

    Ponorogo, Juni 2025


    Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo. Ia telah meraih banyak kejuaraan kepenulisan tingkat nasional.Ia juga aktif di komunitas Partey Penulis Puisi Berproses belajar kepada: Gus Nas Jogja, Fikar W. Eda, Vito Prasetyo, dan sastrawan besar lainnya.

     

    cahaya
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleSerpihan Waktu yang Tertinggal
    Next Article Sayembara Mendengar

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.