Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Kuda Liar
    Puisi

    Kuda Liar

    Agus Buchori25 Mei 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Kuda Liar

    Di padang rumput tak bertuan
    Ia meringkik di antara kuda betina
    ekornya dikibaskan menebar pesona
    diangkatnya kedua kakinya sambil berpuisi

    matanya merah nyalang menantang
    luka dan perih ia hadang
    karena hidup ini baginya
    mendatangi kematian

    kehidupan adalah hari ini
    ditinggalkannya masa lalu yang beku
    dan ia mengucap dengan daya pukau yang baru
    dan kita mengeja dengan gagu

    Perjalanannya terhenti di tengah hari
    ringkiknya terdengar hingga senja hari
    gemanya bergaung hingga malam
    esok hari hingga nanti

    2025


    Penjelajah Kata


    Kecintaanmu pada kata-kata
    membuatmu mengembara hingga ke Jawa
    menggelandang di ibukota
    menjadi saksi Syahrir, Hatta, Soekarno
    Menyiapkan Indonesia merdeka
    “Ayo Bung” sebuah poster mengabadikan kata kata darimu

    Kebebasan kau jalani dalam laku dan kata
    menjadi orang merdeka bebas berteman pada segala
    kau bercengkerama dengan pelacur dan gelandangan
    tapi tak kaku berdiskusi dengan para cendekia

    Cintamu kau sandarkan di pelabuhan kecil
    hatimu kering meski
    kau basahi dengan keringat di gerbong murahan
    Siapakah perempuan Mirat?
    hingga kau menjadi penjelajah cinta

    lalu setiap serapah dan ratap
    menjadi sajak
    membuatmu ingin lebih panjang
    meski kau sandang pedih dan perih

    kepahitan yang kau nikmati
    menjelma puisi yang tak pernah mati
    bagimu tiap frasa dan kata kau rangkai
    hanya cara untuk menunda kekalahan. Lunglai.

    2025


    Si Mata Merah Menyala


    Setiap kata yang kau ucap seolah bernyawa
    hadir nyata di setiap pendengarnya
    laksana baru kau temukan
    dari berjuta bacaan yang kau telan

    Mata merah menyala menyisir malam
    dari gerbong picisan
    menghayati gejolak hidup kaum terbuang

    Ia tidak flamboyan sebagaimana burung merak
    sajak lebih memikatnya daripada Harta

    berlaku bohemian agar tak terjerat kemiskinan

    datang dan pergi sesuka hati
    pada kawannya ia hanya membawa puisi
    itulah hartanya yang sejati

    Kehidupan yang tak berpihak padanya
    ia siasati dengan menggauli kata kata

    2025


    Hikayat Sebatang Bambu

     

    di rimbun sudut tegalan

    keteduhan kau persembahkan

    berayun bersama irama angin

    gemerisik daun-daun menyapu lelah petani

     

    dan tiba tiba lautan menarikmu

    dicabutnya dari tempat kelahiranmu

    berbatang-batang lunglai ditebas keserakahan

    ditancapkan pada garis pantai tak bertuan

     

    Kamu yang dulu dipuja

    kini menjadi sasaran serapah

    menjadi martir

    menjadi batas

    menjadi tanda

    antara di sini dan di sana

    adalah ruang khayal perbedaan

    si kaya dan si miskin

     

    kamu menghitam di lautan

    hijaumu luruh oleh kerakusan

    berjajar-jajar namun didekap kesepian

    tanpa rimbun dan tak punya perasaan.

     

    Paciran, Lamongan 2025


    Pagar Khayal

     

    melihat barisan bambu di pantai

    nelayan bertanya, itu bambu ditanam untuk apa

    tak akan tumbuh sebuah bambu

    menjadi rimbun menghijau

    karena ia bukan tanaman  bakau

    ketololan itu, siapakah pelakunya?

     

    melihat barisan bambu di pantai

    perahu terhalang menuju lautan

    sejauh mata memandang adalah penghalang

    pagar khayal panjang membentang

    ini lautan siapa punya

    hatinya bertanya

    membentur batu karang

     

    melihat barisan bambu di pantai

    merasakan keserakahan yang pongah

    uang menjadi raja di meja penguasa

    para keparat takluk sempurna

    menghamba pada cukong berperut buncit

    sementara anak anak pantai menjerit

    dipagari nasibnya

    menciut

    kehilangan mata pencahariannya.

     

    Paciran, Lamongan 2025


    Penulis lahir di desa nelayan, Paciran, di pesisir utara Kabupaten Lamongan, 17 November 1975. Puisi dan Guritnya tersebar di Kompas.id, KBAnews.com,  Bali Post, Radar Bojonegoro (jawa Pos grup), Balai Bahasa Jawa timur dan di pustaka ekspresi.com, Panyebar semangat, Jaya baya, dan Djaka lodang. Dan Solo Pos. Tahun 2019 meluncurkan Antologi cerpen Muson diterbitkasn Boenga Ketjil Jombang  dan sebuah antologi puisi, Muasal Puisi, Oleh Pustaka Ilalang di tahun 2020. 

    Kuda
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleJanji di Peron Tua
    Next Article Cinta yang Tak Terucap tapi Nyata

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.