Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Kota
    Puisi

    Kota

    M.Z. Billal27 April 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Kota

    Aku tak pernah mencintai

    kota-kota yang kausinggahi
    atau dari mana
    kau bermula.

    Aku mencintai langkah kaki dan degup jantungmu

    ke kota manapun
    kau menuju
    jauh.

    Sebab bila kau tak lagi mencintaiku

    tak ada tempat-tempat
    yang dapat menyakitiku
    selain dirimu.

    2025


    Menarik Selimut Malam

    maka biarkan sejenak aku lelap

    ke dalam dirimu

    seraya menarik selimut malam
    agar pengembaraan lelah dan luka ini
    menemukan tempat yang tepat untuk pulih.

    di luar udara dingin membekukan tubuh

    tapi tidak dengan rindu

    di luar gelap malam menyekap netra
    tapi tidak dengan suluh harapan

    entahlah,
    segalanya yang ada pada dirimu
    adalah ketenangan;
    menjadi satu-satunya jalan pulang
    bagi ketidaktahuan dan kebodohanku
    memahami mengapa perasaan-perasaan ini

    bisa tumbuh di tanah lapang dalam dadaku.
    perasaan yang kerap diyakini
    oleh semua umat manusia
    sebagai cinta yang bergerak
    melampaui batasannya.

    2025


    Pesan Ibu Sebelum Tidur

    sedewasa apapun kamu
    dunia masih saja liar.
    tidak ada yang benar-benar jinak.
    kau tahu, nak. kita semua adalah pemangsa.

    dan yang perlu kaulakukan
    untuk menghadapi semua perkara terkutuk itu
    hanyalah latihan tidur yang cukup.
    sebab saat dunia semakin brutal
    kau tidak akan kehabisan tenaga.

    2025


    Lalu Harus Apa?

    ya, tidak apa-apa, bukankah
    masih mencintai seseorang yang tidak
    bisa kita miliki.

    lalu harus apa?

    jika kau bilang, sesuatu yang pergi biarkan berlalu
    maka biarkan aku memilih  untuk tetap mencintai
    mendoakan, menulis, dan memeluknya dari jauh.
    kau tidak akan pernah mengerti sampai kau
    berada di sisi itu; kenangan-kenangan bisa membuatmu
    bangun pagi bahagia meski kau tahu hal-hal
    bisa terlihat bodoh di mata orang lain.

    kau tidak akan pernah mengerti.

    dan tidak perlu khawatir. bukankah hidup telah
    memperlakukan semua orang-orang bodoh
    dengan sangat baik?

    2025


    Sebuah Buku

    kau adalah buku kesukaanku.

    tapi sialnya,
    aku tak pernah menemukan
    apa peranku di sana.
    aku hanya tersenyum
    dan mengakui keadaannya;
    bahwa kau hanya bisa
    sebatas dirindukan
    bukan dimiliki.
    dan seluruh perbincangan
    yang hangat ini adalah sebuah panduan
    untuk berhenti saling mengenang.

    2025


    Penulis lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleKehebatan Papa di Mata Mereka
    Next Article Gadis Bergigi Kelinci

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.