Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»(1) Sri Isana Dharmottunggadewa
    Puisi

    (1) Sri Isana Dharmottunggadewa

    Heru Sang Amurwabumi23 Maret 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    (1) Sri Isana Dharmottunggadewa

    Aji Pamalayu!
    menjangan bidikanku
    kaukirim bala seratus ribu
    kusambut dua ratus ribu

    jumawa menjelma Batara Syiwa

    pada segumpal getih di dada

    Aji Pamalayu!
    Medang Kamulan meradang
    menagih takhta yang kauhutang
    di sini, tanah Gejag, Anjuk Ladang

    Aji Pamalayu!

    kubangun Jaya Stambha

    mengabadikan lampusmu di tanah Jawa
    oleh tangan-tangan putra Dyah Wawa

    Anjuk Ladang, 2020

    Catatan
    Jaya Stambha = Tugu kemenangan Mpu Sindok di Anjuk Ladang, dikenal sebagai Candi Lor.


    (2) Satu Wuku Setelah Kubangun Jaya Stambha

    suatu wuku di bulan Caitra
    ketika paruh kresnapkasa mengambang di cakrawaka
    sebagaimana dua dasawarsa silam
    puan dipatahkan dari rusuk sahaya

    sendiri
    mendongak ke bentangan langit
    menyasar tanah kemenangan di kaki Wilis

    sunyi
    hanya ada guratan-guratan tatit
    entah kemana bidadari itu pergi

    pada mega-mega hitam yang bergelayutan
    yang terbentang bagai jubah raksasa
    sahaya menyapa, “di manakah bidadari itu, tuan?”
    dijawab gemlegar yang memercik entah berapa banyak cahaya

    lalu, penuh letih berpeluk perih
    sahaya kembali tertatih-tatih
    merangkak di antara cakrawala yang berhujan
    tersungkur di bawah selangkangan kaki-kaki awan

    “dinda Dyah Kbhi, ini sahaya.”
    “kau siapa?” tanyamu.
    bagai luka baru yang dijilati ujung sembilu
    sahaya lunglai terpedaya

    satu wuku setelah kubangun Jaya Stambha
    kupijak lagi kadhaton lama

    (Mpu Sindok)

    Anjuk Ladang, 2020


    (3) Hilangnya Kotaraja Lama

    kupanggil kalian, tiada jawaban!
    barangkali tak mendengar, kuulang dengan bibir bergetar.
    barangkali bersembunyi, mengajakku bermain-main lagi.
    kucari kalian, hanya ada kesunyian!

    ke mana kalian, yang dulu menyapa?
    ke mana kalian, yang dulu gemulai, sajikan tari penentram hati?
    ke mana kalian, yang dulu suntuk, jika sehari saja tak kujenguk?

    kupanggil kalian, tiada jawaban!
    aku jatuh bersimpuh.
    ketika nyaris senja, kita tak bersua.
    kucari kalian, hanya ada kesunyian!

    aku lalu melangkah
    :pasrah.
    meninggalkan kalian, yang entah ke mana,
    :tiada

    “Kami di sini,” kudengar suara lirih,
    merintih, bagai menahan rasa perih.
    “Oh, kawan,” kudengar lagi ratapan,
    tertahan, bagai memohon lindungan.

    air mata kalian berlinang
    berkilauan luka, disengat cahaya candikkala
    angin surub ikut berduka,
    semilirnya bagai tangis pralaya

    kini, aku menyaksikan, perang telah menggilas kalian.
    aku menyaksikan, keserakahan terbahak-bahak kegirangan.
    aku menyaksikan, kalian saling berpelukan,
    menyambut kehancuran.

    (Mpu Sindok)

    Anjuk Ladang, 2020


    (4) Sajak Untuk Ayahanda Dharmawangsa

    kutulis sajak
    untukmu, ayahanda
    pada sepenggal malam
    mengenang peristiwa kelam

    entah, ini sajak tentang apa?
    larik-lariknya membuat hati lebam bagai terperam

    pada usia tak lagi muda
    api nyalimu kian berkobar-kobar
    sedang aku yang belia
    gusar dan kian memudar

    sungguh,
    ketika jalan purna kautempuh
    ke mana lagi aku berteduh
    ketika tubuh dibalut lelah berselimut luluh

    kubaca sajak
    untukmu, ayahanda
    tentang pralaya di Kadhaton Medang

    (Airlangga)

    Gunung Penanggungan, 2020


    (5) Dari Malam Pralaya ke Dyah Sri Laksmi

    Aku enggan lagi menolehmu ke belakang, sepenggal kisah kelam di kadhaton Medang yang telah menyerupa kaca cabar membuyar.

    Kini, Dyah Sri Laksmi ada di sampingku. Wanita pemuja rindu, melalui sepasang mripat sendu, telah menjeratku dengan sajak-sajak peluruh kalbu.

    (Airlangga)

    Anjuk Ladang, 2020 – 2021


    (6) Kadhaton yang Pernah Megah

    dia minta kutulis sebuah kisah
    entah, balada apa yang harus kugurat dalam abjad
    kutimang-timang pena bertinta merah
    namun, tak jua sepenggal gagasan kudapat

    sudah, kataku enggan menulis kisah
    abjad-abjadku, telah lama hilang arah
    tinggal serpih yang membuih di pelupuk
    hingga tanda baca pun tiada lagi berbentuk

    dia minta aku menulis sebuah kisah
    entah; tentang cinta, pengkhianatan, atau desah kesah
    : di kadhaton yang pernah megah

    (Airlangga)

    Anjuk Ladang, 2020


    Enam judul puisi ini merupakan bagian dari puisi-puisi lain yang terkumpul dalam manuskrip berjudul Romansa Kadatuan Medang i Kahuripan.


    Heru Sang Amurwabumi, pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk dan Sekolah Menulis Nganjuk. Kini bermukim di Sidoarjo. Tulisan-tulisannya telah terbit di sejumlah media massa. Pernah duduk sebagai anggota redaksi Harian BERNAS dan tulisan-tulisannya telah menjuarai sayembara menulis platform Indonesiana Kemendikbud RI, Kemenparekraf RI, dan Ditjen. PAI Kemenag RI. Cerpennya, “Mahapralaya Bubat”, mengantarnya terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival 2019.

     

    bidadari perang
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleHarta, Tahta, Janda
    Next Article Kehebatan Papa di Mata Mereka

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.