Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Patah Sebelum Bibir
    Puisi

    Patah Sebelum Bibir

    Selendang Sulaiman2 Maret 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Patah Sebelum Bibir

    sia-sia dan terhempas
    selembar pandan kupetik
    bejana pecah tanpa benturan
    embun kutadah dengan telapak
    terkulai, dikecup tanah kering
    resap ke kelam dalam

    sammbil kuulang tadah panampik zat beku
    garis tangan sebut dhahirnya diri
    menyulut harum cium
    yang patah sebelum bibir

    masya’allah, hampir tak teraba
    wajah rejekimu

    Kebunlaras-Jakarta, 2012-2025


    Mulut Ternganga

    mereka telah datang
    bawa roti dan susu sapi
    kita hadir monolak garis takdir
    berdiri dengan mulut terngaga

    “kami penantang segala musim,
    perubahan cuaca, keadilan iklim,
    pandemi, juga perang yang segara tiba!”
    suara menggema menyusul segala yang viral

    lalu tersiar cepat ke sekujur negeri
    berdentum ke kota-kota, masuk desa
    ke dusun-dusun tak terjamah pemerintah.

    semua muulut ternganga dan terpejam
    dalam mata kelam, saat suara itu tiba-tiba
    menggerogoti daging segar pengangguran!

    Jakarta, 2025


    Lidah tak Bertulang

    lidah penghasut dewan perampas
    menjulur di gedung-gedung oligarki
    menjilat-jilat dengan wajah melas
    tubuh membungkuk tanpa alas kaki

    bagai anjing lapar di kaki tuannya
    ia gonggongkan kata-kata patuh
    merekahkan telinga gajah betina
    sebelum genderang perang ditabuh

    dengan bahasa rakyat paling ramah
    lidah penghasut menjilati daging segar
    di luar pagar, di luar kehendak tuannya

    gajah betina murka, gadingnya retak
    terhantam pengingkaran sempurna
    di hadapan para “korea-korea” itu!

    Jakarta, 2024-2025


    Menunggu Suami Bercerita

    mas, tahukah kamu
    aroma bibir tetangga terasa asin dan pedas
    padahal harga cabe terbilang mahal
    garam dapur mesti impor
    apa ayam di kandang sebelah
    masih bikin telingamu gatal?

    kalau anak sudah lulus siswa
    ayam satu-satunya kamu sembelih, mas
    kumasak dengan bumbu asem-manis
    buat tetangga sehabis doa bersama

    sambil makan daging ayam
    tetangga kita ajak bicara
    tentang cabe busuk
    ayam buang kotoran sembarangan
    dan garam sesendok
    yang tak cukup buat sepekan

    bibir suami terkatup
    hanya menghela nafas, menunggu waktu
    yang tepat bercerita: aku dirumahkan!

    2024/2025


    Dunia Tipu-tipu

    saat tubuhmu bagai sapi betina bunting
    bergeliat dijilat basah pejantannya
    kau tiru bahasa terpuji pemabuk puja
    lalu menyulap anggaran di balik dinding

    kau fasih berpura-pura paling paham
    segala ingin dan kehendak masyarakat
    bagai pendongeng kau ninabobokan
    tuanmu di atas tumpukan buku program

    di luar program yang kau sulap pula
    diam-diam kau menjadi perantara
    upaya penghancuran jiwa manusia

    “ini jakarta, harus pandai bermain angka”
    kau berkelakar sambil menyunat anggaran
    dan mengelus tubuh bagai sapi betina bunting

    Jakarta, 2016-2025


    Pulau Puisi

    madura bukan sekadar pulau
    ia gugusan puisi yang tumbuh
    membiak ke pusat-pusat kota
    tersiar ke negeri-negeri jauh

    di wajah para pelaut dan perantau
    madura menjelma lukisan tua
    yang menunaikan hajat hidup
    dan martabat manusia

    madura tak hanya soal sate atau garam
    ia puisi yang dinyanyikan
    tak habis-habis, tak basi-basi

    adakah yang lebih maut dari celurit
    untuk carok yang kehilangan taji
    selain puisi yang menyucikan hati?

    Jakarta, 2019/2024


    Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989 dan kini mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa cetak dan elektronik serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi Puisi Tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018). Buku puisi keduanya segera terbit pertengahan tahun 2025.

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleJack London dan Jack Kerouac Tak Pernah Ikut Kelas Menulis
    Next Article Jika Para Penguasa Berdagang Dengan Rakyatnya

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.