langit terbakar dan gelombak hanyalah sisa-sisa isyarat yang tak terjejak dalam kelemasanmu dalam menanggapi hari-hari yang kian tanggal dan pecah menyarungkan kalimatnya seperti suara gema memantul menguraikan benang lindu dari susumu yang kusauh menuju hamparan senja yang tinggal menuju timur tanpa kabar
Surabaya, 2024
Kubelah Kampung Lalu Mengemasinya Dengan Perjalanan
sunyi adalah letak paling subur yang kuerami bersama matahari, kampung kubelah lalu mengemasinya dengan perjalanan melewati berpetak-petak pengetahuan dari dagumu, matamu meredup, menit-menit mengalir, membawa kutuk yang jatuh dari kesedihanku
kusedot genangan-genangan yang hancur tak ternamai derita atas segala tanggul memenuhi udara, tapi, kau mengencingi kerinduan, muka yang memeras hari-hariku ke dalam igauan malam dan meninggikan sepi
kengangaan melewati rambat nyanyian tuk menelan sejarah yang telah menciumi telingamu dalam kemarau panjang, aku berdiri menuju puncak lalu memanjang mengeluarkan abad-abad yang terakhir dan terlupakan
Surabaya, 2024
Kegalauan Dari Nasib Dan Riwayat-Riwayat
menahan nafas panjang, tubuhku menggeliat menghapus peluit, mengikati jiwamu, denting terpanjang yang membakar jawaban noktah-noktah lalu menyemburkannya
isakku bergumuruh, tanganku telanjang membutakan bebayangan yang menembus rimbun mengaliri suara-suara basah dari desir tenggorokanku
“beginilah bahasa terbutakan, melebur dan membakar para peziarah ketika menunduki batu nisan”
kau membopong kubah dan kening hitammu mengeluarkan nanah, bau amis menguar menuju kelopak-kelopak mawar, cahaya meluruh seperti cairan membentuk dan menyangsikan kecemasan terpancar pada bintang yang menyesakan dada terselip di ujung-ujung langit
Surabaya, 2024
Hawu
– untuk kawan Zarkasyi
lumpur menghampar teriakan dari lenguh beribu pasir yang menyimpan dengung asap berkumpul menjadi batu dan terselip pada lumut kelaparanku hingga mataku menggigil membiarkan lekukan terisi penuh dengan harapan yang tak terisi lalu terbang kemana arah pergi dan terbakar oleh kematian daun-daun
Surabaya, 2024
Bulan Di Panggung Senja
menggantung malam, tubuhmu adalah bulan yang putih, nama-nama mencari cerita dari sepi dalam tengkukmu, melupakan waktu dan nyanyian yang memancar seperti kematian yang terlupakan
kota semakin padam, mati satu per satu, menunggu giliran sebagai teater yang tak pernah selesai sebab tubuhmu menggelantung tak bisa turun, waktu membeku dalam gelap, aku melihat bayanganku sendiri
“apakah kita hanya aktor di panggung teater, yang tak pernah tahu kapan tirai akan diturunkan?
lihatlah, tabir tergelincir pada sebuah nama yang tak berjiwa, pertunjukan tak bertepuk tangan,
dan kematian hidup sebagai adegan yang dikenang dari sebuah pesan
bayangku kian memanjang pada sebuah gambar dan lamunan tak mengenal suara, bayanganku kian nyata dan hidup sebagai penonton terakhir
cerita panjang beputar di atas panggung ini, dialogku terlupakan namun hujan yang berputar atau melupakan kehadiran dan cerita seperti tidak diinginkan
orang-orang pergi dan pulang, namun kau melingkar di kerongkonganku seperti kelahiran juga kematian dalam hening yang kian terputus
bintang semakin sepi namun bulan menatapku seperti tidak mengenal dan tubuhmu adalah monolog panjang;
Apakah ada yang lebih besar dari kematian yang pasti datang?
Surabaya, 8 Desember 2024
Kematian Yang Paling
– Mas Yogi
kau buka pintu, malaikat tak berubah seperti hujan, cahaya bersembunyi dibalik kamis, kesedihanku semakin pasi dan menggemetari tanganku yang lapar menghabisi malam dengan nyanyian juga tarian-tarian yang turun seperti musim
” kau mungkin bisa sebab disini kematian mengepul seperti asap ”
menjelang sore tubuhmu terbuka membaca peta, mengaisi ingatan, menandai laut dan peperangan bersama tidur kematian yang paling
Stand Up Poetry, 15 Agustus 2024
Adnan Guntur, pria kelahiran Pandeglang. Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Sekarang berdomisili di Surabaya. Pendiri Saung Indonesia, juga aktif berkegiatan di Teater Gapus, Majelis Sastra Urban, dan Forum Studi dan Seni Sastra Luar Pagar (FS3LP). Menulis Puisi, Cerpen, dan Lakon; Kumpulan Puisinya ( Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri, Pagan Press 2022 dan Sebagai Daun yang Tak Lagi Raib Terbakar oleh Darah Api, Langgam Pustaka 2023) dan Kumpulan Lakon (Tubuh di Pukul 11.11 , Pagan Press, 2022) .


