Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Ulama Durna Ngesot ke Istana
    Puisi

    Ulama Durna Ngesot ke Istana

    M. Shoim Anwar2 Februari 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Ulama Durna Ngesot ke Istana

    Lihatlah
    sebuah panggung di negeri sandiwara
    ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana
    menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah
    maka kekuasaan menjadi sangat pongah
    memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya
    agar segala tingkah polah dianggap absah

    Lihatlah
    ketika Ulama Durna ngesot ke istana
    menyerahkan marwah yang dulu diembannya
    Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana
    bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa
    menunggang banteng bermata merah
    mengacungkan arit sebagai senjata
    memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara

    Lihatlah
    ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa
    adakah ia hendak menyulut api baratayuda
    para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah
    tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula
    porak poranda dijajah tipu daya
    oh tahta dunia yang fana
    para begundal mengaku dewa-dewa
    sambil menuding ke arah kawula
    seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah

    Lihatlah
    ketika Ulama Durna ngesot ke istana
    pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra
    ia diumpankan raja ke medan laga
    terhenyaklah saat terkabar berita
    anak hasil perzinahannya dengan satwa
    telah gugur mendahului di depan sana
    Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya
    ia menunduk di atas tanah
    riwayatnya pun berakhir sudah
    kepalanya terpenggal karena terpedaya
    menebus karmanya saat baratayuda

    ***

    Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah

    Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia
    panutan para kawula dari awal kisah
    ia adalah cagak yang tegak
    tak pernah silau oleh gebyar dunia
    tak pernah ngiler oleh umpan penguasa
    tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah
    tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak
    tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja

    Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah
    marwah digenggam hingga ke dada
    tuturnya indah menyemaikan aroma bunga
    senyumnya merasuk hingga ke sukma
    langkahnya menjadi panutan bijaksana
    kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata

    Ulama Abiyasa bertitah
    para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya
    tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa
    menjadikannya sebagai pengumpul suara
    atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa
    diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah
    agar tampak sebagai barisan ulama
    Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua
    datanglah jika ingin menghaturkan sembah
    semua diterima dengan senyum mempesona
    jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena
    sebab ia lurus apa adanya
    mintalah arah dan jalan sebagai amanah
    bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata
    tapi dilaksanakan sepenuh langkah

    ***

    Ulama Bhisma Terkunci Langkahnya

    Ulama Bhisma adalah guru para kesatria
    tutur langkahnya dianut para kawula
    tapi seusai perjudian tahta curang durjana
    ia memilih hidup dalam tembok istana
    segala hajat hidup dipenuhi raja
    bergelimang nyaman nikmat dunia
    singgasana menggerusnya hingga alpa

    Ulama Bhisma merenung di senjakala
    ia gamang dalam titah dan langkah
    para kesatria dan pengikutnya terbelah-belah
    maka disuarakanlah fatwa seperti dulu kala
    tapi kata-katanya hampa tak bernyawa
    didengar raja tapi tak diindahkan adanya
    seperti burung dipelihara untuk pajangan istana
    Raja bersuara didengar seluruh kawula
    katanya menghormati panutan dan fatwa-fatwa
    tapi Ulama Bhisma meratap hatinya
    bagai tersayat sejuta luka
    hilang harga oleh kecutnya cuka
    segala fatwa tak digubris dan hampa
    seperti buih di pasir yang segera musnah

    Ulama Bhisma dijadikan bantalan istana
    atau seperti kembang di meja makan para raja
    biar sedap dipandang saat bersantap dan dahaga
    seusai itu dibuang ke keranjang sampah
    Ulama Bhisma memuncak jengah
    lidahnya musnah tak lagi bersuara
    ada satu terdengar di akhir kata:
    tak mungkin ada matahari dua, katanya
    sebagai pertanda kalau ia telah kalah

    Oh birahi tipuan dunia
    senasiblah dengan Ulama Durna
    menjelang akhir baratayuda
    Ulama Bhisma dilempar raja ke medan laga
    mempertahankan angkara dinasti dan kuasa
    melawan para kesatria dan anak cucunya
    Ulama Bhisma pun menebus karmanya
    maka berkelebatlah si cantik rupa
    terpedaya oleh janji dan kata-kata
    Ulama Bhisma terkunci langkahnya
    dari depan marabahaya menerjangi tubuhnya
    ia jatuh terjengkang disanggah ribuan anak panah
    bumi menolak jasadnya di akhir kisah
    padang kurusetra menamatkan riwayatnya

    ***

    M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan pendidikan ke IKIP Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hingga menyelesaikan program doktor. Kini menjadi dosen dan tinggal di Surabaya. Shoim banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Karya-karyanya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, seperti Cerita Pendek dari Surabaya (editor Suripan Sadi Hutomo), Negeri Bayang-bayang (editor D. Zawawi Imron, dkk.), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), Dari Fansuri ke Handayani (editor Taufiq Ismail, dkk.), Horison Sastra Indonesia (editor Taufiq Isamail, dkk), Black Forest (kurator Budi Darma), New York After Midnight (editor Satyagraha Hoerip), Beyond the Horizon (editor David T. Hill), Le Vieux Ficus et Autres Nouvelles (editor Laura Lampach), dll.

    Kumpulan cerpen Shoim yang telah terbit adalah Oknum (Gaya Masa,1992), Musyawarah Para Bajingan (Gaya Masa,1993), Limau Walikota (ed., Surabaya Post, 1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (Dewan Kesenian Surabaya, 1995), Bermula dari Tambi (ed., Dewan Kesenian Jatim, 1999), Soeharto dalam Cerpen Indonesia (ed., Bentang, 2001), Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah (Tiga Serangkai, 2004), Perempuan Terakhir (Grasindo, 2004), Asap Rokok di Jilbab Santi (Jaring Pena, 2010), Kutunggu di Jarwal (SatuKata, 2014), Sepatu Jinjit Aryanti (Pustaka Ilalang, 2018), Tikus Parlemen (Tankali, 2019). Novelnya yang pernah dipublikasikan Meniti Kereta Waktu (SIC, 1999, juga terbit dalam terjemahan bahasa Jawa Ngoyak Impen) dan cerita bersambung di media massa adalah Sang Pelancong (1991), Angin Kemarau (1992), Tandes (1999), serta Elies (2006).

    Buku lain yang ditulisnya adalah Sejarah Sastra Indonesia (2012), Sastra Rebonding (2013), dan Theatrum- Malam Terakhir (ed., 2013), Sastra yang Menuntut Perubahan (2015), Sastra dan Korupsi (2019), Penyair Memburu Bayangan Tuhan (2019), dan Sastra Merespons Dinamika Zaman (2020).

    wayang
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleTakdir Sang Programmer Ayam
    Next Article Kau Menjelma Kupu-Kupu Biru di Telaga Itu

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.