Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Malaikat Mengayuh Pantai
    Puisi

    Malaikat Mengayuh Pantai

    Nanda Alifya Rahmah10 Januari 2021
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Malaikat Mengayuh Pantai

    Perahu nelayan pukul tiga pagi
    Menarik kembali ujung jala yang koyak

    Burung laut hitam mengirim suara kegelisahan
    Sepanjang dadamu
    Memanggil dadaku karam kepadamu
    Adakah kau dengar seorang bocah menangis
    Menggendong boneka robek
    Berjalan di pasir kerang – memandang kepergian
    Atau kepulangan
    Yang tak bisa dicegah

    Lumpur dan bau ikan mengeras di pundaknya
    Kutarikan firasat buruk perempuan di kakinya
    Kerang-kerang putih menanggalkan kelopak
    Seperti mawar menanggalkan kelopak
    Di akhir musim

    Seperti kidung, di pusarnya tuhan menulis hayat
    Mengekalkan yang telah dan hadir kembali
    Tentang kota baru dalam mimpi seekor siput yang putus asa
    Berabad-abad menyeret dunia di punggungnya
    Engkaulah laut, aku hanya kapal-kapal hantu

    Kau bernama seperti patok-patok tanah pantai
    Tangan angin memegangmu erat dan memilikimu
    Adakah kau menamainya juga: bayangan
    Yang mengiringi bayanganmu ke sisi bulan
    Di puncak musim yang renggang
    Menjaga waktu di mercusuar
    Ingin sekali aku menjelma ranting pohon yang terdampar
    Oleh ombak yang kacau dan tak peduli

    Mengikuti cahaya matahari penuh harapan
    Menanamkan anak-anaknya ke bumi
    Seperti benih ke tanah
    Seperti mani senggama

    Dua puluh empat perahu menyebar
    Dua puluh empat malaikat mengayuh papan panjang
    –
    Namun setiap pagi di sebuah kampung asap
    Aku melukis dua belas perempuan
    Menjatuhkan tirai bayangan di kamar – seperti mata
    Meneteskan garam ke air laut

    Lalu pulau-pulau pecah menyaksikan kata-kataku
    Angin, akankah mendatangkanmu kembali
    Lalu burung-burung menyambutku dengan iman yang penuh
    Seolah tanganmu likat menyibak rimba basah
    Yang menerima mayat-mayat pelayaran buangan ini
    Dan menyimpannya seperti memeluk kekasih

    2018-2020


    Rembulan Terbakar

    kemarau, penyairku, seperti matahari, berarak dari timur ke barat, tubuhku orang tropis tengadah ke langit, malam-malam leleh, segala hidup melarung di segala air yang kehijauan dan tak bergerak, namun telah kupanjatkan api dari dadaku ke dadamu, memimpin di ujung mata panah, seperti musim membelah barisan angin, dengarlah udara yang tersayat-sayat, tentara waktu yang kalah dan bermandikan luka tangan-tangan patah, ke hatimu kegelapan meradang, berperisai rembulan terbakar

    2018-2020


    Perahu Jauh

    pasir dingin, kausimpan di dada, tujuh musim terang tujuh musim gelap, kaulayari laut ke langit jiwanya, perahu mendaki angin, mendaki antara, pulau dulu pulau nanti, pulau putih dalam mimpi orang mati, pantai-pantai langit biru, ombak-ombak awan, daun bintang menjari melambai jauh, ke perahumu, bulan separuh

    2018-2020


    Seekor Anjing

    seekor anjing hitam berkaca pada wajahku, angin paling sedih seperti suara perempuan di sebuah mimpi tengah laut payau yang mengeluarkan asap biru, dunia dari cakrawala lain, mulutku dipenuhi lebah, tak bisa bertanya dan menjawab matanya menyatui kematian

    pikiranku menumbuhkan pohon-pohon membentuk barisan lingkar hijau yang menjerat bala semut yang pernah menelusuri kulitmu, hutan-tuhan terpanggil menyahutku, mungkin terbaca seperti pernah kubaca tengkukmu: tanah paling kering, tubuh terkremasi yang abunya babak belur dalam hujan putih dendam yang penasaran

    aku sujud seperti anjing sujud tapi liurnya menjelma kabut bergerak ke hampa gema, melobangi telinga dengan karat dan laut, dan suara kelelawar kecil menetas dari kutukan batang ingatanku, bermigrasi ke salah satu kamar menjatuhi punggungku dengan doa dan kegelapan

    kegelapan yang menjadi sarang kutu rambut mayat-mayat perempuan yang dikhianati, “bukankah kau daging segar yang selalu lolos dari perburuan dan ingatanku,” bukankah telah hitam seluruh ingatanku?
    tapi hanya tembok merah yang mendengar erangan itu, kelegaan seperti tuhan bersatu denganku, sungai-sungai kuning masuki jalanan darahku seperti terasa dirimu di pusat diriku, aku berubah dengan rumput-rumput gelap menjejali pori-pori, malam hariku adalah perkelahian, tak ada yang lain bergabung kata-kata membentuk kau yang baru

    Surabaya, 2016


    De Grote Postweg

    : affan

    di akhir puisimu, selembar peta jawa tergelar di kepalaku, kota-kota garam merapat ke laut, kapal-kapal dagang, menurunkan berkarung-karung masa depan, dan kita – punggung kita- kuli yang kurus-hitam dalam sejarah kesedihan ini, memanggulnya ke batas lembah, di akhir hari itu, hatimu berbunyi dalam surat kaleng, menolak seluruh alamat, aku bayangkan jalan itu menggambar titik-titik hitam baru, merunut arah matahari terbit, di sawah yang mana, ladang yang mana, pengampunan yang mana, esok bayangan kita boleh terjatuh

    2019

    Karya : Nanda Alifya Rahmah

    Lahir di Surabaya, 1994. Menulis puisi, esai dan cerpen. Menyelesaikan studi Sastra Indonesia di Universitas Airlangga, berkesenian di Teater Gapus Surabaya, FS3LP, Komunitas Timur Lawu, dan No-Exit Theatre. Sejak tahun 2018, bersama para penulis muda Surabaya mengelola forum Majelis Sastra Urban. Buku puisi terbarunya Yang Tersisa dari Amuk Api (2020).

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleMengasah Empati Berbekal Imaji
    Next Article Gadis Terperundung

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.