Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Jatuh Bangun Penyair Kesiangan
    Puisi

    Jatuh Bangun Penyair Kesiangan

    Muhammad Daffa18 Oktober 2020
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Jatuh Bangun Penyair Kesiangan

    Sajakmu terbunuh jemu
    Waktu yang keliru
    Memilih biru sebuah senin

    Ada nyanyian bergetar di udara
    Dingin dan asing

    Seorang perempuan
    Berkeliling kota
    Dengan bujuk mantra yang terus mendengung di telinganya

    “bunuhlah minggu yang berubah bisu sewaktu-waktu
    haturkan segala cinta yang tak menemu bibir paling mujarab”

    Surabaya, September 2020


    Berkawan Di Malam Remang

    Penyair yang sembunyi
    Ke balik ketiak negara
    Sudah berapa puisi
    Melahirkan bunyi-bunyi?
    Presiden tak akan gaduh
    Selama kita masih bertelimpuh
    Dalam bilik bahasa
    Mengumpat berkali-kali
    Mengapa puisi
    Senjakala, mengapa puisi
    Jadi semenjana
    Dalam rupa warna?

    Tak ada beda
    Apakah penyair-penyair menjadi batu
    Dalam tajuk minggu
    Sebuah koran lokal

    Dunia masih sama
    Dalam keganjilan suara

    Tak ada
    Puisi
    Hanya semenjana
    Bunyi-bunyi

    Surabaya, September 2020


    Tak Datang Rubrik Puisi Minggu Ini

    Minggu-minggu terbakar dalam cuaca
    Penyair masih terlelap
    Tak ingin membaca minggu
    Yang nyaris jadi abu
    Menanak jelaga di atas kota

    Minggu tak mengantarku
    Kepada siapa-siapa, tak membawaku
    Kepada koran-koran sekelas Ibukota

    Hari-hari membakar kesedihannya
    Tersebab puisi terus saja sembunyi
    Dalam buku harian, tak terlacak
    Tak ingin menyuarakan gemuruh jantung yang purba

    Semua minggu telah mengerti
    Bahwa puisi hanya ingin perempuan
    Tanpa kencan akhir pekan

    Puisi ingin mengajaknya
    Piknik
    Ke dalam tagar #penyairbelummatihariini

    Surabaya, September 2020


    Bunuh Diri Gadis Pertiwi

    Pertiwi sayang, Pertiwi malang
    Tubuhmu kah yang semalam dijarah
    Anjing-anjing jadah? Bibir mengatup luka
    Tubuhmu kah penjara
    Bagi neraka yang semarak
    Bermabuk, hingar kutuk demi kutuk
    Menyeret langkah pesakitan

    Mengapa datang keganasan jadah
    Merampas tubuhmu yang kemaruk bunga-bunga

    Akan datang tahun
    Di mana barisan penyair
    Mengembalikan ingatanmu
    Pada dendam yang mati
    Tak ingin berkubur, tak ingin
    Senyap
    Ke bilik gelap

    Surabaya, Oktober 2020

    Karya : Muhammad Daffa
    Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya. Puisi-puisinya dimuat sejumlah surat kabar, antara lain: Radar Banjarmasin, Radar Tasikmalaya, Banjarmasin Post, Media Kalimantan, Koran Merapi, Harian Rakyat Sumbar, Harian Rakyat Sultra, dan Harian Analisa. Dua buku puisi tunggalnya, Talkin(2017) dan Suara Tanah Asal (2018).

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleMenakar Konsep Rasa Di Jalan Nusantara
    Next Article Wilis

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.