Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Benih Hujan
    Puisi

    Benih Hujan

    Yuliani Kumudaswari6 September 2020
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Benih Hujan

    adalah benih ilalang
    yang tumbuh di mata hujan
    “aku terusir dari negeriku
    yang tak menumbuhkan apa apa”

    dan hujan memilih terbang bersama angin
    untuk hinggap satu satu
    tumbuh
    mengilalang

    Semarang, 2020


    Sunyi

    sunyi itu, sejuta suara redam dalam diri, dan bisik telah menjadi gelombang kejut yang menyesakkan, diam bukanlah pilihan selain keharusan yang teretas

    sunyi itu, seribu wajah dalam bayang, arsiran masa yang siap terhapus, terkoreksi kenang yang melintas jendela berdebu, tersenyapkan , mengendap tak mau hilang

    sunyi adalah ketika dunia tak bersuara lenyap ditelan riuh diri

    Semarang, 2020


    Malam

     : dan segala angkara lesap, hingga mimpi berkembang bunga setaman, ganti semak yang terbakar, dan segala kata yang seolah olah itu, biarlah menjadi ungkapan cinta yang tak khianat , menghapus desis hasut yang kusut

    telah punah tereja
    segala diam
    telah jauh terjajaki
    segala jeda

    : kita memang mahir
    menerjemahkan luka

    Semarang, 2020


    Gelembung

    telah ditiupkan
    setiap gelembung kenang
    yang mengharu biru
    laju terbang seputar senja
    rasa ingin pulang  berbual lirih
    tak jua mampu membalik arah waktu
    sebaiknya penting mengingat
    betapa hari akan berakhir
    dan hati berkata adios
    merelakan jarak yang kian memanjang
    sebab perih di hati yang tersayat
    telah begitu paham cara melenyapkan diri
    : kutunggu saja di sini, sebab aku takut tersesat dan hilang

     Semarang, 2020


    Mural

     Mereka bilang
    Pada sebaris mural
    Seseorang mendidih di koyak sepi
    Ketika rindu membentur tembok bertepian retak

    Kubilang saja
    Tuliskan pada segurat grafiti
    Yang tersirat namun tak pernah terbaca utuh
    Bayang yang lebih kelam dari sejuta dendam

    Semarang, 2020


    Lamat

    manakala malam menabur tabir, dan pandangmu kian lamat
    gejolak mahir bersarang, serupa muslihat, memulakan ingatan yang memamah benakmu
    perihal jarak dan beribu jeda, sungguh bukanlah kehendak yang memuai, yang menyurut langkah
    umpamakan saja aku capung hitam dengan jalan peta yang bersilangan, masai menyusur peram

    Semarang, 2020 


    Kepayang

    tak ada geram yang kepayang, sayang
    melempang pukang segala rasa hati
    senandung dendang debur meremang
    bukanlah selayang rindu tak tahu diri

    berdepa jarak seribu kayuh
    menyapa diri dalam untai untai ujar
    tidakkah dirimu piawai mengurai riuh
    bersenyap dekap, punah segurat nazar

    tak ada cinta yang sekedar lalu, sayang
    sebab sungguh bukanlah riak sembarang
    serupa tiang-tiang kokoh terjalin temberang
    jerih memangkas jarak, menunas hati tiada kepalang

    Semarang, 2020


    Rumbia

     titik-titik gerimis berjatuhan
    di sela jemari ranting kemuning kurus
    mungkin serupa bayangan langit redup
    di sela-sela kibas rumbia pesisir pelataranmu
    ilusi membuat kita memasuki dunia berbeda
    tentang wajah-wajah paling mimpi
    atau langkah yang kembali di titik nadir
    tapi bait ini bukanlah selasar untuk memangku sunyi
    tak pula sepadan bagi perih rindu yang rungsing
    hanya lukisan samar tentang ceruk-ceruk diri
    ilusi yang bersimpangan di sela kemuning dan rumbia

    Semarang, 2020


    Paniki

    senja ini membuatku naif, mengemas rindu dalam sebungkus puisi yang kadung, meniupnya serupa gelembung ganti sayap yang tak bisa kuberikan, ia membumbung naik mengatasi ingatan tentangmu, maka ketika ia tersangkut di pucuk ranting jambu yang terjauh, kupikir kubiarkan senja yang menjaga, barangkali seekor paniki akan memamahnya buatku, mungkin dengan cara itu, besok aku bisa mengemasnya dalam puisi yang lain

    Semarang, 2020 


    Senja yang Bercahaya Seperti Lampu

    Cahaya di senja ini seakan lampu yang baru saja menyala, menerangi ruang tanpa dinding, tempat puisi lalu lalang.

    Ada satu yang terus saja tertidur, terjebak dalam diriku enggan beranjak. Menunggumu mengguratkan kalimat pertama, tentang apa saja, entah tentang mencintai atau menikmati kehilangan, tentang sihir atau obat ajaib yang mampu menawarkan segala perih.

    Ada satu puisi yang tertidur, yang enggan menuliskan kata di kalimatnya yang terakhir. Ia memilih tertidur dan menjadi hantu di senja yang dipilihnya, senja dengan cahaya seperti lampu.

    Semarang, 2020

    Karya : Yuliani Kumudaswari

    Lahir di Bandung, Juli 1971, menikah dengan dua putri, sejak November 2019 menetap di Semarang. Beberapa puisi tergabung dalam antologi bersama diantaranya Wajah Ibu (2016), Menyandi Sepi (2017), Rumah Kita (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019), Kepak Sayap Waktu dan Mata Air Hujan di Bulan Purnama (2020). Antologi cerpen Bersama , Lelaki Pertamaku : Ayah (2019), Firdaus yang Hilang (2020). Antologi puisi tunggal 100 Puisi Yuliani Kumudaswari (2016), Perempuan Bertatto Kura-kura (2017), Menyusuri Waktu (2018), Wajah Senja (2019), Kepada Paitua (2020)

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleGendam
    Next Article Surabaya Masa Pandemi

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.